.

.

Pages

Friday, March 09, 2012

AWAL MULA “PENCIPTAAN”

“Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha.”

( ALBERT EINSTEIN )

Pada wacana kali ini saya akan mengajak anda membahas mengenai “ Awal Mula Penciptaan “ dari sudut pandang Buddha-Dhamma. Meskipun kata “Penciptaan” tidaklah tepat jika itu mengacu pada Buddha-Dhamma, namun judul ini saya gunakan karena lebih populis, lebih dikenal oleh para pembaca yang non-Buddhis.

Pada wacana ini saya mereferensi buku “ Kajian Tematis Agama Kristen dan Agama Buddha” ( Djoko Mulyono, Petrus Santoso, Kristiyanto Liman ), dan dari referensi tersebut wacana ini saya kembangkan.

Dulu, pada wacana-wacana terdahulu, saya sudah pernah merujuk salah satu sutta Sang Buddha yang berhubungan dengan awal mula terjadinya alam semesta ini, yaitu Agganna-sutta, yang merupakan Sutta ke-27 dari Digha Nikaya. Kali ini kita akan membahas sutta / khotbah Sang Buddha tersebut dalam bentuk alur proses, sebagai berikut ini :

(a). Masa Setelah Kiamat / Hancurnya Bumi

“Vasetha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini hancur ( kiamat ). Dan ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di Abhassara ( alam cahaya, surga ke-12 dalam kosmologi Buddhis ); disana mereka hidup dari ciptaan batin ( mano maya ), diliputi kegiuran batin, memiliki tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan.

Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.

(b). Kondisi Bumi setelah berlalunya masa Kiamat / Hancurnya Bumi ( pembentukan awal )

“ Pada waktu itu ( bumi kita ini ) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan, siang maupun malam belum ada, laki-laki maupun wanita belum ada. Makhluk-makhluk hanya dikenal sebagai makhluk-makhluk saja. “

Khotbah Sang Buddha tersebut ternyata senada dengan pendapat para ilmuwan modern, bahwa pada awal-mulanya, permukaan bumi ini tertutup oleh air. Merujuk pada khotbah tersebut, Sang Buddha tidak menyatakan bahwa matahari dan bintang-bintang belum ada atau tercipta setelah bumi. Yang dinyatakan Sang Buddha adalah, bahwa matahari dan bintang-bintang belumlah nampak, atau dengan kata lain ada sesuatu yang lain yang menghalangi penampakan mereka. Bisa diartikan, yang menghalangi terlihatnya cahaya matahari dan bintang-bintang adalah karena makhluk-makhluk yang ada waktu itu semuanya adalah makhluk cahaya, yang memancarkan sinar kemilau yang megah, yang karenanya menutupi sinar matahari, bulan dan bintang. Makhluk hidup yang ada pertama kali adalah “aseksual”, tidak berjenis kelamin, tidak ada laki-laki, tidak ada perempuan. Hal ini senada dengan temuan para ilmuwan modern.

(c). Makanan yang Muncul Pertama Kali

“ Vasetha, cepat atau lambat setelah masa yang lama sekali bagi makhluk-makhluk tersebut, tanah dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih ( busa ) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu.

Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama seperti dadih susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. “

(d). “Dosa-Asal” Para Makhluk : Keserakahan

“ Kemudian Vasetha, diantara makhluk-makhluk yang memiliki sifat serakah ( lolojatiko ) berkata : “O apakah ini ? “, dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, nafsu keinginan masuk dalam dirinya.

Makhluk-makhluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu, dengan jari-jari…makhluk-makhluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut dengan tangan mereka.”

(e). Lenyapnya Cahaya dari Para Makhluk Cahaya dan Terlihatnya Sinar Matahari dan Bintang-bintang

“ Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh makhluk-makhluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi nampak… siang dan malam terjadi.”

(f). Bermulanya Pembentukan Bumi Kembali ( Evolusi )

“ Demikianlah Vasetha, sejauh itu bumi terbentuk kembali. Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.”

(g).Terbentuknya Tubuh Para Makhluk Dunia

Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian makhluk memiliki bentuk tubuh yang buruk.”

(h). Munculnya Tumbuhan Pertama Kali ( Tumbuhan Serupa Cendawan )

“ Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang buruk…maka sari tanah itupun lenyap…ketika sari tanah lenyap…muncullah tumbuhan dari tanah ( bhumipappatiko ).

Cara tumbuhnya seperti cendawan…mereka menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali…( seperti diatas )…”

Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itupun lenyap.

(i). Munculnya Tumbuhan Selanjutnya ( Tumbuhan Menjalar )

Selanjutnya tumbuhan menjalar ( badalata ) muncul…warnanya seperti dadih susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni. Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu…maka tubuh mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan tubuh mereka nampak lebih jelas, sebagian nampak indah dan sebagian nampak buruk.

Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk…

Sementara mereka bangga akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itupun lenyap. “

(j). Munculnya Padi

“ Kemudian Vasetha, ketika tumbuhan menjalar lenyap…muncullah tumbuhan padi ( Sali ) yang masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari, mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan pada waktu malam, pada keesokan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus menerus padi itu muncul.

Vasetha, selanjutnya makhluk-makhluk itu menikmati padi ( masak ) dari alam terbuka, mendapatkan makanan itu dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.”

(k). Terbentuknya Jenis Kelamin : Laki-laki dan Perempuan

“ Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas kewanitaannya ( itthilinga ) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya ( purisalinga ).”

(l).Terjadinya Hubungan Sexual

Kemudian wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-lakipun sangat memperhatikan keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indria yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indria tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.

Vasetha, ketika makhluk-makhluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin…dst…dst… “.

Menurut Sang Buddha, alam semesta ini tidak berawal ; tidak ada awal yang benar-benar awal, karena daur-hidup semesta ini, dari awal-mula terjadi hingga kiamat, dan mulai dari awal evolusi lagi, telah berlangsung sangat lama, tidak hanya sekali saja.

Keberadaan dan berlangsungnya alam-semesta itu ditunjang oleh hukum alam semata. Hukum alam itu sendiri, sesungguhnya bersifat relatif, hanya berlaku di alam fenomena, dan muncul “secara khayal” / “delusif” dari dalam tathagatagarbha ( “rahim Tathagata” ).

Sang Buddha juga mengajarkan bahwa ada banyak planet lain yang juga dihuni makhluk hidup, jauh sebelum tata-surya kita terbentuk. Mungkin inilah yang saat ini oleh ilmuwan dan masyarakat modern dikenal dengan “alien”. Tidak mengherankan bila makhluk luar angkasa ini mempunyai teknologi dan peradaban yang jutaan tahun lebih maju daripada manusia, karena ternyata menurut Sang Buddha sendiri, sebelum tata-surya kita terbentuk, diluar sana telah ada tata-surya yang juga telah dihuni oleh makhluk-makhluk hidup.


AWAL-MULA MUNCULNYA KONSEP “YANG-MAHA-PENCIPTA”

Sang Buddha bukanlah manusia yang hidup di jaman orang-orang tidak mengenal suatu konsepsi adanya “Yang-Maha-Kuasa”, “Pencipta-Langit-dan-Bumi”, “ Asal-dan-Tujuan-Semua-Makhluk”, “Dari-Nya-kembali-Pada-Nya”.

Sosok tersebut, dalam jaman Sang Buddha, oleh para Brahmana dikenal dengan sebutan Maha-Brahma. Maha-Brahma ini mempunyai pandangan-salah, karena ia secara keliru menganggap dirinya sebagai “Bapa-Alam-Semesta”. Pandangan-salah ini ditunjang dengan kenyataan bahwa Maha-Brahma ini adalah makhluk-mulia, pemimpin para Dewa dari seluruh surga Kammadhatu ( keenam lapisan surga diatas alam manusia ) dan pemimpin para Dewan dan Menteri Brahma.

Brahmajala Sutta didalam Digha Nikaya mengisahkan mengapa Maha-Brahma sampai memiliki pandangan-salah semacam itu ( untuk membaca Brahmajala-Sutta, buka lagi artikel saya yang berjudul “Alam-Semesta, Kehidupan dan Alam-Kehidupan (V)”, buka di Arsip September 2008, tulisan tanggal 16 September 2008 ).

Sang Buddha mengajarkan bahwa dunia yang kita tempati sekarang ini beserta surga-surga kammadhatu akan mengalami penciptaan dan kehancuran secara berkala. Pada saat terjadinya kehancuran bumi kita ini , yang oleh ajaran agama-agama samawi disebut sebagai “kiamat”, para makhluk yang berdiam di alam yang lebih rendah akan terlahir kembali di alam Surga Abhassara ( Sanskrit : Abhasvara ), surga tertinggi di Jhana II ( surga ke-12 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Setelah berlalunya waktu yang sangat lama sekali, tiga surga di alam Jhana I muncul kembali, dan seorang dewa Abhassara mati serta terlahir kembali di alam ini sebagai Maha-Brahma ( surga ke-9 bila dihitung dari surga tingkat pertama di alam Kammadhatu ).

Karena lamanya ia sendirian disana, ia merasa kesepian dan menginginkan kehadiran makhluk lain. Tak lama kemudian, harapannya terpenuhi, semata-mata hanya karena para dewa Abhassara lainnya mati dan terlahir kembali di alam Brahma, karena karma-karma mereka sendiri, dan kemudian menjadi para Menteri dan Dewan Brahma.

Karena Maha-Brahma tidak mengingat kehidupannya yang sebelumnya, maka ia berpikir, “ Aku adalah Brahma, Maha-Brahma,… Maha-Tahu, Pengendali, Tuhan, Pembuat, Pencipta… makhluk lainnya yang ada disini adalah ciptaan-Ku.”. Para Menteri dan Dewan Brahma serta para pengikutnya setuju dengan kesimpulan yang keliru ini.

Dan ketika beberapa di antara mereka mati dan terlahir kembali sebagai manusia, ada beberapa banyak dari mereka yang meninggalkan kehidupan perumah tangga, dan menempuh hidup sebagai Petapa / seorang Brahmana, lalu mereka mengembangkan kemampuannya untuk mengingat kehidupan sebelumnya, dan karenanya mengajarkan bahwa Maha-Brahma adalah Pencipta yang kekal dari semua makhluk.


MAHA-BRAHMA : MAKHLUK TERBATAS DAN LEBIH RENDAH TINGKATANNYA BILA DIBANDINGKAN DENGAN SAMMA-SAMBUDDHA

Didalam Digha Nikaya, sebuah Kitab Suci Buddhis, dikisahkan sebuah cerita ironis yang memberikan gambaran tentang keterbatasan-keterbatasan sosok yang disebut sebagai “Yang-Maha-Pencipta” ini, yang dalam Brahmanisme dikenal dengan nama : Maha-Brahma. Terdapatlah seorang Bhikkhu yang ingin mengetahui asal-usul dunia, bersamadhi supaya dapat berkomunikasi dengan para dewata dan mengajukan pertanyaan filosofis tersebut.

Tetapi, tidak ada satupun dewa. Mulai dari surga tingkat pertama hingga ketujuh ( kediaman dewa pengikut Maha-Brahma ) yang dapat menjawab pertanyaan sulit itu.

Namun para dewa dengan gegabah berani memastikan bahwa Maha-Brahma sanggup menjawab pertanyaan itu. Selang beberapa saat kemudian , Maha-Brahma menampakan diri dan Sang Bhikkhu pun mengajukan pertanyaan padanya.

Jawaban yang diperolehnya hanya semata-mata berupa penegasan penuh percaya diri bahwa alam semesta adalah ciptaannya. Setelah tiga kali memberikan jawaban yang sama, Maha-Brahma menarik Bhikkhu tersebut ke satu sisi dan berkata bahwa dia tidak dapat mengecewakan para pengikutnya dengan mengakui kelemahannya bahwa ia tidak tahu jawaban dari pertanyaannya. Maha-Brahma kemudian memberikan saran bahwa pilihan terbaik bagi Bhikkhu tersebut adalah pergi mengunjungi Sang Buddha, yang pasti mengetahui jawaban atas pertanyaan tersebut.

Demikianlah sosok yang diyakini sebagai “Maha-Pencipta”, Maha-Brahma, ini masih lebih rendah tingkatannya apabila dibandingkan dengan Buddha. Sekalipun mempunyai kebanggaan yang berlebihan akan dirinya , namun “Maha-Dewa” ini merupakan sesosok makhluk yang baik hati dan welas asih ( ingat empat sifat luhur, Brahmavihara ). Ia adalah “Maha-Dewa-Yang-Penuh-Welas Asih “ yang menyangka dirinya sebagai “Maha-Pencipta”, “Bapa-Semua-Makhluk”.


