
Friday, March 16, 2012
Kajian Ilmiah, Sembuh lewat Meditasi

Buddha Dharma Dan Kecantikan
Sudah menjadi kodrat bahwa setiap orang suka akan kecantikan. Karena realitas dalam diri manusia dan juga masyarakat adalah senang akan kecantikan. Wanita yang cantik disukai pria, diburu periklanan, dijadikan bintang sinteron, dan wanita akan selalu merasa dan mengusahakan agar dirinya senantiasa menjadi cantik.Tetapi apakah sesungguhnya kecantikan itu? Mengapa pria memburu wanita yang cantik dan kerap bertekuk lutut di kerling matanya? Mengapakah wanita mengusahakan kecantikan dirinya, tidakkah mereka itu korban dari stereotipe, citra, mitos, ideal, atau definisi kecantikan yang dikonsepsikan justru bukan oleh kaumnya sendiri, melainkan entah itu oleh masyarakat, budaya, ideologi kaum patriarkhi (lelaki), pedagang, atau industri kapitalis.
Benarkah kecantikan itu ada secara kodrati, obyektif, dan universal; atau kecantikan itu relatif, subyektif, dan hasil konstruksi sosial semata? Apakah kecantikan hanya sebatas kulit, atau lebih dari sebatas permukaan kulit, namun jauh menjangkau lebih dalam lagi (inner beauty) yang menyelusup sampai kepada kepribadian dan intelegensia?
Konstruksi Kecantikan
Apakah cantik? Pertanyaan sederhana ini sulit jawabnya. Setiap orang -atau juga sekelompok orang- punya definisi sendiri tentang cantik. Yang pasti, industri kecantikan tumbuh subur dengan memanfaatkan kebutuhan orang untuk tampil cantik. Dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarangpun, urusan untuk tampil cantik, cantik fisik yang ikut mendongkrak rasa percaya diri tetap saja tidak kunjung surut.
Memang kecantikan selalu dikejar wanita dan menjadi problem psikologis banyak wanita yang kurang percaya diri. Hal ini terjadi karena kecantikan tidak lepas dari konstruksi sosial. Majalah, film, televisi, dan periklanan, sering menyajikan perempuan dengan bentuk tubuh yang dikonstruksikan ideal, karenanya Industri kecantikan seperti pelangsingan tubuh dan perawatan awet muda tumbuh menjadi industri milyaran dollar.
Kecantikan tampaknya relatif, karena tiap masyarakat punya definisinya tentang cantik. Tubuh yang subur pernah menjadi citra kecantikan wanita Jawa seperti tampak pada relief candi Borobudur, begitu pula masyarakat Fiji di Pasifik. Para perempuan suku Dayak di Kalimantan mengenakan anting-anting yang makin banyak jumlahnya. Sampai paruh pertama abad 20, perempuan di Cina yang kakinya kecil dianggap cantik.
Sepanjang peradaban manusia, apa yang disebut cantik selalu berubah menurut apa yang dikonstruksikan oleh masyarakat itu. Pandangan tentang cantik berubah bersama perkembangan teknologi. Di Barat, semenjak Revolusi Industri terjadi perubahan konsep kecantikan. Dimulainya era industrialisasi membuat banyak perempuan bekerja di luar rumah dan independen secara material.
Keadaan ini, seperti yang diungkapkan Naomi Wolf, aktivis gerakan perempuan dalam bukunya The Beauty Myth, mendorong perempuan membelanjakan uangnya, menjadi konsumen demi kecantikan yang sejalan dengan penciptaan mitos cantik secara massal oleh kaum industri kapitalis; seperti misalnya: tubuh yang ramping cenderung kurus, muka cantik, bersih, dan kulit kencang.
Karena mitos dan kriteria cantik itu, banyak wanita tergoda terhadap tawaran paket mempercantik diri yang kini banyak bertebaran. Mulai dari melangsingkan tubuh, memutihkan kulit, mentato alis mata, membentuk bokong atau payudara, membuat lesung pipit, sampai mendandani "organ paling intim". Paha, pinggul, lengan, dan perut adalah tidak bagus kalau terlihat gemuk sehingga ada paket sedot lemak untuk merampingkannya. Tampaknya di mata bengkel kecantikan, selalu ada saja bagian tubuh yang dianggap tidak indah, dari ujung rambut hingga ujung kaki sampai bagian terdalam.
Citra kecantikan dikonstruksikan oleh kaum industri kapitalis kecantikan seperti yang ditawarkan iklan dalam media massa. Padahal menurut Wendy Chapkins dalam Beauty Secrets, Women and the Politics of Appearance (1986), kecantikan seperti yang ditawarkan itu akan mengubah bentuk wajah dan tubuh seseorang menjadi apa yang ingin dicitrakan suatu merk kosmetika atau suatu program kecantikan.
Banyak orang mengejar citra cantik seperti yang telah dikonstruksikan secara sosial, agar tetap terlihat muda, kulit yang kenyal dan halus seperti bayi, khususnya para wanita separuh baya. Padahal usia tetap merambat dan sebenarnya tidak ada yang dapat melawan hukum alam anicca bahwa tidak ada yang kekal di dunia, semua akan menjadi tua dan mati.
"Jika bumi, gunung semeru, dan samudra hancur oleh kobaran api dari tujuh matahari, dan tak ada sebutir debupun yang tersisa, lalu kenapa berpikir bahwa manusia yang begitu lemah adalah abadi?" (Nagarjuna dalam Suhrleka).
"Akhir yang pasti dari tubuh adalah berubah menjadi debu, mengering, dan membusuk; dan adalah tumpukan tulang kotor yang tidak memiliki apa-apa, organ-organ tubuh akan rusak dan membusuk. Ketahuilah bahwa tubuh memiliki sifat akan terurai." (Nagarjuna dalam Suhrleka).
Dewasa ini, kecantikan yang dicitrakan dan dikonstruksikan secara sosial itu berkaitan dengan modus ekonomi. Padahal mungkin saja kecantikan memang terletak pada mata orang yang melihat dan subyektif sifatnya. Kita menyebut sesuatu cantik, indah, atau bagus, bila hal itu menyukakan atau menyenangkan kita dengan cara tertentu. Apa yang menyenangkan seseorang tidak berarti juga menyenangkan orang lain. Itulah sebabnya kadang-kadang dikatakan bahwa kecantikan itu hanya ada pada orang yang melihat.
Tetapi mengapakah kecantikan bisa juga dikatakan untuk orang yang sama, dan banyak orang memburu wanita-wanita yang dikatakan cantik. Selain subyektif, tidakkah ada nilai yang obyektif sehingga banyak orang dapat mengatakan bahwa dia itu, entah Lady Di almh., Paramita Rusady, Dessy Ratnasari, Megawati, Hartati Murdaya, Julia Roberts, atau Kwan Ce Lin memang cantik.
Thomas Aquinas (1225-1274) dan Immanuel Kant (1724-1804) mengajarkan kita bahwa keindahan seperti kecantikan misalnya mengandung aspek subyektif dan obyektif. Kenikmatan estetis yang diberikan obyek-obyek tertentu kepada pengamat (subyek) bersangkutan dengan nilai-nilai intrinsik yang ada dalam obyek itu sendiri. Jadi selain memang orang itu cantik, subyektifitas seseorang juga menentukan. Bagi suami, istrinya tentulah dianggap cantik.
Kecantikan Luar
Memang ada yang bilang kecantikan itu relatif, namun ada juga yang memberikan ukuran bahwa kecantikan merupakan perpaduan harmoni, keseimbangan, dan keselarasan. Ada kecantikan luar (outer beauty) yang menyangkut fisik, seperti kulit, wajah, dan bentuk; tetapi yang lebih penting lagi adalah kecantikan dalam (inner beauty) yang berhubungan dengan seluruh kepribadian dan dimensi psikis-rohani dan lebih abadi sifatnya.
Kendati begitu, baik kecantikan luar (outer beauty) maupun kecantikan dalam (inner beauty) memiliki nilainya sendiri dan tidak perlu diabaikan, karena keseluruhan kecantikan wanita terletak pada sifatnya yang tidak terduga. Wanita adalah makhluk yang kaya akan dimensi. Karena itu wanita sudah sewajarnya merawat dan memperhatikan tubuhnya, memiliki kosmetik atau melakukan perawatan kecantikan sekedarnya agar dapat muncul semua kepribadian dan kecantikan dalamnya.
