.

.

Pages

Tuesday, May 09, 2006

PERJUANGAN


Biarlah tubuhku tinggal tulang berbalut kulit, dan biarlah daging dan darahku mengering, selama belum tercapai apa yang dicapai dengan kekuatan, daya dan usaha manusiawi, aku tak akan berhenti berusaha (Majjhima Nikaya I)

Syair yang diambil dari kitab suci Tipikata ini dapat memberi pengertian bahwa hidup ini tidak lebih adalah perjuangan. Perjuangan untuk hidup memenuhi kebutuhan fisik maupun mental. Hidup tanpa berjuang diibaratkan sebagai orang mati, tidak bergerak dan kaku. Bahkan, binatang juga berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Namun, perjuangan hidup oleh Sang Buddha adalah suatu jalan kebenaran dan kesucian untuk mencapai tujuan yang tertinggi.

Semua hidup tidak terlepas dari penderitaan, bahagia merupakan penderitaan, kesedihan juga merupakan penderitaan, Oleh sebab itu Sang Buddha ada untuk mencari obat penderitaan hidup ini. Tentunya, Sang Buddha juga memerlukan perjuangan yang berat untuk mendapatkan obat tersebut. Mengapa Sang Buddha sanggup melakukan semua itu, kita tidak mampu ? Hanya dengan berjuang secara sungguh-sungguh menaklukkan dunia ketidakkekalan ini.
Berbicara mengenai ketidakkekalan, Sang Buddha melihat banyak perubahan dalam hidup manusia. Dari lahir, sakit dan mati yang terus berganti dan bernaung dalam roda samsara(penderitaan). Bertumimbal lahir dari satu alam ke alam lainnya tiada henti-hentinya. Tetapi, Sang Buddha telah berhasil menyelapkan ketidakkekalan ini menuju pembebasan sejati, yaitu dengan perjuangan yang tiada henti-hentinya.

Hidup ini juga tidak lepas dari Anatta (tanpa inti/tanpa aku yang sesungguhnya). Sang Buddha bersabda bahwa tubuh ini hanyalah sementara dan digunakan untuk menyambung hidup. Tidak ada diri yang dimiliki, bukan milik siapa-siapa, bukan milik saya dan bukan milik engkau. Maka tiada jiwa yang kekal. Semua mengalami kematian dan benda materi tidak dibawa pergi. Oleh sebab itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh terhadap semua yang ada/terbentuk di dunia ini. Tidak kekal, tidak memuaskan dan tanpa inti. Ketiga ini dikemas oleh Sang Buddha sebagai Tiga corak umum (Ti-lakkhana).

Dalam jalan memperjuangkan hidup ini. Masih ada beberapa fakta hidup yang harus dilewati, seperti ada orang yang ingin mencelakakan kita. Sang Buddha yang telah mencapai penerangan sempurna juga masih ada yang ingin mencelakainya. Namun, semua ini dapat ditaklukkan dengan kesabaran dan keteguhan hati. Janganlah membenci orang yang ingin mencelakai kita, karena kebencian tidak akan berakhir dengan kebencian, hanya dengan cinta kasih. Kita tidak boleh terjebak oleh kebenciannya. Namun, kita harus bersikap tenang dan tabah. Lama kelamaan semuanya akan berlalu. Berjuanglah dan jangan membenci orang yang telah mencelakai kita, karena secara tidak langsung mereka telah melatih kegigihan hati kita.
Di dunia ini juga banyak sekali orang yang ingin menipu, membual dan mengadu domba. Semua ini adalah kebodohannya yang dilandasi oleh keserakahannya (lobbha), Namun kita juga tidak boleh terpengaruh olehnya dengan mencontohi sikapnya yang penipu. Kita harus selalu sadar dan penuh perhatian. Hidup ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah lepas dari penipuaan. Berjuanglah dan jangan membenci orang yang telah menipu kita, karena secara tidak langsung mereka telah menambah pengalaman dan wawasan kita.

Orang yang telah memukul atau mencambuk kita, apakah kita perlu memukuli dan mencambuknya kembali ? Jika semua berbuat demikian. Dunia ini akan menjadi hancur dan terjadi perang dunia besar-besaran. Apa yang kita lakukan bila yang memukul dan mencambuk adalah orang tua kita. Apakah kita membalasnya ? Tentunya bukan dengan cara demikian, kita harus menyadari apakah kita yang berbuat keliru atau sebaliknya, kita harus selalu waspada dan bersikap tenang dalam menghadapi sesuatu. Berjuanglah terus dan jangan membenci orang yang telah memukul atau mencambuk kita, karena secara tidak langsung mereka telah membersihkan kamma buruk kita.

Bagaimana dengan orang yang telah meninggalkan/mencampakkan kita, apakah kita perlu bersedih dan mendendam atas perbuatan orang tersebut. Dewasa ini, banyak sekali pasangan yang menjadi depresi akibat ditinggalkan oleh kekasihnya kemudian mencoba membalas dendam dengan menghancurkan hidupnya atau memakan obat-obatan terlarang. Itu bukanlah jalan keluarnya. Mungkin orang yang meninggalkan/mencampakkan anda sudah tidak mempunyai ikatan kamma dengan anda atau karena kebodohannya. Maka kita harus selalu menyadari adanya annata (bukan milik). Terimalah dan berjuanglah dengan keras. Jangan membenci orang yang telah meninggalkan/mencampakkan anda, karena secara tidak langsung mereka telah mendidik kita untuk mandiri.

Begitu juga orang yang ingin menjatuhkan anda, orang yang menjerumuskan anda ke dalam lumpur. Begitu banyak orang di dunia ini bergulat dalam hal ini, saling menjatuhkan, saling menindas, saling menuding, dsb. Namun, janganlah berpikir semua ini akan menghancurkan hidup anda. Jika kita berpikir positif, maka hidup ini akan terasa indah dan sebaliknya jika kita berpikir semua negatif, hidup ini akan terasa gelap gulita. Terus berjuang dan jangan membenci orang yang telah menjatuhkan anda, karena secara tidak langsung mereka telah menguatkan kemampuan kita.

Selanjutnya yang paling sering ditemui adalah orang yang suka marah, suka mengunjing, suka mencaci maki dan suka mencela. Iri hati melihat keberhasilan orang lain, merasa sombong dengan kedudukannya dan kehebatannya. Orang-orang tersebut sering dijumpai hampir di seluruh lapisan masyarakat. Tidak peduli ia miskin, kaya, berpendidikan, bodoh dsb. Kita tidak boleh terpengaruh oleh semua keadaan ini dan selalu menjaga sifat asli dan murni. Berjuanglah menghadapi orang-orang seperti itu dan jangan membenci orang yang telah memarahi kita, karena secara tidak langsung mereka telah menumbuhkan ketenangan dan kebijaksanaan kita.

Dari semua penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang berbuat jahat adalah orang-orang yang diliputi oleh keserakahan (lobbha), kebencian (moha) dan kebodohan (moha). Dari ketiga ini yang menjadi akarnya atau landasannya adalah kebodohan (moha) dan yang paling berat adalah keserakahan (lobbha).

Setelah mengetahui itu semua, mari kita berjuang untuk menaklukkan lobbha, dosa dan moha. Jangan membenci dan terima kasihlah orang yang telah membuat kita kokoh, kuat dan berhasil.

Sebuah kata terakhir dari Sang Buddha sebelum maha parinibbana adalah : “ Segala sesuatu adalah tidak kekal, berjuanglah dengan sungguh-sungguh”. Mari kita tekadkan diri kita berjuang dengan sungguh-sungguh menuju nibbana (kebebasan sejati).