…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Dalam Patika-sutta, Sang Buddha menyatakan Beliau tidak hanya mengetahui asal-muasal ( agganna ) dari segala sesuatu, tapi jauh lebih banyak lagi. Dan menurut Sang Buddha, maka sesungguhnya tidaklah ada “awal” yang benar-benar bisa disebut sebagai “awal”, Sang Bhagava Guru, Sang Sugatha, bersabda, “ Tak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidak-tahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui. “ ( SN. II. 178 )

Sang Buddha menyatakan kepada Ratu Srimala ;

“ Adalah sulit untuk mengetahui dan memahami bagaimana pikiran murni yang intrinsik dapat dikontaminasi oleh noda-noda batin. Srimala, ada dua hal yang sulit dipahami. Apa kedua hal tersebut ? Pertama, pikiran murni yang intrinsik ; Kedua, kontaminasi terhadap pikiran ini oleh noda-noda batin. Hanya engkau dan Bodhisatva-Bodhisatva yang telah mencapai Dhamma-Agung yang dapat menerima dua hal ini setelah mendengarkannya. Para Srawaka dapat memahami mereka hanya melalui ‘iman’ ( Srimala-devi-simhanada-sutra ).

Menurut sabda diatas, hanya Sang Buddha sendiri yang memahami secara eksperiensial mengapa terlahir ketidaktahuan dasar ( avijja ; Sanskrit : Avidya ) berupa noda batin “primordial” dari pikiran sejati yang secara intrinsik adalah suci murni ; makhluk suci lainnya , para savaka, hanya bisa menerima hal ini dengan ‘keyakinan/iman’. Menurut Buddha-Dhamma, pengetahuan tentang asal-muasal dunia tidak dapat dituangkan ke dalam bahasa manusia karena kelahiran semesta bersifat dualistis dan khayal / delusiv, sedangkan pengetahuan itu bersifat transendental, melampaui penggambaran.

Demikianlah, kelahiran segenap fenomena dan makhluk-hidup ( dhatu ) dipandang oleh agama Buddha sebagai suatu kesalahan, ketidakmuliaan, dan bukan merupakan unsur kesengajaan ( penciptaan ) dari suatu makhluk Adikuasa. Bahkan, taman dan istana surgawi tidak diciptakan oleh siapa-siapa, melainkan muncul dari pikiran diskriminatif dan delusiv ( Sutra Winaya Definitif ). Seperti yang dikatakan dalam Srimala-devi-simhanada-sutra, “ Tathagata, dengan kemelekatan sebagai kondisi dan karma penoda sebagai musabab, tiga alam ( dhatu ) dilahirkan. “


ASAL KEMUNCULAN ALAM KEHIDUPAN ( SAMSARA )

Setelah terjadinya “penciptaan”, kemudian barulah muncul berbagai alam kehidupan.

Pada sistem-dunia kita sendiri ada 31 alam kehidupan, yang terbagi menjadi : Kammadhatu, Rupadhatu, dan, Arupadhatu ( sudah saya bahas pada artikel “Alam-Semesta, Kehidupan, dan Alam-Kehidupan”,) . Pembagian ke-31 alam kehidupan tersebut juga dapat dibagi menjadi enam-alam-kehidupan, yaitu :

1. Alam-alam surga ( dari surga Kammadhatu s/d Arupadhatu )

2. Alam para Asura, Resi, Yakkha.

3. Alam para manusia ( Pali : Manussa ), tempat kita hidup sekarang ini.

4. Alam para binatang ( tirrachana-yoni ).

5. Alam para hantu ( Peta ), setan, dan lain-lain.

6. Alam Neraka ( Sanskerta : Naraka , artinya alam penderitaan ).

Pertanyaannya, darimanakah munculnya alam-alam kehidupan tersebut ? Menurut Sang Buddha di dalam Surangama-sutra, sesungguhnya semua makhluk secara fundamental adalah sejati dan suci murni, tetapi disebabkan oleh pandangan keliru mereka, mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk kebiasaan jelek, yang terbagi menjadi dua :

i. Aspek Internal, dan,

ii. Aspek Eksternal.

Aspek internal, menunjuk pada apa yang terjadi di dalam makhluk. Disebabkan karena cinta-jasmaniah / nafsu, dan kotoran batin, mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk emosi. Emosi yang disebut disini bukan menunjuk pada luapan perasaan dalam waktu singkat, melainkan keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis, seperti kebencian, kekikiran, kemelekatan, kebahagiaan, kemarahan, kesedihan. Ketika emosi-emosi ini berakumulasi tanpa henti, mereka menciptakan “cairan-cinta” . “Cairan-Cinta” dan nafsu keinginan menjelaskan mengapa air liur mereka keluar ketika memikirkan makanan lezat ; ketika mereka memikirkan tentang seorang yang meninggal, air mata mereka menetes ; ketika mereka dengan nafsu serakah ingin memiliki sebuah batu permata, aliran nafsu akan “mengalir” melalui hatinya ; ketika dihadapkan pada tubuh yang “semlohai”, sexy, mulus dan menggiurkan, pikiran mereka menjadi melekat pada nafsu birahi, dan organ seksnya mengeluarkan cairan. Kendati jenis-jenis cinta tersebut berbeda-beda, sifat aliran dan penindasan mereka adalah sama. Dengan adanya “embunan” ini, seseorang tak bisa “menaik”, tetapi akan jatuh secara alami. Ini disebut “Aspek-Internal”. Aspek internal dari emosi seperti cinta-jasmaniah dan kemelekatan mendorong mereka jatuh, berat dan tenggelam. Cinta-jasmaniah , kemelekatan, dan nafsu keinginan ( seperti keserakahan ) berkaitan dengan unsur air.

Aspek eksternal, menunjuk pada apa yang terjadi di luar makhluk, yakni lingkungan. Disebabkan oleh “kerinduan” dan hasrat, mereka menciptakan kesalahan dalam pemikiran yang mengembara.

Ketika proses pemikiran berakumulasi tanpa henti ( pengoptimalan pemurnian batin / buddhi ), ia dapat menciptakan “uap-air” yang naik. Embunan ( aspek-internal ) bersifat jatuh karena berat, sedangkan uap air bersifat naik karena ringan. Dari pemikiran terus-menerus, tanpa melibatkan emosi, suatu respons khusus dapat terjadi, yaitu sebuah gerakan yang bersifat mengangkat. Itulah sebabnya, manusia yang menjaga sila secara murni, tubuh mereka ringan seperti mengapung. Bila mereka berangang-angan dilahirkan di surga, dalam mimpi mereka akan bisa terbang. Bila ada seseorang yang sering bermimpi terbang/melayang, itu adalah bagus, menunjukkan anda memiliki “Sila” yang sudah cukup terjaga ( meski tentunya belumlah semurni seorang “petapa” atau “yogi” yang seumur hidupnya benar-benar menjaga Sila-sila khusus , seperti : selibat, tidak melakukan perbuatan tidak suci ( orgasme ), puasa , meninggalkan kemewahan, dan lain-lain ). Kendati aneka pemikiran itu berbeda-beda, sifat ringan dan mengangkat tersebut adalah sama. Ini disebut aspek eksternal.

Spektrum dari rasio antara pemikiran / batin yang bersifat “naik” dengan emosi yang bersifat “turun” menyebabkan munculnya enam alam kehidupan, berikut adalah penjelasannya :

1. Alam-alam Surga ( dari Kammadhatu s/d Arupadhatu ) :

- Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

100 % : 0 %

- Karakteristik utama : Kebanggaan akan diri ( tetapi hal ini tidak berlaku di alam para Anagami / Suddhavasa ).

2. Alam para Asura , Resi, Yaksa :

- Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

30-100% : 0-70%

- Karakteristik utama : Cemburu / temperamental.

- Keterangan : Tergantung rasio penggunaan pikiran / buddhi dengan emosi, mana yang lebih besar. Alam Asura karena prosentase penggunaan emosi cukup tinggi.

3. Alam para Manusia :

- Rasio Penggunaan Pikiran / Buddhi : Emosi =

50 % : 50 %

- Karakteristik utama : Penuh nafsu keinginan.

- Keterangan :

Pemikiran / Buddhi terang = menjadi pintar.

Emosi berat = menjadi bodoh.

4. Alam para Binatang :

- Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =

40 % : 60 %

- Karakteristik utama = Kebodohan.

- Keterangan =

Emosi ringan = terlahir sebagai binatang bersayap.

Emosi berat = terlahir sebagai binatang buas berbulu.

5. Alam para Hantu / Setan :

- Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =

30 % : 70 %.

- Karakteristik utama : Kemelekatan , keserakahan.

- Keterangan = contoh-contoh makhluk ini ; kuntilanak, thuyul, pocong, wewe, dll.

6. Alam Neraka ( Sanskrit : Naraka ) :

- Rasio penggunaan Pikiran / buddhi : Emosi =0-20% : 80-100%

- Karakteristik utama : Penuh Kebencian.

Berdasarkan uraian diatas, kita melihat bahwa kadar emosi merupakan salah satu unsur pokok yang menentukan jenis alam kehidupan berikutnya setelah meninggal. Sebagai contoh, misalnya ada seseorang yang menjaga lima-sila / Pancasila ( 1). Tidak membunuh / menyebabkan penderitaan makhluk lain, 2). tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3). tidak berbuat sex yang tidak benar dan baik, 4). tidak berucap dusta, 5). tidak meminum minuman keras / barang madat yang menyebabkan lemahnya kesadaran ), tapi sepanjang hidupnya, atau saat menjelang kematiannya dipenuhi dengan emosi kemelekatan pada anggota keluarganya, harta bendanya, atau sesuatu hal yang mengganjal di hatinya. Disebabkan oleh derajat emosi kemelekatan yang tinggi, ia sementara tertunda kelahirannya di alam surga ( karena sesuai dengan prioritas karma sebagaimana pernah kita bahas dahulu pada artikel mengenai “Hukum-Karma” dan artikel-artikel lain yang berkaitan dan menjelaskannya ), ia terpaksa terlahir kembali menjadi manusia atau bahkan terlahir di alam yang lebih rendah, didorong oleh energi emosi berupa kemelekatan. Setelah kekuatan karma dari energi kemelekatan itu perlahan-lahan terkikis habis, ia baru kemudian akan terlahir di alam surga.

Sesungguhnya samsara diciptakan oleh pikiran setiap makhluk sendiri-sendiri, bukan diciptakan oleh sosok “Sang-Maha-Pencipta”. Beragam alam kehidupan berkorespondensi dengan ragamnya keadaan mental. Alam kehidupan merupakan lokalisasi dari alam pemikiran yang menghasilkannya.

Selanjutnya, marilah kita bahas empat alam kehidupan : alam surga, alam neraka, alam hantu, dan alam binatang. Alam manusia tidak kita bahas lagi, karena dulu sudah cukup banyak dibahas, dan kita sendiri telah mengenal dan mengalaminya. Alam Asura ( penentang para dewa ) tidak dibahas tersendiri, karena golongan ini juga hidup di alam surga, alam manusia, alam hantu, dan alam binatang.

1. Alam-alam Surga

Kosmologi Buddhis mengenal 26 tingkatan alam-surga, dari alam Kamadhatu s/d Arupadhatu ( bila menurut Mazhab Mahayana, ada 28 tingkatan alam-surga ).

Para dewata di enam alam surga pertama, yaitu di lingkup alam keindriaan ( Kamadhatu ), menikmati kesehatan, kenyamanan, kekayaan dan kebahagiaan. Namun, seketika berkah karma untuk hidup di alam surga telah habis, para dewata mau tak mau mesti terlahir kembali di alam yang lebih rendah.

Mengapa keenam surga tingkat pertama itu masih digolongkan dalam Kamadhatu ? Hal ini dikarenakan para makhluk yang terlahir disana masih memiliki semacam nafsu keinginan sexual. Hanya saja kadarnya dapat dikatakan jauh lebih ringan apabila dibandingkan dengan alam manusia dan alam binatang.

Aktivitas dan kehidupan para dewata di alam Kamadhatu sesungguhnya tidak jauh berbeda denga umat manusia, hanya saja kekuatan supranatural mereka jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan manusia biasa. Secara etika dan kemoralan mereka masih belum sempurna, karena nafsu keinginan masih membelenggu mereka. Meskipun mereka masih terbakar oleh api nafsu seksualnya, namun makin tinggi tingkatan alam tempat dewa tersebut tinggal, makin halus cara mereka memuaskan keinginan sexualnya tersebut. Sebagai contoh, para dewa dari dua tingkatan surga pertama ( catummaharajika dan tavatimsa )masih harus memuaskan nafsu sexualnya, tetapi ini cukup dilakukan dengan cara berpelukan saja. Itulah sebabnya mereka dipandang lebih tinggi tingkatannya bila dibandingkan dengan manusia biasa.

