.

.

Pages

Saturday, February 11, 2006

Kewajiban seseorang Perumah Tangga

Dalam Khotbah Etika Sigalovada Sutta dijelaskan bahwa kewajiban seorang perumah tangga menurut 6 arah, yaitu :

1. Timur/Depan : Orang tua - anak
Kewajiban orang tua kepada anak :
a. Memintanya untuk tidak melakukan kejahatan.
b. Menganjurkan anaknya berbuat baik
c. Mengajarkan berbagai keterampilan
d. Memberikan pasangan yang cocok untuk dinikahi
e. Menyerahkan warisan pada waktu yang tepat.

Kewajiban anak kepada orang tua :
a. Menyokong mereka
b. Menjalankan kewajiban mereka
c. Menjaga keturunan keluarga
d. Berupaya menjaga warisan
e. Memberikan dana untuk menghormati sanak keluarga yang telah meninggal

2. Selatan/kanan : Guru – murid
Kewajiban guru kepada murid :
a. Melatih mereka dengan pelajaran terbaik
b. Mengajar muridnya hingga mahir
c. Mengajarkan setiap ilmu seni dan pengetahuan
d. Mengenalkan kepada teman dan rekan
e. Menjaga keselamatannya dalam berbagai hal

Kewajiban murid kepada guru :
a. Bangkit dari tempat
b. Menghadiri pelajarannya
c. Mendengarkan dengan penuh perhatian
d. Melayaninya
e. Menerima pelajaran dengan penuh rasa.

3. Barat/belakang : Suami - istri
Kewajiban suami kepada istri :
a. Berlaku sopan terhadapnya
b. Tidak memandang rendah dirinya
c. Kesetiaan
d. Memberikannya hak untuk bertindak
e. Memberikan perhiasan-perhiasan kepadanya.

Kewajiban istri kepada suami :
a. Melakukan tugas-tugasnya dengan cara terbaik
b. Berlaku ramah terhadap orang-orang sekeliling
c. Setia
d. Melindungi segala harta benda
e. Tekun dan tidak malas dalam melaksanakan pekerjaannya

4. Utara/kiri : Teman - seseorang
Kewajiban Teman kepada seseorang :
a. Melindungi ketika ia lengah
b. Menjaga hartannya ketika ia lengah
c. Menjadi tempat berlindung ketika ia merasa takut
d. Tidak meninggalkannya ketika ia berada dalam bahaya
e. Penuh perhatian terhadap anak-cucunya

Kewajiban seseorang terhadap teman :
a. Dengan kemurahan hati
b. Berbicara yang sopan
c. Memuji kebaikan-kebaikannya
d. Memperlakukan mereka sama seperti dirinya sendiri
e. Bersikap jujur

5. Bawah : Para karyawan/pekerja - majikan
Kewajiban Majikan kepada pelayan :
a. Memberi tugas sesuai kemampuan
b. Memenuhi kebutuhan mereka dengan makanan dan upah
c. Merawat mereka ketika sakit
d. Berbagi pada kesempatan-kesempatan luar biasa
e. Membebastugaskan mereka pada waktu-waktu tertentu

Kewajiban Pelayan kepada majikan :
a. Bangun lebih pagi dari majikan
b. Tidur setelah majikan
c. Mengambil hanya apa yang diberikan
d. Melaksanakan tugas dengan memuaskan
e. Menyebarkan nama baik dan kemasyuran majikan

6. Atas : Para bhikkhu – upasaka/upasika
Kewajiban Bhikkhu pada upasaka/upasika :
a. Mencegahnya dapat perbuatan jahat
b. Menganjurkan berbuat baik
c. Mencintai dengan hati bersih
d Mengajarkan dan menjernihkan hal-hal yang belum diketahuinya.
e. Menunjukkan jalam ke alam surga


Kewajiban Upasaka/upasika pada Bhikkhu :
a. Dengan perbuatan kasih sayang
b. Dengan ucapan kasih sayang
c. Dengan pikiran kasih sayang
d. Selalu menyambut mereka
e. Memenuhi kebutuhan material.

Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (Paticca Samuppada)


Setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna dan mencapai arahat di bawah Pohon Bodhi, Sang Buddha menemukan perputaran roda kehidupan ini, dari lahir, muda, dewasa, tua, mati dan seterusnya.

Perputaran roda kehidupan di mulai dari :

1. Avijja (Ketidaktahuan)
2. Sankhara (Bentuk-bentuk Pemikiran)
3. Patisandhi Vinnana (Kesadaran kelahiran kembali)
4. Nama Rupa
5. Salayatana (Enam landasan indriya)
6. Phassa (kontak)
7. Vedana (Perasaan)
8. Tanha (Keinginana)
9. Upadana (Kemelekatan)
10. Bhava (Perwujudan)
11. Jati (Kelahiran)
12. Jara Marana (Kehilangan-Kematian)

Penjelasan : Hukum sebab akibat yang saling bergantungan ini disebut sebagai hukum Patticasamupada atau 12 mata rantai, akar dari kehidupan manusia ini disebabkan oleh lobha, dosa dan moha yang disebut juga sebagai Avijja (Kegelapan batin). Dari avijja timbullah Sankhara (Bentuk-bentuk kamma) kemudian Patisandhi Vinnana (timbul kesadaran sambung menyambung dan terus menerus) dan lahirlah Nama dan Rupa (Batin dan Jasmani), kemudian muncullah Salayatana (6 Landasan Indriya, yaitu : mata, telinga, hidung, mulut, badan jasmani dan pikiran), setelah itu timbullah Phassa atau kontak, kemudian timbul Vedana atau perasaan, setelah adanya perasaan muncullah Tanha (Nafsu keinginan), kemudian timbullah Upadana atau kemelekatan dan Bhava (terus menjadi tumbuh) maka Jati atau kelahiran terbentuk dan akhirnya juga menuju Jaramarana (Tua dan Mati), begitulah roda perputaran kehidupan manusia, roda ini akan terus berputar dari awal menuju akhir dan kembali lagi ke awal dan menuju akhir, kecuali seseorang telah mencapai Nibbana (Kesadaran Tertinggi).

Penghentian (Nirodha)

Di mulai dari awal, dengan penghentian total dan akhir dari ketidaktahuan, maka bentuk-bentuk pikiran akan berhenti, dengan penghentian bentuk-bentuk pikiran, maka kesadaran yang menghubungkan kembali akan berhenti, nama dan rupa juga akan terhenti, kemudian 6 landasan indriya akan terhenti, kesan-kesan akan terhenti, perasaan akan berhenti, nafsu akan berhenti, kemelekatan akan berhenti, proses menjadi akan berhenti, kelahiran juga akan berhenti, dnegan penghentian dari kelahiran, maka usia tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, penyakit, ketidaksenangan dan keputusasaan akan berhenti, dengan demikian maka semua bentuk-bentuk penderitaan akan berhenti.

Friday, January 27, 2006

5 Hukum Tertib Alam Semesta (Panca Niyama Dhamma)


Menurut Ajaran Buddha, terdapat 5 hukum atau proses (niyama) yang beroperasi di alam-alam fidik maupun mental, yaitu :

1. Hukum Fisik Anorganik (Utu Niyama)
Contoh :
a. Fenomena musiman dari angin, panas dan hujan
b. Hukum-hukum yang tepat mengenai musim musim
c. Karakteristik peristiwa dan perubahan musim
d. Penyebab angin dan hujan, sifat panas, dll

2. Hukum Biji-bijian atau Fisik Organik (Bija Niyama)
Contoh :
a. Padi tumbuh dari biji
b. Rasa manis dari gula tebu atau madu
c. Uniknya karakteristik dari buah tertentu
d. Teori ilmu pengetahuan tentang sel dan gen, serta kemiripan pada anak kembar mungkin dapat dijelaskan berdasarkan pada hukum ini.

3. Hukum Perbuatan dan Akibatnya (Kamma Niyama)
Contoh : Tindakan yang sengaja ataupun tidak disengaja menghasilkan hasil yang baik dan buruk.

4. Hukum Pikiran dan Psikis (Citta Niyama)
Contoh :
a. Proses kesadaran
b. Kelanjutan kesadaran
c. Kekuatan pikiran, termasuk telepati
d. Telesthesia
e. Kemampuan mengingat hal-hal lampau
f. Kemampuan meramal
g. Mata dewa
h. Telinga dewa
i. Kemampuan membaca pikiran
j. Fenomena psikis lainnya yang tidak dapat dijelaskan ooeh ilmu pengetahuan modern.

5. Hukum Realita (Dhamma Niyama)
Contoh : Gejala alam yang terjadi pada saat kelahiran terakhir seorang Boddhisatta. Hukum gravitasi dan hukum-hukum alam lainnya juga termasuk dalam kelompok ini.

