.

.

Pages

Wednesday, August 29, 2012

Dua Belas Hutang Kamma Sang Buddha

1. Fitnahan Sundari
Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang pemabuk bernama Munali. Ia menuduh Pacceka Buddha bernama Surabhi dengan tuduhan kasar, “Orang ini adalah orang yang tidak bermoral yang menyenangi kenikmatan indria secara diam-diam.”
Karena kejahatan ucapan-Nya, Beliau terlahir kembali di alam penderitan terus-menerus (Niraya). Dan dalam kehidupan terakhirnya sebagai Bhagavà, di depan umum Beliau difitnah oleh Sundari, petapa pengembara perempuan sebagai pencari kesenangan dan telah menjalin hubungan cinta dengannya.

2. Fitnahan Cincamana
Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang siswa bernama Nanda dari seorang Pacceka Buddha bernama Sabbàbhibhu. Ia menuduh gurunya sebagai seorang yang bersifat tidak baik.
Karena kejahatan ucapan-Nya, Beliau harus menderita selama seratus ribu tahun di Alam Niraya. Ketika terlahir sebagai manusia, sering kali Beliau dituduh melakukan kejahatan. Dalam kehidupan terakhir-Nya sebagai Buddha, di depan umum Beliau difitnah sekali lagi oleh Cincamana sebagai seorang asusila yang menyebabkan kehamilannya.

3. 500 Murid Buddha menerima fitnahan Sundari
Bakal Buddha adalah seorang brahmana guru yang menguasai tiga Veda, seorang yang sangat terhormat. Sewaktu Beliau sedang mengajarkan Veda di Hutan Mahàvana kepada lima ratus siswa, Bhagavà Mengajarkan Tujuh Faktor Ketidakmunduran Bagi Para Penguasa. Saat itu mereka melihat di angkasa seorang petapa suci bernama Bhãma mendatangi hutan ini dengan kekuatan batinnya. Bukannya terinsiprasi, Bodhisatta malah memberitahu lima ratus siswa-Nya bahwa petapa itu adalah seorang munafik yang mencari kesenangan. Para siswa memercayai apa yang dikatakan oleh guru mereka dan menyebarkan kata-kata gurunya tentang petapa suci itu sewaktu ia sedang mengumpulkan dàna makanan.
Lima ratus siswa itu terlahir kembali sebagai para bhikkhu siswa Bhagavà. Karena fitnah yang mereka lakukan terhadap sang petapa suci sebagai lima ratus siswa brahmana guru dalam kehidupan lampau, mereka dituduh telah membunuh Sundari, si petapa pengembara perempuan, yang sebenarnya adalah korban para petapa itu. Harus dimengerti bahwa tuduhan terhadap para siswa Buddha juga berarti tuduhan terhadap Bhagavà sendiri.

4. Percobaan pembunuhan oleh Devadatta dengan menggunakan batu besar.
Dalam kehidupan lampau, Bakal Buddha membunuh adik sepupunya karena iri hati. Ia melemparkan adiknya ke dalam jurang kemudian melemparnya dengan sebuah batu besar.
Karena perbuatan jahat itu, Bhagavà dalam kehidupan terakhirnya, menjadi korban rencana Devadatta yang hendak membunuh-Nya; tetapi karena seorang Buddha tidak dapat dibunuh, Beliau hanya menderita luka di jari kaki-Nya karena terkena pecahan batu yang dijatuhkan dari atas bukit oleh Devadatta.

5. Percobaan pembunuhan oleh Devadatta dengan menggirimkan kelompok pembunuh.
Dalam salah satu kehidupan lampau, Bakal Buddha adalah seorang anak nakal dan ketika Beliau bertemu dengan seorang Pacceka Buddha dalam suatu perjalanan, untuk bersenang-senang, Beliau melempari pribadi mulia tersebut dengan batu.
Karena perbuatan jahat itu, Bhagavà pernah diserang oleh sekelompok pemanah yang diutus oleh Devadatta yang bertujuan untuk membunuh Buddha.

6. Percobaan pembunuhan oleh Devadatta dengan menggunakan Gajah Nalagiri
Ketika Bakal Buddha adalah seorang penunggang gajah, Beliau dengan gajah-Nya, menakut-nakuti seorang Pacceka Buddha yang sedang mengumpulkan dàna makanan yang seolah-olah hendak menginjak-injak orang mulia tersebut.
Karena perbuatan itu, Bhagavà diancam oleh seekor gajah mabuk bernama Nalagiri di Ràjagaha yang dikirim Devadatta untuk menginjak-injak Bhagavà.

7. Terluka akibat pecahan batu yang digelindingkan Devadatta
Dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, Bodhisatta adalah seorang raja. Karena keangkuhan-Nya sebagai raja, ia mengeksekusi seorang narapidana (tanpa mempertimbangkan akibat kamma) dengan tangan-Nya sendiri menusuk orang itu dengan tombak.
Kejahatan itu membawa-Nya ke alam penderitaan terus-menerus selama banyak tahun yang sangat lama. Dalam kehidupan-Nya sebagai Bhagavà, Beliau menerima perawatan atas jari kaki-Nya yang luka dengan dibedah oleh Jãvaka, seorang dokter ahli, untuk menyembuhkannya (saat terkena pecahan batu yang dijatuhkan oleh Devadatta).

8. Pembantaian Sanak Keluarga Sakya dan sakit kepala yang dialami Buddha
Dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, Bakal Buddha terlahir dalam sebuah keluarga nelayan. Beliau biasanya bergembira menyaksikan sanak saudara-Nya menyakiti dan membunuh ikan. (Beliau sendiri tidak melakukan pembunuhan).
Sebagai akibat dari kejahatan pikiran-Nya, dalam kehidupan terakhir-Nya sebagai Buddha, Beliau sering mengalami sakit kepala. Sedangkan sanak saudara-Nya dalam kehidupan itu, mereka terlahir kembali sebagai para Sakya yang dibantai oleh Vitatubha.

9. Menerima dana berupa gandum
Ketika Bakal Buddha terlahir sebagai manusia pada masa ajaran Buddha Phussa, ia mencerca para bhikkhu siswa Buddha dengan berkata, “Kalian hanya pantas makan gandum, bukan nasi.”
Kata-kata kasar itu berakibat, dalam kehidupan terakhir-Nya, Bhagavà terpaksa memakan makanan gandum selama masa vassa di Desa Brahmana Veranjà (Beliau menetap di sana atas undangan Brahmana Vera¤jà.”)

10. Sakit punggung pada Sang Buddha
Pernah Bakal Buddha terlahir sebagai seorang petinju bayaran, saat itu ia memukul punggung lawannya hingga patah.
Sebagai akibat dari kejahatan ini, Bhagavà dalam kehidupan terakhir-Nya sering mengalami sakit punggung.

11. Diare akut pada Sang Buddha
Ketika Bakal Buddha terlahir sebagai seorang dokter dalam salah satu kehidupan lampau-Nya, ia dengan sengaja meresepkan obat yang menyebabkan sakit perut kepada putra seorang kaya yang enggan membayar jasa-Nya.
Atas kejahatan itu, Bhagavà dalam kehidupan terakhir-Nya menderita penyakit disentri yang akut dan berdarah, sebelum meninggal dunia.

12. Dukkharacariya (penyiksaan diri sebelum menjadi Buddha) selama 6 tahun
Bodhisatta pernah terlahir sebagai seorang brahmana bernama Jotipala. Ia mengucapkan kata-kata hinaan terhadap Buddha Kassapa dengan berkata, “Bagaimana mungkin bahwa orang gundul ini telah mencapai Pencerahan Sempurna? Pencerahan Sempurna adalah hal yang sangat jarang terjadi.”
Kata-kata hinaan ini berakibat tertundanya Pencerahan Sempurna Bhagavà. Para Bodhisatta lainnya mencapai Pencerahan Sempurna hanya dalam hitungan hari atau bulan, Buddha Gotama harus melewati enam tahun penuh penderitaan dalam pencarian-Nya.

Yang bisa dipelajari dari 12 Hutang Karma Sang Buddha :
1. Buddha mengajarkan dan sudah menunjukkan untuk berani menghadapi semua akibat perbuatan yang pernah diperbuat sebelumnya. Mau menghindarpun tidak bisa, lebih baik menghadapi dengan berani.
2. Kamma pada saat tertentu bisa memanfaatkan kondisi yang ada untuk mematangkan buah kamma. Contohnya adalah permusuhan Buddha dan Devadatta. Walaupun demikian, Devadatta tidak melakukan pahala dengan memenuhi kamma yaitu melukai kaki Sang Buddha. Malah Devadatta masuk Neraka Avici karena perbuatannya ini.
3. Jika Sang Buddha “hanya” membayar 12 kamma terakhir-Nya, berapa banyak kamma kita yang masih harus dibayar ? Berhentilah menanam kamma buruk sesegera mungkin.

Pengertian kata Anumodana

Dalam bahasa Pāli, kata anumodana berasal dari akar kata ‘mud’ yang berarti ‘berbahagia, senang atau gembira. Kata-kata seperti pamodana, modana, anumodati, pamodati, modati, pamudita, anumudita, mudita dan masih banyak lagi memiliki akar kata yang sama, ‘mud’.