Pada umumnya , para dewata menghabiskan sebagian waktu untuk bersenang-senang sehngga sepanjang kehidupan mereka tidak muncul pemikiran untuk menyempurnakan diri ( demi pencapaian Nibbana / Nirvana ). Lalu, tiba-tiba mereka “kaget” karena dihadang oleh datangnya kematian.

Dalam It. 83 dijabarkan lima hal yang menandakan bahwa kematian seorang dewa telah dekat ;

I. Cahaya tubuhnya yang biasanya terang, menjadi redup.

II. Tahta kedewaan yang biasanya memberikan rasa nyaman kepadanya, menjadi tidak nyaman lagi untuk diduduki ; sebaliknya, dia merasa gelisah dan tidak bisa duduk tenang di atas tahtanya.

III. Karangan bunganya, yang biasanya tidak pernah layu, mulai layu.

IV. Pakaiannya, yang selalu bersih dan segar sekalipun sudah dipakai dalam waktu yang lama, mulai kelihatan tua, pudar, kotor, serta mulai mengeluarkan bau.

V. Tubuhnya, yang biasanya tidak pernah berkeringat, mulai berkeringat.

Ketika lima pertanda ini muncul, dewata tersebut tersiksa oleh pemikiran bahwa sebentar lagi ia juga akan mati. Rekan-rekan dan kekasihnya juga mengetahui bahwa ia akan mati ; mereka tidak lagi mendekatinya, melainkan melempar bunga-bunga dari jarak jauh dan mengirimkan harapan baik, “ Ketika engkau mati dan pergi dari sini, semoga engkau terlahir di antara manusia. Semoga perbuatan baikmu disana bisa membuat engkau terlahir kembali di alam dewa. “ Dengan begitu teman-temannya meninggalkannya.

Hidup menyendiri, dewata yang mendekati kematiannya itu diliputi rasa duka. Dengan mata dewanya ia melihat dimana ia akan dilahirkan kembali. Bila mengetahui akan dilahirkan di alam sengsara, siksaan batin dari kejatuhan tersebut akan meliputinya bahkan sebelum ia terlahir disana. Sementara penderitaan batinnya makin mendalam, ia merasa putus asa dan terpaksa menghabiskan tujuh hari waktu surgawi untuk meratapi kemalangannya. Jika seorang dewa dari surga Tavatimsa akan meninggal, maka tujuh hari waktu disana untuknya meratapi adalah sama dengan tujuh ratus tahun waktu manusia ( karena sehari semalam disana adalah sama dengan seratus tahun waktu manusia ).

Di alam surga yang lebih tinggi, yakni alam Rupa-Brahma ( surga ke-7 hingga surga ke-24 ) dan alam Arupa-Brahma ( surga ke-25 hingga surga ke-28 ) , tentu saja tidak ada pernderitaan dari kematian dan transmigrasi. Namun, ketika efek dari perbuatan bajik yang mengirim mereka kesana sudah habis, para Brahma ini akan jatuh kembali ke alam yang lebih rendah seperti seakan-akan bangun dari tidur / mimpi.

2. Alam-alam Neraka ( Sanskrit : Naraka )

Menurut kosmologi Buddhis, alam neraka ( Skt.: naraka – “tempat-penderitaan” ) setidaknya dibagi menjadi empat ( 4 ) kelompok neraka, keseluruhannya mengandung delapan-belas ( 18 ) neraka. Mereka terdiri dari :

- Delapan ( 8 ) neraka panas

- Satu ( 1 ) neraka pinggiran

- Delapan ( 8 ) neraka dingin

- Satu ( 1 ) neraka tersendiri ( soliter )

Akan tetapi sesungguhnya jumlah neraka itu jauh lebih banyak, karena keterbatasan tempat, tidak dibahas disini karakteristik masing-masing neraka tersebut dan jangka kehidupannya, tapi hanya membahas sebab-utama terjadinya aneka bentuk penderitaan di neraka.

Suatu kelompok makhluk bisa menerima balasan karma yang identik, dan terdapat tempat-tempat dimana hal itu terjadi. Semuanya ini datang dari balasan karma yang diciptakan mereka sendiri. Mereka menciptakan sepuluh musabab kebiasaan buruk :

- Kebiasaan nafsu birahi

- Kebiasaan keserakahan

- Kebiasaan arogan

- Kebiasaan kebencian

- Kebiasaan penipuan

- Kebiasaan kebohongan

- Kebiasaan permusuhan

- Kebiasaan pandangan sesat

- Kebiasaan ketidakadilan, dan ,

- Kebiasaan “litigasi” ; suka menuntut secara hukum / pengadilan

Disebabkan adanya sepuluh jenis kebiasaan tersebut, lahirlah pengalaman ilusi berupa aneka bentuk siksaan di neraka. Misalnya, kebiasaan mengobarkan nafsu birahi menciptakan kemunculan ilusi berupa hukuman di neraka dalam bentuk siksaan bersentuhan dengan ranjang besi atau tiang tembaga yang membara.

Kebiasaan keserakahan, menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan. Sebab, keserakahan seperti magnet yang menarik benda-benda, hal ini sejenis “penyedotan”. Penyedotan yang berlangsung lama menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan.

Kebiasaan kebencian yang disuplai terus-menerus menciptakan ilusi adanya aneka bentuk pisau, pedang, gergaji, kampak, dan lain-lain.

Kebiasaan kebohongan yang terus menerus menyebabkan si pelaku terlahir di berbagai neraka, dimana ia mencium bau kencing, kotoran, dan tempat-tempat kotor yang dipenuhi debu beterbangan. Berbohong sekali-kali ketika masih hidup di dunia tidak akan menyebabkan seseorang jatuh ke neraka-neraka ini karena kekuatan karma negatif yang ada tidak cukup untuk melemparkan ia ke dimensi ilusi tersebut.

Kebiasaan untuk tidak bertindak adil menciptakan ilusi diremukkan diantara gunung-gunung, diremukkan di antara batu-batu, digiling, dihancurlumatkan menjadi debu, dan pengalaman delusiv sejenisnya. Ketidakadilan mencakup mendakwa seseorang yang tak bersalah, memfitnah. Kekuatan karma dari ketidakadilan menciptakan beberapa tipe neraka, seperti pengalaman dihenyakkan dari empat gunung yang datang dari empat penjuru, menghimpit badannya hingga hancur remuk.

Demikian pula dengan kebiasaan buruk lainnya ; masing-masing pencipta kebiasaan buruk menciptakan siksaannya sendiri sesuai dengan energi karma buruk yang disuplainya. Karma buruk itu menciptakan berbagai halusinasi yang bersifat ilusi bagi si pembuat karma buruk. Aneka jenis neraka muncul semata-mata karena adanya suplai energi negatif, BUKAN CIPTAAN TUHAN atau makhluk apapun.

Kemunculan neraka-neraka itu merpakan manifestasi dari kekuatan karma negatif ; karenanya mereka disebut bersifat ilusi. Dimensi alam neraka muncul secara ilusi dari ketidaksucian pikiran, ucapan, dan perbuatan fisik. Ini seperti dimensi mimpi-mimpi buruk yang kita alami. Bagi pelaku karma buruk, neraka-neraka itu seperti nyata, eksis ; bagi makhluk yang tidak terlahir di neraka, neraka tidaklah eksis. Oleh sebab itu, dalam agama Buddha dikatakan bahwa neraka tidak boleh dikatakan “eksis” atau “tidak-eksis” karena pada dasarnya ia kosong dari eksistensi yang inheren, tapi disebabkan karena kekuatan karma, manifestasi ilusi berupa fenomena siksaan muncul didepan mata pelaku karma buruk.

3. Alam para Hantu

Jenis hantu pun bermacam-macam, dan ada beberapa kategori, tergantung dari aspek yang digunakan. Ada yang disebut sepuluh ( 10 ) kategori hantu, ada yang dikenal dengan istilah tiga ( 3 ) kelompok hantu, dan ada yang diistilahkan dengan dua ( 2 ) jenis hantu.

Dalam klasifikasi tiga ( 3 ) kelompok hantu, hantu dibagi menurut jumlah kekayaan, yaitu dari aspek jumlah makanan yang dapat dimakan :

( i ) Hantu yang tanpa kekayaan,

( ii ) Hantu yang memiliki sedikit kekayaan,

( iii ) Hantu yang memiliki banyak kekayaan.

Di antara hantu yang tak memiliki kekayaan adalah :

1. Hantu bermulut obor-api, dimana makanan dan minuman yang masuk kedalam mulutnya akan berubah menjadi kobaran api.

2. Hantu bermulut jarum, di mana tenggorokannya sangat sempit sehingga makanan tidak bisa melaluinya, dan ,

3. Hantu bermulut bau busuk, yang mulutnya sangat rusak, busuk, berbau amis dan mereka tidak bisa mencerna makanan/minuman apapun.

Hantu dengan sedikit kekayaan bisa memakan sedikit makanan. Ada tiga jenis yang termasuk dalam kategori ini , yaitu :

1. Hantu berambut seperti jarum,

2. Hantu berambut bau busuk,

3. Hantu berkulit tumor.

Beberapa dari mereka, pada saat hendak makan, mendapatkan makanannya berubah menjadi nanah dan darah. Beberapa dari mereka memakan dan meminum air ludah, air kencing, tahi, atau menelan benda kotor sebagai makanan.

Hantu yang memiliki banyak kekayaan, yang mempunyai kesenangan mewah, juga terdiri atas tiga sub bagian :

1. Hantu kurban, yang hidup dari kurban serta persembahan yang dilakukan manusia. Hantu ini serupa dengan jenis hantu yang digambarkan dalam tradisi China.

2. Hantu barang lenyap, yang hidup dari barang-barang yang lenyap dari dunia manusia,

3. Hantu dengan kekuatan besar, seperti para yaksa , raksasa, dan lain sebagainya, yang merupakan penguasa para hantu.

Hantu kurban dan hantu barang lenyap kadangkala masih menderita rasa lapar dan haus, tetapi hantu dengan kekuatan besar mempunyai kesenangan yang mendekati kesenangan duniawi. Ini terjadi karena hantu jenis terakhir ini telah berbuat banyak amal semasa masih menjadi manusia, namun pada saat yang sama mereka juga sangat rakus, serakah, dan tidak pernah puas diri, oleh sebab itu mereka terlahir menjadi hantu jenis ini.

Pada umumnya, kebanyakan hantu sedikit atau tidak memiliki kekayaan, dan mereka selalu lapar.

Jenis kategori hantu lainnya adalah berdasarkan komunitasnya, dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu hantu yang hidup berkelompok dan yang menjelajah angkasa. Hantu yang hidup berkelompok masih dibagi menjadi tiga subkategori, yaitu hantu yang menderita rintangan eskternal, hantu yang menderita rintangan internal, dan hantu yang menderita rintangan spesifik.

4. Alam Binatang

Terdapat beberapa jenis klasifikasi binatang, tergantung dari kriteria yang dipakai. Ada klasifikasi binatang berdasarkan kriteria tempat tinggal, jumlah kaki, hingga sifat dan derajat penderitaan. Berdasarkan kriteria jumlah kaki, maka ada binatang yang tanpa kaki seperti cacing, dua kaki seperti burun, empat kaki seperti binatang buas, dan banyak kaki seperti serangga dengan enam, delapan kaki, atau lebih.

Penderitaan yang dialami binatang beraneka ragam. Pada umumnya dunia binatang diwarnai dengan saling memangsa dan saling membunuh untuk mempertahankan eksistensi kehidupan. Ikan besar memakan ikan yang lebih kecil, serangga yang besar memakan yang lebih kecil. Laba-laba membangun jaringan laba-laba di sudut rumah hanya untuk menangkap dan membunuh serangga yang terbang. Kodok dan burun menelan serangga, dan nafsu makan mereka luar biasa. Bahkan serangga kecil yang bersembunyi di bawah kulit kayu bisa dimakan oleh burung pelatuk. Ular naga pun harus dimakan oleh Garuda. Ada binatang yang dilahirkan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh sinar matahari sehingga untuk melihat tubuhnya sendiri juga tidak bisa. Dunia binatang benar-benar adalah seperti rumah penjagalan ; mereka selalu saling membunuh dan bahkan dibunuh oleh manusia.