Kecantikan luar memang lebih langsung menonjol dan tampak, misalnya pada wajah, paras, bentuk, dan kulit. Karenanya, kulit, terutama kulit wajah banyak yang memperlakukannya bagaikan sebuah tanaman: perlu dipelihara, disiram, diberi pupuk supaya subur, dengan cara memakai kosmetik atau pergi ke klinik bedah kosmetik. Banyak wanita mengusahakan kecantikan dirinya dengan tidak sewajarnya melalui berbagai cara, bahkan pergi ke paranormal, orang pintar, dukun, dan sebagainya untuk pemasangan susuk agar dirinya terlihat cantik dan suaminya tidak pernah meninggalkannya.
Tetapi darimanakah asal usul sebab musababnya seseorang itu cantik, cantik sejak lahirnya, cantik meski dibungkus oleh pakaian yang butut atau tidak terhias aksesoris perhiasan. Tidak hanya cantik, mungkin juga disertai kepintaran dan berada dalam keluarga yang kaya. Sedangkan sebaliknya, ada mereka yang miskin, tidak cantik, atau tidak cerdas. Atau ada yang cantik, cerdas, tetapi miskin; dan kaya, bodoh, tetapi cantik.
Mallika seorang perempuan miskin bersahaja dan tidak menarik pernah bertanya kepada Sang Buddha, apa sebabnya ada wanita yang buruk rupa, miskin, tanpa wibawa dan pengaruh? Ada pula wanita yang buruk rupa, tetapi kaya raya, sangat berwibawa dan berpengaruh. Ada wanita yang cantik, tetapi miskin, tanpa wibawa dan pengaruh. Lainnya wanita yang cantik, sekaligus kaya, berwibawa dan berpengaruh.
Menurut Sang Buddha, perbuatan wanita dalam kehidupan di masa lalu itulah yang menentukan, misalnya cepat marah menghasilkan wajah yang buruk, dan sifatnya yang kikir mengakibatkan kemiskinan dalam kehidupan berikutnya. (Anguttara Nikaya IV, 20 :197)
Kecantikan merupakan pahala dari perbuatan baik dan kemurahan hati dalam kehidupan sebelumnya. "Wajah yang cantik, suara yang merdu, kegantengan, dan kebijaksanaan, kekuasaan, serta mempunyai banyak pengikut, semua ini dapat diperoleh sebagai pahala perbuatan baik." (Nidhikhanda Sutta)
Memang, kulit yang halus dan sehat adalah dambaan setiap wanita. Bukan apa-apa, kulit adalah bagian tubuh yang langsung terlihat, sehingga setiap kejanggalan pada kulit akan menarik perhatian. Dalam pergaulan, hal itu akan membuat seseorang merasa kurang percaya diri. Di samping kulit yang halus, sebagian wanita juga mendambakan kulit yang cerah.
Tetapi, kulit setiap orang itu memang tidak sama. Dan itu dapat disebabkan karena faktor internal seperti ras, keturunan, dan genetik, maupun faktor eksternal yang meliputi kebiasaan seseorang, misalnya merokok, terbakar sinar matahari (ultraviolet), minum obat antibiotik, maupun akibat pemakaian kosmetik secara berlebihan.
Memang kulit merupakan etalase kecantikan fisik. Bahkan Sang Buddha sendiri dalam rangka untuk menyadari kerelatifan kecantikan, ketidakkekalan tubuh yang bagaimanapun moleknya dan agar tidak melekat terhadap kecantikan yang hanya bentuk luar itu, melukiskan kecantikan fisik itu tidak lebih hanya sebatas kulit.
"Dilihat dari sudut pandang yang berbeda, kemolekan tubuh seorang wanita adalah tidak murni, punya sembilan lubang, seperti bejana bau busuk dan sulit diisi; dan dari sudut pandang lainnya sebuah selubung kulit yang dihiasi." (Nagarjuna dalam Suhrleka).
Ratthapala, seorang murid Sang Buddha melukiskan wanita (penggoda) sebagai berikut: "Lihatlah tubuh itu khayali, membalut seperangkat rangka, penuh luka, berpenyakit, dan menuntut banyak pikiran. Baginya tiada yang pernah tetap, tiada abadi. Lihatlah wujud khayali, walaupun dalam pakaian gemerlap, dengan cincin dan perhiasan, tulang belulang bersarungkan kulit. Kuku diwarnai cat, wajah dipulas bedak, cukup memperdaya si dungu, namun tidak bagi pencari kekekalan. (Majjhima Nikaya 82)
Bila Buddha mengingatkan bahwa kecantikan fisik itu hanyalah sebatas kulit, dan tidaklah perlu tergantung atau melekat kepadanya, maka filsuf Yunani Plato mengungkapkan bahwa kecantikan tidak pernah menempel pada sesuatu yang berdaging; karena itu sia-sialah semua upaya manusia untuk mempertahankan kecantikannya. Kecantikan Platonik yang memuja keabadian ini mengingatkan bahwa kecantikan adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat bentuknya dari wajah, kaki, tangan, tubuh, dan dari segala sesuatu yang berdaging.
Kecantikan Dalam
Sesungguhnya mereka yang memang cantik tak perlu kuatir terhadap aksesoris luar tubuhnya. Pakaian yang indah belum tentu bisa mengangkat rupa seseorang yang memang tidak cantik. Mengapa mesti menyembunyikan bentuk tubuh yang tidak indah di balik pakaian yang mewah. Cinderella, biarpun pakaiannya butut tetap saja tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Akhirnya diketahui dan dipersunting pangeran. Akan tetapi, orang cantik yang suka berteriak-teriak, memaki-maki, berperilaku buruk; maka ia sama sekali tidak cantik di dalamnya.
Kecantikan itu yang penting dari dalam. Tidak usah grogi ketika usia bertambah dan kulit wajah mulai berkerut. Kecantikan abadi itu muncul dari dalam diri, dari hati dan pikiran yang tenang. Bukankah usia tak dapat mencegah pudarnya kecantikan. Tetapi, apa yang dihimpun, dipupuk dalam rohani akan menambah kekuatan, kekayaan, dan bahkan juga bisa menambah kemudaan dan kecantikan. Kecantikan dalam ini (inner beauty), sebagaimana ungkap Plato, tidak pernah menempel pada sesuatu yang berdaging. Karena itu, sia-sialah semua upaya manusia untuk mempertahankan kecantikannya. Menurut Plato, kecantikan dalam itu tidak pernah datang dan tidak pernah pergi, tidak pernah berkembang dan tidak pernah layu, sesuatu yang dalam pandangan siapiapun sama (tetap cantik), di manapun, sekarang dan sampai kapanpun.
Karena itu, bila kemudaan kulit telah memudar seiring dengan bertambahnya usia, mereka yang bijaksana tentu tidak harus cemas dan takut. Justru dengan menjadi tua dan rohani terisi, seseorang akan bertambah matang dan bijaksana.
Keriput yang muncul merupakan warna-warni pelangi hukum anicca yang tidak bisa dihindari, ibarat garis-garis senyuman (smile lines) cermin dari kematangan dan kebijaksanaan. Anggukan kepala, senyuman, dan tatapan matanya bagaikan sinar matahari yang mencerahkan dan menentramkan bagi anak cucu yang datang bersimpuh menanti belaiannya. Karena itu, mengapa harus takut menjadi tua?
Sang Buddha mengatakan bahwa kecantikan adalah hasil dari perbuatan baik dan kemurahan hati. Sejalan dengan itu, maka resep untuk menjadi cantik di bawah ini (dimuat dalam Kompas, 7 Mei 2000) kiranya sangat bermanfaat dan patut dilakukan.
"Untuk mendapatkan bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan; untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada diri setiap orang; untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, berbagilah makanan dengan mereka yang kelaparan...
Untuk mendapatkan tubuh yang indah, berjalanlah dengan ilmu pengetahuan... Kecantikan perempuan tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada kehalusan wajah dan bentuk tubuhnya... tetapi pada matanya: cara ia memandang dunia, karena di matanyalah terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang."
Thursday, March 15, 2012
Anak Muda dan Hantu
Pemahat kayu yang mempunyai seorang anak laki-laki. Mereka tinggal di Rajagaha. Anakpemahat kayu ini mempunyai seorang teman yang umurnya sebaya, kedua anak itu selalu
menggunakan seluruh waktu luangnya untuk bermain bola.