Istilah ‘anumodana’ berasal dari awalan ‘anu’ + akar kata ‘mud’ dan akhiran ‘ana’. Awalan ‘anu’ biasanya mengacu pada arti ‘mengikuti atau turut’. Sebagai contoh, kata ‘anugacchati’ yang berarti ‘berjalan mengikuti dari belakang atau mengekor ’ berasal dari awalan ‘anu’ dan ‘gacchati’ yang berarti ‘pergi’. Akar kata ‘mud’, seperti yang dijelaskan di depan, bermakna ‘berbahagia, senang atau gembira’. Sementara itu, akhiran ‘ana’ diberikan untuk membuat kata tersebut menjadi kata benda.

Mungkin kita bertanya, kenapa setelah awalan, akar kata dan akhiran ini digabung, kok menjadi ‘anumudana’? Sudah menjadi rule dalam bahasa Pali bahwa akar kata yang memiliki huruf hidup ‘u’, setelah diberi akhiran yang membuatnya menjadi kata benda, biasanya akan berubah menjadi ‘o’.

Contoh yang lain, akar kata ‘lubh’ diberi akhiran ‘a’ menjadi lobha; akar kata ‘dus’ diberi akhiran ‘a’ menjadi dosa, bahkan kata du + mana (keseluruhannya berarti pikiran stress) menjadi domana. Anumodana yang dikategorikan kedalam kata benda ini berarti “turut berbahagia”. Berikut ini adalah kata2 yang memiliki kemiripan arti:

- Anumodati – dia berbahagia.

- Anumodanti – mereka berbahagia.

- Anumodasi – kamu berbahagia.

- Anumodatha – anda semua berbahagia.

- Anumodāmi – saya berbahagia.

- Anumodāma – kami berbahagia.

- Anumodana – turut berbahagia (follow to rejoice).

- Anumodanaṃ katvā – setelah ikut berbahagia.

- Anumodanakathā – kata2 mengenai anumodana.

- dll.

Meskipun secara literal kata anumodana berarti ‘turut berbahagia’, dalam kitab suci agama Buddha kata ini selalu digunakan dalam arti yang positif. Biasanya kata ini diungkapkan sebagai perasaan turut berbahagia ketika orang lain berbahagia karena telah melakukan kebajikan.

Dalam Vinayapiṭaka, para bhikkhu bahkan diwajibkan untuk memberikan anumodanakathā kepada umat awam setelah mereka selesai makan terutama dalam undangan makan. Khotbah yang diberikan para bhikkhu sebelum atau sesudah umat awam memberikan dana makanan disebut anumodanakathā.

Bahkan ketika seorang bhikkhu atau siapa saja mengucapkan “sukhi hotu –semoga anda bahagia” khususnya sebagai wujud terimakasihnya kepada orang lain yang telah berbuat kebajikan kepadanya, ini juga termasuk anumodana.

Sebagai contoh, dalam kitab komentar ada kalimat, “Sā there gharadvāraṃ sampatte pattaṃ gahetvā sappiphāṇitayojitassa khīrapiṇḍapātassa pūretvā hatthe ṭhapesi. Thero “sukhaṃ hotī”ti anumodanaṃ katvā pakkāmi – setelah mengambil mangkok bhikkhu (thera) yang telah berdiri di pintu rumah, wanita itu memenuhi (mangkok itu) dengan susu, ghee dan gula dan meletakannya ke tangan (bhikkhu tersebut). Sang bhikkhu pergi setelah memberikan anumodana (dengan mengucapkan), ‘semoga anda berbahagia’”.

Kata2 anumodana tidak mengharuskan berupa kata2 yang secara langsung mengungkapkan kata2 terima kasih. Kata2 ini bisa berupa Dhamma. Ini terbukti bahwa pada masa Sang Buddha, banyak orang yang mencapai kesucian ketika mendengarkan anumodanakathā dari Sang Buddha atau para bhikkhu.

Contohnya, ibu dan istri Yasa mencapai Sotapanna setelah mendengarkan anumodanakathā yang diberikan Sang Buddha. Contoh lain terdapat dalam Kitab komentar Majjhimanikāya, 3, hal. 283 versi P.T.S sebagai berikut:

“Sā ekadivasaṃ vīthiṃ olokentī ṭhitā kassapassa bhagavato aggasāvakaṃ disvā pakkosāpetvā piṇḍapātaṃ datvā anumodanaṃ suṇamānāyeva sotāpannā hutvā…” – Suatu hari, ketika sedang melihat ke jalan dan berdiri, wanita tersebut melihat murid tertinggi Buddha kassapa. Ia menyapanya dan memberikan dana makanan. Sewaktu mendengarkan anumodana, ia mencapai kesucian sotapanna”.

Kesimpulannya, anumodana biasanya digunakan pada saat seseorang mengungkapkan terima kasihnya kepada orang lain yang telah berbuat kebajikan. Oleh karena itu, karena kata ini selalu bersifat positif, maka kalau kita turut berbahagia, sebagai contoh, ketika orang lain bahagia setelah memberikan kita pil koplo, ini namanya bukan anumodana. ^_^

KALAMA SUTTA

Janganlah percaya begitu saja berita yang disampaikan kepadamu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang didesas-desuskan.

Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci;

juga apa
yang dikatakan sesuai dengan logika atau kesimpulan belaka;

juga apa yang katanya telah direnungkan dengan seksama;

juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu

atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu.

Tetapi, jika setelah diselidiki sendiri, kamu mengetahui, ‘Hal ini berguna; hal ini tidak tercela; hal ini dibenarkan oleh para Bijaksana; hal ini jika terus dilakukan akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan,’ maka sudah selayaknya kamu menerima dan hidup sesuai dengan hal-hal tersebut.”
 
 -Buddha-
(Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)

Biksu bantu altet Olimpiade bermeditasi

[Photo: Atlet Olimpiade yang mengunjungi kuil Pendeta Bogoda Seelawimala Thera tak hanya pemeluk agama Buddha.]

Biksu Buddha yang bertugas di kuil perkampungan atlet Olimpiade mengatakan dia merasa
beruntung mendapat tugas mengurus kesejahteraan psikologis para atlet.

Ada lebih dari 500 atlet pemeluk Buddha di perkampungan Olimpiade. Namun, yang datang untuk mendapat pengarahan spiritual dari Pendeta Bogoda Seelawimala Thera tidak hanya atlet yang beragama Buddha.

Selain mereka yang berasal dari negara-negara yang sebagian besar penduduknya menganut Buddha seperti Cina, Thailand, Taiwan, Jepang, Korea dan Sri Lanka, ada juga atlet non-Buddha yang sering menemuinya.

"Siapapun yang datang ke kuil saya akan saya sambut dengan baik, lalu membicarakan masalah yang mereka miliki dan mendorong mereka untuk sedikit bermeditasi. Ini membantu mereka untuk menyeimbangkan dan menenangkan pikiran," tutur pendeta asal Sri Lanka itu kepada BBC Sinhala.

Pendeta itu menambahkan bahwa besarnya tekanan menjelang pertandingan kadang-kadang menyebabkan stres. Setelah bermeditasi dia menyuarakan lantunan untuk mendoakan para atlet tersebut.

"Tujuan saya adalah memberi mereka kekuatan dalam upaya mereka menjangkau medali Olimpiade," katanya.

Biksu Bogoda Seelawimala Thera menyatakan kegembiraannya menjadi satu-satunya biksu Buddha di perkampungan atlet Olimpiade setelah melalui proses pemilihan yang panjang.

Dia terpilih di antara para biksu Buddha dari Thailand, Cina, Jepang dan Burma yang tinggal di Inggris.

"Saya sangat bangga. Sebagai seorang biksu, ini merupakan kesempatan besar bagi saya untuk dapat melaksanakan pelayanan keagamaan. Saya sangat beruntung," tuturnya.

Thursday, August 23, 2012

Pepatah Bijak China

1. 成人不自在,自在不成人
Cheng Ren Bu Zi Zai, Zi Zai Bu Cheng Ren
"Orang sukses tidak santai, orang santai tidak sukses".
Jika ingin menjadi orang sukses maka harus memiliki kemauan dan keuletan, mau bekerja keras, tak menyia-yiakan waktu, bekerja lebih banyak dan lama dari orang lain.

2. 百聞不如一見,百見不如一干
Bai Wen Bu Ru Yi Jian, Bai Jian Bu Ru Yi Gan
"Melihat sekali lebih baik daripada mendengar ratusan kali, mempraktikkan sekali lebih baik daripada meilhat ratusan kali".
Dalam mempelajari sesuatu, akan lebih mudah bagi kita jika langsung mempraktekkannya daripada hanya membaca dan berkutat pada teori saja.

3. 飯來張口,依來伸手
Fan Lai Zhang Kou, Yi Lai Shen Sou
"Kalau mau makan tinggal membuka mulut saja, mau berpakaian tinggal mengulurkan tangan saja".
Pepatah ini menggambarkan orang yang hidupnya serba berkecukupan, semua tersedia. Jika ingin bercukupan, Anda harus memiliki keinginan dan keyakinan yang kuat untuk mencapainya. Manfaatkan seluruh potensi Anda, wujudkan segala usaha dan tindakan guna mencapai puncak kesuksesan.

4. 人死留名, 虎死留皮
Ren Si Liu Ming, Hu Si Liu Pi
"Manusia mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan kulitnya".
Orang yang suka berbuat kebaikan, beramal, berprestasi tinggi atau berjasa bagi bangsa dan negara akan selalu dikenang selamanya, walau sudah tiada. Ini sudah menjadi hukum manusia di dunia.

5. 少壯不努力, 老大徒傷悲
Shao Zhuang Bu Nu Li, Lao Da Tu Shang Bei
"Saat muda tidak rajin, setelah tua baru menyesal"
Peribahasa ini ditujukan kepada anak muda yang suka bermalas-malasan tidak mau belajar, dan malas bekerja. Orangtua selalu mengatakan bahwa bila tidak rajin semasa muda, ia akan menyesal setelah tua.

Thursday, August 16, 2012

Jaya Mangala Gatha

Bahum. sahas.sa. ma.bhinim.mita sa.yudhantam..
Girime.khalam. udi.ta. ghora. sase.na. maram..
Dana.di. dhamma. vi.dhina. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Mara.tire.ka. ma.bhiyuj.jhita sab.barattim..
Gorampa.nala.vaka. makkhama.thaddha. yakkam..
Khanti. sudhan.ta. vi.dhina. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Nala.girim. gaja.varam. atimat.ta. bhutam..
Davaggi. cakka'.masa.niva su.daru.nantam..
Mettam.buse.ka. vi.dhina. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Ukkhi.ta. khagga. ma.tihat.tha. suda.runantam..
Dhavam. ti. yoja. napa. tham'.guli.mala. vantam..
Iddhi.bhisan.khata.mano. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Katva.na. kat.thamu.daram. iva gab.bhiniya..
Cincaya. duttha. vacanam. jana.kaya. majjhe..
Sante.na. so.mavi.dhina. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Saccam. viha.ya. ma.tisac.caka va.daketum..
Vadabhi.ropi.tamanam. ati.andha.bhutam..
Panna.padi.pa. ja.lito. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Nando.panan.da. bhu.jagam. vibudham. mahiddhim..
Puttena. thera. bhuja.gena. dama.payanto..
Iddhu.pade.sa. vi.dhina. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Dugga.hadit.thi. bhu.jage.na. sudat.tha. hattham..
Brahmam. vi.suddhi. juti.middhi ba.kabhi.dhanam..
Nana.gade.na vi.dhina. jitava. munindo..
Tam te.jasa. bhavatu. te.. jayaman.galani..

Eta'.pi. buddha. ja.yaman.gala at.thagatha..
Yo vacako di.nadine. sarate. ma.tandi..
Hitva.na. ne.kavi.vidha.ni. c'upad.davani..
Mokkham. sukham. adhi.gamey.ya. naro. sapanno..


Dengan bersenjatakan seribu tangan yang dicipta
Mara menunggang Girimekhala, gajah yang ganas dan meraung-raung,
Hyang Buddha telah menaklukkan ia dengan pasukannya,
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Lebih hebat dari Mara adalah yaksa Alavaka, bodoh dan berkepala batu,
Yang bertempur dengan Buddha sepanjang malam,
Hyang Buddha telah menaklukkannya dengan kesabaran (Khanti) dan Pengendalian Diri (Sudhanta),
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Nalagiri, gajah yang berpengaruh, mabuk hebat,
Tengah mengamuk bagaikan kilat disertai petir,
Dengan memercikan Metta-tirta, Hyang Buddha telah menaklukkan binatang ganas ini,
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Dengan pedang terhunus sejarak k.19 mil,
Angulimala yang jahat berlari-lari,
Hyang Buddha telah menaklukkan dengan Kekuatan Gaib (Iddhi),
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Dengan mengikat perutnya dengan kayu-kayu bakar dan berpura-pura mengandung,
Cinca menggunakan kata-kata kasar menuduh dengan keji di tengah-tengah satu pertemuan,
Hyang Buddha telah menaklukannya dengan Ketenangan (Santi) dan kemurahan hati (Soma),
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Saccaka yang congkak, buta akan kesunyataan, adapun sebagai satu panji dalam permusyawaratan,
Khayalnya telah dibutakan oleh perdebatannya sendiri,
Dengan memancarkan lampu Kebijaksanaan (Panna), ia, Hyang Buddha telah menaklukkannya,
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Nadopananda, ular yang bijaksana dan berpengaruh,
Hyang Buddha telah menaklukkannya dengan kekuatan gaib melalui siswaNya - Moggallana Thera,
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Sang Brahmana, Baka, yang suci murni, bercahaya dan agung,
Tangan mana telah dipagut oleh ular yang bertekun dan kukuh,
Hyang Buddha telah menaklukkannya dengan obat kebijaksanaanNya,
Dengan karuniaNya, semoga Kemenangan yang menggirangkan ada padamu.

Orang bijaksana yang setiap hari membacakan,
Mengingat dengan sungguh-sungguh delapan bait kemenangan yang menggirangkan dari Hyang Buddha.
Akan terhindar dari malapetaka bermacam-macam,
Dan akan memperoleh Berkah Nibbana.

Sunday, August 05, 2012

What is happiness ?

A man asked Lorb Buddha " I want happiness." Lord Buddha said first remove "I" that's ego. Then remove "Want" that's desire. See now you are left with only "Happiness"

Thursday, August 02, 2012

Tradisi Keagamaan

Kita hendaknya jangan mengurung diri pada satu tradisi saja. Jika engkau senang mangga, silakan makan mangga, tapi tidak ada orang yang melarang engkau makan nanas dan jeruk. Engkau tidak mengkhianati mangga-mu apabila engkau makan nanas. Pandangmu sungguh sempit kalau hanya makan mangga saja sementara dunia ini dipenuhi begitu banyak buah-buahan. Tradisi spiritual juga demikian seperti buah-buahan spiritual, engkau berhak untuk menikmati semuanya. ~ Thích Nhất Hạnh

Presiden Rusia Puji Peran Sosial Buddhis

Presiden Rusia, Dmitry Medvedev memuji komunitas Buddhis Rusia karena kinerja efektif mereka dalam membangun keharmonisan etnis dan agama di negara tersebut.

Seperti yang dilaporkan Interfax (22/2), dalam sebuah ucapan selamat pada perayaan Sagaalgan (Bulan Putih), pergantian tahun penanggalan kalender lunisolar komunitas Buddhis di Rusia, di Kremlin, Presiden Medvedev menyatakan, “Nilai-nilai Buddhisme dan tradisi masyarakat yang mengakuinya, yang berlangsung berabad-abad, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan dan sejarah negara kita.”

“Buddhis Rusia secara seksama telah menjaga warisan nenek moyang mereka dan berkarya untuk kesehatan jasmani dan spiritual generasi muda. Semua ini membantu memperkuat pemahaman di antara kelompok-kelompok etnis dan agama yang berbeda,” kata Presiden Medvedev.

Dalam gilirannya, Perdana Menteri Vladimir Putin memuji komunitas Buddhis Rusia karena peran publiknya yang efektif dan mengatakan bahwa hal tersebut menjadikan kesempatan besar bagi kebangkitan kembali tradisi-tradisi mereka.

“Organisasi Buddhis di Rusia sekarang menikmati kesempatan yang luas untuk kebangkitan kembali tradisi-tradisi yang berusia berabad-abad. Vihara-vihara dan institusi-institusi pendidikan keagamaan terus dibangun. Terdapat umat Buddha di antara para anggota institusi-institusi publik Rusia yang berpengaruh. Umat Buddha melakukan kerja yang signifikan untuk menjaga dialog antar-etnis dan membangun interaksi mereka dengan lembaga pemerintah. Mereka membuat sebuah kontribusi yang besar bagi persahabatan dan rasa saling pengertian antara masyarakat,” demikian kata Perdana Menteri Vladimir Putin.

Sagaalgan merupakan perayaan tahun baru dalam penanggalan kalender lunisolar yang dipergunakan oleh komunitas etnis Buryatia di Rusia. Perayaan tahun baru ini juga dilakukan oleh Mongolia dengan istilah Tsagaan Sar yang juga berarti Bulan Putih. Adanya persamaan antara Sagaalgan dan Tsagaan Sar karena adanya hubungan etnis dan kebudayaan antara etnis Buryatia di Rusia dengan Mongolia

Meditasi Kurangi Parahnya Infeksi Saluran Pernafasan Akut

Berdasarkan sebuah penelitian, pelatihan meditasi perhatian murni atau kesadaran penuh memiliki keterkaitan dengan penurunan tingkat keparahan dan jangka waktu pada infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) pada orang dewasa.

Seperti yang dilaporkan oleh Wildmind Meditation News, penelitian yang telah dilakukan oleh Bruce Barrett, MD, Ph.D., dari Universitas Wisconsin di Madison, dan asosiasinya, dilakukan untuk mengkaji efek-efek pencegahan dari meditasi dan oleh olahraga terhadap timbulnya, jangka waktu, dan tingkat keparahan penyakit ISPA.

Penelitian yang telah dipublikasikan di Annals of Family Medicine pada edisi Juli/Agustus 2012 dengan judul: Meditation or Exercise for Preventing Acute Respiratory Infection: A Randomized Controlled Trial, melakukan uji coba secara acak yang melibatkan 149 orang dewasa (82 persen wanita, 94 persen orang kulit putih, usia rata-rata 59,3 tahun). Para partisipan menjalani delapan minggu, 51 partisipan melakukan pelatihan meditasi kesadaran penuh, 46 partisipan melakukan olahraga intensitas menengah berkelanjutan, 51 partisipan sebagai kontrol observasi.

Para peneliti mengidentifikasikan 27 kejadian ISPA dan 257 hari sakit ISPA pada kelompok meditasi, 26 kejadian dan 241 hari sakit pada kelompok olahraga, dan 40 kejadian dan 453 hari pada kelompok kontrol.

Data menunjukkan bahwa secara global tingkat keparahan rata-rata untuk kelompok meditasi adalah 144, 248 untuk kelompok olahraga, 358 untuk kelompok kontrol. Ini menunjukkan perbedaan tingkat keparahan yang signifikan antara kelompok meditasi dengan kelompok kontrol.

Penelitian yang dananya sebagian dari Pusat Nasional Pengobatan Komplemen dan Alternatif, juga menunjukkan ada kecenderungan tingkat keparahan yang lebih rendah pada kelompok olahraga dibanding dengan kelompok kontrol dan kecenderungan penurunan jangka waktu pada kelompok meditasi dan olahraga dibanding dengan kelompok kontrol. Terdapat pengurangan hilangnya hari kerja yang signifikan karena ISPA pada kelompok olahraga, meditasi dibanding dengan kelompok kontrol (masing-masing 32, 16, 67).

“Jika hasil ini dikonfirmasikan dalam penelitian yang akan datang, akan ada dampak yang penting bagi masyarakat dan praktik dan kebijakan kesehatan pribadi, juga bagi penelitian ilmiah mengenai pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit,” demikian kata para peneliti

 Accurate Health Center merupakan pusat pengobatan akupunktur dan konsultasi psikologi di kota Medan dapat membantu anda melakukan konseling psikologi dan pengobatan akupunktur untuk menyembuhkan penyakit. Pengobatan Accurate Health Center tergolong lengkap dari segi pengobatan tradisional, seperti terapi tingkah laku, terapi traumalitas, konseling psikologi, konseling anak, terapi akupunktur, terapi pijat pengobatan, totok badan maupun wajah, terapi bekam, fisioterapi, refleksi terapi dan ramuan-ramuan obat tradisional yang cukup efektif. Alamiah dan tanpa efek samping.

Hipnoterapi untuk penyakit juga tersedia bagi pasien yang membutuhkan.

Hubungi Accurate Health Center Medan untuk penanganannya.

"Accurate" Health Center Medan
Jl. Tilak No. 76 (Simpang Demak)
Telp. (061) 7322480
Medan

Website : Http://www.accuratehealth.blogspot.com 

Wednesday, August 01, 2012

Psikolog Sertakan Filosofi Buddhis untuk Sembuhkan Pasien

Praktik dan filosofi Buddhis menjadi bagian dari pemecahan masalah kejiwaan yang dilakukan oleh seorang psikoterapi terhadap para pasiennya.

Seperti yang dilaporkan oleh All Voices (2/7), Dr. Joseph Loizzo, pendiri dan kepala Institut Nalanda untuk Sains Kontemplatif, telah menulis sebuah buku yang berjudul Sustainable Happiness (Kebahagiaan Yang Berkelanjutan) yang di dalamnya berisi berbagi pengalaman penelitian dan praktik kliniknya selama beberapa dekade yang menggunakan psikoanalisis tradisional, neurosains dan Buddhisme dalam praktik pencapaian keutuhan.

“Masalah utama dalam kondisi kita sebagai manusia berkaitan dengan fakta bahwa sifat alamiah kita adalah beradaptasi untuk hidup dalam alam liar, dan dikarenakan peradaban, kita hidup dalam kondisi yang sangat tidak alami,” kata Loizzo, yang percaya bahwa hal inilah penyebab utama ketegangan atau stres bagi kebanyakan orang.

“Naluri stres tersebut yang mempersiapkan kita untuk berjuang atau menghindar atau kadang terdiam dalam situasi-situasi yang berbahaya. Namun sejak peradaban mulai seperti mengambil alih seluruh kehidupan kita, reaksi-reaksi stres ini menjadi berkurang dan kurang bermanfaat bagi diri kita,” demikian wawancaranya dengan Voice of America.

Mengontrol tanggapan atau respons secara paksa dalam situasi penuh stres menghasilkan nafas yang memendek atau sesak nafas, berkeringat, dan melonjaknya andrenalin, mengingatkan tubuh akan kemungkinan bahaya.

“Dan karena apa yang menantang kita sebenarnya adalah bukan suatu predator, tetapi manusia lainnya,” katanya melanjutkan, “ yang kita butuhkan untuk bekerja sama dengannya dan kita butuh bernegosiasi dengannya, maka secara mendasar kita menjadi salah beradaptasi.”

Praktik-praktik dan filosofi Buddhis telah lama digunakan untuk menyelesaikan konflik. Dr. Loizzo mengatakan bahwa dengan menyertakan teknik-teknik Buddhis ke dalam praktik medisnya menggunakan meditasi dan teknik pertapasan, seseorang dapat kembali melatih otaknya untuk mengontrol reaksi tubuh untuk mengurangi stres yang dapat mengarah pada depresi, kegelisahan kronis, hipertensi dan sakit jantung.

“Gagasannya adalah jika anda berperhatian penuh, anda mampu untuk menilai sesuatu dengan lebih jelas, dan anda mampu untuk menangkap kesalahan persepsi dan reaksi berlebihan saat hal itu terjadi dan menyisihkannya dan memilih alternatif untuk melihat apa yang terjadi pada anda. Meditasi menjadi semacam sebuah sistem pragmatis sederhana yang dapat diajarkan untuk memperkuat bagian-bagian dari pikiran kita dan otak kita yang kita butuhkan untuk menjadi sehat dan bahagia.”

Penceritaan kisah pribadi seperti yang dilakukan oleh suku Aborigin Australia dalam ritual perjalanan (walkabout) juga merupakan salah satu teknik yang dilakukan oleh Dr. Loizzo. “Begitulah cara kerja pikiran kita. Pikiran kita membuat kisah-kisah dan gambaran-gambaran. Dan dengan demikian beberapa kemampuan yang kami ajarkan berhubungan dengan belajar untuk menceritakan diri kita sendiri kisah-kisah yang lebih konstruktif yang memberdayakan kita dan membantu kita untuk membangun kehidupan yang benar-benar kita ingin jalani – bukan kehidupan yang membuat kita mencoba bertahan hidup, atau yang ditakuti akan terjebak di dalamnya untuk selamanya.”

Metode-metode tersebut telah menjadi pengubah hidup bagi banyak pasien Dr. Loizzo.

“Depresi merupakan masalah utama bagi saya,” kata seorang pasien. “Dan melalui dukungan Dr. Loizzo dan interaksi kami, saya mampu untuk menghubungkan diri saya dengan orang lain dan mengembangkan sebuah jaringan orang-orang yang mendukung saya dalam hubungan yang lebih penuh arti, seperti itu. Sudah menjadi sebuah revolusi dalam kehidupan saya bagaimana cara saya berpikir mengenai diri saya dan berpikir mengenai dunia. Saya merasa masih memiliki jalan panjang untuk dijalani tapi saya telah berjalan jauh.”

Teknik-teknik perhatian penuh telah efektif dalam penentuan lainnya. Sebagai contoh, para pasien kanker payudara yang penyakitnya berkurang sering dilaporkan memiliki gejala seperti Gangguan Stres Pasca Trauma (Post Traumatic Stress Disorder) lama setelah perawatan berakhir. Pengobatan barat menawarkan sedikit bantuan untuk meredakan rasa takut dan cemas yang berkelanjutan.

Sebagai penelitian awal, Dr. Loizzo mengajarkan 60 wanita dalam sebuah kursus selama 20 minggu yang di dalamnya termasuk instruksi meditasi dan kelompok-kelompok diskusi. Kemudian, dilaporkan bahwa sebagian besar merasakan berkurangnya rasa cemas dan merasa lebih berpengharapan terhadap kehidupan mereka. “Terlepas dari menyembuhkan dan mengobati penyakit, adalah penting bahwa kita meningkatkan kualitas hidup orang.”

Memadukan psikoterapi Barat dengan filosofi timur merupakan dasar dari buku dan arah dari praktik Dr. Loizzo.

Seperti halnya Aborigin Australia yang dengan menyanyikan lagu yang mereka ciptakan dalam ritual perjalanan dapat memandu jarak jauh melewati padang pasir Australia, para pasien Dr. Loizzo belajar untuk memandu kehidupan mereka sendiri melalui meditasi dan menciptakan kisah-kisah konstruktif atau membangun untuk memberdayakan diri mereka melewati kehidupan sehari-hari dan juga krisis

Accurate Health Center merupakan pusat pengobatan akupunktur dan konsultasi psikologi di kota Medan dapat membantu anda melakukan konseling psikologi dan pengobatan akupunktur untuk menyembuhkan penyakit. Pengobatan Accurate Health Center tergolong lengkap dari segi pengobatan tradisional, seperti terapi tingkah laku, terapi traumalitas, konseling psikologi, konseling anak, terapi akupunktur, terapi pijat pengobatan, totok badan maupun wajah, terapi bekam, fisioterapi, refleksi terapi dan ramuan-ramuan obat tradisional yang cukup efektif. Alamiah dan tanpa efek samping.

Hipnoterapi untuk penyakit juga tersedia bagi pasien yang membutuhkan.

Hubungi Accurate Health Center Medan untuk penanganannya.

"Accurate" Health Center Medan
Jl. Tilak No. 76 (Simpang Demak)
Telp. (061) 7322480
Medan

Website : Http://www.accuratehealth.blogspot.com 

Monday, July 30, 2012

Kisah Sivali Thera

Sivali adalah anak dari Suppavasa (yang belakangan disebut sebagai upasika yang memberikan dana terbaik, aggam panítadáyikánam). Ia harus menderita berada di kandungan selama tujuh tahun oleh ibunya karena kejahatan masa lampaunya. Suppavasa mengalami kesulitan melahirkan selama tujuh hari, dan berpikir dirinya akan mati. Maka ia berpikir untuk memberikan dana kepada Buddha. Ketika Buddha menerima dana dan memberkati Suppavasa, seketika itu juga ia melahirkan.

Pada hari kelahirannya, (karena sudah tujuh tahun di kandungan) Sivali ini sudah memiliki kemampuan anak berumur tujuh tahun. Dengan izin dari Suppavasa, Sariputta menahbiskannya. Ketika ikat rambutnya pertama dipotong, ia mencapai Sotapanna, dan ke dua kali, ia mencapai Sakadagami. Dan kemudian hari ia menyendiri dan menjadi Arahat. Di kemudian hari, ia disebut oleh Buddha Gotama sebagai yang terbaik dalam menerima dana. Pada perjalanan menuju tempat kediaman Thera Revata, Buddha mengajak Thera Sivali karena jalanannya gersang dan tidak ada manusia. Untuk menguji keberuntungannya, Sivali mengajak lima ratus bhikkhu bersamanya. Sepanjang perjalanan, karena keberadaan Sivali, para Deva menyediakan semua kebutuhan para Bhikkhu.

Pada masa Buddha Vipassi, para perumahtangga bersaing dengan raja untuk memberikan persembahan terbaik. Pada saat itu, semua sudah terkumpul, namun kekurangan madu. Pada waktu itu Sivali memiliki madu yang akan dibeli dengan harga sangat mahal oleh para perumahtangga itu, namun ia tidak mau menjualnya dan ingin ikut serta dalam dana itu. Ia memberikan madu yang cukup bagi 68.000 Bhikkhu Sangha Buddha Vipassi. Itulah salah satu penyebab ia menjadi penerima persembahan yang tidak berkekurangan pada kehidupan terakhirnya.

Penderitaannya di kandungan selama 7 tahun dijelaskan dalam Asatarupa Jataka di mana Ia sebagai seorang pangeran yang kerajaannya diserbu oleh kerajaan Kosala. Ayahnya dibunuh dan ibunya dijadikan istri dari raja baru. Sivali ini berhasil melarikan diri lewat selokan dan kemudian mengancam raja baru untuk menyerahkan kerajaan itu kembali, atau ia akan berperang. Ibunya mengirim surat secara rahasia dan mengatakan tidak perlu berperang, hanya perlu mengepung saja. Setelah tujuh hari, karena tidak bisa mendapatkan persediaan makanan, air, dan kayu bakar, akhirnya rakyat memotong kepala raja baru, dan kemudian Sivali menjadi raja. Karena kejahatannya itu, maka ia harus menderita selama 7 tahun di dalam kandungan. Ibunya saat itu adalah Suppavasa, dan ayahnya yang dibunuh oleh Raja Kosala itu adalah Bodhisatta Gotama sendiri.

Orang yang telah menyeberangi lautan kehidupan (samsara) yang kotor, berbahaya dan bersifat maya;
yang telah menyeberang dan mencapai ‘Pantai Seberang’ (nibbana);
yang selalu bersemadi, tenang, dan bebas dari keragu-raguan;
yang tidak terikat pada sesuatu apa pun dan telah mencapai nibbana,
maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’

Monday, July 16, 2012

Medicine Buddha Mantra

Bhaisajyaguru ( « Medicine Master and King of Lapis Lazuli Light »), is the buddha of healing and medicine in Mahāyāna Buddhism. Commonly referred to as the « Medicine Buddha, » he is described as a doctor who cures suffering using the medicine of his teachings.
He is depicted as deep blue in colour, dressed in bhiksu's robes, holding his begging bowl in his left hand and with his right hand making the varada mudra. Varada means « granting wishes, conferring a boon, ready to fulfil requests or answer prayers. » Sometimes, especially in East Asian iconography, the begging bowl is replaced by a medicine jar; in Tibetan images a myrobalan plant, thought to be a panacea, grows out of the bowl.

 Dharmas


According to the Bhaisajyaguruvaidūryaprabharāja Sūtra, the Medicine Buddha Sutra, Bhaisajyaguru made the following Twelve Vows upon attaining Enlightenment :
  1. To illuminate countless realms with his radiance, enabling anyone to become a Buddha just like him.
  2. To awaken the minds of sentient beings through his light of lapis lazuli.
  3. To provide the sentient beings with whatever material needs they require.
  4. To correct heretical views and inspire beings toward the path of the Bodhisattva.
  5. To help beings follow the Moral Precepts, even if they failed before.
  6. To heal beings born with deformities, illness or other physical sufferings.
  7. To help relieve the destitute and the sick.
  8. To help women who wish to be reborn as men achieve their desired rebirth.
  9. To help heal mental afflictions and delusions.
  10. To help the oppressed be free from suffering.
  11. To relieve those who suffer from terrible hunger and thirst.
  12. To help clothe those who are destitute and suffering from cold and mosquitoes.

In Tibetan Buddhism, the practice of Medicine Buddha, the Supreme Healer (or Sangay Menla in Tibetan) is not only a very powerful method for healing and increasing healing powers both for oneself and others, but also for overcoming the inner sickness of attachment, hatred, and ignorance, thus to meditate on the Medicine Buddha can help decrease physical and mental illness and suffering.
The Medicine Buddha mantra is held to be extremely powerful for healing of physical illnesses and purification of negative karma. One form of practice based on the Medicine Buddha is done when one is stricken by disease. The patient is to recite the long Medicine Buddha mantra 108 times over a glass of water. The water is now believed to be blessed by the power of the mantra and the blessing of the Medicine Buddha himself, and the patient is to drink the water. This practice is then repeated each day until the illness is cured.


Recitations

In the Bhaisajyaguruvaidūryaprabharāja Sūtra, the Medicine Buddha is described as having entered into a state of samadhi called « Eliminating All the Suffering and Afflictions of Sentient Beings. » From this samadhi state he spoke the Medicine Buddha Dharani :
namo bhagavate bhaisajyaguru
vaidūryaprabharājāya tathāgatāya
arhate samyaksambuddhāya tadyathā:
om bhaisajye bhaisajye bhaisajya-samudgate svāhā

The last line of the dharani is used as Bhaisajyaguru's short form mantra. There are several other mantras for the Medicine Buddha as well that are used in different schools of Vajrayana Buddhism.
The short form of the mantra could roughly be translated as « Hail! Appear, O Healer, O Healer, O Great Healer, O King of Healing! » The optional « tadyathā » at the beginning means « thus, » and it’s not really part of the mantra, but more of an introduction.
The long version could be rendered as « Homage to the Blessed One, The Master of Healing, The King of Lapis Lazuli Radiance, The One Thus-Come, The Worthy One, The Fully and Perfectly Awakened One, thus: ‘Hail! Appear, O Healer, O Healer, O Great Healer, O King of Healing!’ »
In Tibetan pronunciation, the mantra comes out as:
(Tad-ya-ta) Om Be-kan-dze Be-kan-dze Ma-ha Be-kan-dze Ra-dza Sa-mung-ga-te So-ha

Thursday, July 05, 2012

7 Keunggulan Ajaran Buddha

7 Keunggulan Ajaran Buddha

Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, seorang Buddhis, menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.
Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta

Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu kepercayaan. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik, seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa masuk surga atau neraka, atau mencapai Nibbana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun kepercayaannya.

2. Ajaran Buddha mengajarkan belas kasih yang universal

Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan termasuk yang terkecil seperti serangga.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya

Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan menyarankan, “Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan.” Ajaran Buddha tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung

Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri. Siapa lagi yang menjadi pelindungmu? Bagi orang yang telah berlatih dengan sempurna, maka dia telah mencapai perlindungan terbaik.”
Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, “God helps those who help themselves” –Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala bentuk perbudakan dan penjajahan.
Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, “Semua Buddha, termasuk Saya, hanyalah penunjuk jalan.” Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak, tergantung pada orang yang bersangkutan.

5. Ajaran Buddha adalah ajaran yang suci

Yang dimaksudkan di sini adalah ajaran tanpa pertumpahan darah.
Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun –ajaran Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya melalui senjata dan kekerasan.

6. Ajaran Buddha adalah ajaran yang damai dan tanpa monopoli kedudukan

Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.” Pada saat yang sama, Beliau memuji upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, “Seseorang yang menaklukkan ribuan orang dalam perang bukanlah penakluk sejati. Tetapi seseorang yang hanya menaklukkan seorang saja yaitu dirinya sendiri, dialah pemenang tertinggi.”
Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin). Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tidak satu keyakinan atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli kepercayaan apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk memperoleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut ajaran Buddha tetapi tidak mempraktikkannya, hanya akan memperoleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.
Dalam ajaran Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan.

7. Ajaran Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang muncul tanpa alasan.
Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.
Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan, maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.
Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan pengetahuan modern yang membuat ajaran Buddha tidak ketinggalan zaman daripada kepercayaan-kepercayaan lain di dunia.

Kisah Nyata Inspiratif : Ibuku

Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang.

Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat membaca buku, sang anak tersebut diterangi sinar lampu minyak, sedangkan ibunya dengan penuh kasih menjahitkan baju untuk sang anak.

Memasuki usia baya, sang anak memasuki sekolah menengah atas. Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja di sawah.

Saat itu setiap bulannya murid - murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa ke kantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibunya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Ia kemudian berkata kepada ibunya :

"Ibu, saya mau berhenti sekolah dan membantu ibu bekerja disawah".

Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata :

"Kamu memiliki niat seperti itu Ibu sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau Ibu sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan ke sekolah nanti berasnya ibu yang akan bawa ke sana".

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan ke sekolah, Ibundanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh Ibundanya.

Sang anak akhirnya pergi juga ke sekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh. Tak berapa lama, dengan terpincang - pincang dan nafas tergesa - gesa Ibunya datang ke kantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya.

Pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : " Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, di sini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran". Sang ibu ini pun malu dan berkali - kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut.

Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk ke dalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata:

"Masih dengan beras yang sama".

Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata :

"Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanya".

Sang ibu sedikit takut dan berkata :

"Ibu pengawas, beras di rumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana?

Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata :

"Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam - macam jenis beras". Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa - apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali ke sekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata - kata kasar dan berkata:

"Kamu sebagai ibu kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !".

Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata:

"Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis". Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa - apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk di atas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak.

Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata:

"Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah lagi."

Selama ini dia tidak memberitahu sanak saudaranya yang ada di kampung sebelah. Lebih-lebih takut melukai harga diri anaknya. Setiap hari pagi-pagi buta dengan kantong kosong dan bantuan tongkat pergi ke kampung sebelah untuk mengemis. Sampai hari sudah gelap pelan - pelan kembali ke kampung sendiri. Sampai pada awal bulan semua beras yang terkumpul diserahkan ke sekolah.

Pada saat sang ibu bercerita, secara tidak sadar air mata Pengawas itupun mulai mengalir, kemudian mengangkat ibu tersebut dari lantai dan berkata:

"Bu sekarang saya akan melapor kepada kepala sekolah, supaya bisa diberikan sumbangan untuk keluarga ibu."

Sang ibu buru - buru menolak dan berkata:

"Jangan, kalau anakku tahu ibunya pergi mengemis untuk sekolah anaknya, maka itu akan menghancurkan harga dirinya. Dan itu akan mengganggu sekolahnya. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati ibu pengawas, tetapi tolong ibu bisa menjaga rahasia ini."

Akhirnya masalah ini diketahui juga oleh kepala sekolah. Secara diam - diam kepala sekolah membebaskan biaya sekolah dan biaya hidup anak tersebut selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, sang anak tersebut lulus masuk ke perguruan tinggi dengan nilai 627 point.

Di hari perpisahan sekolah, kepala sekolah sengaja mengundang ibu dari anak ini duduk di atas tempat duduk utama. Ibu ini merasa aneh, begitu banyak murid yang mendapat nilai tinggi, tetapi mengapa hanya ibu ini yang diundang. Yang lebih aneh lagi disana masih terdapat tiga kantong beras.

Pengawas sekolah tersebut akhirnya maju ke depan dan menceritakan kisah sang ibu ini yang mengemis beras demi anaknya bersekolah. Kepala sekolah pun menunjukkan tiga kantong beras itu dengan penuh haru dan berkata :

"Inilah sang ibu dalam cerita tadi."

Dan mempersilahkan sang ibu tersebut yang sangat luar biasa untuk naik ke atas mimbar.

Anak dari sang ibu tersebut dengan ragu-ragu melihat ke belakang dan melihat gurunya menuntun Ibunya berjalan ke atas mimbar. Sang ibu dan sang anakpun saling bertatapan. Pandangan Ibu yang hangat dan lembut kepada anaknya. Akhirnya sang anak pun memeluk dan merangkul erat ibunya dan berkata:

"Oh Ibu.."

Pesan Cerita :

Pepatah mengatakan: "Kasih ibu sepanjang masa, sepanjang jaman dan sepanjang kenangan" Inilah kasih seorang ibu yang terus dan terus memberi kepada anaknya tak mengharapkan kembali dari sang anak.

Hati mulia seorang ibu demi menghidupi sang anak berkerja tak kenal lelah dengan satu harapan sang anak mendapatkan kebahagian serta sukses di masa depannya. Mulai sekarang, katakanlah kepada Ibu kita di manapun ibu kita berada dengan satu kalimat: " Terima Kasih Ibu, Aku Mencintaimu, Aku Mengasihimu... selamanya".

Toleransi Agama

Raja Asoka berkata:

Seseorang seharusnya tidak hanya menghormati agamanya sendiri dan menyalahkan agama-agama orang lain, melainkan ia harus menghormati agama-agama orang lain karena berbagai alasan.

Dengan berlaku demikian, seseorang telah membantu perkembangan agamanya sendiri dan juga memberikan pelayanan
kepada agama-agama orang lain. Bila bertindak sebaliknya, ia menggali lubang kubur bagi agamanya sendiri dan juga membahayakan agama-agama lainnya.

Siapa saja yang menghormati agamanya sendiri dan menyalahkan agama-agama lainnya, itu dilakukan karena bakti terhadap agamanya sendiri, dengan berpikir bahwa "Aku akan memuliakan agamaku sendiri". 


Akan tetapi sebaliknya, dengan berbuat demikian ia semakin dalam melukai agamanya sendiri. Karenanya kerukunan adalah baik: Mari kita semua mendengarkan, dan dengan ikhlas mendengarkan ajaran-ajaran yang dianut orang lain.

Orang Baik bagaikan pohon

Pohon memberi naungan bagi yang lain..
Sementara Ia sendiri ditimpa matahari..
Buah yang dihasilkan diperuntukan bagi yang lain..
Demikianlah orang baik adalah bagaikan pohon..

~Subhasitaranaghosa~

Pemberian Bijaksana

Empat jenis orang bijaksana yang memberi:

Ia tidak memberi sesuatu yang tidak perlu jika yang lainnya masih baik, atau dengan memandang rendah berpikir: "mereka tidak pantas untuk ditawari" Ia juga tidak menurunkan nilai pemberiannya dengan mengharapkan balasan lebih.

jika memberi pada orang bijaksana(mulia), ia tidak merasa bangga berlebihan, jika memberi pada orang terhina Ia tidak merasa rendah..
ia memberi dengan iklas, tidak akan memandang tinggi dirinya dan memandang rendah yang lainnya.

Ia tidak memberi dengan maksud yang tidak baik,
ia tidak memberi tanpa cita-cita mulia..
ia tidak memberi dengan kemarahan..
juga tidak menyesali apapun yang telah diberikan..

Ia tidak memberi banyak jika dipuji atau sedikit jika tidak dipuji..
Ia tidak memberikan sesuatu yang merugikan atau menimbulkan prilaku tercerah.

~Paramitasamasa 1:36-40~

The Mantra Of Amitabha Buddha

Wang Sen Cing Thu Sen Cou 

The Mantra Of Amitabha Buddha. Umat Buddha yang tekun dan rajin membaca Mantra ini, dan melafalkan Namo Amitabha Buddha, maka karma - karma buruk yang berat akan terhapus, dan kelak ketika ia meninggal, Amitabha Buddha, Kwan Se Im Phu Sa, Ta Se Che Phu Sa dan para makhluk suci lainnya akan dtg menjemputnya menuju ke Surga yg penuh kebahagiaan di Surga Sukhavati sebelah barat

Pesan Lao Tse

Setelah mengetahui bahwa pembimbingnya, Chang Cong, sakit keras, Lao Tzu mengunjunginya. Terlihat jelas bahwa Chang Cong mendekati akhir hidupnya.

"Guru, apakah Guru mempunyai kata-kata bijak terakhir untukku?" Kata Lao Tzu kepadanya.

"Sekalipun kamu tidak bertanya, aku pasti akan mengatakan sesuatu kepadamu." Jawab Chang Cong.

"Apa itu?" Tanya Lao Tzu

"Kamu harus turun dari keretamu bila kamu melewati kota kelahiranmu." Kata Chang Cong

"Ya Guru. Ini berarti orang tidak boleh melupakan asalnya." Kata Lao Tzu

"Bila kamu melihat pohon yang tinggi, kamu harus maju dan mengaguminya." Ucap Chang Cong

"Ya, Guru. Ini berarti saya harus menghormati orang yang lebih tua." Kata Lao Tzu

"Sekarang, lihat dan katakan apakah kamu dapat melihat lidahku," kata Chang Cong, menundukkan dagunya dengan susah payah.

"Ya." Jawab Lao Tzu

"Apakah kamu melihat gigiku?" Tanya Chang Cong

"Tidak. Tak ada gigi yang tersisa." Jawab Lao Tzu

"Kamu tahu kenapa?" Tanya Chang Cong

"Aku rasa," kata Lao Tzu setelah berpikir sejenak, "Lidah tetap ada karena lunak. Gigi rontok karena mereka keras. Benar tidak?"

"Ya, anakku," angguk Chang Cong. "Itulah kebijaksanaan di dunia. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk di ajarkan kepadamu."

Di kemudian hari, Lao Tzu mengatakan : "Tidak ada sesuatu pun di dunia yang selunak air. Namun tidak ada yang mengunggulinya dalam mengalahkan yang keras. Yang lunak mengalahkan yang keras dan yang lembut mengalahkan yang kuat. Setiap orang tahu itu, tapi sedikit saja yang mempraktekkan."

Keterangan :

Lao Tzu adalah ahli filsafat China yang sangat populer dan pendiri Taoisme. Lao Tzu juga pengarang buku Dao De Jing (Di baca "Tao Te Cing") yang sangat terkenal. Lao Tzu hidup sezaman dan berteman baik dengan Confucius (Kong Hu Cu).

Pesan Cerita :

Kadang kala kita sering ego dan mau menang sendiri ketika menghadapi suatu permasalahan dan interaksi sosial dalam kehidupan kita sehari-hari.


Wednesday, July 04, 2012

TOKOH BUDDHIST AKTOR


Thursday, June 28, 2012

His Holiness Dalai Lama

I have always felt it important to show my respect to other religions, such as Christianity, Hinduism, Jainism, Islam, Judaism, Sikhism, and so on.

(His Holiness Dalai Lama)

Makna yang ingin disampaikan adalah bahwa cara berdoa apapun tidak masalah ketika batin, pikiran, niat, hati dalam keadaan sadar sepenuhnya, selalu positif.

Cara "berdoa", "bersembahyang", berpakaian, atau "beribadah" seseorang tidak begitu bermasalah, tatkala niat, hati, batin atau pikirannya penuh dengan kebijaksanaan dan cinta yang universal, serta bebas dari kebencian, kebodohan, iri hati, dendam dan kotoran batin lainnya.

Jangan Sedih


Jangan sedih bila orang lain tidak memahami anda.. Tapi sedihlah karena anda tidak mau memahami orang lain.

Jangan sedih bila orang lain tidak mempercayai anda.. Tapi sedihlah karena anda tidak percaya diri sendiri.

Jangan sedih bila orang lain tidak memberi kesempatan kepada anda.. Tapi sedihlah karena anda belum buat persiapan.

Jangan sedih bila orang lain tidak menghargai anda.. Tapi sedihlah karena anda tidak bisa menghargai orang lain.

Jangan sedih bila orang lain menghina anda.. Tapi sedihlah karena anda membuat hina diri sendiri.

Jangan sedih bila orang lain memaki anda.. Tapi sedihlah karena anda bermulut jahat pada orang lain.

Jangan sedih orang selalu mengritik kita.. Tapi sedihlah karena anda tak pernah mau perbaiki diri.

Jangan sedih karena anda selalu jatuh.. Tapi sedihlah karena anda tak mau bangkit kembali.

Jangan sedih karena perjalanan hidup anda pahit getir.. Tapi sedihlah karena anda tak pernah belajar dari pengalaman.

INGATLAH..


Kunci masalah selalu ada dalam diri, bukan di luar,


Perbaikilah diri maka hidup akan berubah menjadi baik.

Buddhisme Mendapatkan Penghargaan Sebagai “Agama Terbaik di Dunia”

Sungguh menarik membaca bahwa Agama Buddha mendapatkan penghargaan sebagai ‘Agama Terbaik di Dunia’.
 
15 Juli 2009, Tribun de Geneve

Koalisi International berdasarkan Jenewa untuk Kemajuan Agama dan Spiritualitas (The Geneva-based International Coalition for the Advancement of Religious and Spirituality- ICARUS) telah memberikan penghargaan kepada Komunitas Buddhis sebagai ‘Agama Terbaik di Dunia’ tahun ini.


Penghargaan khusus ini dipilih dalam suatu pertemuan internasional dengan lebih dari 200 pemimpin keagamaan dari semua bagian spectrum spiritual. Sangatlah mengagumkan untuk dicatat bahwa banyak pemimpin keagamaan lebih memilih Agama Buddha daripada agama mereka sendiri. Meskipun pengikut Buddha hanyalah sebagian kecil dari anggota ICARUS.

Berikut ini empat komentar dari anggota pemilih.

Jonna Hult, Direktur Riset ICARUS mengatakan ‘Tidaklah mengejutkan bagi saya bahwa Agama Buddha mendapatkan penghargaan sebagai Agama Terbaik di Dunia, karena kita tidak dapat menemukan satu kejadian perang pun yang dilakukan atas nama Agama Buddha. Dibandingkan dengan agama-agama lain yang sepertinya menyimpan sepucuk senapan dalam almarinya untuk dipergunakan apabila Tuhan membuat suatu kesalahan, kita bahkan sulit menemukan seorang umat Buddha yang pernah menjadi tentara. Orang-orang ini melaksanakan hal yang telah mereka ceramahkan sehingga kita tidak lagi bisa menyetarakannya dengan tradisi spritual lainnya.

Seorang pastur Katholik, Romo Ted O`Shaughnessy mengatakan dari Belfast, “Sebagaimanapun saya mencintai Gereja Katholik, saya selalu terganggu karena kita mengajarkan cinta kasih seperti yang terdapat dalam kitab suci namun kemudian mengatakan bahwa kita menyatakan mengetahui kehendak Tuhan saat kita membunuh sesama manusia. Untuk alasan itulah saya harus menjatuhkan pilihan saya kepada Agama Buddha.

Seorang pemimpin Muslim Tal Bin Wassad menyetujui dari Pakistan melalui penerjemahnya, “Meskipun saya seorang Muslim yang taat, saya dapat melihat sedemikian banyak kemarahan dan pertumpahan darah yang disalurkan sebagai ungkapan keagamaan daripada berhubungan dengan urusan pribadi.”

“Umat Buddha telah memecahkan masalah itu”, lanjut Bin Wassad, anggota ICARUS yang memberikan suara untuk kelompok Muslim Pakistan, “Sebenarnya, sebagian teman akrab saya adalah umat Buddha.”
Rabbi Shmuel Wassertain mengatakan dari Jerusalem, “Tentu saja saya mencintai Agama Yahudi, dan saya pikir itulah agama terhebat di dunia. Namun, sejujurnya sejak tahun 1993 saya telah melaksanakan meditasi Vipassana setiap hari sebelum minyan (doa sehari-hari umat Yahudi). Jadi saya mengerti hal itu.”

Bagaimanapun juga ada satu masalah, ICARUS tidak dapat menemukan seorang pun untuk menerima penghargaan itu. Semua umat Buddha yang mereka hubungi tetap mengatakan menolak penghargaan itu.
Ketika ditanya alasan kolompok Buddhis Birma menolak penghargaan tersebut, bhikkhu Ghurata Hanta mengatakan dari Birma,”Kita berterima kasih atas pernyataan tersebut, namun kita memberikan penghargaan itu untuk semua umat manusia, karena sifat keBudhaan berada dalam setiap diri kita.”

Groehlichen kemudian berkata “Kita akan terus menghubungi semua fihak sehingga kita menemukan seorang umat Buddha yang mau menerimanya, Kita akan memberitahukan kepada Anda apabila kita telah menemukannya.”