KESINAMBUNGAN DUNIA

Agama Buddha mengajarkan bahwa kesinambungan alam semesta disebabkan oleh interaksi keempat unsur. Untuk memahaminya, mari kita baca kutipan dari Surangama-Sutra berikut ini :

“ Interaksi antara kecemerlangan pencerahan dengan kekosongan buram menimbulkan gerakan yang terus menerus, sehingga melahirkan roda angin yang menyokong dunia. Oleh karena kekosongan menimbulkan gerakan, cahaya yang mengeras itu membangun kepadatan yang merupakan sifat-inheren metal. Cahaya yang ditambahkan ke pencerahan itu membuat sifat-keras tersebut, sehingga melahirkan roda metal yang menyokong daratan-daratan.

Kemelekatan yang bandel pada kemampuan-kognisi yang tak tercerah mengakibatkan terjadinya formasi logam, sedangkan getaran dari kemampuan-kognisi yang bersifat ilusi menyebabkan timbulnya angin. Angin dan logam saling bergesekan, sehingga terjadilah cahaya-api yang sifatnya bisa berubah-ubah. Kecemerlangan dari logam menghasilkan embun, yang kemudian berubah menjadi uap air oleh cahaya api yang menyembul dari bawah, sehingga melahirkan roda air yang melingkupi sepuluh penjuru dunia.

Api menyembul ke atas dan air jatuh ke bawah, dan kombinasi dari keduanya membangun kepadatan. Yang basah menjadi samudera dan lautan ; yang kering menjadi benua-benua dan pulau-pulau. Disebabkan oleh hal ini, api sering menyembul didalam samudera, dan diatas benua, kali-kali dan sungai-sungai mengalir terus-menerus.

Ketika kekuatan air kurang daripada kekuatan api, hasilnya adalah gunung tinggi… . Ketika kekuatan tanah kurang daripada air, hasilnya adalah rerumputan dan pepohonan. Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput berubah menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin… interaksi [ dari api dan air ] menjadi benih untuk kesinambungan dunia… .

Menurut Surangama-sutra, konfrontasi terus-menerus antara pencerahan yang ditambah cahaya ( penyadaran yang merupakan subjek ) dengan kekosongan gelap yang merupakan objek, menyebabkan terjadi rotasi terus-menerus; oleh sebab itu terdapat angin yang eksis dimana-mana yang menyokong kehidupan dunia alam semesta.

Penyadaran berupa subjek itu terguncang oleh kekosongan relatif ini, terpana olehnya dan mengeras menjadi unsur logam ( tanah ). Kemelekatan yang kuat terhadap penyadaran (pengetahuan) yang belum tercerahkan itu mengakibatkan terbentuknya logam.

Gerakan getaran dari penyadaran yang khayal ini menyebabkan angin naik ke atas. Angin dan logam bergesekan satu sama lain. Dari sini terciptalah unsur api.

Kecemerlangan dari logam menimbulkan embun. Bila logam dipanaskan, ia akan mengeluarkan cairan ; butiran air akan muncul di permukaannya. Oleh karena adanya api, kelembaban tercipta di logam. Dari kebasahan logam itu, uap embun tercipta. Bila cahaya api dari bawah menyembur ke atas, ia menciptakan uap air saat melewati logam. Dari ini muncul unsur air yang ada di sepuluh penjuru dunia.

Api bersifat menyembul keatas, sedangkan air bersifat jatuh kebawah. Kombinasi dari api dan air menciptakan zat-zat. Yang basah menjadi samudera, yang kering menjadi benua dan pulau. Oleh sebab itu, api sering menyembul ke atas didalam lautan, dan aliran sungai selalu mengalir kebawah di atas permukaan bumi.

Bila kekuatan air lebih kecil daripada kekuatan api, gunung-gunung tinggi tercipta. Oleh sebab itulah bebatuan di pegunungan menimbulkan percikan api bila digesek keras, dan menjadi cairan bila dicairkan. Oleh sebab itu juga terdapat gunung berapi di berbagai tempat di bumi ini.

Bila kekuatan tanah lebih kecil daripada kekuatan air, maka akan tercipta rerumputan dan pepohonan. Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput akan menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin ( atau dipatahkan ). Demikianlah, interaksi air dan api menjadi benih bagi kesinambungan dunia, di mana dunia mengalami proses kemusnahan dan pembentukan kembali secara terus menerus tanpa henti ( kiamat dan berevolusi kembali berulang kali ).

Dari segi sains, keempat unsur ini dapat disejajarkan dengan unsur-unsur penyusun sebuah atom. Sebagaimana yang kita ketahui, atom merupakan baigan terkecil yang menyusun segala sesuatu di jagad-raya ini. Agar mendapatkan pemahaman yang lebih jelas kita perlu membahas secara lebih dalam seluk beluk dari keempat unsur dasar itu. Logam atau tanah memiliki fungsi sebagai faktor penunjang serta memiliki sifat kepadatan ( solidity ). Unsur air, berfungsi sebagai pengikat, sifatnya adalah kohesif dan unsur angin memiliki fungsi sebagai penggerak serta sifatnya yang selalu bergerak. Hal ini selaras sekali dengan unsur-unsur penyusun atom. Proton dan neutron yang memiliki andil besar dalam menentukan berat atom serta membentuk inti atom dapat diumpamakan dengan unsur tanah / bumi yang mengandung kepadatan. Meson yang mengikat keduanya dapat disejajarkan dengan unsur air yang berfungsi sebagai pengikat. Elektron yang terus-menerus bergerak mengelilingi inti atom ( proton dan neutron ) dapat disepadankan dengan unsur angin yang selalu bergerak. Energi yang mengikat antara inti atom dengan elektron dapat diumpamakan dengan unsur api yang mengandung unsur panas atau energi.

Demikian pembahasan kita mengenai “Awal Mula Penciptaan” ditinjau dari sudut pandang Buddha-Dhamma, baik mazhab Theravada, maupun mazhab Mahayana.

Asubha Bhavana (Meditasi Kejijikan)

Manusia umumnya memiliki nafsu sexual yang meluap-luap; begitu mudah tergoda oleh bau harum wangi-wangian yang disemprotkan ke kulit manusia, begitu haus akan belaian, begitu bernafsu melihat kepadatan dan ke-”sintal”-an tubuh. Hal-hal ini merupakan salah satu sebab manusia terikat dalam samsara, dan tidak bisa menggapai kebebasan sempurna dari penderitaan. Untuk anda yang memiliki watak seperti ini, maka, daripada anda membiasakan diri berpikir, berucap, dan berbuat “porno”, daripada membiasakan diri membuka web-web pornografi, ada baiknya sesekali merenungkan sajian-sajian istimewa di bawah ini, sebagai sebuah bahan perenungan, bahwa apa yang selama ini membuat anda tergila-gila, tidaklah berarti, dan bahwa semuanya adalah : tidak-kekal, oleh karenanya tidak layak diinginkan. Apa yang saya sajikan dibawah ini adalah kammatthana yang disebut sebagai “sepuluh asubha”.

Asubha, artinya menjijikkan. Bhavana, adalah pengembangan batin. Cara pemikiran yang sesuai atau perkembangan pengertian terhadap sesuai sifat kotor dari badan jasmani, adalah disebut “asubha bhavana”. Pengembangan batin terhadap “kekotoran” ini telah dianjurkan Sang Buddha sebagai suatu praktek yang penting di dalam kalimat2 sebagai berikut :

“ Asubham, Rahula, bhvanam bhavehi, asubham hi te Rahula, bhavanam bhavayato yo rago so pahiyissati”.


Arti : “Kembangkanlah, Rahula, asubha bhavana, karena apabila engkau mengembangkannya, maka kenafsuan akan berakhir.” ( Majjhima Nikaya. I. 424 ).

“ Asubha bhavetabba ragassa pahanaya”.

Arti : Perenungan terhadap Asubha harus dilaksanakan untuk penghancuran nafsu-nafsu”. ( Anguttara Nikaya.IV.357 ).

Yang menyebabkan semua makhluk bekelana dalam samsara adalah karena :


1. Keserakahan akan keindriaan (Lobha)

2. Kebencian ( Dosa )

3. Kebodohan batin / kegelapan batin ( Moha ) ; yakni batin yang tanpa “kebijaksanaan” (Panna) dalam memahami dan memandang dunia.

Makhluk2 yang berdiam di alam dunia indria dikuasai oleh keinginan yang berfungsi melalui lima (5 ) indra. Untuk banyak alasan, badan jasmani tidak hanya merupakan suatu belenggu yang mencegah pelepasan dari kesengsaraan, tetapi juga merupakan suatu gangguan yang terus menerus.

Karena itu, belenggu “keindriaan” ini harus dipatahkan bila kebahagiaan-sejati ( Nibbana ) ingin diraih. Kita memerlukan kebijaksanaan untuk mematahkan ini, yaitu bahwa segala didunia ini tidak ada yang kekal, termasuk badan jasmani.

Perenungan terhadap badan jasmani sebagai hal yang menjijikkan dalam Dhamasangani yang berkaitan dengan pencapaian Jhana Pertama digolongkan sebagai berikut :

1. Uddhumataka : Suatu mayat menggembung.

Mayat menggembung, mencontohkan kelapukan badan jasmani. Perenungan terhadap mayat menggembung cocok bagi seseorang yang bernafsu terhadap kecantikan / kemolekan / ke-seksi-an bentuk tubuh.

uddhumataka

usshumataka2


2. Vinilaka : Suatu mayat berubah warna.

Menunjukkan kelapukkan kulit, sesuai bagi seseorang yang bernafsu terhadap kecantikan kulit dan wajah.

vinilaka1

vinilaka2


3. Vipibbaka : Suatu mayat bernanah.

Mayat bernanah dengan bau busuk yang keluar dari luka pada badan jasmani, cocok bagi seseorang yang bernafsu terhadap bau manis badan, yang dihasilkan dengan cara2 buatan, seperti parfum, bunga-bunga, wangi-wangian, dan salep-salepan.

vipubbaka


4. Vicchiddaka : Suatu mayat membelah.

Mayat membelah, menunjukkan adanya bermacam-macam lubang didalam badan jasmani adalah sesuai bagi seseorang yang bernafsu terhadap bentuk badan jasmani yang “padat-berisi” / sintal / “sekel” ( bahenol ).

vicchiddaka

vicchiddaka2


5. Vikkhayitaka : Suatu mayat tersobek-sobek.

Mayat tersobek-sobek menggambarkan kehancuran dari kesempurnaan dan kepadatan daging adalah sesuai bagi seseorang yang bernafsu terhadap kepadatan daging di dalam bagian-bagian tertentu badan jasmani seperti dada, pantat, paha, dan lain-lain.

vikkhayitaka1

vikkhayitaka2

vikkhayitaka3

vikkhayitaka4

vikkhayitaka5


6. Vikkhittaka : Suatu mayat terpisah-pisah.

Mayat terpisah-pisah dengan anggota-anggota badan jasmani yang berserakan, adalah sesuai bagi seseorang yang bernafsu terhadap pergerakan badan jasmani yang lemah lembut, anggun, ayu, lemah gemulai.

vikkhittaka

vikkhittaka2


7. Hatavikkhittaka : Suatu mayat terpotong dan terpisah-pisah.

Mayat yang terpotong-potong dan terpisah-pisah dengan sendi-sendi yang terlepas, adalah sesuai terhadap seseorang yang bernafsu terhadap kesempurnaan sambungan-sambungan badan jasmani.

hatavikkhittaka

8. Lohitaka : Suatu mayat berdarah.

Mayat berdarah, menunjukkan kejijikan badan jasmani yang dilumuri dengan darah, adalah sesuai terhadap seseorang yang bernafsu terhadap kecantikan yang dihasilkan oleh perhiasan-perhiasan.

lohitaka

9. Puluvaka : Suatu mayat dikerumuni oleh cacing-cacing.

Mayat dikerumuni cacing-cacing, menggambarkan keadaan badan jasmani yang dikerumuni berbagai jenis cacing , belatung, ulat , dan binatang-binatang menjijikkan, adalah sesuai terhadap seseorang yang bernafsu terhadap kecantikan yang dihasilkan oleh perhiasan-perhiasan.

puluvaka

10. Atthika : Suatu kerangka mayat / tulang-belulang.

Tulang kerangka, menggambarkan kengerian dari tulang-tulang badan jasmani, adalah sesuai bagi seseorang yang bernafsu terhadap kesempurnaan dari gigi dan kuku-kuku.

atthika

atthika2


Inilah kesepuluh golongan mayat yang dapat digunakan menjadi objek pemusatan perhatian bagi yang memiliki “Raga Carita”. Kesepuluh golongan mayat ini sepatutnya kita renungkan, hingga meresap dalam batin, dan lalu kita menarik kesimpulan, ” Tubuhku ini juga demikian halnya, terserang pembusukan dan kelapukan, tak terhindarkan.”