Proses Kematian dan Lampu Minyak


Ada 4 proses penyebab kematian, yaitu :
1. Kematian karena habisnya daya hidup
2. Kematian karena habisnya kekuatan kamma
3. Kematian karena kedua sebab diatas
4. Kematian karena kamma penghancur

Tiga jenis sebab pertama secara kolektif disebut kalamarana (kematian karena waktu), dan yang terakhir dikenal sebagai akalamarana (kematian diluar dugaan)

Sebagai contoh, sebuah lampu minyak, padam karena salah satu dari 4 kemungkinan/sebab akibat berikut ini :
1. Padam karena kehabisan sumbunya
2. Padam karena habisnya minyak
3. Padam karena habisnya sumbu dan minyak (secara bersamaan)
4. Karena angin

Kematian seseorang pun dapat disebabkan oleh salah satu dari keempat sebab tersebut diatas.

Seseorang yang hampir meninggal, pada saat kematian, oleh kekuatan kamma, salah satu dari berikut ini akan mewakilinya melalui salah satu dari 6 pintu indera :
1. Sebuah kamma yang menghasilkan kelahiran kembali yang berikutnya, memasuki pintu kesadaran berdasarkan kondisi
2. Sebuah objek (kamma nimitta) sebagai sebuah bentuk kesadaran awal dan sejenisnya, atau segala sesuatu yang digunakan dalam memunculkan kamma.
3. Sebuah isyarat keberadaan yang berupa simbolik (gari Nimitta) menunjukkan dimana seseorang akan meninggal dan mengalami tempat kelahiran berikutnya.

Kematian bukanlah total pemusnahan suatu makluk. Kematian di suatu tempat berarti kelahiran di tempat lainnya, seperti dalam istilah yang biasa, terbitnya matahari di suatu tempat berarti tenggelamnya matahari di tempat yang lain.
Kematian adalah akhir sementara dari fenomena sementara.

Jadi Kematian berarti kepunahan dari :
a. Kehidupan fisik (jivitindriya)
b. Panas (tejodhatu)
c. Kesadaran (vinnana) suatu individu pada keberadaan tertentu.

KAMMA menurut HASILNYA


1. Garuka Kamma
Yang berari kamma berat (serius), bisa bersifat baik maupun buruk. Kamma ini berbuah dalam kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan berikutnya. Jika bersifat baik, maka ia akan beruapa keadaan batin yang suci seperti dalam kasus pencapaian Jhana, sebaliknya jika bersifat buruk, ia merupakan ucapan ataupun perbuatan. Lima jenis garuka kamma menurut prioritas mereka yaitu :
a. Membunuh Ayah
b. Membunuh Ibu
c. Membunuh Arahat
d. Menyebabkan perpecahan Sangha
e. Melukai Buddha

Hal-hal di atas disebut juga Anantariya Kamma karena begitu cepat menghasilkan buahnya dalam kehidupan. Pandangan salah yang permanen (niyata micchaditthi) juga termasuk sebagai salah satu garuka kamma.

Sebagai Contoh :

(1) Jika seseorang yang telah mengembangkan jhana dan kemudian ia melakukan salah satu dari kejahatan keji di atas, maka kamma baiknya akan terhapus oleh kamma buruknya yang berkekuatan lebih besar. Kelahirannya yang berikut akan dikondisikan oleh kamma buruk tanpa dapat dicegah oleh pencapaian jhana yang telah dia lakukan terlebih dahulu. Devadatta kehilangan kekuatan batinnya dan terlihat dalam alam yang rendah karena telah melukai Sang Buddha dan menyebabkan perpecahan Sangha
(2) Raja Ajatasattu akan dapat mencapai tingkat kesucian pertama (sotapanna) jika dia tidak membunuh ayahnya. Dalam kasus ini, kekuatan kamma buruk bertindak sebagai penghalang bagi dirinya untuk mencapai tingkat kesucian.

2. Assana Kamma
Adalah kamma yang dilakukan seseorang atau diingat seseorang sesaat sebelum kematian, yang akan dilanjutkan pada signifikasinya dalam menentukan kelahiran berikutnya. Di Negara Buddhis, masih banyak umat yang menjalankan tradisi mengigatkan orang yang hampir meninggal akan kebajikan dan membuat mereka untuk melakukan kebajikan menjelang kematiannya.

Sebagai Contoh :

(a) Terkadang seorang yang jahat dapat meninggal dengan tenang dan mendapatkan kelahiran yang baik, jika dia mengingat atau melakukan perbuatan-perbuatan baik pada saat terakhir hidupnya. Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa seorang algojo secara kebetulan memberikan dana makanan kepada Yang Ariya Sariputta. Pada saat menjelang kematiannya ia mengingat perbuatan bajik ini dan sebagai akibatnya ia dilahirkan di alam bahagia. Akan tetapi hal ini tidak berarti bahwa meskipun algojo tersebut menikmati kelahiran yang menyenangkan, ia akan terbebas dari akibat-akibat perbuatan buruk yang telah terkumpul selama masa hidupnya. Perbuatan-perbuatan itu akan berbuah ketika kesempatannya atau kondisinya tiba.
(b) Sementara itu, seseorang yang baik dapat meninggal dengan tidak tenang karena tiba-tiba teringat akan perbuatan buruknya atau karena memiliki pikiran jahat, yang secara bersamaan didukung oleh keadaan yang tidak menguntungkan. Dalam kitab suci, Ratu Mallika, permainsuri Raja Kosala, mengingat sebuah kebohongan yang telah dilakukannya kepada suaminya sebelum meninggal, dan karena itu ia menderita selama ,tujuh hari di alam menyedihkan.

Contoh di atas adalah kasus-kasus pengecualian. Kemungkinan adanya perubahan kelahiran dari lahirnya anak yang baik dari orang tua yang jahat, bisa berubah menjadi kelahiran anak yang jahat dari orang tua yang baik, karena secara umum, pikiran seseorang menjelang kematian sangat dipengaruhi oleh perbuatannya dalam kehidupan.

c. Accina Kamma
Adalah kamma yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan, apakah itu baik atau buruk, cenderung membentuk karakter seseorang. Pada saat pikiran kurang waspada, seseorang dapat tergelincir oleh pola pikir mentalnya yang sudah menjadi kebiasaan. Pada saat menjelang kematian, jika tidak dipengaruhi oleh factor-faktor lainnya, seseorang akan mengingat kembali kebiasaan-kebiasaan yang telah dilakukannya.

Sebagai Contoh :
(1) Cunda, seorang tukang jagal, yang tinggal di sekita vihara tempat dimana Sang Buddha tinggal, meninggal sambil menjerit seperti babi karena dia mencari nafkah dengan menjagal babi-babi.
(2) Raja Sri Langka yang bernama Dutthagamani, mempunyai kebiasan memberi dana makanan kepada para Bhikkhu sebelum ia makan terlebih dahulu. Kebiasaan kebajikan ini mengantarkannya ke alam Tusita karena pada saat kematiannya ia mengingat akan kebiasaan akan kebajikannya.

d. Kattata Kamma
Adalah kamma yang dilakukan sekali seumur hidup dan kemudian terlupakan. Hal ini seperti simpanan kebajikan si pelaku. Kattata kamma ini disebut juga sebagai kamma yang lemah.

KAMMA menurut FUNGSINYA


1. Kamma Penghasil (Janaka Kamma)
Janaka kamma adalah kamma yang menghasilkan kelompok batin dan kelompok materi pada saat pembuahan. Kesadaran awal yang disebut dengan istilah patisandhi vinnana (kesadaran kelahiran kembali) dikondisikan oleh kamma ini. Bersamaan dengan munculnya kesadaran kelahiran kembali, timbul pula 10 faktor pembentuk fisik, 10 faktor pembentuk jenis kelamin, 10 faktor unsure pokok (kaya-bhava-vatthu dasaka), yaitu :

a. Unsur Padat (pathavi)
b. Unsur Cair (apo)
c. Unsur Panas (tejo)
d. Unsur Gerak (vayo)
e. Warna (vanna)
f. Bau (gandha)
g. Rasa (rasa)
h. Nutrisi (oja)
i. Vitalitas (jivitindriya)
j. Jasmani (kaya), Jenis kelamin (bhava), Unsur pokok (Vatthu)

2. Kamma Penguat (Upathambaka Kamma)
Kamma penguat adalah kamma yang datang setelah kamma penghasil dan menyokongnya. Kamma ini tidak bersifat baik maupun buruk, akan tetapi hanya membantu atau mempertahankan kekuatan kamma penghasil, dalam rangkaian siklus kehidupan seseorang. Dari saat setelah pembuahan sampai saat menjelang kematian, kamma penyokong akan terus bekerja menyokong kamma penghasil. Kamma penyokong yang baik bersifat membantu dalam membangun kesehatan, kekayaan, kegembiraan, dll terhadap pelakunya. Sebaliknya suatu kamma penyokong yang buruk akan menyebabkan penderitaan, kesedihan, dll pada orang yang lahir dengan kamma penghasilnya yang buruk. Sebagai contoh binatang siksaan.