Pemahat kayu ini adalah pengikut setia Sang Buddha, demikian pula anaknya. Tetapi teman
anak muda itu adalah anak seorang pertapa. Anak pemahat kayu ini selalu melatih meditasi
terhadap Sang Buddha dalam setiap tindakannya, kalau ia melempar bola ia selalu berkata :
"Terpujilah Sang Buddha!" dengan konsentrasi penuh. Tetapi temannya selalu
mengucapkan pujian terhadap para pertapa dan kalau ia melempar bola ia selalu berkata :
"Terpujilah Sang Pertapa".
Ketika mereka bermain bola, anak pemahat kayu yang setia kepada Sang Buddha selalu
menang dan sebaliknya anak pertapa itu selalu kalah. Anak pertapa itu lalu memperhatikan
kelakuan temannya, ia lalu berpikir :
"Temanku ini selalu mempraktekkan segala sesuatunya dalam bentuk meditasi, ia selalu
mengucapkan kata-kata itu bila ia melempar bola. Apa yang dia lakukan selalu lebih baik dari
pada saya. Ah, saya ingin mengikutinya." Sejak saat itu ia mulai membiasakan dirinya untuk
melatih meditasi terhadap Sang Buddha.
Pada suatu hari, si pemahat kayu menyiapkan kereta yang dihela oleh seekor sapi untuk
mengambil kayu bakar di hutan. Ia mengajak anaknya untuk ikut bersamanya. Dalam
perjalanan pulang, setelah selesai mengambil kayu bakar di hutan, di pinggir sebuah kota, ada
sebidang tanah kosong. Disana terdapat air yang dapat digunakan untuk minum, jadi ia
melepaskan sapinya untuk minum. Mereka sendiri melepaskan lelah sambil menghabiskan
perbekalan makanan mereka.
Ketika malam tiba, ternyata sapi mereka mengikuti sekawanan binatang yang memasuki
kota.
Dengan membawa keretanya, anak muda itu mencari sapinya yang hilang. Setelah
menemukan sapinya, ia hendak pulang dan keluar dari kota itu. Namun ternyata ia tidak
menemukan pintu kota. Pintu kota sudah ditutup. Karena hari sudah menjelang tengah malam
dan ia sangat lelah, akhirnya anak muda itu berbaring di bawah keretanya dan tertidurlah ia.
Pada waktu itu, penduduk Rajagaha sedang dicengkeram ketakutan karena ada beberapa
hantu yang selalu mengganggu ketentraman mereka. Tanah yang ditempati anak muda itu,
adalah tempat hantu-hantu itu berkumpul. ketika anak muda tertidur di sana, dua hantu
melihatnya. Salah satu dari hantu itu mempunyai pandangan salah dan hantu yang lain
mempunyai pandangan kolot. Hantu yang mempunyai pandangan salah itu berkata kepada
temannya :
"Orang ini mangsa kita, mari kita makan!"
Hantu kolot itu menjawab :
"Cukup! Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu!"
Sebaliknya, hantu yang kolot itu malah menjaga anak muda tersebut. Tetapi temannya yang
berpandangan salah tidak dapat menerima kata-katanya, ia lalu memegang kaki anak muda itu
dan mencoba untuk melemparkannya.
Sebagaimana latihan meditasi yang selalu dipraktekkannya, ketika kakinya dipegang, anak
muda itupun berteriak :
"Terpujilah Sang Buddha"
Hantu-hantu itu amat kaget, mereka ketakutan dan mundur ke belakang. Hantu yang kolot itu
berkata :
"Kita telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak kita lakukan. Kita harus menerima
hukumannya."
Setelah berkata demikian, hantu yang kolot itu berjaga-jaga di sekitar anak muda itu. Hantu
yang lain lalu memasuki kota menuju istana. Ia mengambil piring emas raja dan memenuhinya
dengan makanan dan membawanya kembali ke tempat anak muda itu tertidur. Kedua hantu
itupun melayani anak muda tersebut. Dengan mewujudkan diri sebagai ayah dan ibunya,
mereka membangunkannya, menyediakan makanan dan menyuruhnya makan.
Dengan kekuatan gaib yang dimilikinya sebagai hantu, mereka menulis surat di atas piring
emas raja, menceritakan apa yang telah mereka lakukan dengan berkata :
"Hanya rajalah yang dapat membaca kata-kata di atas piring ini. Orang lain tidak dapat
membacanya."
Mereka meletakkan piring tersebut di dalam kereta anak muda itu, dan berjaga-jaga di
sekitar tempat itu. ketika menjelang pagi mereka pun pergi.
Pagi harinya beredar berita :
"Piring Raja hilang dicuri orang. Cari pencurinya!"
Pintu kota segera ditutup, dan para penduduk pun mencari piring itu ke pelosok kota. Tetapi
mereka tidak dapat menemukannya. Mereka terus mencari. Ke luar kota, kemana saja, dan
akhirnya piring Raja itu ditemukan di dalam kereta kayu si anak muda.
Anak muda itu ditahan, ia dituduh sebagai pencuri piring emas raja. "Inilah pencurinya!"
Mereka membawa anak muda itu ke istana, menghadap raja. Ketika raja membaca surat
yang ditulis oleh hantu di atas piring itu, ia bertanya kepada anak muda itu :
"Anakku, apa artinya ini?"
"Saya tidak tahu, Yang Mulia," jawab anak itu.
"Ibu dan ayah saya datang tadi malam. Mereka membawakan saya makanan dan berjagajaga
di sekitar saya. Saya pikir 'Ayah dan ibu saya ini pasti melindungi saya dari kejahatan,
membebaskan saya dari ketakutan', sehingga saya tertidur. Hanya itu yang saya tahu, Tuanku."
Pada saat itu pula, ayah dan ibu anak muda itu datang ke istana. Ketika Raja mendengar apa
yang telah terjadi, ia membawa ketiganya pergi bersamanya menghadap Sang Buddha, dan
menceritakan seluruh kejadian itu.
"Yang Mulia," tanya raja, "Apakah meditasi kepada Sang Buddha merupakan suatu
perlindungan? Ataukah meditasi kepada AjaranMu dan bentuk-bentuk meditasi lainnya juga
merupakan perlindungan?"
Sang Buddha menjawab :
"Yang Mulia Raja, meditasi kepada Buddha bukan hanya berarti perlindungan saja. Tetapi
siapa saja yang melatih meditasi dengan disiplin, melatih salah satu diantara Enam Bentuk
Meditasi, ia tidak lagi memerlukan perlindungan lainnya atau mencari pertahanan dari
serangan-serangan luar."
Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu menjelaskan Enam Bentuk Meditasi dengan
mengucapkan syair-syair ini :
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 7 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Dhamma dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 8 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat mulia Sangha dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 9 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka selalu merenungkan sifat-sifat badan jasmani dengan penuh kesadaran."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 10 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka bergembira dalam keadaan bebas dari kekejaman."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 11 )
"Para siswa Gautama telah bangun dengan baik dan selalu sadar, sepanjang siang dan
malam mereka bergembira dalam ketentraman samadhi."
( Dhammapada, Pakinnaka Vagga no. 12 )
Wednesday, March 14, 2012
Empat Jenis Harta

Kata-Kata Bijak dari Dalai Lama
Dalai Lama adalah salah satu pemimpin spiritual & pemerintahan di Tibet. Karena diburu dan mau ditangkap oleh Pemerintah China, 13- Kita mesti menyadari, Penderitaan satu orang atau satu bangsa adalah Penderitaan bagi seluruh umat manusia.
Puyuh dan Elang
Zaman dulu ada seekor burung puyuh yang tertangkap burung elang. Ia meratapi nasibnya yang malang, "Seandainya saya tidak keluar dari wilayahku, burung yang bodoh ini mustahil mampu menangkapku." Si elang mendengar ratapan si puyuh dan dengan marahnya ia berkata, "Wahai puyuh, apa yang engkau maksud dengan wilayahmu? Engkau kecil dan lemah. Ke mana pun engkau pergi, saya akan mampu menangkapmu." Burung puyuh menjawab, "Wahai elang, wilayahku adalah tanah pesawahan yang baru dibajak. Jika saya tidak keluar dari tempat tersebut, engkau mustahil menangkapku."Karena keangkuhannya, si elang melepaskan si puyuh di pesawahan yang dimaksud dan berjanji akan menangkapnya lagi. Si elang terbang setinggi-tingginya dan siap-siap untuk menerkam si puyuh. Si puyuh berdiri di atas gundukan yang agak tinggi di tanah yang telah dibajak tersebut. Ketika dari atas si elang meliuk dengan cepatnya dan berupaya menerkam si puyuh, dengan segera, si puyuh masuk ke dalam lubang tanah. Akibatnya, si elang menghantam tanah gundukan tersebut dan mati dengan kepala hancur.