Demikianlah wacana ini saya sajikan untuk anda semua, semoga bermanfaat bagi perkembangan batin kita semua. Semoga kita semua mencapai pembebasan dari samsara.

Tuesday, March 06, 2012

Tuccha Pothila —Bhikkhu Kitab Kosong

Pada jaman Sang Buddha ada seorang bhikkhu yang bernama Pothila, yang diberi gelar Tuccha yang artinya kosong, Tuccha Pothila adalah seorang bhikkhu yang sangat terpelajar. Ia sangat terkenal dan mempunyai 18 (delapan belas) cabang vihara. Ketika orang mendengar nama 'Pothila' mereka semua kagum dan tidak ada seorangpun yang berani mempertanyakan segala yang diajarkannya, mereka begitu memujanya. Tuccha Pothila adalah salah satu murid Sang Buddha.

Pada suatu hari ia datang untuk menghormat Sang Buddha, sewaktu ia melakukan penghormatan, Sang Buddha berkata, "Apa kabar Bhikkhu Kitab Kosong!.... Hanya begitu! Mereka bercakap-cakap sejenak. Dan kemudian sewaktu Tuccha Pothila berpamitan, Sang Buddha berkata: "Pergi sekarang, Bhikkhu Kitab Kosong?"

Sang buddha hanya berkata seperti itu. Pada saat datang, "Apa kabar Bhikkhu Kitab Kosong?" Dan waktu pulang "Pergi sekarang Bhikkhu Kitab Kosong?" Sang Buddha tidak menjelaskan lebih jauh, hanya itulah ajaran yang diberikan. Tuccha Pothila, guru yang terkenal itu bingung, "Mengapa Sang Buddha berkata demikian? Apa maksudnya?" Ia berpikir keras, mengeluarkan semua ajaran yang pernah dipelajari, sampai akhirnya ia menyadari... "Benar! 'Bhikkhu Kitab Kosong' - seorang bhikkhu yang belajar tetapi tidak mempraktekkan. .." Ketika ia melihat dalam hatinya, ia menyadari bahwa ia tidak berbeda dari kebanyakan orang awam. Apapun yang disukai mereka, ia juga suka, apapun yang dinikmati oleh orang-orang awam ia ikut menikmati. Tidak ada samana yang benar pada dirinya, tidak ada kualitas yang baik dalam diri untuk membawa menuju Jalan Mulia dan menemukan kedamaian.

Ia memutuskan untuk berlatih, tetapi ia tidak tahu harus pergi ke mana. Semua guru yang ada di sekitarnya adalah murid-muridnya, tidak ada yang berani menerimanya sebagai murid. Biasanya ketika seseorang bertemu dengan si guru, mereka menjadi penakut dan penghormat, jadi tidak ada seorangpun yang berani menjadi gurunya.

Akhirnya ia pergi untuk menemui seorang samanera muda yang telah mencapai tingkat kesucian untuk meminta petunjuk. Samanera itu berkata, "Baiklah, kamu bisa berlatih bersama saya, tetapi kamu harus tulus. Jika kamu tidak tulus saya tidak akan menerimamu."

Samanera itu kemudian menyuruh Tuccha Pothila untuk mengenakan jubahnya dengan lengkap. Ada tanah berlumpur di sekitar situ. Ketika Tuccha Pothila telah mengenakan jubahnya dengan lengkap, samanera itu berkata, "Baiklah, sekarang berjalanlah di tanah berlumpur itu, jika saya tidak menyuruh untuk berhenti, jangan berhenti. Jika saya tidak memintamu untuk meninggalkannya, jangan tinggalkan. Sekarang bersiaplah dan..... jalan!"

Tuccha Pothila yang berjubah rapi, masuk ke dalam tanah berlumpur itu. Samanera tidak menyuruh berhenti sampai ia betul-betul rata berlumuran lumpur. Akhirnya ia berkata, "Kamu dapat berhenti sekarang"... dan Tuccha Pothila berhenti. "Baklah, tinggalkan tempat itu!" Lalu ia pergi. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuccha Pothila telah meninggalkan keangkuhannya. Ia siap menerima ajaran, jika ia tidak siap untuk belajar ia tidak akan mau berjalan dalam lumpur seperti itu. Tetapi walaupun dia seorang guru yang terkenal, ia mau melakukannya. Samanera muda itu melihat bahwa Tuccha pothila benar-benar tulus dan berniat kuat untuk berlatih.

Setelah Tuccha Pothila keluar dari lumpur itu dan membersihkan diri, samanera muda memberikan ajarannya. Ia mengajar Tuccha untuk mengamati obyek sensasi, mengetahui pikiran dan mengenali obyek-obyek sensasi. Digunakan perumpamaan seseorang yang akan menangkap kadal yang bersembunyi dalam lubang yang bercabang. Jika lubang itu mempunyai enam jalan keluar, bagaimana caranya menangkap kadal tersebut? Tentunya dengan menutup lima jalan keluar yang lain. Dengan demikian ia hanya perlu melihat dan menunggu satu lubang. Ketika kadal itu keluar dengan mudah ia bisa menangkapnya.

Begitu juga cara mengamati pikiran; menutup mata telinga, hidung, lidah dan tubuh, kita hanya menyisakan pikiran. Yang dimaksud dengan menutup indera adalah menahan serta menatanya, dan hanya mengamati pikiran.

Meditasi sama seperti menangkap kadal. Kita menggunakan sati untuk mengamati nafas. Sati adalah kualitas perenungan, sama halnya seperti bertanya pada diri sendiri, "Apa yang saya lakukan?" Sampajañña adalah kesadaran bahwa 'saat ini saya sedang melakukan ini dan itu'. Kita mengamati nafas yang masuk dan keluar dengan menggunakan sati dan sampajañña.

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA




Wednesday, February 29, 2012

4 Alasan Orang Butuh Meditasi

Saat ini belum banyak orang yang mau melakukan meditasi, padahal kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi tubuh dan kesehatan. Ini dia 4 alasan seseorang harus melakukan meditasi.

Meditasi merupakan kegiatan yang memainkan peran pikiran, perasaan, tindakan dan sensasi tubuh secara obyektif serta sudah terbukti bisa meredakan nyeri. Hal ini karena nyeri tidak hanya peran dari sensor peraba, tapi juga emosional, pikiran dan perasaan yang berkecamuk sehingga menimbulkan ketidaknyamanan.

“Karena semua pikiran bergejolak maka akan menimbulkan sensasi yang tidak menyenangkan. Tapi kalau seseorang bermeditasi maka ia dapat fokus sehingga mengurangi penderitaan,” ujar Jon Kabat Zinn, PhD, seorang profesor di University of Massachusetts, seperti dikutip dari Prevention.com, Senin (17/1/2011).

Berikut ini adalah 4 alasan yang membuat seseorang harus melakukan meditasi untuk meningkatkan kesehatannya yaitu:

1. Mengendalikan emosi makan
Sebuah studi baru-baru ini mengungkapkan meditasi bisa mengendalikan emosi seseorang untuk makan secara berlebihan sehingga kehilangan kontrol. Dengan meditasi, emosional makan seseorang berkurang sekitar 4 kali lipat per minggunya.

Teknik yang bisa dilakukan seperti meditasi kismis yang dirancang untuk mengganggu hubungan emosional dengan makanan. Pegang kismis (atau cemilan lainnya) dan periksa seolah-olah belum pernah melihatnya. Perhatikan bagaimana buah tersebut terasa di jari-jari, menghirup aromanya, masukkan kismis ke bibir dan perhatikan bagaimana air liur yang keluar, kunyah secara perlahan sambil dirasakan hingga akhirnya tertelan.

2. Meningkatkan semangat dan imunitas
Meditasi bisa mengurangi kecemasan sebesar 44 persen dan gejala depresi sebesar 34 persen yang secara bersamaan meningkatkan imunitas. Stres dan depresi yang berkurang akan berdampak pada peningkatan semangat.

Cara meditasi yang dilakukan bisa dengan berjalan perlahan-lahan secara bolak-balik atau melingkar di tempat yang tenang. Rentangkan pandangan ke depan dan fokus pada satu aspek. Lakukan hal ini selama 10 menit.

3. Mengurangi rasa sakit
Berdasarkan studi oleh University of Pittsburgh diketahui meditasi dapat membantu orang dewasa mengatasi rasa sakit kronis di pinggang. Dengan melakukan meditasi 4 hari seminggu seseorang bisa memperbaiki fungsi fisiknya, mengurangi rasa sakit yang diderita serta mengurangi asupan obat-obatan.

Cobalah berbaring dengan mata tertutup, lalu fokus pada setiap sensasi yang terasa mulai dari jari kaki kiri, pergelangan kaki, tulang kering, lutut dan paha, ulangi hal yang sama untuk kaki kanan. Selanjutnya pindah ke pinggang, punggung, dada, bahu, kedua lengan, leher, tenggorokan, wajah, bagian belakang kepala dan bagian atas kepala. Lakukan selama 10-20 menit sambil menarik napas secara teratur.

4. Memperkuat hubungan
Studi terbaru dari University of North Carolina-Chapel Hill menemukan bahwa teknik-teknik meditasi bisa meningkatkan hubungan pribadi dengan pasangan. Pasangan yang melakukan meditasi selama 8 minggu merasa jauh lebih puas dengan hubungannya dibanding sebelum meditasi, serta melaporkan berkurangnya kadar stres dalam hubungan. Cobalah melakukan meditasi dengan cara ‘Say Hello’ pada orang lain atau pasangan serta berusaha untuk meningkatkan keintiman.