3. Kamma pelemah (Upapidaka Kamma)
Tidak seperti kamma penguat, kamma pelemah bersifat untuk memperlemah, menghalangi, dan memperlambat berbuahnya kamma penghasil. Sebagai contoh, seseorang yang terlahir dengan kamma penghasil yang baik, bisa saja menderita berbagai macam penyakit, yang mencegahnya menikmati hasil-hasil yang menyenangkan dari perbuatan-perbuatan baik yang telah dia lakukan. Sebaliknya sesekor binatang yang dilahirkan akibat kamma penghasil yang buruk, bisa saja menikmati hidup yang nyaman dengan memperoleh makanan yang baik, tempat tinggal yang layak dsb, sebagai hasil kamma penghalangnya yang baik, yang mencegah berbuahnya kamma penghasil yang buruk.

4. Kamma Penghancur (Upaghataka Kamma)Menurut hukum Kamma, kekuatan dari kamma penghasil dapat dihapus hanya oleh dorongan kamma berlawanan yang sangat kuat yang dilakukan di masa lampau. Kamma ini mencari kesempatan untuk berbuah dan bisa saja bekerja tanpa disangka-sangka, seperti sebuah daya penghalang berkekuatan besar yang dapat menghentikan lajunya anak panah dan menjatuhkannya ke tanah. Kamma seperti ini disebut sebagai kamma penghancur, yang lebih kuat dibandingkan kedua kamma sebelumnya, karena tidak hanya menghalangi tetapi menghancurkan kekuatan kamma penghasil secara total. Kamma penghancur ini juga dapat bersifat baik atau buruk.

HUKUM KAMMA


Kamma dalam bahasa Pali atau Karma dalam bahasa Sansekerta terdiri dari 4 Kategori besar (Ringkasan) :

1. Kamma berdasarkan Fungsi :
a. Kamma Penghasil (Janaka Kamma)
b. Kamma Penguat (Upatthambaka Kamma)
c. Kamma Pelemah (Upapidaka Kamma)
d. Kamma Penghancur (Upaghataka Kamma)

2. Kamma berdasarkan Kekuatan/Hasilnya :
a. Kamma berat (Garuka Kamma)
b. Kamma yang sesaat sebelum kematian (Asanna Kamma)
c. Kamma kebiasaan (Acinna Kamma)
d. Kamma lemah (Katatta Kamma)

3. Kamma berdasarkan Waktu :
a. Kamma yang berbuah langsung pada kehidupan sekarang (Ditthadhammavedaniya Kamma)
b. Kamma yang berbuah langsung pada kehidupan berikutnya (Upapajjavedaniya Kamma)
c. Kamma yang berbuah pada kehidupan-kehidupan berikutnya atau waktu tak tentu (Aparapariyavedaniya Kamma)
d. Kamma yang gagal berbuah (Ahosi Kamma)

4. Kamma berdasarkan Tempat terjadinya :
a. Kamma buruk (Akusala Kamma) pada alam-alam penuh nafsu (Kamavacara)
b. Kamma baik (Kusala Kamma) pada alam-alam penuh nafsu (Kamavacara)
c. Kamma baik pada alam berbentuk (Rupavacara)
d. Kamma baik pada alam tanpa bentuk (Arupavacara)

4 Hal Mempengaruhi Badan Jasmani


Tubuh kita dapat dipengaruhi oleh 4 kondisi berikut :

1. Makanan
Apa yang kita makan dapat mempengaruhi fisik kita secara langsung maupun tidak langsung, Makanan yang sehat dapat membuat tubuh menjadi sehat dan sebaliknya makanan yang buruk dapat mengakibatkan tubuh menjadi sakit.

2. Cuaca
Cuaca dan Iklim juga dapat mempengaruhi perkembangan fisik kita, Hidup di negara yang mempunyai iklim yang banyak akan berbeda dengan hidup di negara yang hanya mempunyai beberapa iklim, Negara yang bersih, adem dan nyaman juga ikut mempengaruhi keadaan fisik kita.

3. Pikiran
Pikiran merupakan pelopor segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin dan pembentuk, apa yang ingin kita bentuk dan harapkan dari diri kita semua tergantung dari pikiran kita, Pikiran yang jernih, murni dan baik akan mempengaruhi badan jasmani kita.

4. Kamma
Badan ini, rupa ini, panca indera ini semua terbentuk dari kamma kita, seseorang yang rupawan, tinggi, langsing dsb merupakan kondisi kamma atau factor keturunan yang dibawa sejak lahir maupun ketika beranjak dewasa, Badan Jasmani yang dibawa sejak lahir juga dapat diubah sesuai dengan kamma masing-masing.

Tuesday, January 24, 2006

4 Jenis Kelahiran

Ajaran Buddha mengenal 4 jenis kelahiran, yaitu :
1. Kelahiran melalui telur (Andaja)
2. Kelahiran melalui kandungan (Jalabuja)
3. Kelahiran melalui kelembaban (Samsedaja)
4. Kelahiran secara spontan (Opapatika)

4 jenis kelahiran ini mencapuk kelahiran semua mahluk hidup.

Burung dan ular termasuk pada kelompok 1.

Mahluk hidup yang lahir melalui kandungan mencakup manusia, beberapa dewa yang mendiami bumi, dan beberapa hewan yang lahir dari rahim induknya.

Embrio, menggunakan bahan-bahan lembab seperti nidus untuk perkembangannya, seperti pada hewan-hewan tingkat rendah, termasuk pada kelompok 3.

Mahluk yang lahir secara spontan pada dasarnya tidak dapat dilihat oleh mata biasa. Terkondisi oleh kamma lampaunya, mereka muncul secara spontan, tanpa melalui fase embrio. Peta, Dewa, dan Brahma termasuk dalam kelompok ini .
HUKUM KAMMA

31 Alam Kehidupan

Agama Buddha mengenal adanya 31 Alam kehidupan yang terdiri dari 3 bagian besar yaitu : Kamavacara (Alam nafsu), Rupavacara (Alam berbentuk) dan Arupavacara (Alam tanpa bentuk).

Uraian di bawah ini merupakan alam yang paling rendah sampai alam yang paling tinggi :

a. Kamavacara (Alam Nafsu)

1. Niraya (Keadaan yang menyedihkan) : waktu tidak terbatas
2. Tiracchana (Dunia/alam binatang/hewan) : waktu tidak terbatas
3. Peta (Lingkungan para Peta) : waktu tidak terbatas
4. Asura (Rombongan para Asura) : waktu tidak terbatas

5. Manussa (Alama manusia) : waktu tidak terbatas

6. Catumaharajika (Alam 4 raja) : waktu 500 CY
7. Tavatimsa (Alam 33 dewa) : waktu 1.000 CY
8. Yama (Alam dewa Yama) : waktu 2.000 CY
9. Tusita (Alam yang sangat menyenangkan) : waktu 4.000 CY
10. Nimmanarati (Alam para dewa yang berbahagia dalam ciptaannya) : waktu 8.000 CY
11. Paranimmaitavasavatti (Alam para dewa yang berbuat seolah-olah berkuasa atas penciptaan mahluk lainnya) : 16.000 CY

b. Rupavacara (Alam Berbentuk)

Jhana 1
12. Brahmaparisajja (Alam kelompok pengiring Brahma) : waktu 0,3 Ak
13. Brahmapurohita (Alam pelayan-pelayan Brahma) : waktu 0,5 Ak
14. Mahabrahmano (Alam Maha Brahma) : waktu 1 Ak

Jhana 2
15. Parittabha (Alam cahaya kecil ) : waktu 2 Mk
16. Appamanabha (Alam cahaya tak terbatas) : waktu 4 Mk
17. Abhassara (Alam cahaya bersinar) : waktu 8 Mk

Jhana 3
18. Parittasubha (Alam aura kecil) : waktu 16 Mk
19. Appamanasubha (Alam aura yang tidak terbatas) : waktu 32 Mk
20. Subhakinna (Alam aura yang kokoh) : waktu 64 Mk