Perumpamaan tersebut menggambarkan perang antara seorang yogi dengan mara penggoda. Burung puyuh adalah seorang yogi, sedangkan burung elang adalah mara penggoda. Tanah pesawahan adalah empat landasan kesadaran, yakni: perhatian terhadap jasmani, perasaan, pikiran, dan fenomena-fenomena (dhamma), sebagai wilayah seorang yogi. Wilayah luar yang merupakan wilayah mara penggoda adalah kesenangan inderawi yang muncul dari lima indera. Seorang yogi yang terus memperhatikan empat landasan kesadaran dan tidak terlena oleh kesenangan lima indera, tidak akan tertangkap oleh mara penggoda. Namun begitu ia keluar dari wilayahnya dan terlena oleh kesenangan inderawi, sang mara penggoda beserta anak-anaknya akan segera menangkapnya.
Konsentrasi Pikiran
"Para bhikkhu, ada empat pengembangan konsentrasi ini. Apakah empat ini?Ada pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.
Ada pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju pencapaian pengetahuan dan penglihatan.
Ada pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju perhatian dan kewaspadaan.
Ada pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju berakhirnya arus.
"Dan apakah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini?
Ada kasus di mana seorang bhikkhu - dengan cukup terasing dari sensualitas, terasing dari kualitas-kualitas tidak bermanfaat - masuk dan berdiam dalam jhana pertama: kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan, yang disertai dengan pengarahan pikiran dan evaluasi.
Dengan menenangkan pengarahan pikiran dan evaluasi, ia masuk dan berdiam dalam jhana ke dua: kegembiraan dan kenikmatan yang muncul dari ketenangan, keterpusatan kesadaran yang bebas dari pengarahan pikiran dan evaluasi - keyakinan internal.
Dengan meluruhnya kegembiraan, ia berdiam dalam keseimbangan, penuh perhatian, dan waspada, dan merasakan kenikmatan pada jasmani. Ia masuk dan berdiam dalam jhana ke tiga, yang dinyatakan oleh para mulia, 'Seimbang dan penuh perhatian, ia memiliki kediaman yang nyaman.'
Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan - dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan - ia masuk dan berdiam dalam jhana ke empat: kemurnian keseimbangan dan perhatian, tanpa kenikmatan juga tanpa kesakitan.
Ini adalah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.
"Dan apakah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju pencapaian pengetahuan dan penglihatan?
Ada kasus di mana seorang bhikkhu memperhatikan PERSEPSI CAHAYA dan memusatkan pada persepsi siang hari [pada jam berapa pun pada siang hari]. Siang [baginya] adalah sama dengan malam, malam adalah sama dengan siang. Dengan kesadaran yang terbuka dan tanpa rintangan, ia mengembangkan pikiran yang cerah.
Ini adalah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju pencapaian pengetahuan dan penglihatan.
"Dan apakah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju perhatian dan kewaspadaan?
Ada kasus di mana perasaan-perasaan dikenali oleh bhikkhu tersebut pada saat munculnya, dikenali pada saat berlangsungnya, dikenali pada saat lenyapnya.
Persepsi-persepsi dikenali olehnya pada saat munculnya, dikenali pada saat berlangsungnya, dikenali pada saat lenyapnya.
Pikiran-pikiran dikenali olehnya pada saat munculnya, dikenali pada saat berlangsungnya, dikenali pada saat lenyapnya.
Ini adalah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju perhatian dan kewaspadaan.
"Dan apakah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju berakhirnya arus?
Ada kasus di mana seorang bhikkhu tetap berpusat pada muncul dan lenyapnya sehubungan dengan kelima kelompok unsur kemelekatan:
'Demikianlah bentuk, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.
Demikianlah perasaan, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.
Demikianlah persepsi, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.
Demikianlah bentukan-bentukan, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.
Demikianlah kesadaran, demikianlah asal-mulanya, demikianlah lenyapnya.'
Ini adalah pengembangan konsentrasi yang, jika dikembangkan dan dilatih, mengarah menuju berakhirnya arus.
"Ini adalah empat pengembangan konsentrasi.
"Dan adalah sehubungan dengan hal ini Aku menyebutkan dalam pertanyaan Punnaka tentang cara menuju pantai seberang:
'Ia yang telah mengukur
jauh dan dekat di dunia ini, baginya tidak ada lagi gangguan di dunia -
keburukannya menguap,
tanpa keinginan, tanpa gangguan,
damai -
ia, Aku katakan, telah menyeberangi kelahiran
penuaan.'"
Aloka-Sanna
Dari Ensiklopedia Dhamma
Aloka-Sanna: Persepsi cahaya. Bagian kanonik berulang berbunyi: Di sini Bhikkhu merenungkan persepsi cahaya. Dia perbaikan-pikirannya untuk pengalaman siang hari, seperti pada hari-time sehingga pada malam hari, dan sebagai pada malam hari, sehingga dalam sehari. Dengan cara ini, dengan pikiran yang jernih dan jernih, ia mengembangkan tahap pikiran yang penuh kecerahan. Ini adalah salah satu metode untuk mengatasi rasa kantuk, direkomendasikan oleh Buddha untuk Maha Moggallana A. VII-, 58. Menurut D. 33, itu adalah kondusif untuk pengembangan 'pengetahuan dan visi. "
Referensi
Maha Thera Nyanatiloka. Manual Persyaratan Buddha dan Doktrin, Buddha Publikasi Masyarakat, edisi pertama 1952.
Kategori: Pali istilah
Cara-Cara Menganggap Segala Sesuatu
Di Sāvatthī. “Para bhikkhu, para petapa dan brahmana yang menganggap [segala sesuatu sebagai] diri, dalam berbagai cara menganggap kelompok unsur kehidupan yang menjadi subjek kemelekatan [sebagai diri] atau salah satu di antaranya. Apakah lima itu?“Di sini, para bhikkhu, kaum duniawi yang tidak terlatih, yang bukan merupakan seorang bijaksana mulia dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, yang bukan seorang berkuasa dan tidak terampil dan tidak disiplin dalam Dhamma mereka, menganggap bentuk sebagai diri, atau diri sebagai memiliki bentuk, atau bentuk sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam bentuk.
Ia menganggap perasaan sebagai diri …
persepsi sebagai diri …
bentukan-bentukan kehendak sebagai diri …
kesadaran sebagai diri, atau diri sebagai memiliki kesadaran, atau kesadaran sebagai di dalam diri, atau diri sebagai di dalam kesadaran.
“Demikianlah cara menganggap segala sesuatu dan [gagasan] ‘aku’ ini belum lenyap dalam dirinya.61
Karena ‘aku’ belum lenyap, di sana terjadi suatu turunan dari lima indria – indria mata, indria telinga, indria hidung, indria lidah, indria badan.62
Ada, para bhikkhu, pikiran, ada fenomena-fenomena pikiran, ada unsur kebodohan.
Ketika kaum duniawi yang tidak terlatih terkontak dengan perasaan yang muncul dari kontak-kebodohan,
‘aku’ muncul padanya; ‘aku adalah ini’ muncul padanya;
‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’ dan
‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’ dan
‘aku akan menjadi makhluk yang berkesadaran’ dan ‘aku akan menjadi makhluk yang tidak berkesadaran’ dan
‘aku tidak akan menjadi makhluk yang berkesadaran atau tidak berkesadaran’ – hal-hal ini muncul padanya.63 [47]
“Lima indria itu tetap ada di sana, para bhikkhu, namun sehubungan dengan lima indria itu, siswa mulia yang terlatih meninggalkan kebodohan dan membangkitkan pengetahuan sejati. Dengan meluruhnya kebodohan dan munculnya pengetahuan sejati,
‘aku’ tidak muncul padanya; ‘aku adalah ini’ tidak muncul padanya;
‘aku akan menjadi’ dan ‘aku tidak akan menjadi’ dan
‘aku terdiri dari bentuk’ dan ‘aku akan menjadi tanpa-bentuk’ dan
‘aku akan menjadi makhluk yang berkesadaran’ dan ‘aku akan menjadi makhluk yang tidak berkesadaran’ dan
‘aku tidak akan menjadi makhluk yang berkesadaran atau tidak berkesadaran’ – hal-hal ini tidak muncul padanya.”