Wednesday, February 15, 2012

Petikan Kata Kata Bhikkhu Uttamo Mahathera

1. DISIPLIN, SEMANGAT, ULET
(Semboyan pelaksana meditasi di Vihara Bodhigiri)
2. Bagai teratai yang jatuh ke lumpur.
Ia tidak mengeluh atas kekotoran yang ada di sekitarnya.
Ia justru menggunakan kekotoran itu untuk tumbuh subur.
Teratai bahkan tidak ternoda oleh lumpur maupun air tempat ia bertumbuh.
Demikian pula orang yang terlahir di lingkungan kurang ideal.
Ia hendaknya tidak mengeluh namun menggunakan kondisi tersebut untuk mencapai kemajuan batin secara maksimal.
3. Segala yang datang, HADAPI.
Segala yang telah pergi, JANGAN DICARI.
Segala yang belum datang, JANGAN DINANTI.
4. Segala sesuatu yang menjadi milik tidak akan pernah terlepaskan.
Segala sesuatu yang bukan milik tidak akan pernah diperoleh.
Semua mahluk hanya menerima segala yang memang sudah menjadi miliknya.
5. Masa lalu hanyalah kenangan. Jadikan pelajaran.
Masa depan masih impian Jadikan pedoman.
Masa sekarang adalah kenyataan. Gunakanlah secara maksimal.
6. Katakan MEMANG.
Jangan tanyakan ‘Kenapa’
Atas segala sesuatu yang sedang dialami maupun dijalani
7. Ubahlah pernyataan menjadi PERTANYAAN
Untuk mampu berkomunikasi dengan bijaksana kepada siapapun
8. Keberhasilan hanyalah konsenkuensi logis suatu usaha.
Berani usaha dan mencoba, maka terdapat 50% kemungkinan berhasil.
Tanpa usaha dan mencoba, jelas 100 % gagal.
9. Ketika memiliki kemauan, maka tentu ada jalan.
Jika tidak ada jalan, BUATLAH jalan untuk mencapai harapan.
10.Stress adalah perbedaan antara harapan dengan kenyataan.
Mampu mengubah harapan agar sesuai kenyataan menimbulkan kebahagiaan
11. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan.
Kenyataan tidak selalu sesuai harapan.
Seseorang hanya mampu mengubah harapan.
Ia tidak akan pernah mampu mengubah kenyataan.
Harapan yang disesuaikan kenyataan mampu memberikan kebahagiaan.
12. Hidup berisi perubahan.
Berubahlah untuk mengisi kehidupan
13 Bersahabatlah dengan waktu
Walau waktu hanyalah khayal
Kenyataan hanyalah saat ini
Bukan masa lalu maupun masa depan
Menjadikan waktu sebagai sahabat
Banyak masalah dilalui
Satu demi satu
Akhirnya bahagia timbul juga
* Segala kebajikan yang dilakukan akan membuahkan kebahagiaan.
Oleh karena itu, mereka yang ingin mendapatkan kebahagiaan hendaknya memperbanyak kebajikan dalam setiap saat hidupnya.
* Jangan terlalu berusaha mengubah orang lain, namun, cobalah mengubah diri sendiri agar dapat menerima kelebihan serta kekurangan orang lain.
Dengan demikian, kita dapat bersatu untuk mencapai kemajuan di segala bidang.
* Dalam masyarakat, kita hendaknya menyadari bahwa apapun bentuk kehidupan seseorang, baik di dalam rumah tangga, di kantor maupun dimana saja ia berada, hendaknya ia selalu mengembangkan perilaku yang terus terang, jujur dan mengurangi kebohongan. Keterusterangan akan membuat banyak permasalahan lebih mudah diselesaikan dengan hasil yang membahagiakan semua fihak.
* Bila kita ingin dicintai orang, mulailah dengan mencintainya.
Cinta disini bukanlah sekedar keinginan untuk menguasai melainkan hasrat untuk membahagiakan orang yang dicintai.
1. Ketika seseorang mendapatkan pujian, celaan bahkan fitnah, renungkanlah bahwa :
Sudah biasa orang mendengar kata celaan, pujian, bahkan fitnah.
Hal ini juga dialami Sang Buddha yang Maha Sempurna.
Anggap sebagai buah kamma.
Karena kita tidak bisa mengatur isi pembicaraan orang lain.
Dengan perenungan ini, semoga beban pikiran menjadi ringan.
Masalah juga bisa lebih mudah diselesaikan dengan memperbaiki perilaku agar mengurangi kondisi untuk dicela maupun difitnah.
2. Apabila seseorang mampu mengatasi pikirannya sendiri, maka ia akan dapat mengendalikan keinginannya dan bisa membebaskan diri dari jeratan perasaan suka dan duka.
3. Sesungguhnya, kebahagiaan hidup bukanlah karena seseorang telah memiliki segala bentuk kenikmatan duniawi. Kebahagiaan adalah kemampuan seseorang untuk menguasai pikirannya sendiri serta memenuhinya dengan gelombang cinta kasih.
4. Apa yang dianggap penting oleh seseorang mungkin tidak penting bagi yang lainnya, itu urusan kebijaksanaan yang berbeda. Tetapi kita masing-masing orang harus bisa membedakan, karena inilah sesungguhnya KEBIJAKSANAAN
5. Orang yang memiliki keyakinan akan kebenaran Sang Buddha, akan bersemangat untuk melaksanakan Ajaran Luhur Sang Buddha, selalu memusatkan perhatian pada penerapan dan pelaksanaan Ajaran Sang Buddha. Tidak akan bisa terpengaruh oleh bujukan orang lain agar mencoba, apalagi memilih agama lain untuk menggantikan Buddha Dhamma yang telah diyakini dan tetap bertahan pada Buddha Dhamma apapun yang terjadi padanya.
6. “Semoga semua makhluk selalu hidup berbahagia”, apabila seseorang selalu mempergunakan waktu luangnya untuk mengucapkan kalimat tersebut, maka secara bertahap pikirannya akan berisikan gelombang cinta kasih.
7.
* Sesungguhnya, orang yang membantu melestarikan Dhamma telah melestarikan (maksudnya : melakukan-admin) Dhammadana yang tertinggi nilainya diantara semua jenis Dhamma;
* Hanya orang bijaksana yang mampu memilih hal baik di antara banyak hal buruk, ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagian lahir dan batin.
* Tidak akan ada kekecewaan dikala menderita, tiada kesombongan dikala suka, karena orang telah menyadari bahwa segala suka dan duka yang dialami adalah hasil perbuatannya sendiri.
* Pasangan (suami-istri) yang baru hendaknya selalu berusaha menjaga segala bentuk pikiran, ucapan dan perbuatannya agar ditujukan pada KEBAIKAN.
Dengan kata lain, mereka mendidik diri mereka sendiri dahulu sebelum me MULAI mendidik anaknya
8.
* Harta, Kekayaan, Kemoralan, Kedermawanan dan Kebijaksanaan seperti sumur. Ketika dibagikan airnya tetap sama tetapi orang yang kehausan menjadi bebas dari kehausan. Jangan hanya menjadi sumber air dalam diri kita, bagikanlah kepada siapapun dilingkungan kita serta keluarga kita sehingga kita menjadi sumur kebajikan yang tidak pernah habis.
* Seseorang yang berbuat kebajikan dalam kehidupan yang sedang menderita akan mengkondisikan dirinya mendapat kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun yang akan datang
* Keberhasilan menganjurkan orang melaksanakan Dhamma adalah merupakan Dhammadana yang diyakini akan memberikan buah terbesar melampaui segala bentuk pemberian lainnya
9.
* Sesungguhnya MEDITASI adalah mendidik, membimbing kita agar selalu siap menerima dan menghadapi segala PERUBAHAN yang terjadi.
* Apabila Seseorang hanya melatih diri secara fisik saja, maka ia akan menjadi orang yang munafik, pandai berpura-pura, kelakuannya baik tetapi pikirannya jahat. Ia hendaknya juga melatih pikirannya dengan meditasi.
* Mendengarkan Dhamma adalah ibarat memberikan tenaga tambahan pada batin seseorang yang mungkin lelah dalam menghadapi kenyataan hidup.
* Hendaknya seseorang berbuat baik demi perbuatan baik itu sendiri. Ibarat bunga, ia mekar demi mekarnya sendiri tanpa dipengaruhi oleh keinginan untuk dilihat maupun dipuji.
* Semakin tinggi kualitas batin dan pemahaman orang itu akan kebenaran Hukum Karma, maka semakin berkurang pula kebiasaannya merumuskan kebahagiaan yang diharapkan setelah ia melakukan suatu kebajikan.
10.
* Setiap dari langkah kita apabila mengecewakan orang lain belajarlah untuk memperbaiki. Setiap dari langkah kita apabila membahagiakan orang lain, belajarlah untuk ditingkatkan. Sehingga akhirnya setiap langkah kita mendatangkan senyuman, tawaan serta Kebahagiaan untuk siapapun yang ada di lingkungan kita.
* Keyakinan adalah salah satu harta yang kita miliki dan akan kita bawa sampai kelahiran yad. Jika kita punya keyakinan pada Dhamma, ketika meninggalpun dengan keyakinan yang kuat, bisa terlahir dalam alam Bahagia.
* Menceritakan secara sederhana pengalaman sendiri setelah melaksanakan Dhamma, akan mendorong orang lain mengikutinya, juga menjadikan orang lain memiliki kesempatan mendapatkan pengalaman yang serupa yaitu KEBAHAGIAAN
11.
* Kalau ingin sukses dalam hidup, baik dalam rumah tangga maupun karir, maka lenyapkan semua ketamakan, kebencian dan kegelapan batin.
* Kemanapun seseorang pergi, hendaknya ia dapat selalu menumbuhkan kedamaian dan kebahagiaan kepada semua mahkluk yang ada
* Tidak ada kekecewaan dikala menderita.
Tidak ada kesombongan dikala suka.
Karena (Untuk – admin) orang yang telah menyadari bahwa segala suka dan duka yang dialaminya adalah hasil perbuatannya sendiri.
12.
* Sesungguhnya makna dari ber”dana” adalah menumbuhkan kebiasaan berpikir untuk membahagiakan makhluk lain, bahkan semua makhluk. Ia akan membahagiakan mereka dengan segala macam cara menumbuh kembangkan pikiran yang penuh CINTA KASIH.
* Hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan dalam usaha melaksanakan Buddha Dhamma adalah ketekunan, keuletan, kesungguhan dan semangat untuk membuktikan kebenaran ajaran Sang Buddha.
* KEBAHAGIAAN bukan dicari diluar diri kita, tapi
KEBAHAGIAAN itu ada dalam diri kita.
KEBAHAGIAAN itu ada pada cara kita mengubah cara berpikir kita.
Makin pandai kita mencari cara untuk mengubah pikiran kita, maka akan semakin baik.
13
* Mendengarkan Dhamma adalah memberikan tenaga tambahan pada batin seseorang yang mungkin lelah dalam menghadapi kenyataan hidup.
* Kebiasaan mengembangkan KETAMAKAN (kebencian dan kegelapan batin-admin) akan berbuah dalam bentuk kelahiran kembali yang terus berulang tiada hentinya.
* Ke-Aku-an menjadikan seseorang merasa sebagai tokoh utama dalam hidup ini, tanpa dirinya seakan dunia tidak akan berputar lagi.
Padahal seseorang mampu mencapai kondisi seperti saat ini pasti ada sebabnya. (Hukum Sebab dan Akibat)
14.
* Seseorang yang tidak melekat, akan menyadari bahwa kehidupan sungguh sangat singkat. Oleh karena itu, ia akan mengembangkan kebajikan setiap waktu hidupnya untuk memperhatikan dan menolong mereka yang sedang menderita.
* Nibbana dapat dicapai ketika manusia masih hidup di dunia dan mampu mengembangkan kesadaran secara total, sehingga ia terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
* Perbuatan baik bukan hanya dilakukan sekali dalam jumlah yang besar, tetapi harus berulang-ulang sepanjang waktu.
* Perubahan sikap membutuhkan perjuangan keras dan siap untuk selalu bangkit dikala menghadapi kegagalan.
15.
* Manfaat ajaran Sang Buddha bukan tergantung pada profesi seseorang melainkan pada kemauan seseorang untuk melaksanakan pengendalian diri sehingga melihat proses hidup sebagaimana adanya.
* Apabila si anak mampu menjadi Bhikkhu yang baik serta mampu melatih diri sehingga mencapai kesucian, maka sebagai orangtua yang telah mengijinkan anaknya menjadi Bhikkhu tersebut akan memiliki kamma baik yang Luar Biasa.
* Kathina memang saat yang tepat untuk berdana empat kebutuhan Bhikkhu. Lebih indah lagi apabila pada saat berdana bertekad juga melepaskan dan melenyapkan ke-Aku-an.
* KUNCI SUKSES ;
1. Belajar lebih banyak dari orang lain.
2. Bekerja lebih keras dari orang lain
3. Berkeinginan lebih sedikit dari orang lain.
16.
* Seseorang hendaknya tidak hanya mengeluhkan sikap lingkungan terhadap dirinya. Ia hendaknya juga merenungkan dengan baik “Kualitas hidup apakah yang harus lebih ditingkatkan dan dikembangkan dalam diri agar lingkungan dapat menerima diri kita dengan baik”
* Semakin tinggi kualitas batin dan pemahaman orang itu akan kebenaran hukum karma, maka semakin berkurang pada kebiasaannya merumuskan bentuk kebahagiaan yang diharapkan setelah ia melakukan suatu kebajikan
* Umat Buddha yang mencapai kesucian setelah melaksanakan ajaran Sang Buddha, maka umat seperti inilah yang sesungguhnya layak berbangga
* Faktor terpenting dalam Buddha Dhamma adalah bagaimana seseorang dapat merasakan manfaat Dhamma dalam kehidupannya setelah ia melaksanakan Ajaran Sang Buddha tersebut dalam kehidupan sehari-hari
17.
* Penghormatan, selain sebagai sarana mengurangi ke-Aku-an, juga untuk membiasakan kita agar dapat mengenal budi baik orang lain.
* Apabila seseorang dapat merenungkan dan menyadari bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, maka ia akan melihat dirinya sendiri sama dengan orang lain.
* Perasaan sombong dapat timbul dalam diri seseorang karena ia hanya mengingat kelebihan diri sendiri serta memandang orang lain dari sudut kelemahannya.
* Seorang umat Buddha harus menjadi teman untuk mereka yang sedang mengalami kesedihan.
* Dengan menyadari manfaat langsung melakukan kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran, seseorang hendaknya akan selalu berkarya dengan semaksimal mungkin.
Ketika mengalami hal-hal buruk bahkan dalam kondisi yang kita anggap terburuk sekalipun, senantiasa terapkanlah kata “UNTUNG” maka kita akan mampu melihat kesialan sebagai suatu keberuntungan.
Dengan demikian, secara alamiah kita dapat menyikapinya dengan positif, penuh rasa syukur dan berterimakasih.
Contoh :
Ketika terjadi kecelakaan, katakan :
1. UNTUNG hanya mobil yang tertabrak, tidak ada yg terluka.
2. UNTUNG masih hidup dan tidak mati
3. UNTUNG hanya amputasi kaki, tidak cacat total
1.
Keempat harta, yakni keyakinan, kemoralan, kedermawanan dan kebijaksanaan, adalah seperti sumur. Ketika Anda bagikan, airnya tetap sama tapi orang yang kehausan menjadi terbebas dari rasa haus. Jangan hanya menjadi sumber air dalam diri Anda, bagikanlah kepada temah Anda, lingkungan Anda, serta keluarga Anda sehingga kita menjadi sumur kebajikan yang tidak pernah habis.
2.
Banyak orang mempunyai keyakinan agama yang kuat tetapi perilakunya buruk.
3.
Pengendalian ucapan tidak berbohong; pengendalian badan/perbuatan, tidak berzinah dan juga tidak mabuk-mabukan akan mengantar kita hidup bahagia di dunia dan juga bahagia setelah kehidupan ini.
4.
Balaslah jasa ayah dan ibu Saudara sebanyak dan semampu yang bisa Saudara berikan, minimal Saudara tidak rewel, tidak nakal dan tidak menyusahkan orangtua.
5.
Ketahuilah bahwa badan kita ini mulai dari rambut sampai ujung kaki itu sebetulnya bukan milik kita, tetapi milik orangtua. Tidak ada manusia yang dapat menciptakan bagian tubuhnya sendiri.
6.
Penganiayaan dan pembunuhan merupakan dua hal yang saling berdekatan. Pembunuhan yang tidak sukses disebut penganiayaan. Sebaliknya, penganiayaan yang sukses disebut pembunuhan.
7.
Kamma yang harusnya dirasakan oleh seseorang dapat diubah dengan cara mengubah perilakunya menjadi lebih baik dari hari ke hari.
8.
Hasil kamma yang dialami seseorang tidak akan dapat dipindahkan maupun dialihkan kepada fihak lain.
9.
Kebenaran tidak akan berubah hanya karena seseorang mempercayai ataupun tidak mempercayainya.
10.
Selama seseorang melakukan suatu perbuatan dengan niat baik, maka orang itu tetap menanam kamma baik.
11.
Seseorang memilih suatu agama tertentu adalah berdasarkan kecocokan.
12.
Orang yang telah mencapai kesucian tidak akan mengumumkan dirinya sebagai orang yang telah suci kepada masyarakat umum.
13.
Apabila seseorang sering mengembangkan kebajikan, maka hidupnya akan selalu bertambah bahagia. Walaupun ia harus merasakan penderitaan, ia tidak akan terlalu menderita.
14.
Salah satu tujuan pelaksanaan Buddha Dhamma adalah untuk menjadi orang baik yang bijaksana.
15.
Hubungan orangtua dengan anak yang harmonis maupun yang kurang harmonis tentulah ada penyebabnya pula. Salah satu penyebab terjadinya hubungan itu adalah ikatan kamma.
16.
Para umat Buddha hendaknya mampu dengan bijaksana memisahkan antara Buddha Dhamma yang diuraikan dengan perilaku pribadi Dhammaduta.
17.
Seseorang yang berbuat kebajikan dalam kehidupannya yang sedang menderita akan mengkondisikan dirinya mendapat kebahagiaan dalam kehidupan ini maupun kehidupannya yang akan datang.
18.
Sebagai murid Sang Buddha, hendaknya kita mampu membangkitkan dan selalu menjaga agar semangat selalu ada dalam diri kita.
19.
Segelas air diberi satu sendok garam, maka air itu akan terasa sangat asin. Bila jumlah air itu ditambah menjadi satu guci, maka garam sesendok yang berada di dalamnya tidak lagi menimbulkan rasa asin. Contoh ‘air’ di sini adalah sebagai lambang kebajikan, sedangkan ‘garam’ melambangkan keburukan.
20.
Bukan karena makanan atau minuman seseorang dapat disebut sebagai orang baik, melainkan harus dilihat dari perilakunya.
21.
Umat hendaknya setahap demi setahap membersihkan perilaku hidupnya dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.
22.
Apabila seseorang mampu mengatasi pikirannya sendiri, maka ia akan dapat mengendalikan keinginannya dan bisa membebaskan diri dari jeratan perasaan suka dan duka.
23.
Hendaknya kita ingat baik-baik bahwa badan ini adalah pinjaman dari orangtua. Kita mempunyai kewajiban untuk membalas jasa orangtua, karena sesungguhnya yang paling berjasa di dalam kehidupan kita adalah ayah dan ibu.
24.
Sesungguhnya Ajaran Sang Buddha bukan hanya sekedar upacara sembahyang saja, atau bahan diskusi, bahkan bukan pula merupakan suatu pengetahuan umum, tetapi lebih dari itu. Ajaran Sang Buddha membutuhkan pelaksanaan di dalam kehidupan kita sehari-hari.
25.
Sebaiknya kita tidak hanya ingat mereka yang telah berjasa saja. Tetapi kita juga harus menajdi orang yang baik dengan cara berusaha berbuat baik kepada siapa saja.
26.
Di dunia ini, kita hanya mempunyai satu ayah dan satu ibu kandung. Kalau mereka meninggal, tidak ada yang bisa menggantikannya. Kalaupun ada, mereka bukanlah ayah dan ibu kandung yang memiliki badan Saudara.
27.
Umat Buddha yang sesungguhnya adalah umat yang telah melaksanakan Buddha dDhamma dalam kehidupannya sehari-hari, paling tidak, dengan meniru sikap serta perilaku Sang Buddha Gotatama sebagai Guru Agungnya.
28.
Sebagai manusia yang bisa berpikir, tentu kita harus merenungkan dahulu setiap langkah dan ucapan kita.
29.
Kadang-kadang kita merasa bahwa kita tidak kepingin belajar, ‘Saya sudah cukup”. Padahal, kalau kita mendengar, tentu kita akan mendapatkan banyak manfaat.
30.
Ajaran Sang Buddha memberikan kebahagiaan di dalam batin, sedangkan dalam ilmu pengetahuan Saudara hanya memperoleh kebahagiaan yang bersifat badaniah.
31.
Ilmu pengetahuan tidak bisa memberikan ketenangan batin. Ilmu pengetahuan tidak bisa memberikan kebahagiaan sejati. Ilmu pengetahuan hanya memberikan kebahagiaan semu / membantu kebahagiaan saja.
* “Seperti bunga yang mekar demi mekarnya sendiri. Bukan karena motivasi dari luar. Aku bekerja demi pekerjaan itu sendiri”. Kita mengabdi pada tindakan itu sendiri. Apa saja yang kita lakukan menjadi pengabdian. Pengabdian pada apa yang kita lakukan itu sendiri, sehingga kita rela melakukan segala sesuatu dengan habis-habisan. Itulah yang disebut dengan pengabdian.
* Tetap tekun dan fokus pada tujuan walau tidak ada tantangan, inilah salah satu makna Samadhi dalam kehidupan sehari-hari. Mampu dengan cepat memusatkan pikiran. Mampu mempertahankan konsentrasi untuk waktu yang lama. Penuh perhatian. Ada gangguan ataupun tidak, terus belajar, terus berjuang, hajar terus. Ada ujian ataupun tidak, belajar terus. Ada orang ataupun tidak ada orang, tetap setia melakukan kebajikan dengan badan, ucapan dan juga pikiran. Itulah kualitas batin yang patut dikembangkan.
* Kita mampu melindungi diri sendiri. Kunci dalam Agama Buddha: mengerti Hukum Kamma. Bahwa apabila saya menderita, penderitaan ini bukan disebabkan oleh si A, dibuat oleh si A, Demikian pula apabila kita bahagia. Bukan karena si B, maupun fihak lainnya. Kita diajarkan Sang Buddha untuk mandiri. Kenapa saya menderita? Karena kamma buruk saya sedang berbuah. Kenapa saya bahagia? Karena kamma baik saya sedang berbuah. Dengan pengertian kamma seperti ini, maka kita selalu giat bersemangat untuk mengurangi kamma buruk dan selalu menambah kamma baik dalam setiap kesempatan. Sesungguhnya, Buddha Dhamma mengajarkan kita untuk tidak bergantung kepada fihak manapun juga.
* Apakah yang membuat seseorang bersemangat? Orang itu harus mempunyai keyakinan. Selama orang tidak mempunyai keyakinan, ia tidak akan pernah maju. Ia tidak akan pernah mau bertahan. Ia mudah putus asa. Salah satu contoh nyata dalam keyakinan adalah Pangeran Siddhattha yang selama enam tahun banyak berjuang dalam meditasi karena yakin segala yang Beliau jalani adalah benar. Apabila selama enam tahun dijalani dan ternyata tidak benar, tidak masalah. Masih ada kesempatan untuk berubah. Dan, ketika Beliau mengubah cara meditasi yang telah Beliau lakukan selama ini, Beliau kemudian mencapai kesucian. Beliau menjadi Buddha. Oleh karena itu, setiap orang hendaknya selalu yakin dengan segala yang hendak dikerjakan. Itulah yang akan membangun semangat kita dalam mewujudkan harapan yang telah dimiliki. Apapun yang Anda lakukan, sebagai pelajar, pengusaha, perumah tangga maupun pekerja, jagalah rasa percaya diri pada kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab masing-masing orang. Ketika rasa percaya diri mulai berkurang, maka sejak saat itulah prestasi akan menurun. Karena itu, yakinlah bahwa segala yang dilakukan dapat mencapai hasil yang maksimal.
* Selalu memperhatikan segala sesuatu yang telah dikerjakan diri sendiri. Sebagai seorang pelajar, jika kita yakin bahwa belajar itu bisa menimbulkan sukses maka muncullah semangat untuk mencapai kesuksesan tersebut. Kita menjadi lebih tekun dan konsentrasi pada kegiatan belajar.
* Kebosanan yang dirasakan diatasi bukan dengan mengubah atau mengganti objek yang membosankan tersebut, tetapi dengan mengubah cara berpikir atau sikap mental kita terhadap hal yang membosankan itu.
* Senantiasa mengisi pikiran dengan hal positif misalnya dengan sering menyebut dalam batin kalimat cinta kasih SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA di setiap kesempatan sehingga tiada peluang bagi hal negatif bersemayam dalam batin kita…
* Komunikasi akan terjalin baik serta dapat dimengerti oleh kedua belah pihak apabila menerapkan rumus :
Komunikasi sehat = 1 bicara + 1 mendengar
Komunikasi tidak sehat = 1 bicara + 1 bicara ( Anda dapat bayangkan apabila komunikasi type ini diterapkan saat berkomunikasi via Hp….maka habislah pulsa tanpa mengerti isi komunikasi yang baru dilakukan alias nggak nyambung…)