Jhana 4
21. Vehapphala (Alam berpahala besar) : waktu 500 Mk
22. Asannasatta (Alam mahluk-mahluk tanpa pikiran : waktu 500 Mk
Alam-alam murni
23. Aviha (Alam yang tahan lama) : waktu 1000 Mk
24. Attapa (Alam yang tenang) : waktu 2000 Mk
25. Sudassi (Alam yang indah) : waktu 4000 Mk
26. Suddasa (Alam penglihatan terang) : waktu 8000 Mk
27. Akanittha (Alam tertinggi) : waktu 16000 Mk

c. Arupavacara (Alam-alam Tanpa Bentuk)
28. Akasanancayatanabhunmi (Alam ruangan tanpa batas) : waktu 20000 Mk
29. Vinnanancayatanabhumi (Alam kesadaran tanpa batas) : waktu 40000 Mk
30. Akincannayatanabhumi (Alam kekosongan) : waktu 60000 Mk
31. Alam bukan-pencerapan maupun tidak bukan pencerapan (N’evasanna Nasannayatanabhumi) : waktu 84.000 Mk

Mk = Maha Kappa
Ak = Asankheyya Kappa
CY = Celestial Year

Sumber-sumber literature mengatakan bahwa 50 tahun manusia sama dengan satu hari Celestial. Masa pada alam Empat Dewa adalah 500 tahun Celestial, sama dengan 9000000 tahun siklus hidup manusia.

Friday, January 06, 2006

Brahma Vihara (4 Keadaan Batin yang Luhur)


Brahma Vihara adalah Empat keadaan batin yang luhur, jika Brahma vihara ini kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari akan terlahir ke alam Brahma Vihara.

Brahma Vihara itu terdiri dari :

1. Metta : Cinta kasih.
Musuh Langsung : Kebencian (Dosa)
Musuh Tidak Langsung : Sentimen Pribadi (Pema)

2. Karuna : Kasih sayang
Musuh Langsung : Kekejaman (Himsa)
Musuh Tidak Langsung : Perasaan Tidak Senang (Domanassa)

3. Mudita : Turut Berbahagia.
Musuh Langsung : Iri hati (Issa)
Musuh Tidak Langsung : Kegembiraan Berlebihan (Pahasa)

4. Upekkha (Tenang Seimbang/Keseimbangan Batin)
Musuh Langsung : Kegelisahan (Vicikiccha)
Musuh Tidak Langsung : Tidak Berperasaan

Jika kita mengambil objek meditasi cita kasih yang ada di atas, seperti cinta kasih terhadap orang lain, kasih sayang, turut berbahagia terhadap orang lain dan keseimbangan batin, maka kita akan mendapatkan 11 manfaat cinta kasih ini, yaitu :
1. Dapat tidur dengan bahagia.
2. Bangun dengan perasaan bahagia.
3. Tidak mengalami mimpi buruk
4. Dicintai oleh sesama mahluk
5. Dicintai oleh mahluk bukan-manusia
6. Terhindari dari racun.
7. Dilindungi oleh para Dewa.
8. Dapat memusatkan pikiran dengan cepat
9. Memiliki paras yang menyenangkan
10. Pada akhirnya hidupnya akan dapat meninggal dengan tenang
11. Setelah meninggal akan terlahir di alam-alam bahagia atau alam Brahma.

Wednesday, January 04, 2006

4 Tingkat Kesucian Ajaran Buddha (Ariya Puggala) dan 10 Belenggu Hidup

Empat mahkluk suci :
1. Sotapanna (Pemenang arus/7 kali kembali ke alam manusia), Jika hendak mencapai tingkat kesucian pertama ini harus menghapus :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbata Paramasa)

2. Sakadagami (1 kali kembali ke alam manusia), Jika hendak mencapai tingkat kesucian kedua ini harus menghapus :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
Memperlemah :
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)

3. Anagami (Mahluk suci yang tidak kembali lagi), harus menghapuskan :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)

4. Arahat (Seorang yang telah mencapai Nibbana), menghapus 10 Belenggu, yaitu :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)
f. Kemelekatan terhadap rupa jhana dan alam-alam bentuk (Ruparaga)
g. Kemelekatan terhadap arupa jhana dan alam-alam tanpa bentuk (Aruparaga)
h. Kekosongan (Mana)
i. Kegelisahan (Uddhacca)
j. Kebodohan batin (Avijja)

P.S : Sang Buddha telah mencapai nibbana atau telah menjadi seorang Arahat dengan menghapuskan 10 belenggu (Samyojana)

Monday, January 02, 2006

TILAKKHANA (Tiga Corak Umum)

Salah satu inti dari ajaran Sang Buddha adalah Tilakkhana yang disebut dengan tiga corok umum atau tiga pegangan hidup.

Segala yang terbentuk, terwujud atau yang ada itu :
1. Tidak kekal/ berubah-ubah (Anicca)
Dalam menghadapi suatu masalah yang ada, kita sadari bahwa masalah itu sendiri adalah tidak kekal atau berubah-ubah tergantung dengan waktu, situasi dan kondisi yang ada, maka kita dapat menyelesaikan masalah dengan tenang dan baik serta tidak tergesa-gesa, Sebagai contoh, mungkin pagi ini kita mendapatkan masalah yang berat, namun setelah melewati beberapa pagi berikutnya masalah tersebut akan berakhir, itulah hukul alam Anicca, segala sesuatu yang muncul pasti tidak kekal dan akan berubah-ubah.

2. Tidak memuaskan (Dukkha)
Segala sesuatu yang ada itu tidak memuaskan/tidak nyaman dan mengundang penderitaan, apakah itu sesuatu yang mengembirakan atau menyakitkan, bertemu dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan atau berpisah dengan orang yang disenangi juga adalah penderitaan, segala sesuatu yang muncul adalah penderitaan.
3. Tanpa Inti/ tidak aku yang sesungguhnya (Anatta)
Segala sesuatu yang telah ada atau belum ada, yang telah muncul atau belum muncul semua adalah tanpa inti, bukan milik sebenarnya, tubuh ini bukan milik kita sebenarnya, begitu juga benda-bendawi, nafsu keinginan, semua hal yang berwujud tanpa aku, tanpa diri, bukanlah milik kita.

Dari Ke-3 corak umum kehidupan atau 3 corak hukum alam ini, mari kita sadari bahwa, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak kekal dan bukan milik kita serta mengundang penderitaan, maka kita dapat menghadapi hidup ini dengan tenang dan bijaksana tanpa gangguan yang ada.

4 Tingkat Kesucian Ajaran Buddha (Ariya Puggala) dan 10 Belenggu Hidup

Empat mahkluk suci :
1. Sotapanna (Pemenang arus/7 kali kembali ke alam manusia), Jika hendak mencapai tingkat kesucian pertama ini harus menghapus :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbata Paramasa)

2. Sakadagami (1 kali kembali ke alam manusia), Jika hendak mencapai tingkat kesucian kedua ini harus menghapus :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
Memperlemah :
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)

3. Anagami (Mahluk suci yang tidak kembali lagi), harus menghapuskan :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)

4. Arahat (Seorang yang telah mencapai Nibbana), menghapus 10 Belenggu, yaitu :
a. Kepercayaan akan adanya jiwa yang kekal (Sakkayaditthi)
b. Keragu-raguan (Vicikiccha)
c. Kemelekatan pada ritual dan upacara (Silabbataparamasa)
d. Nafsu indera (Kamaraga)
e. Kebencian (Patigha)
f. Kemelekatan terhadap rupa jhana dan alam-alam bentuk (Ruparaga)
g. Kemelekatan terhadap arupa jhana dan alam-alam tanpa bentuk (Aruparaga)
h. Kekosongan (Mana)
i. Kegelisahan (Uddhacca)
j. Kebodohan batin (Avijja)

P.S : Sang Buddha telah mencapai nibbana atau telah menjadi seorang Arahat dengan menghapuskan 10 belenggu (Samyojana)

10 Perbuatan Baik (Kusala Kammapatha)

Di dalam konsep buddhis, Ada 10 perbuatan baik yang apabila dilakukan akan lebih cepat berbuah karma baik.

1. Berdana (Dana)
2. Bermoral (Sila)
3. Meditasi (Bhavana)
4. Menghormat orang yang patut dihormati (Apacayana)
5. Melayani orang yang patut dilayani (Veyyavacca)
6. Pemberian jasa (Pattidana)
7. Turut bahagia atas kebaikan orang lain (Pattanumodana)
8. Mendengarkan Dhamma (Dhamma Savanna)
9. Membabarkan Dhamma (Dhamma Desana)
10. Mengarahkan pada pandangan benar (Ditthijju kamma)

10 Perbuatan Buruk (Akusala Kammapatha)

Di dalam konsep buddhis, Ada 10 perbuatan buruk yang apabila dilakukan akan lebih cepat berbuah karma buruk.

1. Membunuh (Panatipata)
2. Mengambil barang yang tidak diberikan (Adinnadana)
3. Perbuatan asusila (Kamesumicchacara)
4. Berdusta (Musavada)
5. Menfitnah (Pisunavaca)
6. Berbicara kasar (Pharusavaca)
7. Omong kosong (Samphappalapa)
8. Ketamakan (Abhijja)
9. Kebencian (Vyapada)
10. Pandangan salah (Micchaditthi)

Friday, December 30, 2005

Jalan Mulia Berunsur Delapan

Inilah 8 jalan mulia untuk melenyapkan Dukkha (Penderitaan) yang terdapat dalam 4 kebenaran Mulia :

1. Pandangan Benar
a. Empat Kebenaran Mulia (Ariyan Sacca)
b. Sepuluh Perbuatan Buruk (Akusala Kammapatha)
c. Seuluh Perbuatan Baik (Kuala Kammapatha)
d. Tiga Corak Umum (Ti-lakkhana)
e. EmpatTingkat Kesucian (Ariya Puggala) dan Sepuluh Belenggu (Samyojana)
f. Sebab-musabab Saling Bergantungan (Paticca Samuppada)

2. Pemikiran Benar (Samma sankappa)
a. Berpikiran bebas dari nafsu keinginan (nekkhama-sankappa)
b. Berpikiran bebas dari kekejaman (Avihimsa-sankappa)
c. Berpikiran bebas dari niat jahat (Avyapada-sankappa)

3. Ucapan Benar (Samma vaca)
a. Menjauhkan diri dari berdusta
b. Menjauhkan diri dari memfitnah
c. Menjauhkan diri dari ucapan-ucapan kasar
d. Menjauhkan diri dari omong kosong atau perkataan yang tidak ada artinya.

4. Perbuatan Benar (Samma kammanta)
a. Menjauhkan diri dari pembunuhan
b. Menjauhkan diri dari mengambil barang yang tidak diberikan
c. Menjauhkan diri dari perbuatan asusila

5. Mata Pencaharian Benar (Samma ajiva)
Perumah tangga seharusnya menghindari :
a. Berdagang alat senjata
b. Berdagang makhluk hidup
c. Berdagang daging
c. Berdagang minuman yang memabukkan
e. Berdagang racun

6. Daya Upaya Benar (Samma Vayama)
a. Upaya untuk menghindari (Samavara ppadhana)
Mendorong kemauan untuk menghindari timbulnya kejahatan, sesuatu yang tidak baik yang belum muncul.
b. Upaya untuk menanggulangi (Phana ppadhana)
Mendorong kemauan untuk menanggulangi kejahatan, sesuatu yang tidak baik yang telah muncul.
c. Upaya untuk mengembangkan (bhavana ppadhana)
Mendorong kemauan untuk membangkitkan sesuatu yang baik yang belum muncul.
d. Upaya untuk mempertahankan (anurakkhana ppadhana)
Mendorong kemauan untuk mempertahankan factor-faktor baik yang telah muncul, dan tidak membiarkan mereka hilang, melainkan mengembangkan, mendewasakan, dan berusaha agar factor-faktor ini mencapai perkembangan sempurna.

7. Perhatian Benar (Samma sati)
Empat Landasan Perhatian Benar (Satipatthana)
a. Perenungan terhadap tubuh (Satipatthana)
b. Perenungan terhadap perasaan (Kayanupassana)
c. Perenungan terhadap pikiran (Citanupassana)
d. Perenungan terhadap objek-objek pikiran (Dhammanupassana)

8. Konsentrasi Benar (Samma samadhi)
Konsentrasi : Pemusatan pikiran pada satu objek (Cittakaggata)
Objek : Empat Landasan Perhatian Murni
Prasyarat : Empat Upaya Keras

Dua tingkat perkembangan :
1. Konsentrasi Mendekati (Upacara samadhi)
Mendekati tingkat pencerapan (jhana), namun belum mencapainya.
2. Konsentrasi Pencapaian (Appana samadhi)
Mencapai tingkat pencerapan (jhana).

Wednesday, December 28, 2005

(4 Kebenaran Mulia) Kebenaran Mulia tentang Jalan menuju Lenyapnya Dukkha


Bagaimana jalan menuju lenyapnya dukkha/penderitaan ?

Ini adalah jalan mulia berunsur delapan,
Pandangan benar, Pemikiran benar,
Ucapan benar, Perbuatan benar, Mata pencaharian benar,
Daya upaya benar, Perhatian benar, Konsentrasi benar.

Apakah pandangan benar itu ?

Pengetahuan tentang penderitaan,
Pengetahuan tentang asal mulanya penderitaan,
Pengetahuan tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan
Inilah yang disebut dengan pandangan benar

Apa ipemikiran benar itu ?

Pikiran yang bebas,
Pikiran yang berkehendak baik
Pikiran yang tidak merugikan,
Inilah yang disebut dengan pemikiran benar

Apa ucapan benar itu ?

Menghindari berbohong,
Menghindari menfitnah,
Menghindari kata-kata yang kasar,
Menghindari perkataan yang tidak perlu,
Inilah yang disebut dengan ucapan benar

Apa perbuatan benar itu ?

Menghindari pembunuhan mahluk hidup,
Menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan,
Menghindari perbuatan asusila,
Inilah yang disebut dengan perbuatan benar


Apa mata pencaharian benar itu ?

Ini merupakan jalan para Ariya,
Telah meninggalkan cara hidup yang salah,
Menjalankan kehidupan yang benar,
Inilah yang disebut sebagai penghidupan yang benar

Apa daya upaya benar itu ?

Seorang Bhikkhu membangkitkan keinginannya, membuat sebuah usaha, mengumpulkan tenaga,mengerahkan pikirannya dan berjuang untuk mencegah unsure-unsur jahat dan tidak sehat yang belum ada di dalam batin. Ia membangkitkan keinginannya, membuat sebuah usaha, mengumpulkan tenaga, mengerahkan pikirannya dan berjuang untuk memusnahkan unsure-unsur jahat dan tidak sehat yang sudah ada di dalam batin.

Ia membangkitkan keinginannya, membuat sebuah usaha, mengumpulkan tenaga, mengerahkan pikirannya, pikirannya dan berjuang agar unsure-unsur jahat dan tidak sehat yang sudah ada di dalam batin,
Tidak membiarkan hilang,
Menumbuhkannya,
Hingga mencapai perkembangan sepenuhnya.
Inilah yang disebut dengan daya upaya benar.

Apa perhatian benar itu?

Seorang Bhikkhu terus menerus merenungkan tubuh sebagai tubuh,
Dengan rajin, selalu waspada dan berhati-hati,
Dan telah melepaskan keinginan dan kegelisahan terhadap dunia,
Ia terus menerus merenungkan perasaan sebagai perasaan,
Dengan rajin, selalu waspada dan berhati-hati,
Dan telah melepaskan keinginan dan kegelisahan terhadap dunia.
Ia terus menerus merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran,
Dengan rajin, selalu waspada dan berhati-hati,
Dan telah melepaskan keinginan dan kegelisahan terhadap dunia.
Inilah yang disebut dengan perhatian benar.

Apa konsentrasi benar itu ?

Seorang bhikkhu telah meninggalkan kesenangan indria, memasuki dan berdiam di jhana pertama, dibarengi pemikiran dan pemeriksaan (ketekunan awal dan terus menerus)
Terlahir dari kesendirian, dipenuhi suka cita dan kegembiraan.

Dan dengan meredanya pemikiran dan pemeriksaan,
Memiliki ketenangan dalam diri sendiri dan kemanunggalan pikiran,
Memasuki dan berdiam dalam jhana kedua,
Yang tanpa pemikiran dan pemeriksaan (ketekunan awal dan terus menerus)
Terlahir dari konsentrasi, dipenuhi suka cita dan kegembiraan.

Selanjutnya dengan memudarnya kebahagiaan,
Berdiam dengan ketenangan yang kokoh,
Penuh perhatian dan waspada,
Keadaannya ini dinyatakan para ariya sebagai berikut :
“Dia tenang seimbang, waspada, orang yang berdiam dengan bahagia”
Ia memasuki Jhana Ketiga

Setelah meninggalkan kesenangan dan penderitaan, dan
Dengan lenyapnya kegembiraan dan kesedihan
Ia memasuki dan berdiam di Jhana Keempat
Yang tidak menyakitkan maupun menyenangkan,
Dan di murnikan lewat ketenangan dan kewaspadaan,
Inilah yang disebut sebagai konsentrasi benar

Inilah yang disebut dengan Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan.

Monday, December 26, 2005

(4 Kebenaran Mulia) Kebenaran Mulia tentang Berhentinya Dukkha ?


Apa itu berhentinya penderitaan ?

Ia adalah penghentian dan pemadaman sempurna dari keinginan,
Ia adalah peninggalan dan pelepasan,
Pembebasan diperoleh darinya,
Pemisahan diperoleh darinya.

Dan bagaimana kemelekatan ini dapat dihentikan,
Bagimana penghentian ini bisa terjadi ?

Dimanapun juga di dalam dunia ini, dimana terdapat suatu yang ramah dan menyenangkan,
Disinilah penghentiannya dapat terjadi.

Dan apa itu, yang berada di dunia ini, yang ramah dan menyenangkan ?

Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran penciuman, kesadaran pengecapan, kesadaran sentuhan, kesadaran pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Kontak mata, kontak telinga, kontak penciuman, kontak pengecapan, kontak sentuhan, kontak pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Perasaan lahir dari kontak mata, kontak telinga, kontak penciuman, kontak pengecapan, kontak sentuhan, kontak pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Pencerapan dari penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Kehendak berkenaan dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Nafsu keinginan berkenaan dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Pemikiran kuat tentang penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Pengidaman tentang penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Semua penjelasan inilah adalah ramah dan menyenangkan di dunia, dan di sana lah kemelekatan dapat dibebaskan serta penghentian dapat terjadi
Inilah, yang disebut sebagai Kebenaran Mulia tentang Berhentinya Dukkha (Penderitaan).

Sunday, December 25, 2005

(4 Kebenaran Mulia) Kebenaran Mulia tentang Asal Dukkha ?


Bagaimana asal mulanya dukkha (Penderitaan) ?

Ia adalah keinginan
Yang menyebabkan kelahiran,
Terikat oleh kesenangan dan nafsu,
Mencari kepuasaan kesana kemari, yaitu :


Yang dikatakan
Keinginan pada nafsu duniawi,
Keinginan untuk ada,
Keinginan untuk tidak ada.

Dan dimana keinginan ini muncul dan membangun dirinya ?
Kapan saja di dunia terdapat segala sesuatu yang ramah dan menyenangkan,
Di sana keinginan akan muncul dan membangun dirinya.

Dan apakah yang ramah dan menyenangkan di dunia ini ?

Mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Kesadaran mata, kesadaran telinga, kesadaran penciuman, kesadaran pengecapan, kesadaran sentuhan, kesadaran pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Kontak mata, kontak telinga, kontak penciuman, kontak pengecapan, kontak sentuhan, kontak pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Perasaan lahir dari kontak mata, kontak telinga, kontak penciuman, kontak pengecapan, kontak sentuhan, kontak pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Pencerapan dari penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Kehendak berkenaan dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Nafsu keinginan berkenaan dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Pemikiran kuat tentang penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Pengidaman tentang penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, objek-objek pikiran adalah ramah dan menyenangkan di dunia ini.

Semua penjelasan inilah adalah ramah dan menyenangkan di dunia, dan di sana lah keinginan muncul dan membangun dirinya.

Inilah, yang disebut sebagai Kebenaran Mulia tentang Asal Dukkha (Penderitaan).

(4 Kebenaran Mulia) Kebenaran Mulia tentang Dukkha/Penderitaan


Apa itu Dukkha ?

Kelahiran adalah dukkha;
Usia tua adalah dukkha;
Kematian adalah dukkha;
Kesedihan, ratapan, sakit, ketidaksenangan, dan keputus-asaan adalah dukkha;
Dekat dengan yang tidak dicintai adalah dukkha;
Terpisah dari yang dicintai adalah dukkha;
Tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah dukkha;
Secara singkat, lima kelompok kemelekatan adalah dukkha.

Apa itu kelahiran ?

Dalam makhluk apapun, dari kelompok makhluk apapun,
Disana terdapat kelahiran, menjadi, dan berlangsung,
Timbulnya kelompok-kelompok kemelekatan,
Terdapatnya landasan-landasan indria,
Inilah, yang disebut Kyuelahiran.

Apa itu usia tua ?

Dalam makhluk apapun, dari kelompok makhluk apapun,
Disana terdapat usia tua, jompo, ompong,
Rambut berubah, kulit berkeriput, menyusut oleh waktu, lumpuhnya panca indria,
Inilah,yang disebut usia tua.

Apa itu kematian ?

Dalam makhluk apapun, dari kelompok makhluk apapun,
Disana terdapat kematian, sebuah peninggalan, sebuah penghentian,
Sebuah kehilangan, sebuah kematian, sebuah akhir,
Sebuah penghentian dari kelompok-kelompokm sebuah penghentian penggunaan tubuh,
Inilah, yang disebut kematian

Apa itu kesedihan ?

Kapanpun juga, oleh berbagai ketidakberuntungan,
Seorang dipengaruhi oleh keadaan yang menyakitkan,
Sedih, berkabung, kesukaran,
Sakit hati, kesengsaraan
Inilah, yang disebut dukacita

Apa itu ratapan ?

Kapanpun juga, oleh karena berbagai ketidakberuntungan,
Seorang dipengaruhi oleh keadaan yang menyakitkan dan
Disana terdapat tangisan, ratapan,
Membuat berbagai suara dalam melampiaskan kesedihan,
Keluh kesah yang tiada hentinya,
Inilah, yang disebut ratapan.

Apa itu kesakitan ?

Apapun itu perasaan sakit fisik,
Perasaan tidak menyenangkan pada fisik,
Perasaan sakit atau tidak menyenangkan sebagai hasil dari kontak fisik,
Inilah, yg disebut kesakitan

Apa itu ketidak-senangan ?

Apapun itu perasaan sakit mental,
Perasaan tidak menyenangkan pada mental,
Sensasi sakit atau tidak menyenangkan sebagai hasil dari kontak mental,
Inilah, yang disebut ketidak-senangan

Apa itu keputus-asaan ?

Kapanpun juga, oleh berbagai ketidakberuntungan,
Seorang dipengaruhi oleh keadaan yang menyakitkan,
Keputus-asaan, keputus-asaan besar,
Menderita oleh keputus-asaan,
Inilah, yang disebut keputus-asaan

Apa itu dekat dengan yang tidak disukai ?

Disini, siapa saja yang tidak diinginkan,
Tidak disukai, tidak menyenangkan bagi objek penglihatan, pendengaran, penciuman,perasa, sentuhan atau objek pikiran, atau siapa saja yang bertemu dengan seseorang yang berniat buruk, berniat jahat, tidak menyenangkan, tidak aman,
Dengan siapa mereka harus berkumpul, bergaul, berhubungan, bersatu,
Inilah yang disebut dekat dengan yang tidak disukai.



Apa itu berpisah dari yang dicintai ?

Disini, siapa saja yang diinginkan,
Disukai, disenangi oleh objek penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, sentuhan atau objek pikiran, atau siapa saja yang bertemu dengan seseorang yang berniat sehat, berniat baik, nyaman dan aman, dari ibu, ayah, saudara atau sanak keluarga, teman atau kolege, atau hubungan darah, dan kemudian mereka terpisah dari perkumpulan, pergaulan, hubungan atau persatuan seperti ini,
Inilah, yang disebut berpisah dari yang dicintai

Apa itu tidak memperoleh apa yang diinginkan ?

Pada makhluk-makhluk yang terlahir kembali, akan muncul harapan demikian :
“Oh, seandainya kita tidak terlahir, seandainya kita bisa menghindari kelahiran!”
Tetapi hal ini tidak bisa dicapai oleh harapan, seseorang tidak dapat memperoleh apa yang diharapkannya.

Pada makhluk-makhluk yang menghadapi usia tua, penyakit, kematian, kesedihan, ratapan, ketidaksenangan, kesakitan, dan putus asa, akan muncul harapan demikian :
“Oh, seandainya kita tidak mengalami usia tua, …, putus asa, seandainya kita bisa menghindari hal-hal demikian!”
Tetapi hal ini tidak bisa dicapai oleh harapan, seseorang tidak dapat memperoleh apa yang diharapkannya.

Apa itu 5 kelompok kemelekatan ?

Mereka adalah :

Kelompok jasmani yang timbul adalah kemelekatan
Kelompok perasaan yang timbul adalah kemelekatan
Kelompok pencerapan yang timbul adalah kemelekatan
Kelompok bentuk-bentuk pikiran yang timbul adalah kemelekatan
Kelompok kesadaran yang timbul adalah kemelekatan
Secara singkat, mereka adalah 5 kelompok kemelekatan yang merupakan dukkha.
Inilah, yang disebut sebagai Kebenaran Mulia tentang Dukkha (Penderitaan)

Wednesday, December 21, 2005

Khotbah Pertama Sang Buddha


Setelah Sang Buddha mencapai penerangan sempurna, Ajaran pertama yang dibabarkan oleh Beliau adalah 4 kebenaran mulia yang disebut dengan Cattari Ariya Saccani (Bahasa Pali).

Apa saja ke 4 kebenaran itu, mari kita singgung beberapa pertanyaan ini :
1. Apakah itu penderitaan ?
2. Mengapa kita menderita ?
3. Bagaimana berhentinya penderitaan ?
4. Bagaimana jalan menuju lenyapnya penderitaan ?

Mari kita bahas satu persatu.

1. Apakah itu penderitaan ?

Penderitaan itu harus dipahami dengan mengetahui apa saja aspek-aspek dari penderitaan itu sendiri, semua manusia hidup tidak lepas dari penderitaan, yang disebut sebagai dukkha (Dukkha ariya sacca). Penderitaan itu adalah :
a. Kelahiran (Jati)
b. Kehilangan (Jara)
c. Penyakit (Vyadhi), terdiri dari :
1. Kesedihan (Saka)
2. Ratapan (Parideva)
3. Menyakitkan (Dukkha)
4. Ketidaksenangan (Domanassa)
5. Keputus-asaan (Upayasa)
d. Kematian (Marana)
e. Berkumpul dengan yang tidak menyenangkan (Appiyehisampayoga)
f. Berpisah dari yang dicintai (Piyehivippayoga)
g. Tidak memperoleh sesuatu yang diinginkan (Yampiccam nalabhati tampi dukkham)
h. Pendek kata, kelima unsur adalah penderitaan (Samkhittena pancupadanakkhanda dukkha)

2. Mengapa kita menderita ?

Penderitaan itu harus dipahami dengan asal mulanya munculnya penderitaan, secara garis besar, penderitaan ini berawal dari keingin yang di dasari oleh lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (kebodohan).Penyebab dukkha harus dihapus (Dukkha samudaya ariya sacca)

Secara garis kecil, Penderitaan disebabkan oleh keinginan (Tanha), yaitu :
a. Keinginan hawa nafsu (Kama tanha)
b. Keinginan untuk kehidupan abadi (Bhava tanha)
c. Keinginan untuk pembinasaan diri (Vibhava tanha)

3. Bagaimana berhentinya penderitaan ?

Jika kita dapat menghapus asal mulanya penyebab penderitaan dan mengembangkan diri dengan baik berdasarkan jalan menuju lenyapnya dukkha, berhentinya dukka harus dicapai (Dukkha nirodha ariya sacca)

Berhentinya penderitaan berarti kita telah mencapai pencerahan (Nibbana) atau disebut sebagai kebahagiaan tertinggi atau pembebasan tertinggi, Sang Buddha telah mencapai Nibbana.

4. Bagaimana jalan menuju lenyapnya penderitaan ?

Dengan menjalankan 8 jalan utama atau 8 jalan tengah atau jalan mulai berunsur delapan, Jalan menuju lenyapnya dukkha harus dikembangkan (Dukkha nirodha gamini patipada ariya sacca)

Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya atthangika magga), terbagi menjadi 3 bagian, yaitu:

a. Kebijaksanaan (Panna)
1. Pandangan Benar (Samma ditthi)
2. Pemikiran Benar (Samma sankappa)

b. Moralitas (Sila)
3. Ucapan Benar (Samma vaca)
4. Perbuatan Benar (Samma kammanta)
5. Mata Pencahariaan Benar (Samma ajiva)

c. Perkembangan Mental (Samadhi)
6. Daya Upaya Benar (Samma vayama)
7. Perhatian Benar (Samma sati)
8. Konsentrasi Benar (Samma samadhi)

NB : Empat kebenaran mulia ini merupakan salah satu intisari dari ajaran Sang Buddha, Sang Buddha mengawali dengan sebuah kerangka penyebab penderitaan dan jalan menuju kebahagiaan. Ini adalah penjelasan dari Beliau mengenai kebenaran manusia dan bagaimana cara dan metoda yang jelas dan nyata.

Tuesday, December 20, 2005

Siapakah Sang Buddha ?


Suatu waktu, seorang Brahmana terkenal yang bernama Dona, memperhatikan 32 tanda sifat dari Sang Buddha, Mendekati Beliau dan kemudian bertanya :

“Yang Mulia, apakah Anda adalah seorang Dewa?”
“Tidak, sesungguhnya Brahmana, seorang Dewa bukanlah diri-ku,” jawab Sang Buddha
“Kalo begitu, Yang Mulia adalah seorang Gandhabba?”
“Tidak, sesungguhnya Brahmana, seorang Gandhabba bukanlah diriku”
“Seorang Yakkha bila begitu ?”
“Tidak, sesungguhnya Brahmana, bukan seorang Yakkha.”
“Kalau begitu, Yang Mulia adalah seorang manusia ?”
“Tidak, sesungguhnya, Brahmana, seorang manusia bukanlah diriku.”
“Bila demikian, dengan penuh permohonan, siapakah Yang Mulia ?”

Sang Buddha menjawab bahwa Beliau telah memusnahkan semua kekotoran yag dapat mengakibatkan kelahiran kembali baik sebagai seorang Dewa, Gandhabba, Yakka, atau seorang manusia dan menambahkan :

“Bagaikan sekutum teratai, bersih dan indah,
Oleh air tidak terkotori,
Oleh dunia Aku tidak terkotori;
Karena itu, Brahmana, Aku adalah Buddha.”

NB : Sang Buddha bukanlah Tuhan, Sang Buddha awalnya adalah manusia biasa dan kemudian mencapai penerangan sempurna sehingga disebut sebagai Buddha, Pada umunya, Kita menyebut Sang Buddha sebagai guru manusia.

Apa itu MANUSIA ?


Apa itu manusia,bagaimana pula manusia itu terbentuk, terdiri dari apa saja manusia, bagaimana kita mendeskripisi manusia itu sendiri ??

Manusia terbentuk dari 2 kelompok utama yang disebut dengan jiwa dan batin atau jasmani dan batiniah.

a. Jasmani atau Rupa (bahasa Pali) terdiri dari 4 kelompok besar yaitu :
1. Unsur padat (tanah) Pathavi
2. Unsur cair Apo
3. Unsur panas Tejo
4. Unsur gerak (angin) Vayo

Jasmani atau tubuh manusia mempunyai 32 jenis organ tubuh, seperti tulang, lambung, darah, usus, dsb.b. Batin atau Nama (bahasa Pali) terdiri dari 4 kelompok besar yaitu :
1. Perasaan (Vedana)
2. Pencerapan (Sanna)
3. Bentuk-bentuk pemikiran (Sankhara)
4. Kesadaran (Vinnana)

Semua keterangan di atas dapat di sebut sebagai Panca Khandha, yaitu 5 kelompok, Jadi, manusia terdiri dari 5 kelompok, yakni :
1. Jasmani (Rupa)
2. Perasaan (Vedana)
3. Pencerapan (Sanna)
4. Bentuk-bentuk pemikiran (Sankhara)
5. Kesadaran (Vinnana)

Ketika kita ditanya, apakah itu manusia ? Kita mempunyai jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu, manusia itu terdiri dari jasmani, seperti badan, tulang, darah, empedu, dsb, manusia mempunyai perasaan, seperti perasaan sedih, senang, ragu, iba,dsb, manusia mampu mencerap segala sesuatu, misalnya manusia mempunyai persepsi terhadap segala hal, manusia juga mempunyai bentuk-bentuk pemikiran, seperti pikiran jahat, pikiran baik, dsb dan terakhir manusia memiliki kesadaran.

Apabila ditelusuri lebih dalam, sebenarnya manusia hanya sebuah nama, sebuah nama yang menjadi kesepakatan bersama, manusia tidak dapat di artikan secara nyata, karena manusia terbagi atas berbagai komponen-komponen yang disebut Panca Khandha (5 kelompok).

Sunday, December 18, 2005

Biodata Sang Buddha Siddhatta Gotama


Nama : Siddhatta (artinya: tercapailah cita-citanya) Gotama (adalah: nama keluarga)

Sebelum kelahiran terakhir : Di Surga Tusita

Tahun kelahiran : 623 S.M

Tempat : Taman Lumbini di Kapilavatthu (Perbatasan India dengan Nepal sekarang)

Ayah : Raja Suddhodana bangsawan dari Suku Sakya

Ibu : Ratu Maha Maya (Meninggal setelah Sang Buddha lahir)

Ibu asuh : Maha Pajapati Gotama (Adik Sang Ratu yang kemudian dengan Sang Raja)

Guru Sang Raja : Asita (dikenal juga sebagai sebutan Kaladeva, tersenyum saat pertama kali melihat Sang Buddha dan kemudian menangis)

Menikah : Pada usia 16 tahun

Istri : Putri Yasodara

Anak : Rahula (artinya : Belenggu)

Meninggalkan keduniawian : Pada usia 29 tahun

Guru pertama : Alara Kalama (Alam kekosongan-akincannayatana)

Guru Kedua : Uddaka Ramaputta (Alam bukan pencerapan maupun tidak bukan pencerapan-N’eva sanna N’asannayatana)

Mencapai pencerahan : Pada usia 35 tahun (Sejak itu Beliau dikenal sebagai Sakyamuni atau Buddha Gotama)

Yang mengudang mengajar : Brahma Sahampati

Parinibbana/wafat : Pada usia 80 tahun (534 S.M)

Kisah Para Hakim


Suatu hari, beberapa bhikkhu sedang berjalan pulang dari menerima dana makanan, ketika hujan turun dan mereka berteduh di suatu gedung pengadilan. Saat berada di sana, mereka melihat bahwa beberapa orang hakim, setelah menerima suap, membebaskan suatu perkara.

Mereka melaporkan masalah ini kepada Sang Buddha dan Beliau berkata, “Para bhikkhu! Dalam memutuskan suatu perkara, jika seseorang terpengaruh oleh rasa kasihan atau pertimbangan keuangan, dia tidak dapat disebut sebagai ‘si adil’ atau ‘hakim yang patut pada hakim’. Jika seseorang menimbang bukti-bukti dengan teliti dan memutuskan suatu kasus secara tidak memihak, maka ia disebut ‘si adil’ atau ‘hakim yang patut pada hukum’.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 256 dan 257 :

Orang yang memutuskan segala sesuatu dengan tergesa-gesa tidak dapat dikatakan sebagai orang yang adil. Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti mana yang benar dan mana yang salah.

Orang yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-tega, bersikap adil dan tidak berat sebelah, yang senantiasa menjaga kebenaran, pantas disebut orang yang adil.

(Dhammapada 19, dhammattha vagga 256-257)

(Dhammates) Latihan Pengetahuan Kitab suci Majjhima Nikaya


Soal ini dikutip dari kitab suci Sutta Pitaka (Majjhima Nikaya)

Pilihlah salah satu jawaban yang anda anggap paling benar.

1. Mana yang lebih baik dan menyenangkan di antara alam-alam ini ?
a. Peta
b. Asura
c. Yama
d. Tusita

2. Ada beberapa macam alam menyedihkan (apaya), kecuali :
a. Niraya
b. Tirracchana
c. Yama
d. Peta

3. Di antara binatang-binatang, binatang manakah yang lebih dahulu di bumi ini ?
a. kupu-kupu
b. semut
c. binatang berkaku empat
d. ular

4. Apakah pengetahuan langsung yang digunakan untuk mengetahui suatu kebenaran dengan jelas dan benar ?
a. Patticassamupada
b. Tilakkhana
c. Punabbhava
d. Abhinna

5. Ada 5 macam rintangan batin (nivarana), kecuali
a. Kemalasan
b. Kekhawatiran
c. Keragu-raguan
d. Kelahiran kembali

Kunci Jawaban :
1. d
2. c
3. a
4. d
5. d
Bagus . Perbanyak dan kuasai materi pemahaman terhadap kitab suci agama Buddha, Semoga berhasil

Kisah Kekalahan Raja Kosala


Dalam pertempuran melawan Ajatasattu, Raja Kbosala kalah 3 kali. Ajatasattu adalah anak dari Raja bimbisara dan Ratu Vedehi, saudara perempuan dari Raja Kosala. Raja Kosala malu dan sangat sedih atas kekalahannya. Kemudian dia mengeluh “ Sungguh memalukan ! Saya bahkan tidak dapat menaklukkan anak yang masih berbau susu ibunya. Lebih baik saya meninggal dunia. “ Merasa sedih dan sangat malu raja menolak makan, dan terus berbaring.

Berita tentang kesedihan sang raja menyebar seperti api yang liar dan ketika Sang Buddha mendengar perihal itu, Beliau berkata, “ Para bhikkhu ! Pada diri seseorang yang menang, permusuhan dan kebencian meningkat, seseorang yang dikalahkan akan menderita kesakitan dan kesukaran “

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 201 berikut :

Kemenangan menimbulkan kebencian, dan yang kalah hidup dalam penderitaan. Setelah dapat melepaskan diri daru kemenangan dan kekalahan, orang yang penuh damai akan hidup bahagia.

(Dhammapada 15, suka vagga 201)

Friday, December 16, 2005

Skema Tipitaka (Kitab suci Sang Buddha )


Kita sebagai umat buddha, yang paling umum harus kita ketahui adalah kitab suci agama buddha, Ajaran-ajaran/khotbah-khotbah Sang Buddha semuanya di rangkum dalam satu bagan yaitu : Tipitaka, yang artinya tiga keranjang.

Kitab suci agama Buddha pada zaman dahulu di tulis dalam bahasa pali (bahasa yang di gunakan sehari-hari di India sebelum masehi) di daun lontar, daun lontar masih tersimpan utuh di vihara alu, Srilangka, sekarang banyak beredar buku bacaan tipitaka saduran dari daun lontar bisa di dapat di toko-toko buku atau vihara.

Inilah Skema/bagan/pembagian kitab suci agama Buddha Tipitaka.

Agar lebih mudah di ingat/pelajari, buatlah skema Tipitaka di atas sebuah karton dan tempelkan di dinding rumah/kamar anda.

Tipitaka terbagi atas 3 bagian :

1. VINAYA PITAKA : berisi peraturan & disiplin bagi bhikkhu/ni & samanera/ri (terdiri dari 5 kitab)

a. Parajika
b. Pacittiya
c. Mahavagga
d. Culavagga
e. Parivara

2. SUTTA PITAKA : berisi kumpulan khotbah Sang Buddha (terdiri dari 5 Nikaya)

a. Digha Nikaya : berisi khotbah ukuran panjang 34 sutta.
1. Silakkhanda vagga (13 sutta)
2. Maha vagga (10 sutta)
3. Pathika vagga (11 sutta)

b. Majjhima Nikaya : berisi khotbah ukuran sedang (5 vagga) 152 Sutta.
1. Mula Pannasa
a. Mula pariyaya vagga (10 sutta)
b. Silanda vagga (10 sutta)
c. Opamma vagga (10 sutta)
d. Culamaya vagga (10 sutta)

2. Majjhima Pannasa
a. Gahapati vagga (10 sutta)
b. Bhikkhu vagga (10 sutta)
c. Paribbajaka vagga (10 sutta)
d. Raja vagga (10 sutta)
e. Culamayaka vagga (10 sutta)

3. Uppari Pannasa
a. Devadaha vagga (10 sutta)
b. Anupada vagga (10 sutta)
c. Sunnata vagga (10 sutta)
d. Vibhanga vagga (10 sutta)
e. Salayatana vagga (10 sutta)

c. Samyutta Nikaya : berisi 5 Samyutta (7.762 sutta)
1. Sagatha ragga samyutta
2. Nidana ragga samyutta
3. Khanda ragga samyutta
4. Salayata ragga samyutta
5. Maha raga samyutta

d. Anguttara Nikaya : berisi 11 Nipata (9.557 sutta)
1. Ekaka Nipata
2. Duka Nipata
3. Tika Nipata
4. Cattuka Nipata
5. Pancaka Nipata
6. Chakka Nipata
7. Sattaka Nipata
8. Attaka Nipata
9. Navaka Nipata
10. Dasaka Nipata
11. Ekadasaka Nipata

e. Khuddaka Nikaya : berisi 15 kitab
1. Khuddaka Patta
2. Dhammapada
3. Udana
4. Ittivuttaka
5. Sutta Nipata
6. Vimana vatthu
7. Peta vatthu
8. Thera vatthu
9. Theri vatthu
10. Jataka
11. Nidessa
12. Patismbhidamaga
13. Apadana
14. Buddhavamsa
15. Carita pitaka

3. ABHIDHAMMA PITAKA : berisi tentang ilmu jiwa, metafisika, filsafat Buddha (terdiri dari 7 kitab )
a. Dhamma sangani
b. Dhatukattha
c. Puggala Pannati
d. Katha vatthu
e. Yamaka
f. Patthana