Catatan Kaki:
61. Saya bersama dengan Be dan Se membaca: asmī ti c’ assa avigataṃhoti. Ee, dan banyak mss, membaca adhigataṃ untuk avigataṃ. Bahwa yang terakhir pasti benar dibuktikan oleh AN III 292, 16-17, di mana penegasan muncul, asmī ti kho me vigataṃ. Argumentasi yang sama ini berlaku pada tulisan dalam 22:89 di bawah (III 128, 34 foll.), terlepas dari kelaziman kata adhgataṃ di sana.
Spk menjelaskan “cara ini dalam menganggap segala sesuatu” sebagai menganggap dengan pandangan-pandangan (diṭṭhisamanupassanā), dan “gagasan ‘aku’” sebagai “tiga pengembangan” (papañcattaya) keinginan, keangkuhan dan pandangan-pandangan. Keduanya berbeda dalam hal bahwa “menganggap” adalah pandangan yang diformulasikan oleh konsep, sedangkan gagasan “aku” adalah manifestasi kebodohan yang lebih halus sehubungan dengan keinginan dan keangkuhan; baca pembahasan penting pada 22:89. Pandangan diri dilenyapkan melalui jalan Memasuki-arus; gagasan “aku” dilenyapkan sepenuhnya hanya melalui jalan Kearahatan.
62. Saya mengartikan kalimat singkat ini sebagai menggambarkan proses kelahiran kembali yang bergantung pada kelangsungan khayalan diri personal. Di tempat lain “turunan” (avakkanti) – dari kesadaran, atau nama-dan-bentuk – menunjukkan permulaan kehidupan baru (seperti pada 12:39, 58, 59). Spk: Ketika ada kelompok kekotoran ini, maka ada produksi lima indria yang dikondisikan oleh kekotoran dan kamma.
63. Saya menerjemahkan keseluruhan paragraf ini sebagai demonstrasi mengenai bagaimana tahap kehidupan yang aktif secara kamma bermula melalui pengulangan pemikiran dalam hal gagasan “aku” dan pandangan spekulatif akan diri. Spk mengidentifikasikan “pikiran” (mano) dengan pikiran-kamma (kammamano) dan “fenomena pikiran” (dhammā) dengan objeknya, atau yang pertama sebagai bhavaṅga dan kesadaran yang mengarahkan. Kontak-kebodohan (avijjāsamphassa) adalah kontak yang berhubungan dengan kebodohan (avijjāsampayuttaphassa).
Kebodohan adalah kondisi yang paling fundamental yang mendasari proses ini, dan ketika diaktifkan oleh perasaan akan memunculkan gagasan “aku” (suatu manifestasi keinginan dan keangkuhan). Gagasan “aku adalah ini” muncul berikutnya, ketika “aku” yang kosong isi oleh makhluk yang diidentifikasikan dengan satu atau lain dari lima kelompok unsur kehidupan. Akhirnya, pandangan eternalis atau nihilis penuh berasal-mula ketika diri yang dibayangkan digenggam apakah untuk bertahan dari kematian atau untuk mengalami kehancuran pada saat kematian. Paragraf ini memberikan kepada kita suatu versi alternatif dari sebab-akibat yang saling bergantungan, di mana “cara menganggap segala sesuatu” dan gagasan “aku” berada pada sisi penyebab aktif dari kehidupan lampau; kelima indria hingga sisi akibat dari kehidupan sekarang; dan pengulangan gagasan “aku” pada sisi penyebab pada kehidupan sekarang. Pada gilirannya ini akan menghasilkan kehidupan baru di masa depan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Papañca - Āsava
Di dalam Sutta ini, Buddha berkata karena kita menganggap lima kelompok sebagai ‘diri’, atau sebagai milik dari ‘diri’ dst, secara langsung muncul pandangan ‘aku’ atau ‘aku berada’.
Ketika anda mempunyai pandangan ‘aku’ atau ‘aku berada’, maka muncullah banyak pandangan lainnya. Buddha berkata itu adalah perkembangan pandangan (papañca).
... Perkembangan pandangan disebabkan oleh pengaliran mental yang tidak terkendali (āsava).
Ketika mereka mulai mengalir, mereka menyebabkan kekotoran batin dan penderitaan. Kita harus melihat dengan jelas pikiran kita sebagai mana adanya … hanya pikiran, khayalan dan kadang kala lamunan.
Source:
- SN 3 Khandha Vagga: 22. Khandhasaṃyutta, 47. (5) Cara-cara Menganggap Segala Sesuatu
- Segenggam Daun Bodhi hlm. 165 (Lima Penghalusinasi) - Bhikkhu Dhammavuḍḍho Mahā Thera
Monday, March 12, 2012
Dokter Korea Gunakan Meditasi Untuk Terapi
Baru-baru ini terdapat perkembangan baru dalam studi meditasi dan psikoterapi. Seperti yang dilaporkan Emi Hailey Hayakawa dari Buddhist Television Network (26/2), Dr. Jung Soon Young dari Rumah Sakit Terapi Fisik yang berada di kota Goyang, Korea Selatan, menerima gelar PhD-nya di Program Pascasarjana Buddhis Seoul melalui makalah penelitiannya pada program meditasi Buddhis Korea bagi Skizofrenia
Dalam penelitiannya, Dr. Jung menggunakan tiga langkah, yaitu pesiapan, konsentrasi, dan meditasi perhatian penuh, untuk membuat para pasien menjadi sadar terhadap tubuh mereka. Dr. Jung mengembangkan kembali meditasi seon (zen – ed) dan mandala Korea, yoga dan memulai program barunya tersebut pada November 2010.
Setelah delapan bulan menjalankan program meditasi tersebut, hasilnya terbukti positif.
Dalam penelitian Dr. Jung, gejala-gejala depresi pada kelompok control jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang menerima perawatan meditasi Korea dari Dr. Jung. Penelitian ulangnya menunjukkan bahwa meditasi Buddhis telah sangat membantu dalam meningkatkan gaya hidup individu.
Dr. Jung berencana untuk melanjutkan penelitiannya pada meditasi Buddhis dan untuk menciptakan sebuah manual program meditasi bagi para pasien agar mampu terus menjalankan program-program meditasi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Meditasi Buddhis mulai memainkan peranan penting dalam kedokteran dunia Barat.
Perhatian penuh dan belas kasih membuat seseorang menjadi sadar atas realitas mereka. Para peneliti Korea dalam beberapa tahun terakhir mengupayakan lebih besar lagi untuk membuat penelitian-penelitian program meditasi Buddhis untuk meningkatkan gaya hidup para pasien dengan beragam penyakit psikologisOrang Buta dan Gajah
"Perumpamaan Orang Buta Dan Gajah"Demikian telah kudengar. Satu ketika Sang Bhagava tengah bersemayam dekat Savatthi, di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Adapun pada ketika itu terdapat banyak pendeta, pertapa, dan pengelana dari beraneka aliran yang hidup di sekitar Savatthi dengan pandangan yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda, kepercayaan yang berbeda-beda, bergantung untuk dukungan atas pandangan mereka yang berbeda-beda. Beberapa dari para pendeta dan pertapa memegang pandangan ini, doktrin ini: "Alam semesta adalah kekal. Hanya ini yang benar; apapun lainnya keliru."
Beberapa dari para pendeta dan pertapa memegang pandangan ini, doktrin ini: "Alam semesta adalah tak-kekal". "Alam semesta adalah terbatas". "Alam semesta adalah tanpa batas". "Jiwa dan tubuh adalah sama". "Jiwa adalah satu hal dan tubuh hal lainnya". "Setelah kematian Sang Tathagata ada". "Setelah kematian Sang Tathagata tiada". "Setelah kematian Sang Tathagata ada dan tiada". "Setelah kematian Sang Tathagata tidak ada tidak pula tiada. Hanya ini yang benar; apapun lainnya keliru."
Dan mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih; melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, "Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini."
Kemudian di pagi hari, sejumlah besar Bhikkhu, setelah mengenakan jubah mereka dan membawa mangkuk serta jubah-luar mereka, pergi ke Savatthi untuk mengumpulkan makanan sedekah. Setelah pergi mengumpulkan makanan sedekah di Savatthi, sehabis bersantap, kembali dari pengumpulan makanan sedekah mereka, mereka pergi kepada Sang Bhagava dan, ketika tiba, setelah menyalami beliau, duduk di satu sisi. Sementara mereka tengah duduk di sana, mereka berkata kepada Sang Bhagava: "Bhante, terdapat banyak pendeta, pertapa, dan pengelana dari beraneka aliran yang hidup di sekitar Savatthi dengan pandangan yang berbeda-beda, pendapat yang berbeda-beda, kepercayaan yang berbeda-beda, bergantung untuk dukungan atas pandangan mereka yang berbeda-beda dan mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih, melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"
"Para Bhikkhu, para pengelana dari aliran-aliran lain adalah buta dan tak bermata. Mereka tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya. Mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma. Tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma, mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih, melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"
"Dahulu, di Savatthi ini juga, terdapat seorang raja tertentu yang berkata pada seorang lelaki, 'Kumpulkan bersama-sama semua orang di Savatthi yang telah buta sejak lahir.'"
"'Baiklah, paduka,' lelaki tersebut menyahut dan, setelah mengumpulkan semua orang di Savatthi yang telah buta sejak lahir, ia pergi kepada sang raja dan ketika tiba berkata, 'Paduka, semua orang di Savatthi yang telah buta sejak lahir telah dikumpulkan bersama-sama.'"
"'Bagus sekali, kalau begitu, perlihatkan orang-orang buta itu seekor gajah.'"
"'Baiklah, paduka,' lelaki tersebut menyahut dan ia memperlihatkan orang-orang buta itu seekor gajah. Pada beberapa orang buta ia memperlihatkan kepala gajah, berkata, 'Inilah, orang buta, seperti apa seekor gajah itu.' Pada beberapa dari mereka ia memperlihatkan telinga gajah, berkata, 'Inilah, orang buta, seperti apa seekor gajah itu.' Pada beberapa dari mereka ia memperlihatkan gadingnya, belalainya, badannya, kakinya, bagian belakangnya, ekornya, rambut di ujung ekornya, berkata, 'Inilah, orang buta, seperti apa seekor gajah itu.'"
"Kemudian, setelah memperlihatkan orang-orang buta itu gajah tersebut, lelaki itu pergi kepada sang raja dan ketika tiba berkata, 'Paduka, orang-orang buta itu telah melihat gajah tersebut. Sudilah paduka lakukan apa yang paduka pikir sekarang waktunya untuk dilakukan.'"
"Kemudian sang raja pergi kepada orang-orang buta itu dan ketika tiba menanyakan mereka, 'Orang-orang buta, sudahkah kalian melihat gajah tersebut?'"
"'Ya, paduka. Kami telah melihat gajah tersebut.'"
"Sekarang beritahu aku, orang-orang buta, seperti apa gajah itu.'"
"Orang-orang buta yang telah dipertunjukkan kepala gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah tempayan air.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan telinga gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah keranjang penampi.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan gading gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah pentung besi.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan belalai gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah tiang bajak.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan badan gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah lumbung.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan kaki gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah tonggak.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan bagian belakang gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah lumpang.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan ekor gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah alu.'"
"Mereka yang telah dipertunjukkan rambut di ujung ekor gajah menjawab, 'Gajah, paduka, adalah persis seperti sebuah sapu.'"
"Berkata, 'Gajah adalah seperti ini, gajah bukan seperti itu. Gajah bukan seperti itu, gajah adalah seperti ini,' mereka memukul satu sama lain dengan tinju mereka. Dan hal itu memuaskan sang raja."
"Dalam cara yang sama, para Bhikkhu, para pengelana dari aliran-aliran lain adalah buta dan tak bermata. Mereka tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya. Mereka tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma. Tidak mengetahui apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya, tidak mengetahui apa yang adalah Dhamma dan apa yang bukan-Dhamma, mereka hidup bercekcok, bertengkar, dan berselisih; melukai satu sama lain dengan senjata mulut, berkata, 'Dhamma adalah seperti ini, Dhamma bukan seperti itu. Dhamma bukan seperti itu, Dhamma adalah seperti ini.'"
Kemudian, menginsyafi pentingnya hal tersebut, Sang Bhagava ketika itu mengutarakan sabda ini :
Beberapa dari mereka yang disebut para pendeta dan pertapa ini melekat.
Mereka bertengkar dan berkelahi,
orang-orang yang melihat satu sisi.
- Tittha Sutta (1) (Ud VI.4)
Friday, March 09, 2012
BUDDHA BAR & KAPITALISME
Tulisan ini menyikapi perkembangan kontroversi dari keberadaan Buddha Bar, yang menggunakan simbol-simbol agama Buddha bagi kepentingan bisnis, dan bisnis tersebut adalah bisnis tempat “hiburan”, yang sarat minuman keras, dan hal-hal lain, yang bertentangan dengan nilai-nilai Buddhisme.
Massa yang tergabung dalam Persatuan Budhis Banten menggelar aksi penuntutan penutupan Buddha Bar di pintu barat Monas, Jakarta Pusat, Senin (16/3).
Kecewa, tersinggung dan marah. Itu barangkali yang paling pas menggambarkan situasi yang menguras energi kognisi dan afeksi satu elemen warga bangsa ini: umat Buddha karena eksistensi Buddha Bar di kawasan elit Jakarta. Kehadiran bar ini berhasil menggelorakan dan merekatkan semangat persatuan seluruh komponen Buddhis dari berbagai tradisi dan lokasi. Suatu pertanda bahwa ada sebuah peristiwa yang luar biasa tengah berlangsung di panggung kehidupan ini.
Terminologi ’Buddha’ yang mengandung multimakna sakral: tokoh panutan, yang tercerahkan, dan tujuan akhir kemana umat menuju, telah diabrasi dan dinistakan oleh kapitalisme global di kancah nasional. Kapitalisme machiavelistis semacam ini tentu tidak dapat dijadikan tradisi apalagi transaksi. Disana ada simbol-simbol suci yang dihormati dan diagungkan.
Dunia telah mencatat betapa praktik semacam ini telah mengalami badai protes yang tiada pernah akan surut. Lihat saja, bagaimana ketika di pusat bisnis Mid Town Man Heaton di New York, akan dibangun sebuah bar dengan nama Apple Mecca, yang bagi keyakinan muslim, nama ini tentu tidak asing berarti Ka’bah Macca/Mecca. Apalagi dengan desain eksterior depan yang menyerupai ka’bah. Berbagai kecaman datang menghujani sang kapitalis, Apple Computer. Perusahaan yang terkenal dengan produk iPod-nya itu dituduh telah menghina Islam dengan pendirian bar dimaksud. Apa pasalnya? Sebagaimana lazimnya bar, bar ini dapat dipastikan menyajikan minuman beralkohol, anggur (wine) maupun minuman yang memabukkan lainya. Masyarakat Muslim New York melakukan penekanan kepada pemerintah setempat untuk tidak memberi lisensi bar ini. Dan, akhirnya proyek itu tidak berjalan sebagaimana direncanakan.
Ratusan mahasiswa dari dari Aliansi Mahasiswa Buddhis menyegel Buddha Bar di Jl. Jalan Teuku Umar, Jakarta, Kamis (5/3). Mereka mengecam keberadaan Bar itu
Di Inggris ada sebuah contoh lain soal ini. Ada sebuah ajuan proposal untuk membuka sebuah korporasi dengan nama Yesus. Perdebatan panjang pun terjadi antara sang pemohon dan badan pencatatan hak merek dagang. Padahal tempat itu bukanlah bar yang dilarang oleh hampir semua agama dan produk yang akan dijual di toko itu bukan pula alkohol dan sejenisnya. Yang akan didagangkan disana adalah sabun, parfum, alat-alat optik, logam mulia, kulit, tekstil, garmen, dan lain-lain. Sang pemohon lisensi berdalih bahwa nama Yesus adalah nama depan banyak orang di Inggris. Buktinya, ada terdapat sedikitnya 27 nama Yesus dalam London Telephone Directory. Namun, pejabat perijinan tetap bersikukuh bahwa nama itu lebih identik dengan nabi pembawa agama ketimbang nama pribadi masyarakat awam. Apalagi komunitas Inggris, mayoritas kristen.
Alasan penolakan lainnya adalah Konvensi Paris 1883 tentang Perlindungan Kekayaan Industri yang ditandatangani juga oleh negara kerajaan itu. Dalam pasal 6 konvensi itu jelas dinyatakan bahwa sebuah proposal harus ditolak jika dianggap bertentangan dengan moralitas dan tatanan kehidupan masyarakat. Akhirnya nama Yesus sebagai korporasi komersial tidak dicatatkan di negara liberal tersebut.
Kembali ke persoalan domestik: Buddha Bar. Ada sebuah ironi fundamental yang fatal disini. Bagaimana merek dagang restoran waralaba ini bisa terdaftar di Perancis pada 26 Juli 1999, sementara negara ini menjadi tuan rumah Konvensi Paris 1883 yang memuat substansi penghormatan terhadap moral dan norma-norma kehidupan? Disini, ada cacat sejarah dan prosedur pencatatan merek global ini di negara asalnya. Melalui negara-negara anggotanya, baik yang menandatanganinya di konvensi awal mau pun yang meratifikasinya kemudian (termasuk Indonesia), perlu kiranya melakukan peninjauan kembali atas semua itu.
Sekitar 200 umat Budha dari Majelis Agama Budha Theravadda Indonesia (Magabudhi) berdemo di depan Budha Bar di Jl Teuku Umar, Jakpus
Dalam lingkup Indonesia, eksistensi Buddha Bar, paling sedikit bersinggungan dengan beberapa aspek: legal, moral dan spiritual. Pertama, secara legal, jelas sekali ia bertentangan dengan UU No. 15/2001 tentang Merek. Di pasal 5 jelas dinyatakan bahwa merek tidak dapat didaftar apabila merek tersebut mengandung salah satu unsur di bawah ini: bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, moralitas agama, kesusilaan, atau ketertiban umum. Artinya, apa yang boleh dibangun di luar, dengan berlindung di bawah payung waralaba, tidak serta-merta bisa didirikan disini. Apabila merek dimaksud bertentangan dengan nilai-nilai sosial-religius masyarakat lokal.
Ambil contoh, judi. Di Malaysia ada Genting Highlands, tempat resmi untuk berjudi. Apakah Indonesia bisa mengikutinya? Tentu tidak! Karena ada undang-undang yang memberikan koridor atas apa yang boleh dijadikan usaha dan tidak. Ada limitasi konstitusi disini. Jika mengacu pada logika sederhana tersebut, jelas kehadiran Buddha Bar dapat dipahami sebagai sebuah irisan tajam ke ulu hati para penganut agama ini.
Thailand, Singapura dan Malaysia saja dengan tegas telah menolak kehadiran bar macam ini. Bagaimana negeri ini bisa mengamini pendiriannya? Produk hukum berikut yang dilanggar oleh pendirian bar ini adalah kesepakatan Konvensi Paris 1883 yang telah diratifikasi dengan Keputusan Presiden RI No. 15 tahun 1997. Disana dengan jelas diuraikan bahwa hal-hal yang bertentangan dengan moral dan tatanan kehidupan masyarakat tidak boleh mendapatkan ijin. Lebih jauh lagi, UU No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, khususnya pasal 156 juga mengatur hal senada. Dan, yang paling anyar dipublikasikan ke masyarakat adalah soal tempat Buddha Bar itu sendiri, yakni gedung kuno eks kantor imigrasi Belanda. Ada UU No 5 tahun 1992 tentang cagar budaya yang mengaturnya disana.
"Kesatuan Umat Beragama Tolak Buddha-Bar dan Penistaan Agama" ; Demo didepan Gedung Departemen Pariwisata, Senin 30 Maret 2009, 13.00 WIB /sd sore
Menurut pasal 19 ayat 2 (b) dijelaskan bahwa pemanfaatan benda cagar budaya tidak dapat dilakukan semata-mata untuk kepentingan pribadi dan/atau golongan. Kemudian juga dalam konteks kepariwisataan, pemanfaatan peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni budaya menurut pasal 6 UU No 9 tahun 1990, harus memperhatikan nilai-nilai agama, adat-istiadat, serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Mengapa kedua UU ini tidak menjadi acuan legal-formal ketika perijinan pendirian bar itu akan dieksekusi? Ada kesenjangan pemahaman publik dan masyarakat soal ini. Namun, untuk poin terakhir ini (UU No 5 tahun 1992), khalayak perlu bersyukur karena KPK akan segera menelusurinya. Kedua, kontradiksi pendirian Buddha Bar bersinggungan dengan moralitas.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, bar adalah tempat minum-minum (biasanya minuman keras, seperti anggur, bir, wiski). Jelas dan terang. Mau kemana nasib anak bangsa (terutama generasi mudanya yang mencapai 80 juta jiwa) ini akan dibawa jika lisensi bar semacam itu terus diberi? Ini menjadi tugas KPK berikutnya untuk meneliti proses transaksi lisensi negeri ini yang katanya paling tidak transparan sedunia. Ketiga, secara spiritual, jelas penggunaan simbol-simbol suci keagamaan mana pun oleh para kapitalis pasti akan terus mendapatkan kecaman dan tentangan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Tengok saja bagaimana fluktuasi emosi massa mengemuka ketika simbol-simbol agama dipakai secara tidak semestinya di Denmark (kasus kartun Nabi Muhammad) dan cover Tempo beberapa waktu lalu tentang ’The Last Supper’ itu muncul. Deretan kasus lainnya: cover album Iwan Fals ’Manusia 1/2 Dewa’ harus berurusan dengan umat Hindu, termasuk juga cover buku Supernova, Dewi Lestari yang memuat simbol/huruf AUM yang merupakan simbol suci umat Bali itu. Termasuk juga suatu kali desain poster film Amerika ”Hollywood Buddha” dengan seorang pria duduk di atas pundak patung Buddha dengan alat vitalnya menyentuh tengkuk Buddha. Reaksi keras dari dunia pun bertubi-tubi menghampiri.
Sejarah telah mengajarkan kepada kita, berhati-hatilah dengan penggunaan simbol keagamaan. Simbol tidak tepat menimbulkan kontroversi yang hanya menguras energi kognisi dan afeksi sehingga menumpulkan simpul-simpul humanitas alami. Kondisi ini, jika tidak segera diatasi akan menjadi bom waktu dalam jangka panjang. Untuk itu, alangkah bijaksana jika sederet peraturan (pusat & daerah) dan undang-undang selalu dijadikan acuan sebelum sebuah lisensi dieksekusi. Sistem komputerisasi peraturan harus mampu mengakses aturan yang menjadi syarat sebuah lisensi bisa dieksekusi. Hal ini bukan hanya untuk menjaga wibawa lembaga melainkan juga memberikan ketentraman lahir dan batin bagi komunitas yang akan terikat olehnya.
Sebagai penutup, kiranya hasil konferensi agama-agama monoteis yang disponsori Arab Saudi di Madrid Spanyol, Juli 2008 lalu perlu didukung. Konferensi itu menghasilkan sebuah komunike bersama yang isinya antara lain menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-banga (PBB) agar segera membuat kesepakatan internasional yang menyatakan bahwa menghina atau melecehkan agama lain merupakan tindakan kriminal, serta kesepakatan tentang upaya melawan terorisme. Lebih lanjut, konferensi yang dihadiri oleh 200 peserta dari berbagai latar belakang agama itu memutuskan perlu adanya kesepahaman tentang pentingnya saling menghormati setiap agama dan simbol-simbol keagamaan, dan bagi siapa pun yang melanggarnya dianggap telah melakukan tindakan kriminal. Sebuah keputusan bajik dan bijak.
Semoga dengan mengedepankan hati nurani, para penggiat di PBB akan segera mengadopsi nilai-nilai intrinsik mulia itu sehingga tidak akan ada lagi praktik kapitalisme barbar di muka bumi ini. Semoga.
“Jangan menipu orang lain, atau menghina siapa saja; Jangan karena marah dan benci, mengharap orang lain celaka.”
( Karaniyamettasutta ; Palivacana )
WARIA MENURUT PANDANGAN BUDDHIST
Diatas adalah foto Ratu Transgender ( Waria ) Tercantik se-Asia. Namanya adalah Treechada Manyaporn, biasa dipanggil sehari-hari Poy. “Wanita” cantik asal Thailand ini, yang mempunyai tinggi badan 171 cm, dan berat badan 48 Kg, sudah beberapa kali memperoleh penghargaan atas kecantikannya itu, yaitu : 1). Miss Tiffany ( 2004 ) ; 2). Miss International Queen ( 2004 ) ; 3). Miss Asian Trans ( 2007 ).
Berbicara mengenai ‘waria’ di Indonesia dewasa ini ( sejalan dengan diajukannya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi ), agaknya cukup menggugah rasa simpati bagi beberapa kalangan warga masyarakat, termasuk saya. Mengapa, sebab pihak-pihak yang sedang berjuang menggolkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi sepertinya juga berusaha sebisa munkin ‘mengenyahkan’ waria ini dari kehidupan bermasyarakat. Dimana-mana , di TV, di tiap khotbah-khotbah agama, diseru-serukan supaya waria ‘bertobat’. Juga, diserukan supaya TV tidak memperkenankan tampilnya waria dalam acara-acara apapun juga, terutama Entertainment / hiburan. Sesungguhnya, dosakah menjadi waria bagi kehidupan kemanusiaan ? Haruskah waria ini ‘dilenyapkan’ dari pergaulan hidup bermasyarakat ? Apakah mereka sampah masyarakat ? Marilah kita melihat bagaimana agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan memandang keberadaan waria ini.
PANDANGAN BEBERAPA AGAMA
Menurut pandangan beberapa agama, hubungan homoseks dianggap sebagai suatu penyimpangan dan perbuatan ‘mesum’, sehingga mereka akan menerima balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
Pandangan buruk yang diberikan kepada Waria oleh beberapa agama-bisa dimaklumi karena waria ini seolah-olah bukan makhluk yang diciptakan Tuhan, sebab Tuhan hanya menciptakan Langit dan Bumi, Laki-laki dan Perempuan, beserta semua hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan , sebagaimana kisah ‘Penciptaan’ yang digambarkan dalam Perjanjian Lama, Kejadian 1 : 26 – 28. Sehingga, waria tidak termasuk diantara ciptaan-ciptaan itu, sebab dikatakan laki-laki, hanya karena fisiknya saja , tetapi dikatakan perempuan, hanya kondisi-batinnya saja, jadi ; laki-laki tulen bukan, perempuan tulen juga bukan.
WARIA MENURUT BUDDHA-DHAMMA
Sang Buddha tidak pernah menyatakan bahwa alam-semesta ini diciptakan oleh Tuhan ataupun oleh Samma-Sambuddha. Terjadinya alam-semesta dan makhluk-makhluk adalah murni karena kekotoran batin / kebodohan-batin primordial , dan sejak itulah terjadi alam-semesta dan bekerjanya Panca-Niyama ( Lima Hukum Alam, termasuk diantaranya Hukum Karma ).
Naskah-naskah Buddhis mengungkapkan, bahwa jenis kelamin seseorang bisa berubah dalam satu kehidupan, dan juga antara kehidupan / tumimbal-lahir. Dalam Kitab Vinaya, ada referensi tentang seorang Bhikkhu yang berkarakteristik seksual seperti wanita, dan seorang Bhikkhuni yang berorientasi seksual seperti laki-laki ( Vin. III. 35 ). Dalam kedua kasus ini, Sang Buddha menerima hal ini dan hanya mengatakan bahwa mantan Bhikkhu ( yaitu Bhikkhu yang mempunyai kecenderungan orientasi seksual seperti wanita ) sebaiknya mengikuti peraturan Bhikkhuni, dan mantan Bhikkhuni sebaiknya mengikuti peraturan Bhikkhu.
Pergantian jenis kelamin dan orientasi batin tersebut dianggap berkaitan dengan karma dan pengarahan batin seseorang secara khusus, kearah tersebut. Tapi menurut agama Buddha, pergantian jenis kelamin tidak membatasi potensi spiritualitas seseorang.
Kelainan jenis kelamin, seperti hermaprodit juga disinggung dalam agama Buddha. Hermaprodit adalah orang yang berkelamin dua jenis. Dalam Kitab Vinaya, disebutkan adanya kemungkinan seorang hermaprodit menggoda Bhikkhu atau Bhikkhuni, sehingga tidak boleh ditasbihkan menjadi anggota Sangha / Pasamuan para Bhikkhu / -ni ( Vin.I.89 ). Seseorang dilahirkan menjadi hermaprodit akibat karma masa lampau yang tak baik, salah-satunya adalah melakukan hubungan homoseksual.
Perbuatan homoseksual bagi ummat awam dan para perumah tangga tidaklah dikecam secara spesifik, walau dianggap sebagai salah satu bentuk dari kegiatan seks yang menyimpang. Sehingga, Buddha-Dhamma tidak pernah menganjurkan untuk ‘mengisolir’ apalagi melenyapkan keberadaan kaum homoseksual ini dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun, sebagai pengecualian, perbuatan homoseksual yang terjadi dikalangan para Bhikkhu termasuk sebagai perbuatan melanggar Sila, sama seperti perbuatan-seksual lainnya, termasuk masturbasi sekalipun, karena Bhikkhu/-ni sudah harus tidak melakukan perbuatan “Abrahmacariya” ; perbuatan tidak suci yang tidak sesuai perilaku petapa suci. Dalam Vin.IV.288-9 dinyatakan bahwa dua Bhikkhuni yang berbaring bersamaan di atas sofa merupakan pelanggaran Sila / Moralitas. Nuansa “homo” yang lebih halus tercatat dalam AN.III.270, dimana Sang Buddha mengingatkan bahwa seorang Bhikkhu sebaiknya tidak terlalu berdedikasi terhadap Bhikkhu lain yang menjurus pada perasaan “sayang” , karena dikhawatirkan ia tidak akan setia kepada Bhikkhu yang lainnya, akan tersinggung bila Sangha menghukum Bhikkhu favoritnya, dan tidak mendengarkan Dhamma dari Bhikkhu lain. Agama Buddha memandang homoseks sebagai salah satu bentuk kehausan terhadap kenikmatan ( kama-tanha ) semata, yang tidak perlu dikecam dan dikucilkan apalagi ‘dilenyapkan’ dari kehidupan bermasyarakat. Agama-Buddha juga tidak menganggap bahwa para homoseks harus bertobat, karena mereka tidak menyalahi / berdosa kepada siapapun juga, kecuali hanya merupakan wujud penyimpangan orientasi seksual, yang itu berhubungan dengan diri pribadinya sendiri, karmanya sendiri.
Agama Buddha mengenal istilah ‘Pandaka’ untuk menunjuk ‘waria’ dan kaum homoseks lainnya, yaitu seorang pria yang tidak berperilaku maskulin dan seorang wanita yang tidak berperilaku feminin. Pandaka dalam dunia Buddhisme dianggap sebagai seseorang yang dapat berbuat kebajikan, dapat membimbing diri kearah kebajikan, tetapi mendapat rintangan dalam meditasi, pemahaman Dharma, atau mendapatkan penembusan ke dalam Sang Jalan Pencerahan, karena hadirnya noda-noda batin tertentu dari akumulasi karmanya. Menurut Buddha-Dhamma, menjadi Pandaka adalah akibat karma perzinahan / perbuatan seks yang tidak baik / benar di kehidupan yang lampau ( Thig. 436-7 ). Pravrajyantaraya-sutra mengatakan bahwa jika seorang upasaka menghalangi seseorang yang lain dari penahbisan ( upasampada ) menjadi Bhikkhu, mencela Buddha-Dhamma, atau murka terhadap Bhikkhu, maka bentuk-bentuk kelahiran kembali yang buruk bisa terjadi, termasuk salah satu diantaranya adalah menjadi ‘pandaka’ / waria / homoseks.
Oleh karena itu, tidak sepatutnya waria dikucilkan dari kehidupan bermasyarakat, karena ; waria juga manusia, juga warga semua makhluk hidup di alam-semesta-raya ini. Apalagi untuk waria secantik Treechada Manyaporn, atau yang mempunyai nama panggilan Poy ini, tentunya para netters dalam sekejap jadi ‘kelepek-kelepek’ dan ‘termehek-mehek’ karena kecantikannya, bukan ? Hehe… .
Demikian pembahasan kita mengenai “Waria Juga Manusia” ini. Semoga membawa manfaat dan pengetahuan baru bagi semua yang membacanya.