Mau Sehat? Jadilah Orang Religius

Melakukan olahraga teratur dibarengi konsumsi makanan bergizi seimbang selama ini selalu didengung-dengungkan oleh para pakar kesehatan sebagai resep jitu dalam menjaga tubuh tetap sehat dan bugar. Tetapi alangkah baiknya jika Anda tidak melupakan unsur religius dalam menunjang kesehatan seperti berdoa atau pun bermeditasi.

Berbagai studi ilmiah mengklaim, melakukan doa dan meditasi secara teratur dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan memperpanjang usia hidup seseorang.

Di Amerika Serikat misalnya, praktik-praktik religius kini menjadi salah satu terapi alternatif yang paling banyak dilakukan. Studi di University of Rochester misalnya menemukan, lebih dari 85 persen orang yang menderita sakit memilih untuk berdoa. Prosentase ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang memilih menjalani pengobatan herbal atau pengobatan medis lainnya. Hal ini semakin membuktikan bahwa doa sungguh-sungguh efektif dalam membantu penyembuhan.

Banyak orang percaya bahwa berdoa dapat membantu meringankan stres, yang merupakan salah satu faktor risiko utama untuk penyakit. Disamping juga ampuh untuk membuat pikiran tetap positif dan menjadi orang kuat dalam menjalani setiap permasalahan hidup.

Dr Herbert Benson, seorang spesialis jantung dari Harvard Medical School dan seorang pionir dalam bidang pengobatan pikiran/ tubuh mengatakan bahwa respon relaksasi akan terjadi ketika seseorang berdoa atau meditasi. Pada saat itu, metabolisme tubuh akan menurun, denyut jantung melambat, tekanan darah turun, dan napas menjadi lebih tenang dan lebih teratur.

Dalam risetnya Herbert Benson menemukan bahwa melakukan praktik spiritual dalam jangka panjang dan setiap hari membantu menonaktifkan gen yang memicu percepatan kematian sel dan peradangan. Menurut Benson, pikiran dapat mempengaruhi ekspresi gen seseorang. Dan ini adalah bukti menarik bagaimana doa dapat mempengaruhi fungsi tubuh pada tingkat yang paling dasar.

Sementara itu, Dr Andrew Newberg, direktur Center for Spirituality and Mind University of Pennsylvania telah melakukan penelitian terhadap para Buddha Tibet saat melakukan meditasi dan Biarawati Fransiskan ketika berdoa. Hasil memperlihatkan bahwa terjadi penurunan aktivitas pada bagian otak yang berkaitan dengan kesadaran dan orientasi spasial. Peneliti juga menemukan bahwa doa dan meditasi dapat meningkatkan kadar dopamin, yang berhubungan dengan peningkatan rasa sukacita.

Sebuah riset National Institutes of Health menemukan bahwa orang yang berdoa setiap hari terbukti memiliki risiko lebih rendah terkena hipertensi (40 persen) ketimbang mereka yang berdoa secara tidak teratur. Bahkan, penelitian di Dartmouth Medical School menemukan bahwa pasien dengan keyakinan agama yang kuat di mana harus menjalani operasi jantung, tiga kali lebih mungkin untuk cepat pulih ketimbang mereka yang kurang religius.

Studi lain juga menunjukkan bahwa doa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan membantu untuk mengurangi keparahan dan frekuensi dari berbagai penyakit.

Accurate Health Center merupakan pusat pengobatan akupunktur dan konsultasi psikologi di kota Medan dapat membantu anda melakukan konseling psikologi dan pengobatan akupunktur untuk menyembuhkan penyakit. Pengobatan Accurate Health Center tergolong lengkap dari segi pengobatan tradisional, seperti terapi akupunktur, terapi pijat pengobatan, terapi bekam, fisioterapi, refleksi terapi dan ramuan-ramuan obat tradisional yang cukup efektif. Alamiah dan tanpa efek samping.

Hubungi Accurate Health Center Medan untuk penanganan penyakit menular seksual

"Accurate" Health Center Medan
Jl. Tilak No. 76 (Simpang Demak)
Telp. (061) 7322480
Medan

Website : http://www.accuratehealth.blogspot.com

Wednesday, December 07, 2011

Ratana Sutta

Ratana Sutta adalah sebuah contoh yang sangat bagus, diantara khotbah-khotbah seperti yang digambarkan diatas, yang memiliki asal mula sendiri pada masa Sang Buddha hidup di kota Vesali yang makmur. Sutta ini dianggap sebagai sebuah Sutta yang memiliki kekuatan besar dalam menolong penduduk Vesali menanggulangi bencana kelaparan, makhluk-makhluk halus jahat, dan malapetaka. Bahkan hingga sekarang, umat Buddhis di seluruh dunia memberikan penghormatan besar terhadap Sutta ini, membacanya setiap hari dan memperoleh berkah serta perlindungan darinya dalam kehidupan sehari-hari.

Sutta ini muncul pada suatu masa, ketika kota makmur Vesali berada pada suatu kondisi kemerosotan dimana penduduknya terancam oleh bencana kelaparan, makhluk-makhluk halus jahat, serta wabah penyakit. Malapetaka ini memuncak hingga banyak kematian terjadi dan diperburuk dengan para makhluk-makhluk halus jahat yang selalu menghantui karena tertarik pada mayat-mayat yang membusuk. Rasa panik menyerang kota. Pada masa kritis tersebut, dua orang bangsawan Licchavi beserta sekelompok besar pengikutnya pergi menemui Sang Buddha yang sedang berdiam di Rajagaha dengan tujuan meminta pertolongannya.


Sang Buddha, setelah mendengar dukacita dan keputusasaan mereka, dengan penuh simpati dan belas kasih menerima undangan bangsawan tersebut. Sang Buddha beserta serombongan besar Bhikkhu segera meninggalkan Rajagaha menuju Vesali. Dikatakan bahwa Yang Mulia Ananda Thera ikut dalam rombongan ini. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka akhirnya mencapai kota. Sebuah fenomena yang aneh terjadi. Turunlah hujan yang amat deras menyapu dengan bersih mayat-mayat yang telah membusuk dari kota dan menghilangkan bau udara yang tidak sedap. Kemudian Sang Buddha dengan penuh welas asih membacakan Ratana Sutta untuk penduduk kota Vesali. Yang Mulia Ananda Thera diinstruksikan untuk mengulang membaca Ratana Sutta untuk penduduk di seluruh penjuru kota Vesali. Air yang telah diberkahi kemudian dipercikkan dari mangkuk milik Sang Buddha. Oleh karena kekuatan kebahagiaan Sutta, semua makhluk halus jahat meninggalkan kota dan penduduk segera terbebas dari pengaruh jahat dan keji mereka. Berakhirlah bencana dan malapetaka pada kota tersebut.

Pemberkahan dan perlindungan yang berasal dari Ratana Sutta yang dibacakan pada masa Sang Buddha masih hidup, tetap dapat digunakan hingga saat ini. Ratana Sutta yang diuraikan oleh Sang Buddha kepada para penduduk Vesali yang sedang di Balai Umum sebenarnya telah diuraikan secara persis sebanyak tak terhingga kali oleh Buddha Buddha sebelumnya. Makna dan arti sutta ini telah dijelaskan dalam berbagai pertemuan oleh komunitas Bhikkhu pada masa ini dalam berbagai kesempatan. Umat Buddhis terus memperoleh manfaat dari pembacaan dan praktek ajaran-ajaran yang terdapat dalam Sutta ini.


Istilah Palu "Ratana" dikenal sebagai "Permata Mulia". Dikenal demikian tertuju kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha. Kumpulan kebajikan-kebajikan dari Tiga Mustika ini mengundang para bijaksana untuk mempratekkan ajaran sebagai sebuah alat untuk menyeberangi lautan kehidupan dan kematian, menuju pada tujuan utama, Nibbana.

Dalam Pertama Mulia termuat berbagai sifat-sifat bajik yang dapat dipratekkan para bijaksana dalam kehidupan sehari-hari mereka. Adalah melalui pengendalian nafsu pikiran hingga sampai pada gerbang ketenangseimbangan sebagai buah pikiran konsentrasi, dimana jalan kematian telah dihilangkan setahap demi setahap menghapus kepercayaan akan adanya roh yangkekal, keragu-raguan, dan kemelekatan pada ritual dan upacara, para bijaksana telah sepenuhnya terbebaskan dari empat alam menyedihkan. Makhluk bumi dan makhluk nafa diundang untuk membagikan berkah dan kebahagiaan dari Khotbah Ratana. Dikatakan bahwa Raja para dewa, Sakka, mengulang tiga syair terakhir dari Sutta tersebut dan ikut mendatangi Sang Buddha bersama para pengikutnya di Vesali pada saat khotbah penutupan terakhir yang diselenggarakan di Balai Umum.


Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni antalikkhe,
Sabbeva bhūtā sumanā bhavantu,
Athopi sakkacca sunantu bhāsitam.

Tasmā hi bhūtā nisāmetha sabbe,
Mettam karotha mānusiyā pajāya,
Divā ca ratto ca haranti ye balim,
Tasmā hi ne rakkhatha appamattā.

Yam kiñci vittam idha vā huram vā,
Saggesu vā ya ratanam panītam,
Na no samam atthi Tathāgatena,
Idampi Buddhe ratanam panitam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Khayam virāgam amatam panītam,
Yadajjhagā sakyamunī samāhito,
Na tena dhammena samatthi kiñci,
Idampi Dhamme ratanam panitam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Yam Buddha settho parivannayī sucim,
Samādhimānantarikaññamāhu,
Samādhinā tena samo na vijjati,
Idampi Dhamme ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Ye puggalā attha satam pasatthā,
Cattāri etāni yugāni honti,
Te dakkhineyyā sugatassa sāvakā,
Etesu dinnāni mahapphalāni,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Ye suppayuttā manasā dalhena,
Nikkāmino *Gotama-sāsanamhi,
Te pattipattā amatam vigayha,
Laddhā mudhā nibbuti bhuñjamānā,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Yathindakhīlo pathavim sito siyā,
Catubbhi vāthehi asampakampiyo,
Tathūpamam sappurisam vadāmi,
Yo ariya-saccāni avecca passati,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Ye ariya-saccāni vibhāvayanti,
Gambhīra-paññena sudesitāni,
Kiñcāpi te honti bhusappamattā,
Na te bhavam atthamam ādiyanti,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Sahāva ‘ssa dassana-sampadāya,
Tayassu dhammā jahitā bhavanti,
Sakkāya-ditthi vicikicchitañca,
Sīlabbatam vāpi yadatthi kiñci.
Catūh’ apāyehi ca vippamutto,
Chaccābhithānāni abhabbo kātum,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Kiñca pi so kammam karoti pāpakam,
Kāyena vācā uda cetasā vā,
Abhabbo so tassa paticchādāya,
Ababbatā dittha-padassa vuttā,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Vanappagumbe yathā phussitagge,
Gimhāna-māse pathamasmim gimhe,
Tathūpamam dhamma-varam adesayī,
Nibbāna-gāmim paramam hitāya,
Idampi Buddhe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Varo varaññū varado varāharo,
Anuttaro dhamma-vara adesayī,
Idampi Buddhe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Khīnam purānam navam natthi sambhavam,
Viratta-cittā āyatike bhavasmim,
Te khīna-bījā avirulhicchandā,
Nibbanti dhīrā yathāyam padīpo,
Idampi Sanghe ratanam panītam,
Etena saccena suvatthi hotu!

Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni va antalikkhe,
Tathāgatam deva-manussa-pūjitam,
Buddham namassāma suvatthi hotu!

Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni va antalikkhe,
Tathāgatam deva-manussa-pūjitam,
Dhammam namassāma suvatthi hotu!

Yānīdha bhūtāni samāgatāni,
Bhummāni vā yāni va antalikkhe,
Tathāgatam deva-manussa-pūjitam,
Sangham namassāma suvatthi hotu!

1. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, semoga semua makhluk itu bahagia. Demikian juga, semoga mereka mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan.

2. Karena itu, wahai para makhluk, perhatikanlah baik-baik. Pancarkanlah kasih sayang kepada umat manusia yang siang malam memberikan persembahan kepadamu. Karena itu, lindungilah mereka dengan setulus hati.

3. Harta apapun yang ada di sini atau di dunia lain, atau permata tak ternilai apa pun yang ada di alam-alam surga, tidak ada satu pun yang sebanding dengan Sang Tathagata. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

4. Manusia bijak dari suku Sakya, yang tenang pikirannya, telah mewujudkan penghentian yang bebas dari nafsu, yang bebas dari kematian, dan luar biasa. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan keadaan itu. Permata tak ternilai ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian !

5. Buddha yang agung memuji meditasi murni yang segera memberikan hasil. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan meditasi itu. Permata berharga ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

6. Delapan individu yang dipuji oleh orang-orang baik2 terdiri dari empat pasang.3 Mereka adalah siswa-siswa Sang Buddha, yang pantas menerima persembahan. Apapun yang dipersembahkan kepada mereka akan memberikan buah yang melimpah. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

7. Mereka yang terbebas dari nafsu semuanya mantap di dalam ajaran Gotama yang berpikiran teguh. Mereka telah mencapai apa yang harus dicapai karena telah menyelam ke dalam Nibbana yang bebas dari kematian. Mereka menikmati Kedamaian yang dicapai, yang tak ternilai. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

8. Bagaikan gerbang kota yang berfondasi kokoh tidak tergoyahkan oleh angin dari empat penjuru, demikianlah kunyatakan bahwa orang yang sepenuhnya memahami Kebenaran Mulia adalah orang yang baik. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

9. Mereka yang dengan jernih memahami Kebenaran Mulia yang telah diajarkan dengan baik oleh Yang Maha Bijaksana, betapapun tidak berhati-hatinya mereka itu, mereka tidak akan terlahir untuk kedelapan kalinya. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

10. Tiga kondisi telah ditinggalkan oleh dia pada saat mencapai pandangan terang,4 yaitu: (i) pandangan salah tentang diri, (ii) keraguan, dan (iii) pandangan salah bahwa ritual dan upacara dapat menyelamatkan. Dia juga telah sepenuhnya terbebas dari empat keadaan menderita5 dan tidak dapat lagi melakukan enam kejahatan.6 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian !

11. Kejahatan apa pun yang dilakukan, baik lewat tubuh, ucapan atau pikiran, tak dapat disembunyikannya. Karena telah dikatakan bahwa tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang telah melihat Sang Jalan.7 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

12. Bagaikan pohon-pohon yang pucuknya berbunga pada bulan-bulan pertama musim panas, begitu juga ajaran tertinggi yang menuju ke Nibbana ini diajarkan untuk tujuan tertinggi. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

13. Yang Luar Biasa, Yang Maha Mengetahui, Sang Pemberi yang luar biasa, dan Sang Pembawa Kesempurnaan telah membabarkan ajaran yang luar biasa. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

14. Dengan musnahnya (kamma) lampau, tidak ada (kamma) baru yang dihasilkan, maka pikiran pun tak melekat pada kelahiran di masa depan -- mereka telah menghancurkan benih-benih tumimbal lahir. Nafsu-nafsu tidak lagi muncul dan para bijaksana itu pergi, sama seperti lampu ini.8 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian!

15. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Buddha. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

16. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Dhamma. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!

17. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Sangha. Sang Tathagata, dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian!