Guan Yin Boddhisattva had made a wish to realease the sufferings of all sentient beings. If someone sincerely chants His name when suffering. He will hear the calling and come to save him. Since the sound of chanting. His name is the bridge between laymen and Guan Yin, the chanting is one of the important ways of many Buddhists. Guan Yin is known as the most merciful Bodhisattva of all. There have been miracles, legends and stories about Guan Yin from ancient time to modern days. Guan Yin is also the most beloved and well-known Boddhisattva in the Chinese world fot it is said He has had helped and saved a great number of people.
Tuesday, September 21, 2010
About Guan Yin Bodhisattva
Guan Yin Boddhisattva had made a wish to realease the sufferings of all sentient beings. If someone sincerely chants His name when suffering. He will hear the calling and come to save him. Since the sound of chanting. His name is the bridge between laymen and Guan Yin, the chanting is one of the important ways of many Buddhists. Guan Yin is known as the most merciful Bodhisattva of all. There have been miracles, legends and stories about Guan Yin from ancient time to modern days. Guan Yin is also the most beloved and well-known Boddhisattva in the Chinese world fot it is said He has had helped and saved a great number of people.
Monday, August 16, 2010
Candi Borobudur
Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. nama borobudur kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa.
Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada jaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur mandala.
Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.
Thursday, August 12, 2010
B E L A J A R M E L E P A S

Berbagi apa yang kita miliki
adalah cara yang indah untuk
membina hubungan dengan
...yang lain.
Bahkan lebih penting,
mengembangkan
ketidak-serakahan
menjadi suatu kekuatan
untuk pembebasan.
Apa yang mengikat kita
adalah nafsu indria dan
cengkraman di dalam
pikiran kita sendiri.
Di saat kita
praktek memberi,
kita belajar melepas.
Friday, August 06, 2010
Empat macam teman sejati

1. Seorang teman yang menolong (upakaraka mitta), yaitu :
a. Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah
b. Ia menjaga kekayaanmu
c. Ia menjadi seorang pelindung sewaktu engkau takut
d. Ia membekali dirimu lebih dari cukup jika memintaimu melakukan tugas baginya
2. Seorang teman yang saling membagi di waktu senang maupun susah (Samana sukkha dukkha mitta), yaitu :
a. Ia mempercayakan rahasianya kepadamu
b. Ia menjaga rahasiamu
c. Ia tidak meninggalkan dirimu dalam kesusahan
d. Ia akan mempertaruhkan nyawanya demi kebaikanmu.
3. Seorang teman yang memberikan nasehat yang baik (Atthakhayi mitta), yaitu :
a. Ia mencegah engkau berbuat jahat
b. Ia mengajak engkau untuk melakukan kebajikan
c. Ia memberitahu bila engkau belum tahu
d. Ia menunjukkan jalan menuju surga
4. Seorang teman yang bersimpati (Anukampaka mitta), yaitu :
a. Ia tidak bergembira atas kesulitanmu
b. Ia bergembira atas kemakmuran dirimu
c. Ia mencegah orang membicarakan hal yang buruk tentang dirimu
d. Ia memuji orang yang membicarakan kebaikan dirimu
Tuesday, May 09, 2006
PERJUANGAN

Biarlah tubuhku tinggal tulang berbalut kulit, dan biarlah daging dan darahku mengering, selama belum tercapai apa yang dicapai dengan kekuatan, daya dan usaha manusiawi, aku tak akan berhenti berusaha (Majjhima Nikaya I)
Syair yang diambil dari kitab suci Tipikata ini dapat memberi pengertian bahwa hidup ini tidak lebih adalah perjuangan. Perjuangan untuk hidup memenuhi kebutuhan fisik maupun mental. Hidup tanpa berjuang diibaratkan sebagai orang mati, tidak bergerak dan kaku. Bahkan, binatang juga berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Namun, perjuangan hidup oleh Sang Buddha adalah suatu jalan kebenaran dan kesucian untuk mencapai tujuan yang tertinggi.
Semua hidup tidak terlepas dari penderitaan, bahagia merupakan penderitaan, kesedihan juga merupakan penderitaan, Oleh sebab itu Sang Buddha ada untuk mencari obat penderitaan hidup ini. Tentunya, Sang Buddha juga memerlukan perjuangan yang berat untuk mendapatkan obat tersebut. Mengapa Sang Buddha sanggup melakukan semua itu, kita tidak mampu ? Hanya dengan berjuang secara sungguh-sungguh menaklukkan dunia ketidakkekalan ini.
Berbicara mengenai ketidakkekalan, Sang Buddha melihat banyak perubahan dalam hidup manusia. Dari lahir, sakit dan mati yang terus berganti dan bernaung dalam roda samsara(penderitaan). Bertumimbal lahir dari satu alam ke alam lainnya tiada henti-hentinya. Tetapi, Sang Buddha telah berhasil menyelapkan ketidakkekalan ini menuju pembebasan sejati, yaitu dengan perjuangan yang tiada henti-hentinya.
Hidup ini juga tidak lepas dari Anatta (tanpa inti/tanpa aku yang sesungguhnya). Sang Buddha bersabda bahwa tubuh ini hanyalah sementara dan digunakan untuk menyambung hidup. Tidak ada diri yang dimiliki, bukan milik siapa-siapa, bukan milik saya dan bukan milik engkau. Maka tiada jiwa yang kekal. Semua mengalami kematian dan benda materi tidak dibawa pergi. Oleh sebab itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh terhadap semua yang ada/terbentuk di dunia ini. Tidak kekal, tidak memuaskan dan tanpa inti. Ketiga ini dikemas oleh Sang Buddha sebagai Tiga corak umum (Ti-lakkhana).
Dalam jalan memperjuangkan hidup ini. Masih ada beberapa fakta hidup yang harus dilewati, seperti ada orang yang ingin mencelakakan kita. Sang Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna juga masih ada yang ingin mencelakainya. Namun, semua ini dapat ditaklukkan dengan kesabaran dan keteguhan hati. Janganlah membenci orang yang ingin mencelakai kita, karena kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian, hanya dengan cinta kasih. Kita tidak boleh terjebak oleh kebenciannya. Namun, kita harus bersikap tenang dan tabah. Lama kelamaan semuanya akan berlalu. Berjuanglah dan jangan membenci orang yang telah mencelakai kita, karena secara tidak langsung mereka telah melatih kegigihan hati kita.
Di dunia ini juga banyak sekali orang yang ingin menipu, membual dan mengadu domba. Semua ini adalah kebodohannya yang dilandasi oleh keserakahannya (lobbha), Namun kita juga tidak boleh terpengaruh olehnya dengan mencontohi sikapnya yang penipu. Kita harus selalu sadar dan penuh perhatian. Hidup ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah lepas dari penipuaan. Berjuanglah dan jangan membenci orang yang telah menipu kita, karena secara tidak langsung mereka telah menambah pengalaman dan wawasan kita.
Orang yang telah memukul atau mencambuk kita, apakah kita perlu memukuli dan mencambuknya kembali ? Jika semua berbuat demikian. Dunia ini akan menjadi hancur dan terjadi perang dunia besar-besaran. Apa yang kita lakukan bila yang memukul dan mencambuk adalah orang tua kita. Apakah kita membalasnya ? Tentunya bukan dengan cara demikian, kita harus menyadari apakah kita yang berbuat keliru atau sebaliknya, kita harus selalu waspada dan bersikap tenang dalam menghadapi sesuatu. Berjuanglah terus dan jangan membenci orang yang telah memukul atau mencambuk kita, karena secara tidak langsung mereka telah membersihkan kamma buruk kita.
Bagaimana dengan orang yang telah meninggalkan/mencampakkan kita, apakah kita perlu bersedih dan mendendam atas perbuatan orang tersebut. Dewasa ini, banyak sekali pasangan yang menjadi depresi akibat ditinggalkan oleh kekasihnya kemudian mencoba membalas dendam dengan menghancurkan hidupnya atau memakan obat-obatan terlarang. Itu bukanlah jalan keluarnya. Mungkin orang yang meninggalkan/mencampakkan anda sudah tidak mempunyai ikatan kamma dengan anda atau karena kebodohannya. Maka kita harus selalu menyadari adanya annata (bukan milik). Terimalah dan berjuanglah dengan keras. Jangan membenci orang yang telah meninggalkan/mencampakkan anda, karena secara tidak langsung mereka telah mendidik kita untuk mandiri.
Begitu juga orang yang ingin menjatuhkan anda, orang yang menjerumuskan anda ke dalam lumpur. Begitu banyak orang di dunia ini bergulat dalam hal ini, saling menjatuhkan, saling menindas, saling menuding, dsb. Namun, janganlah berpikir semua ini akan menghancurkan hidup anda. Jika kita berpikir positif, maka hidup ini akan terasa indah dan sebaliknya jika kita berpikir semua negatif, hidup ini akan terasa gelap gulita. Terus berjuang dan jangan membenci orang yang telah menjatuhkan anda, karena secara tidak langsung mereka telah menguatkan kemampuan kita.
Selanjutnya yang paling sering ditemui adalah orang yang suka marah, suka mengunjing, suka mencaci maki dan suka mencela. Iri hati melihat keberhasilan orang lain, merasa sombong dengan kedudukannya dan kehebatannya. Orang-orang tersebut sering dijumpai hampir di seluruh lapisan masyarakat. Tidak peduli ia miskin, kaya, berpendidikan, bodoh dsb. Kita tidak boleh terpengaruh oleh semua keadaan ini dan selalu menjaga sifat asli dan murni. Berjuanglah menghadapi orang-orang seperti itu dan jangan membenci orang yang telah memarahi kita, karena secara tidak langsung mereka telah menumbuhkan ketenangan dan kebijaksanaan kita.
Dari semua penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berbuat jahat adalah orang-orang yang diliputi oleh keserakahan (lobbha), kebencian (moha) dan kebodohan (moha). Dari ketiga ini yang menjadi akarnya atau landasannya adalah kebodohan (moha) dan yang paling berat adalah keserakahan (lobbha).
Setelah mengetahui itu semua, mari kita berjuang untuk menaklukkan lobbha, dosa dan moha. Jangan membenci dan terima kasihlah orang yang telah membuat kita kokoh, kuat dan berhasil.
Sebuah kata terakhir dari Sang Buddha sebelum maha parinibbana adalah : “ Segala sesuatu adalah tidak kekal, berjuanglah dengan sungguh-sungguh”. Mari kita tekadkan diri kita berjuang dengan sungguh-sungguh menuju nibbana (kebebasan sejati).
Saturday, February 11, 2006
Kewajiban seseorang Perumah Tangga
Dalam Khotbah Etika Sigalovada Sutta dijelaskan bahwa kewajiban seorang perumah tangga menurut 6 arah, yaitu :1. Timur/Depan : Orang tua - anak
Kewajiban orang tua kepada anak :
a. Memintanya untuk tidak melakukan kejahatan.
b. Menganjurkan anaknya berbuat baik
c. Mengajarkan berbagai keterampilan
d. Memberikan pasangan yang cocok untuk dinikahi
e. Menyerahkan warisan pada waktu yang tepat.
Kewajiban anak kepada orang tua :
a. Menyokong mereka
b. Menjalankan kewajiban mereka
c. Menjaga keturunan keluarga
d. Berupaya menjaga warisan
e. Memberikan dana untuk menghormati sanak keluarga yang telah meninggal
Kewajiban guru kepada murid :
a. Melatih mereka dengan pelajaran terbaik
b. Mengajar muridnya hingga mahir
c. Mengajarkan setiap ilmu seni dan pengetahuan
d. Mengenalkan kepada teman dan rekan
e. Menjaga keselamatannya dalam berbagai hal
Kewajiban murid kepada guru :
a. Bangkit dari tempat
b. Menghadiri pelajarannya
c. Mendengarkan dengan penuh perhatian
d. Melayaninya
e. Menerima pelajaran dengan penuh rasa.
Kewajiban suami kepada istri :
a. Berlaku sopan terhadapnya
b. Tidak memandang rendah dirinya
c. Kesetiaan
d. Memberikannya hak untuk bertindak
e. Memberikan perhiasan-perhiasan kepadanya.
Kewajiban istri kepada suami :
a. Melakukan tugas-tugasnya dengan cara terbaik
b. Berlaku ramah terhadap orang-orang sekeliling
c. Setia
d. Melindungi segala harta benda
e. Tekun dan tidak malas dalam melaksanakan pekerjaannya
4. Utara/kiri : Teman - seseorang
Kewajiban Teman kepada seseorang :
a. Melindungi ketika ia lengah
b. Menjaga hartannya ketika ia lengah
c. Menjadi tempat berlindung ketika ia merasa takut
d. Tidak meninggalkannya ketika ia berada dalam bahaya
e. Penuh perhatian terhadap anak-cucunya
Kewajiban seseorang terhadap teman :
a. Dengan kemurahan hati
b. Berbicara yang sopan
c. Memuji kebaikan-kebaikannya
d. Memperlakukan mereka sama seperti dirinya sendiri
e. Bersikap jujur
Kewajiban Majikan kepada pelayan :
a. Memberi tugas sesuai kemampuan
b. Memenuhi kebutuhan mereka dengan makanan dan upah
c. Merawat mereka ketika sakit
d. Berbagi pada kesempatan-kesempatan luar biasa
e. Membebastugaskan mereka pada waktu-waktu tertentu
Kewajiban Pelayan kepada majikan :
a. Bangun lebih pagi dari majikan
b. Tidur setelah majikan
c. Mengambil hanya apa yang diberikan
d. Melaksanakan tugas dengan memuaskan
e. Menyebarkan nama baik dan kemasyuran majikan
6. Atas :
Kewajiban Bhikkhu pada upasaka/upasika :
a. Mencegahnya dapat perbuatan jahat
b. Menganjurkan berbuat baik
c. Mencintai dengan hati bersih
d Mengajarkan dan menjernihkan hal-hal yang belum diketahuinya.
e. Menunjukkan jalam ke alam surga
Kewajiban Upasaka/upasika pada Bhikkhu :
a. Dengan perbuatan kasih sayang
b. Dengan ucapan kasih sayang
c. Dengan pikiran kasih sayang
d. Selalu menyambut mereka
e. Memenuhi kebutuhan material.
Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (Paticca Samuppada)

Setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna dan mencapai arahat di bawah Pohon Bodhi, Sang Buddha menemukan perputaran roda kehidupan ini, dari lahir, muda, dewasa, tua, mati dan seterusnya.
1. Avijja (Ketidaktahuan)
2. Sankhara (Bentuk-bentuk Pemikiran)
3. Patisandhi Vinnana (Kesadaran kelahiran kembali)
4. Nama Rupa
5. Salayatana (Enam landasan indriya)
6. Phassa (kontak)
7. Vedana (Perasaan)
8. Tanha (Keinginana)
9. Upadana (Kemelekatan)
10. Bhava (Perwujudan)
11. Jati (Kelahiran)
12. Jara Marana (Kehilangan-Kematian)
Penjelasan : Hukum sebab akibat yang saling bergantungan ini disebut sebagai hukum Patticasamupada atau 12 mata rantai, akar dari kehidupan manusia ini disebabkan oleh lobha, dosa dan moha yang disebut juga sebagai Avijja (Kegelapan batin). Dari avijja timbullah Sankhara (Bentuk-bentuk kamma) kemudian Patisandhi Vinnana (timbul kesadaran sambung menyambung dan terus menerus) dan lahirlah Nama dan Rupa (Batin dan Jasmani), kemudian muncullah Salayatana (6 Landasan Indriya, yaitu : mata, telinga, hidung, mulut, badan jasmani dan pikiran), setelah itu timbullah Phassa atau kontak, kemudian timbul Vedana atau perasaan, setelah adanya perasaan muncullah Tanha (Nafsu keinginan), kemudian timbullah Upadana atau kemelekatan dan Bhava (terus menjadi tumbuh) maka Jati atau kelahiran terbentuk dan akhirnya juga menuju Jaramarana (Tua dan Mati), begitulah roda perputaran kehidupan manusia, roda ini akan terus berputar dari awal menuju akhir dan kembali lagi ke awal dan menuju akhir, kecuali seseorang telah mencapai Nibbana (Kesadaran Tertinggi).
Friday, January 27, 2006
5 Hukum Tertib Alam Semesta (Panca Niyama Dhamma)

Menurut Ajaran Buddha, terdapat 5 hukum atau proses (niyama) yang beroperasi di alam-alam fidik maupun mental, yaitu :
1. Hukum Fisik Anorganik (Utu Niyama)
Contoh :
a. Fenomena musiman dari angin, panas dan hujan
b. Hukum-hukum yang tepat mengenai musim musim
c. Karakteristik peristiwa dan perubahan musim
d. Penyebab angin dan hujan, sifat panas, dll
2. Hukum Biji-bijian atau Fisik Organik (Bija Niyama)
Contoh :
a. Padi tumbuh dari biji
b. Rasa manis dari gula tebu atau madu
c. Uniknya karakteristik dari buah tertentu
d. Teori ilmu pengetahuan tentang sel dan gen, serta kemiripan pada anak kembar mungkin dapat dijelaskan berdasarkan pada hukum ini.
3. Hukum Perbuatan dan Akibatnya (Kamma Niyama)
Contoh : Tindakan yang sengaja ataupun tidak disengaja menghasilkan hasil yang baik dan buruk.
4. Hukum Pikiran dan Psikis (Citta Niyama)
Contoh :
a. Proses kesadaran
b. Kelanjutan kesadaran
c. Kekuatan pikiran, termasuk telepati
d. Telesthesia
e. Kemampuan mengingat hal-hal lampau
f. Kemampuan meramal
g. Mata dewa
h. Telinga dewa
i. Kemampuan membaca pikiran
j. Fenomena psikis lainnya yang tidak dapat dijelaskan ooeh ilmu pengetahuan modern.
5. Hukum Realita (Dhamma Niyama)
Contoh : Gejala alam yang terjadi pada saat kelahiran terakhir seorang Boddhisatta. Hukum gravitasi dan hukum-hukum alam lainnya juga termasuk dalam kelompok ini.
Proses Kematian dan Lampu Minyak

Ada 4 proses penyebab kematian, yaitu :
1. Kematian karena habisnya daya hidup
2. Kematian karena habisnya kekuatan kamma
3. Kematian karena kedua sebab diatas
4. Kematian karena kamma penghancur
Tiga jenis sebab pertama secara kolektif disebut kalamarana (kematian karena waktu), dan yang terakhir dikenal sebagai akalamarana (kematian diluar dugaan)
Sebagai contoh, sebuah lampu minyak, padam karena salah satu dari 4 kemungkinan/sebab akibat berikut ini :
1. Padam karena kehabisan sumbunya
2. Padam karena habisnya minyak
3. Padam karena habisnya sumbu dan minyak (secara bersamaan)
4. Karena angin
Kematian seseorang pun dapat disebabkan oleh salah satu dari keempat sebab tersebut diatas.
Seseorang yang hampir meninggal, pada saat kematian, oleh kekuatan kamma, salah satu dari berikut ini akan mewakilinya melalui salah satu dari 6 pintu indera :
1. Sebuah kamma yang menghasilkan kelahiran kembali yang berikutnya, memasuki pintu kesadaran berdasarkan kondisi
2. Sebuah objek (kamma nimitta) sebagai sebuah bentuk kesadaran awal dan sejenisnya, atau segala sesuatu yang digunakan dalam memunculkan kamma.
3. Sebuah isyarat keberadaan yang berupa simbolik (gari Nimitta) menunjukkan dimana seseorang akan meninggal dan mengalami tempat kelahiran berikutnya.
Kematian bukanlah total pemusnahan suatu makluk. Kematian di suatu tempat berarti kelahiran di tempat lainnya, seperti dalam istilah yang biasa, terbitnya matahari di suatu tempat berarti tenggelamnya matahari di tempat yang lain.
Kematian adalah akhir sementara dari fenomena sementara.
Jadi Kematian berarti kepunahan dari :
a. Kehidupan fisik (jivitindriya)
b. Panas (tejodhatu)
c. Kesadaran (vinnana) suatu individu pada keberadaan tertentu.








