Tuesday, June 26, 2012

Anathapindika (Seorang hartawan yang menjadi miskin)

    • Anathapindika adalah pendana Vihara Jetavana yang didirikan dengan biaya lima puluh empat crores. Ia tidak hanya dermawan tetapi juga benar-benar berbakti kepada Sang Buddha. Dia pergi ke vihara Jetavana dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha tiga kali sehari. Pada pagi hari dia membawa bubur nasi, siang hari dia amembawa beberapa macam makanan yang pantas atau obat-obatan dan pada malam hari dia membawa bunga dan dupa.
  •  
      Setelah beberapa lama Anathapindika menjadi menjadi miskin, tetapi sebagai orang yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapana, bathinnya tidak tergucang dengan kemiskinannya, dan dia terus melakukan perbuatan rutinnya setiap hari yaitu berdana.Suatu malam, satu makhluk halus penjaga pintu rumah Anathapindika menampakkan diri dalam ujud manusia menemui Anathapindika, dan berkata: “Saya adalah penjaga pintu rumahmu, kamu telah memberikan kekayaanmu kepada Samana Gotama tanpa memikirkan masa depanmu. Hal itulah yang menyebabkan kamu miskin sekarang. Oleh karena itu kamu seharusnya tidak memberikan dana lagi kepada Samana Gotama dan kamu seharusnya memperhatikan urusanmu sendiri sehingga menjadi kaya kembali.”
  •  
      Anathapindika menghalau penjaga pintu tersebut keluar dari rumahnya. Karena Anathapindika sudah mencapai tingkat kesucian sotapanna, mahluk halus penjaga pintu tersebut tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Dia pun pergi meninggalkan rumah tersebut, dia tidak mempunyai tempat tujuan pergi dan ingin kembali ke rumah Anathapindika, tetapi dia takut pada Anathapindika jadi dia mendekati Raja Sakka, raja para dewa.
  •  
      Sakka memberi saran kepadanya, pertama dia harus berbuat baik kepada Anathapindika dan setelah itu meminta maaf kepadanya. Kemudian Sakka melanjutkan, “Ada kira-kira delapan belas crores yang dipinjam oleh beberapa pedangan yang belum dikembalikan kepada Anathapindika; delapan belas crores lainnya disembunyikannya oleh lelulur (nenek moyang) Anathapindika, dan lainnya yang buka milik siapa-siapa yang dikuburkan di tempat tertentu. Pergi dan kumpulkanlah semua kekayaan ini dengan kemampuan bathin luar biasamu, penuhilah ruangan-ruangan Anathapindika. Setelah melakukan itu, kamu boleh meminta maaf padanya.”
  •  
      Mahluk halus penjaga pintu tersebut melakukan petunjuk Sakka, dan Anathapindika kembali menjadi kaya. Ketika mahluk halus penjaga pintu memberi tahu Anathapindika mengenai keterangan dan petunjuk yang diberikan oleh Sakka, perihal pengumpulan kekayaannya dari dalam bumi, dari dasar samudera, dan dari peminjam-peminjamnya. Anathapindika terkesan dengan perasaan kagum kemudian Anathapindika membawa mahluk halus penjaga pintu tersebut menghadap Sang Buddha.
  •  
      Kepada mereka berdua, Sang Buddha berkata, “Seseorang tidak akan menikmati keuntungan dari perbuatan baiknya, atau menderita akubat dari perbuatan jahat untuk selamanya; tetapi akan tibalah waktunya kapan perbuatan baik atau buruknya berbuah dan menjadi matang.”
  •  
      Mahluk halus penjaga pintu rumah itu mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah mendengar kotbah Dhamma tersebut berakhir.
  •  
      Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnyabelum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah peerbuatan bajiknya belum masak’ tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak; ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik
      (Dhammapada 119 & 120)

40 macam Objek Meditasi Samatha Bhavana

Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda), yaitu :

1. Pathavi kasina = wujud tanah
2. Apo kasina = wujud air
3. Teja kasina = wujud api
4. Vayo kasina = wujud udara atau angin
5. Nila kasina = wujud warna biru
6. Pita kasina = wujud warna kuning
7. Lohita kasina = wujud warna merah
 8. Odata kasina = wujud warna putih
9. Aloka kasina = wujud cahaya
10. Akasa kasina = wujud ruangan terbatas


Sepuluh asubha (sepuluh wujud kekotoran), yaitu :
1. Uddhumataka = wujud mayat yang membengkak
 2. Vinilaka = wujud mayat yang berwarna kebiru-biruan
3. Vipubbaka = wujud mayat yang bernanah
4. Vicchiddaka = wujud mayat yang terbelah di tengahnya
5. Vikkahayitaka = wujud mayat yang digerogoti binatang-binatang
6. Vikkhittaka = wujud mayat yang telah hancur lebur
7. Hatavikkhittaka = wujud mayat yang busuk dan hancur
8. Lohitaka = wujud mayat yang berlumuran darah
9. Puluvaka = wujud mayat yang dikerubungi belatung
10. Atthika = wujud tengkorak

Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan), yaitu :
1. Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
2. Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma
3. Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha
 4. Silanussati = perenungan terhadap sila
5. Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
6. Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa
7. Marananussati = perenungan terhadap kematian
8. Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani
 9. Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan
10. Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana

Empat appamañña (empat keadaan yang tidak terbatas), yaitu :
1. Metta = cinta kasih yang universal, tanpa pamrih
2. Karuna = belas kasihan
3. Mudita
4. Upekha

Menaklukkan Gajah Nalagiri (dengan Cinta Kasih /Metta)

Nãlãgirim gajavaram atimatta bhutam
Dãvaggi cakka masaniva sudãrunantam
Mettambuseka vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni

Nalagiri gajah mulia menjadi sangat gila
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar, bagai senjata roda atau halilintar
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.

Sang Buddha seperti biasa sedang berjalan ke suatu daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian yang besar kepada Sang Buddha, Sang Guru Agung.

Melihat Sang Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya, menyebabkan Devadatta berpikir :
"Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah binatang yang amat galak dan liar, ia tidak mengetahui kesucian Buddha, Dhamma serta Sangha. Ia akan saya lepaskan untuk menghancurkan Bhikkhu Gotama."

Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah :
"Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu Gotama sedang berjalan."

Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu menjawab :
"Delapan guci."

Devadatta lalu berkata :
"Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui oleh Bhikkhu Gotama."

"Baiklah," jawab penjaga itu.

Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan mengumumkan :
"Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini dapat melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi hari, sesudah itu tidak boleh ada satu orangpun yang berada di jalan raya."

Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata :

"Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah. Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok pagi-pagi sekali, berikan Nalagiri enam belas guci minuman keras dan ketika Bhikkhu Gotama melewati jalan itu, lukailah gajah itu dengan tongkat berduri. Karena gajah yang kesakitan itu akan marah, ia akan menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka gajah itu akan menghancurkanNya."

Keduanya setuju dengan rencana seperti itu. Berita ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar berita ini amat khawatir, lalu mendatangi Vihara dan meminta Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota esok hari, karena ada bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka berjanji akan membawakan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya. Tatapi Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan merubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka meninggalkan Vihara dengan perasaan amat khawatir.

Setelah mereka pergi, Sang Buddha merenungkan semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran. Beliau juga melihat apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya, maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda, dan berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang diminta oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul di Vihara Veluvana.

Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya, berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di sekitar jalan raya. Para pengikut Sang Buddha berpikir :
"Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya."

Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang yang ada di sekitar jalan raya itu.

Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir :
"Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan melihat apa yang terjadi denganNya."

Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang Maha Sempurna berjalan menghampirinya, penduduk yang ada di sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat kesakitan itu berlari dengan liarnya, ia menghancurkan pagar rumah-rumah dan mengangkat belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.

Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung :
"Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali."

"O....Para Bhikkhu datanglah ke sini, jangan takut; tidak ada satu makhlukpun yang dapat menghancurkan Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana bukan karena suatu serangan."

Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha dengan berkata :
"Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak sulungnya. Saya akan mengalahkan binatang ini."

Sang Buddha lalu berkata :
"Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan pengikutnya adalah hal yang lain."

Beliau menolak tawaran itu, dan berkata :
"Sariputta, tetaplah tinggal di sini."

Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak mampu bersikap diam dalam menghadapi masalah ini, ia lalu berteriak :
"Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu."

Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha, siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi Sang Buddha berkata kepadanya :
"Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu."

Yang Mulia Ananda berkata :
"Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. Biarkanlah ia membunuh saya terlebih dahulu dan sesudah itu ia baru dapat menghampiri Yang Mulia."

Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur. Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat Yang Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan menempatkanNya di tengah-tengah para bhikkhu yang tengah berkerumun.

Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin menggendong anak itu di pinggangnya. Posisinya berada di antara Sang Tathagata dan gajah Nalagiri, ibu itu berusaha berlari. Gajah itu mengejar ibu tersebut, ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan amat ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.

Hati Sang Buddha bergetar, dengan penuh cinta kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, memanggil Nalagiri :
"Ho..! Nalagiri...! Siapa yang membuatmu menjadi gila dengan enam belas guci minuman keras, kamu tidak diperintahkan untuk menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. Jangan keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa tujuan, datanglah kepadaku."

Mendengar suara Sang Buddha, Nalagiri membuka matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang. Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat kuat itu hilang. Dengan menurunkan belalainya dan mengoyang-goyangkan kupingnya ia mendatangi dan berlutut di kaki Sang Tathagata. Kemudian Sang Tathagata berkata :
"Nalagiri, kamu adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha, tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap mengembangkan cinta kasih."

Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :
"Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik setelah kematiannya."

"Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan bodoh. Karena orang yang bodoh tidak akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia."

Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru dengan gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan. Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka (pemilik kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan tidak menyakiti siapapun.

Setelah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ini, Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari dana di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut, dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu pertempuran dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Para penduduk menuju Vihara Jetavana, berdana makanan berupa nasi, minuman dan makanan enak lainnya kepada Sang Guru Agung beserta murid-muridNya. Penduduk kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali