Pada hari ketujuh setelah Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu,
Puteri Yasodhara mendandani Pangeran Rahula dengan pakaian
yang bagus dan mengajaknya ke jendela. Dari jendela
itu mereka dapat melihat Sang Buddha sedang makan
siang. Puteri Yasodhara kemudian bertanya pada
Rahula, “Anakku, tahukah engkau siapa orang itu ?”.
Rahula menjawab, “Beliau adalah Sang Buddha, ibu”.
Yasodhara tak dapat menahan air matanya yang menitik
keluar dan berkata, “Anakku, petapa yang kulitnya kuning
keemasan dan tampak seperti Brahma dikelilingi oleh ribuan
muridnya adalah ayahmu. Beliau punya banyak harta
pusaka. Pergilah kepadanya dan mintalah harta pusaka
untukmu”.Pangeran Rahula, yang masih kecil itu kemudian pergi
mendekati Sang Buddha dan sambil memegang jari
tangan Sang Buddha mengatakan apa yang dipesankan
ibunya. Kemudian ia menambahkan, “Ayah, bahkan
bayangan ayah membuat hatiku senang. Selesai makan siang
Sang Buddha meninggalkan istana. Rahula mengikuti sambil terus
merengek, “Ayah, berikanlah aku harta pusaka. Kelak aku
akan menjadi raja, aku ingin memiliki harta pusaka.
Ayah, berikanlah aku warisan”. Tak ada orang yang
mencoba menghalang-halangi dan Sang Buddha sendiri
juga membiarkan Rahula berbuat demikian. Setibanya
di taman, beliau berpikir, “Rahula minta warisan
harta pusaka, tetapi semua harta dunia penuh dengan penderitaan.
Lebih baik Aku memberikan warisan berupa Tujuh Faktor
Penerangan Agung yang Aku peroleh bawah pohon Bodhi.
Dengan demikian akan mewarisi harta pusaka yang
paling mulia”.
Di vihara, Sang Buddha meminta YA Sariputta untuk
menahbiskan Rahula sebagai samanera. Rahula dengan
demikian merupakan samanera pertama. Mendengar
berita Rahula telah ditahbiskan menjadi samanera,
Raja Suddhodana merasa sedih sekali. Oleh karena itu ia mohon
kepada Sang Buddha agar seseorang yang akan ditahbiskan
menjadi bhikkhu atau samanera agar dengan ijin
orangtuanya. Sang Buddha menyetujui permohonan
tersebut dan mulai saat itu tidak mentahbiskan
bhikkhu atau samanera tanpa terlebih dahulu mendapat ijin dari
orangtuanya.
Rahula merupakan putera dari Pangeran
Siddhattha dan Puteri Yasodhara. Ketika Pangeran
Siddhattha mendengar berita bahwa isterinya telah
melahirkan seorang putera, mukanya menjadi pucat.
Pangeran mengangkat kepalanya menatap langit dan berkata, “Rahulajato,
bandhanam jatam” (Satu belenggu telah terlahir, satu
ikatan telah terlahir). Karena itulah maka bayi
yang baru lahir itu diberi nama Rahula. Kelahiran
Rahula disambut dengan pesta besar yang meriah.
Namun saat itu Pangeran Siddhattha telah bertekad
untuk meninggalkan istana untuk mencari jalan untuk membebaskan
manusia dari usia tua, sakit dan kematian.
Sesaat
sebelum meninggalkan istana, Pangeran Siddhattha pergi
ke kamar Puteri Yasodhara untuk melihat isteri dan anaknya.
Isterinya sedang tidur nyenyak dan memeluk bayinya.
Tangannya menutup muka sang bayi sehingga muka bayi
tidak dapat terlihat. Pangeran semula ingin menggeser
tangan isterinya untuk dapat melihat muka puteranya
itu, tetapi hal ini diurungkan karena takut hal itu
menyebabkan Puteri Yasodhara terbangun dan rencananya
untuk meninggalkan istana bisa gagal. Pangeran berkata dalam
hati, “Biarlah hari ini aku tidak melihat wajah anakku,
tetapi nanti setelah aku memperoleh apa yang kucari aku
akan datang kembali dan dengan puas dapat melihat
wajah anak dan isteriku”. Setelah itu Pangeran
Siddhattha meninggalkan istana dengan menunggang
kuda Kanthaka diikuti oleh kusirnya, Channa, untuk
berkelana mencari jalan kebahagiaan bagi umat
manusia.
Kepergian Pangeran Sidhattha memberikan kesedihan yang
mendalam bagi ayahnya, Raja Suddhodana terlebih pula
isterinya, Puteri Yasodhara. Rahula yang kehilangan
ayahnya diasuh dan dididik dengan penuh kasih
sayang dan tumbuh menjadi anak yang pandai dan baik
budi. Puteri Yasodhara sendiri ketika mendengar bahwa
Pangeran Siddhattha yang telah menjadi petapa memakai jubah
kuning, ia pun memakai jubah kuning, sewaktu mendengar petapa
Siddhattha hanya makan satu kali sehari, ia pun
makan hanya satu kali sehari. Demikian pula
mengikuti kehidupan petapa Siddhattha, Puteri
Yasodhara tidak lagi tidur di dipan yang tinggi dan mewah,
tidak lagi memakai untaian bunga dan wewangian.
Setelah
ditahbiskan oleh YA Sariputta, Rahula kini harus mengikuti
peraturan yang berlaku. Sebagai anak Rahula tidak dapat
memanggil ayah atau selalu berdekatan dengan Sang
Buddha. Ini mungkin merupakan kesedihan baginya
karena ia tidak dapat memperlakukan ayahnya sebagai
seorang ayah sehingga mendorongnya untuk melakukan
kenakalan-kenakalan kecil. Contohnya, suatu kali ia menunjukkan
arah yang salah kepada umat yang datang ke vihara dan
bertanya di mana dapat bertemu dengan Sang Buddha.
Hal ini terdengar oleh Sang Buddha yang segera menuju
ke kuti Rahula.
Rahula merasa bahagia ketika melihat
ayahnya datang menghampirinya. Sang Buddha lalu
meminta Rahula untuk menyiapkan sebaskom air.
Setelah Rahula membasuh kaki Sang Buddha, Sang Buddha bertanya,
“Rahula, dapatkah kamu minum air ini ?”
Rahula
menjawab, “Tidak, tadi air ini bersih, tetapi sekarang
sesudah dipakai membasuh kaki, air menjadi terlalu kotor untuk
diminum”
Sang Budhha lalu menyuruh Rahula membuang
air itu dan kembali dengan baskom yang sudah kosong.
Lalu Sang Buddha berkata, “Rahula, dapatkah kamu
menaruh makanan ke dalam baskom ini?”
Rahula menjawab, “Tidak saya tidak dapat menaruh makanan di baskom karena bekas tempat air kotor”.
Mendengar
jawaban Rahula Sang Buddha berkata, “Seseorang yang
mengetahui bahwa kebohongan adalah perbuatan buruk, tetapi
berbohong terus menerus dengan menyakiti orang lain adalah
seperti air yang kotor atau sebuah baskom yang sudah
kotor. Kejahatan mulai dengan berbohong, yang akan
mengundang kejahatan lain pada dirinya sendiri. Dan
penderitaan yang disebabkan oleh kebohongan tidak
akan dapat dielakkan oleh si pembuat kebohongan”.
Dengan kata-kata
yang disampaikan oleh Sang Buddha, sejak saat itu
Rahula dengan amat rajin mematuhi semua peraturan Sangha
dan menjadi seorang bhikkhu yang terkemuka dalam melaksanakan
perbuatan baik. Banyak orang memandang Rahula dengan
penuh simpati. Meskipun terlahir dan dididik sebagai
pangeran, Ia dapat melepaskan semua hak-hak
istimewanya dan pada usia demikian muda dapat
menjalani kehidupan suci dengan begitu baik. Namun adapula anggota
sangha yang memperlakukannya dengan tidak ramah dan
beberapa orang bhikkhu iri hati kepadanya. Menerima
perlakuan yang tidak menyenangkan itu merupakan
ujian berat baginya.
Pada suatu ketika, ketika YA Sariputta dan
Rahula sedang berpindapata di Rajagaha, seorang
perusuh melempar pasir ke mangkuk YA Sariputta dan
memukul Rahula. YA Sariputta mengingatkan Rahula, “Rahula,
engkau adalah siswa Sang Buddha. Perlakuan apapun yang kamu
terima, tidak boleh menyebabkan kemarahan masuk ke dalam
hatimu. Kamu harus selalu berbelas kasihan kepada
semua makhluk. Orang yang paling berani, orang yang
mencari penerangan, membuang kesombongan dan
memiliki keteguhan hati untuk mengatasi kemarahan”.
Rahula tersenyum dan terus berjalan sampai menemui sebuah sungai
dan membersihkan kotoran dari tubuhnya.
Rahula tidak
pernah membenci nasihat yang diberikan kepadanya.
Setiap bangun pagi ia mengambil segenggam pasir dan bertekad,
“Semoga hari ini saya mendapat nasihat sebanyak pasir ini”.
Semangatnya dapat terlihat dari kenyataan bahwa ia
melaksanakan latihan-latihan yang sangat sulit dan
keras, dengan cara tidak berbaring melainkan duduk
dalam posisi meditasi untuk tidur selama masa dua
belas tahun.
Pada usia dua puluh tahun, Rahula ditahbiskan menjadi
bhikkhu dengan pembimbing (upajjhaya) YA Sariputta
dan guru penahbisan resmi YA Moggallana. Selama
kurang lebih satu masa latihan musim hujan Rahula
melatih diri dengan sungguh-sungguh. Ketika itu Sang
Buddha yang mengetahui bahwa pikiran Rahula sudah matang,
membawanya ke hutan Andha dan mengajarkan ajaran yang dikenal
sebagai Nasihat Kecil untuk Rahula (Cullarahulovada
Sutta, Majjhima Nikaya) Rahula merasakan kegembiraan
setelah mendengar sabda Sang Buddha dan hatinya
terbebas dari kekotoran batin (asava) dan beliau
mencapai tingkat kesucian tertinggi yaitu Arahat.
Pada suatu kali
delapan tahun setelah mencapai tingkat Arahat,
terdapat para bhikkhu yang datang memakai tempat tidur YA Rahula.
Karena tidak menemukan tempat untuk beristirahat, YA
Rahula tidur di ruang terbuka di depan tempat Sang
Buddha. YA Rahula mencapai Parinibbana (wafat)
setelah wafatnya Sang Buddha, diperkirakan pada usia
lima puluh tahun. Dibangun sebuah stupa untuk menyimpan
peninggalan beliau.
Tuesday, June 26, 2012
Monday, June 18, 2012
Monday, June 11, 2012
Arti Mantra Usnisa Vijaya Bhagavati
Sembah sujud pada Bhikkhu Liao Ming, Guru Sakya Zheng Kong, Gyalwa
Karmapa XVI, Guru Th ubten Dhargye! Sembah sujud pada Triratna Mandala!
Sembah sujud pada adinata homa Usnisa Vijaya Bhagavati!
Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lhama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, selamat malam semuanya!
Pertama-tama, terima kasih sekali kepada Acarya Lianyue dari vihara Chung-kuan, selain itu, Acarya Lianhan, Acarya Lianhua Zhongchi, Acarya Liandeng, Acarya Lianmiao, dan seluruh umat se-Dharma yang bisa menjapa genap mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam, terima kasih sekali kepada mereka.
Mantra Usnisa Vijaya adalah penjelmaan dari terang Tathagata Usnisa, Usnisa Vijaya Bhagavati juga Tathagata Usnisa, Ia berarti yang sempurna di alam semesta. "Brum" ini, kita setiap kali menyempurnakan, selalu japa "Om. Bulin. Om. Bulin", sebenarnya "Om. Bulin" disebarkan ke Taiwan, baru dijapa "Om. Bulin.", boleh dikatakan, seharusnya "Brum. Om.", terang mahasiddhi yang dicapai dari perbauran antara terang Tathagata Usnisa yang sempurna di alam semesta dan terang kita sendiri, itulah arti mantra Usnisa Vijaya Bhagavati. Terang Tathagata Usnisa, ditambah dengan terang Buddhata hati kita sendiri, keduanya saling berbaur, itulah terang yang sangat sempurna dari alam semesta. Acarya Lianyue berkata pada saya, "Mohon Mahaguru menjelaskan arti mantra Usnisa Vijaya Bhagavati." Di sinilah artinya.
Sebenarnya, tadinya sempurna, dunia manusia mencemarkannya, tadinya sempurna, tak disangka dicemarkan oleh insan. Saya cerita sebuah cerita lucu, ada sebuah vihara, tadinya temboknya putih sekali, namun, banyak umat pergi berwisata, lalu menuliskan nama sendiri di atas tembok, "Sun Wukong berwisata ke sini", tak lama kemudian, tembok pun penuh dengan tulisan, setiap orang "datang berwisata ke sini", semua penuh. Begitu ketua vihara melihat, "Aduh! Insan memang demikian." Suatu hari, ia pun cari tukang cat, semua dicat menjadi putih, begitu ia berpikir, "Ini adalah vihara wisata, tetap ada orang yang akan menulis", ia sendiri pun menulis "Dilarang menulis di sini", kemudian dibaca oleh wisatawan yang datang, juga menulis satu kalimat, "Mengapa Anda lebih dulu menulis?" Datang satu orang lagi, begitu ia baca, ditambahkan lagi satu kalimat "Kalau mau tulis, biarkan saja", kemudian, datang satu orang lagi, begitu baca, ia menambahkan satu kalimat lagi, "Mari kita tulis sama-sama". Sehingga seluruh tembok itu pun tercemar lagi.
Wujud asli alam semesta -- wujud asli Usnisa Vijaya Bhagavati, tadinya Ia adalah seberkas sinar putih; Buddhata umat manusia, juga sama, seberkas sinar putih, tidak kotor dan tidak bersih, fenomena seluruh alam semesta, demikian sempurna, pikiran insanlah yang mencemarinya. Jadi, boleh dikatakan, japa mantra Usnisa Vijaya Bhagavati, berarti menemukan Buddhata anda sendiri, berbaur bersama Dharmakaya dari Buddha Dharmakaya yang suci, sehingga mencapai keberhasilan alam semesta, sesederhana itulah prinsipnya.
Banyak orang yang datang hari ini, banyak umat yang datang. Karena, kemarin saya di Vihara vajragarbha Taiwan mengatakan, di sini ada "Homa Penutupan Penjapaan Mantra Usnisa Vijaya Bhagavati 7 hari 7 malam" yang dipelopori Acarya Lianyue di pusat pertapaan Tucheng Chung-kuan Temple. Apa arti kita menjapa mantra ini? Membersihkan seluruh rintangan karma, membersihkan rintangan karma para mahkluk akhirat, semua terlahir di Buddhaloka; rintangan karma, karma penyakit, dan karma apapun selama turun-temurun berubah menjadi terang; meningkatkan kebijaksanaan terang kita; meningkatkan berkah terang kita, agar segalanya sempurna; segala musuh, juga berubah menjadi terang. Kita juga berharap di bawah mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam, segala kerisauan, semua berubah menjadi terang. Ini adalah satu peristiwa yang sangat baik! Asalkan segalanya berubah menjadi terang, segalanya pun berhasil, bagaimana pun, semua berhasil, kemudian, sinar ini melindungi dan menerangi kita, kita pun dapat bebas dari segala kerisauan.
Orang awam! Sama sekali beda dengan "kebenaran suci" kita, di hadapan para arya, segalanya adalah sempurna, homa sangat sempurna, saya juga melihat terang Usnisa Vijaya Bhagavati muncul. Ia pertama-tama muncul dalam fenomena membuat sebuah "jie" (penyelesaian), sepotong demi sepotong terang, demikian, memenuhi seluruh angkasa, kemudian berubah menjadi sebuah terang adarsa-jnana (kebijaksanaan cermin mahasempurna), di tengah adarsa-jnana duduk Usnisa Vijaya Bhagavati, sangat luar biasa, nyatalah bahwa mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam yang satu ini, saat sampai homa penutupan, segalanya sangat sempurna dan luar biasa.
Dunia itu beda, seperti kita di atas gunung, sangat bersih, di bawah gunung sudah beda, itu dunia orang awam. Kita di atas gunung berkumpul orang sebanyak ini, di bawah gunung tetap ada banyak orang, semoga sinar Usnisa Vijaya Bhagavati, juga mampu menerangi seluruh insan. Apa yang beda di bawah gunung? Konfl ik banyak sekali, rebut-rebutan, kacau balau; seluruh insan di bawah gunung kacau balau. Kacau balau apa? Juga ada sebuah "joke" (lelucon), akhir-akhir ini banyak kejadian demikan, ada seorang pasien, dibawa ke rumah sakit, rumah sakit mengobatinya, sehabis diobati, dibawa pulang lagi, aduh? Penyakit belum sembuh, tadinya tidak diobati masih lumayan, begitu diobati makin parah, menimbulkan konfl ik medis, anggota keluarga berkata, "Begini saja! Kita utus satu orang untuk bicara dengan dokter dulu, "Diobati makin parah", pergi marahi dia." Ia mengutus satu orang ke sana, tak lama kemudian, kembali lagi, kembali ke rumah, tuan rumah pun bertanya padanya, "Apakah Anda bertanya pada dokter itu? Memarahi dokter itu?" Ia berkata, "Saya tidak bisa menerobos masuk, karena orang yang memarahinya terlalu banyak.” Ia tidak memarahinya (maksudnya dokter), karena ia tidak bisa menerobos masuk, orang yang memarahinya terlalu banyak. Mengapa saya menceritakan ini? Karena konfl ik medis sekarang sangat banyak.
Manusia! Lumrah mengalami ketidakadilan, namun mau menyalahkan siapa? Memangnya dokter mau gagal mengobati anda? Apakah itu kecerobohan medis? Jika benar-benar kecerobohan medis, dokter seharusnya mengalami kerugian, karena ia harus ganti rugi, namun, jika bukan kecerobohan dokter? Melainkan karma penyakit pasien ini? Rintangan karma pasien ini? Banyak kejadian memang sangat aneh, obat yang sama, dokter yang sama, ia telah sembuh, obat yang sama, mengobati orang lain, ia tidak sembuh. Jadi, maksud saya menunjukkan contoh ini, hanya konfl ik medis saja sudah tidak ada habis-habisnya, konfl ik lainnya lebih banyak lagi. Kadang-kadang, bisa sembuh, kadang-kadang, tidak bisa sembuh, kadang-kadang bisa hidup, kadang-kadang tidak bisa hidup, apa sebabnya? Menurut kita umat Buddha, inilah rintangan karma, ada rintangan! Rintangan berwujud dan rintangan tak berwujud, sangat banyak. Rintangan berwujud bisa meminta keadilan; rintangan tak berwujud, di mana meminta keadilan?
Hari ini di atas gunung banyak orang, di bawah gunung juga banyak orang, insane yang tak terhitung banyaknya, yang mengerti Buddhadharma, tahu bahwa insane memiliki banyak rintangan karma, namun kita bersihkan lewat mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam, inilah kita orang di atas gunung, orang di bawah gunung yang sadhaka baru bisa membersihkan rintangan karma; insan di bawah gunung yang tidak mengerti membersihkan rintangan karma sendiri, ia menyalahkan yang berwujud, ia tidak tahu ada yang tak berwujud, hanya tahu yang berwujud saja. Sesungguhnya, setiap peristiwa yang terjadi, setiap konfl ik, sebagian besar terbentuk dari rintangan karma sendiri. Jadi, demi menyingkirkan rintangan karma sendiri, dan rintangan karma seluruh insan, kita semua harus dukung penjapaan mantra Usnisa Vijaya Bhagavati.
Lihat, tubuh manusia diobati pun tidak kunjung sembuh, lantas menyalahkan dokter, kalau begitu, topan? anda menyalahkan siapa? Banjir? Anda menyalahkan siapa? Gempa bumi? anda menyalakan siapa? Kebakaran? anda menyalahkan siapa? Terutama gempa bumi, anda lihat gempa bumi saja, gempa bumi mau menyalahkan siapa? Tidak ada yang bisa disalahkan! Juga tidak ada orang yang mengatakan gempa bumi menyalahkan pemerintah. Bahkan banjir pun bisa menyalahkan pemerintah, hujan deras, hujan lebat, wah! Dalam sehari turun curah hujan sebulan penuh, sehari turun curah hujan setahun penuh, lantas menyalahkan pemerintah. Gempa bumi? Maaf, gempa bumi menyalahkan siapa? Menyalahkan bumi?
Manusia jangan menyalahkan siapa-siapa, salahkan rintangan karma sendiri, salahkan diri sendiri tidak japa mantra Usnisa Vijaya Bhagavati, salahkan diri sendiri tidak membersihkan rintangan karma sendiri, salahkan diri sendiri tidak membersihkan kerisauan sendiri, jika anda dapat membersihkan rintangan karma sendiri, membersihkan kerisauan sendiri, ada satu nadi bernama "nadi pembuluh kristal", ketika mata anda melihat ke dalam, saat melihat Buddhata sendiri, lewat "nadi pembuluh kristal", melihat teratai di hati sendiri mekar, melihat pusat teratai muncul terang Buddhata, saat ini, anda pun tahu, kerisauan anda telah sirna semua, rintangan karma anda juga telah sirna semua, semoga kita semua dapat tekun menjapa mantra.
Gurudhara, Para Acarya, Dharmacarya, Lhama, Pandita Dharmaduta, Pandita Lokapalasraya, ketua vihara, para umat se-Dharma, selamat malam semuanya!
Pertama-tama, terima kasih sekali kepada Acarya Lianyue dari vihara Chung-kuan, selain itu, Acarya Lianhan, Acarya Lianhua Zhongchi, Acarya Liandeng, Acarya Lianmiao, dan seluruh umat se-Dharma yang bisa menjapa genap mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam, terima kasih sekali kepada mereka.
Mantra Usnisa Vijaya adalah penjelmaan dari terang Tathagata Usnisa, Usnisa Vijaya Bhagavati juga Tathagata Usnisa, Ia berarti yang sempurna di alam semesta. "Brum" ini, kita setiap kali menyempurnakan, selalu japa "Om. Bulin. Om. Bulin", sebenarnya "Om. Bulin" disebarkan ke Taiwan, baru dijapa "Om. Bulin.", boleh dikatakan, seharusnya "Brum. Om.", terang mahasiddhi yang dicapai dari perbauran antara terang Tathagata Usnisa yang sempurna di alam semesta dan terang kita sendiri, itulah arti mantra Usnisa Vijaya Bhagavati. Terang Tathagata Usnisa, ditambah dengan terang Buddhata hati kita sendiri, keduanya saling berbaur, itulah terang yang sangat sempurna dari alam semesta. Acarya Lianyue berkata pada saya, "Mohon Mahaguru menjelaskan arti mantra Usnisa Vijaya Bhagavati." Di sinilah artinya.
Sebenarnya, tadinya sempurna, dunia manusia mencemarkannya, tadinya sempurna, tak disangka dicemarkan oleh insan. Saya cerita sebuah cerita lucu, ada sebuah vihara, tadinya temboknya putih sekali, namun, banyak umat pergi berwisata, lalu menuliskan nama sendiri di atas tembok, "Sun Wukong berwisata ke sini", tak lama kemudian, tembok pun penuh dengan tulisan, setiap orang "datang berwisata ke sini", semua penuh. Begitu ketua vihara melihat, "Aduh! Insan memang demikian." Suatu hari, ia pun cari tukang cat, semua dicat menjadi putih, begitu ia berpikir, "Ini adalah vihara wisata, tetap ada orang yang akan menulis", ia sendiri pun menulis "Dilarang menulis di sini", kemudian dibaca oleh wisatawan yang datang, juga menulis satu kalimat, "Mengapa Anda lebih dulu menulis?" Datang satu orang lagi, begitu ia baca, ditambahkan lagi satu kalimat "Kalau mau tulis, biarkan saja", kemudian, datang satu orang lagi, begitu baca, ia menambahkan satu kalimat lagi, "Mari kita tulis sama-sama". Sehingga seluruh tembok itu pun tercemar lagi.
Wujud asli alam semesta -- wujud asli Usnisa Vijaya Bhagavati, tadinya Ia adalah seberkas sinar putih; Buddhata umat manusia, juga sama, seberkas sinar putih, tidak kotor dan tidak bersih, fenomena seluruh alam semesta, demikian sempurna, pikiran insanlah yang mencemarinya. Jadi, boleh dikatakan, japa mantra Usnisa Vijaya Bhagavati, berarti menemukan Buddhata anda sendiri, berbaur bersama Dharmakaya dari Buddha Dharmakaya yang suci, sehingga mencapai keberhasilan alam semesta, sesederhana itulah prinsipnya.
Banyak orang yang datang hari ini, banyak umat yang datang. Karena, kemarin saya di Vihara vajragarbha Taiwan mengatakan, di sini ada "Homa Penutupan Penjapaan Mantra Usnisa Vijaya Bhagavati 7 hari 7 malam" yang dipelopori Acarya Lianyue di pusat pertapaan Tucheng Chung-kuan Temple. Apa arti kita menjapa mantra ini? Membersihkan seluruh rintangan karma, membersihkan rintangan karma para mahkluk akhirat, semua terlahir di Buddhaloka; rintangan karma, karma penyakit, dan karma apapun selama turun-temurun berubah menjadi terang; meningkatkan kebijaksanaan terang kita; meningkatkan berkah terang kita, agar segalanya sempurna; segala musuh, juga berubah menjadi terang. Kita juga berharap di bawah mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam, segala kerisauan, semua berubah menjadi terang. Ini adalah satu peristiwa yang sangat baik! Asalkan segalanya berubah menjadi terang, segalanya pun berhasil, bagaimana pun, semua berhasil, kemudian, sinar ini melindungi dan menerangi kita, kita pun dapat bebas dari segala kerisauan.
Orang awam! Sama sekali beda dengan "kebenaran suci" kita, di hadapan para arya, segalanya adalah sempurna, homa sangat sempurna, saya juga melihat terang Usnisa Vijaya Bhagavati muncul. Ia pertama-tama muncul dalam fenomena membuat sebuah "jie" (penyelesaian), sepotong demi sepotong terang, demikian, memenuhi seluruh angkasa, kemudian berubah menjadi sebuah terang adarsa-jnana (kebijaksanaan cermin mahasempurna), di tengah adarsa-jnana duduk Usnisa Vijaya Bhagavati, sangat luar biasa, nyatalah bahwa mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam yang satu ini, saat sampai homa penutupan, segalanya sangat sempurna dan luar biasa.
Dunia itu beda, seperti kita di atas gunung, sangat bersih, di bawah gunung sudah beda, itu dunia orang awam. Kita di atas gunung berkumpul orang sebanyak ini, di bawah gunung tetap ada banyak orang, semoga sinar Usnisa Vijaya Bhagavati, juga mampu menerangi seluruh insan. Apa yang beda di bawah gunung? Konfl ik banyak sekali, rebut-rebutan, kacau balau; seluruh insan di bawah gunung kacau balau. Kacau balau apa? Juga ada sebuah "joke" (lelucon), akhir-akhir ini banyak kejadian demikan, ada seorang pasien, dibawa ke rumah sakit, rumah sakit mengobatinya, sehabis diobati, dibawa pulang lagi, aduh? Penyakit belum sembuh, tadinya tidak diobati masih lumayan, begitu diobati makin parah, menimbulkan konfl ik medis, anggota keluarga berkata, "Begini saja! Kita utus satu orang untuk bicara dengan dokter dulu, "Diobati makin parah", pergi marahi dia." Ia mengutus satu orang ke sana, tak lama kemudian, kembali lagi, kembali ke rumah, tuan rumah pun bertanya padanya, "Apakah Anda bertanya pada dokter itu? Memarahi dokter itu?" Ia berkata, "Saya tidak bisa menerobos masuk, karena orang yang memarahinya terlalu banyak.” Ia tidak memarahinya (maksudnya dokter), karena ia tidak bisa menerobos masuk, orang yang memarahinya terlalu banyak. Mengapa saya menceritakan ini? Karena konfl ik medis sekarang sangat banyak.
Manusia! Lumrah mengalami ketidakadilan, namun mau menyalahkan siapa? Memangnya dokter mau gagal mengobati anda? Apakah itu kecerobohan medis? Jika benar-benar kecerobohan medis, dokter seharusnya mengalami kerugian, karena ia harus ganti rugi, namun, jika bukan kecerobohan dokter? Melainkan karma penyakit pasien ini? Rintangan karma pasien ini? Banyak kejadian memang sangat aneh, obat yang sama, dokter yang sama, ia telah sembuh, obat yang sama, mengobati orang lain, ia tidak sembuh. Jadi, maksud saya menunjukkan contoh ini, hanya konfl ik medis saja sudah tidak ada habis-habisnya, konfl ik lainnya lebih banyak lagi. Kadang-kadang, bisa sembuh, kadang-kadang, tidak bisa sembuh, kadang-kadang bisa hidup, kadang-kadang tidak bisa hidup, apa sebabnya? Menurut kita umat Buddha, inilah rintangan karma, ada rintangan! Rintangan berwujud dan rintangan tak berwujud, sangat banyak. Rintangan berwujud bisa meminta keadilan; rintangan tak berwujud, di mana meminta keadilan?
Hari ini di atas gunung banyak orang, di bawah gunung juga banyak orang, insane yang tak terhitung banyaknya, yang mengerti Buddhadharma, tahu bahwa insane memiliki banyak rintangan karma, namun kita bersihkan lewat mantra Usnisa Vijaya Bhagavati selama 7 hari 7 malam, inilah kita orang di atas gunung, orang di bawah gunung yang sadhaka baru bisa membersihkan rintangan karma; insan di bawah gunung yang tidak mengerti membersihkan rintangan karma sendiri, ia menyalahkan yang berwujud, ia tidak tahu ada yang tak berwujud, hanya tahu yang berwujud saja. Sesungguhnya, setiap peristiwa yang terjadi, setiap konfl ik, sebagian besar terbentuk dari rintangan karma sendiri. Jadi, demi menyingkirkan rintangan karma sendiri, dan rintangan karma seluruh insan, kita semua harus dukung penjapaan mantra Usnisa Vijaya Bhagavati.
Lihat, tubuh manusia diobati pun tidak kunjung sembuh, lantas menyalahkan dokter, kalau begitu, topan? anda menyalahkan siapa? Banjir? Anda menyalahkan siapa? Gempa bumi? anda menyalakan siapa? Kebakaran? anda menyalahkan siapa? Terutama gempa bumi, anda lihat gempa bumi saja, gempa bumi mau menyalahkan siapa? Tidak ada yang bisa disalahkan! Juga tidak ada orang yang mengatakan gempa bumi menyalahkan pemerintah. Bahkan banjir pun bisa menyalahkan pemerintah, hujan deras, hujan lebat, wah! Dalam sehari turun curah hujan sebulan penuh, sehari turun curah hujan setahun penuh, lantas menyalahkan pemerintah. Gempa bumi? Maaf, gempa bumi menyalahkan siapa? Menyalahkan bumi?
Manusia jangan menyalahkan siapa-siapa, salahkan rintangan karma sendiri, salahkan diri sendiri tidak japa mantra Usnisa Vijaya Bhagavati, salahkan diri sendiri tidak membersihkan rintangan karma sendiri, salahkan diri sendiri tidak membersihkan kerisauan sendiri, jika anda dapat membersihkan rintangan karma sendiri, membersihkan kerisauan sendiri, ada satu nadi bernama "nadi pembuluh kristal", ketika mata anda melihat ke dalam, saat melihat Buddhata sendiri, lewat "nadi pembuluh kristal", melihat teratai di hati sendiri mekar, melihat pusat teratai muncul terang Buddhata, saat ini, anda pun tahu, kerisauan anda telah sirna semua, rintangan karma anda juga telah sirna semua, semoga kita semua dapat tekun menjapa mantra.
Labels:
Mantra,
Usnisa Vijaya Bhagavati
Thursday, June 07, 2012
Mantra Maha Karuna Dharani dalam berbagai versi
Mantra Maha Karuna Dharani / Nilakantha Dharani dalam berbagai versi dan bahasa.
Pertama, 3 versi Mantra Maha Karuna Dharani dalam bahasa Sansekerta...
Versi 1
Namo Ratna Trayaya.
Namah Arya Avalokitesvaraya
Bodhisattvaya Mahasattvaya Mahakarunikaya
Sarva Bandhana Chedana Karaya .
Sarva Bhava Samudram Sosana Karana.
Sarva Vyadhi Prasamana Karaya.
Sarva Mrtyu Upa-Drava Viansana Karana .
Sarva Bhaye Su Trana Karaya.
Tasmat Namas – Krtva Idam
Arya Avalokitesvara Bhastinam Nilakantha
Pi Nama Hrdayam Avarta Isyami
Sarvartha-sadhanam Subham Ajeyam
Sarva Bhutanam Bhava Marga Visuddhakam
Tadyatha, Om Aloke Aloka-mati Lokati Krante.
He Hare Arya Avalokitesvara
Maha bodhisattva , He Boddhisattva , He
Maha bodhisattva , He Virya Bodhisattva
He Mahakarunika Smara Hradayam.
Hi Hi , Hare Arya Avalokitesvara Mahesvara Parama
Maitra-Citta Mahakarunika.
Kuru Kuru Karman
Sadhaya Sadhaya Vidyam.
Ni Hi , Ni Hi Varnam Kamam-Game .
Vitta-Kama Vigama.
Siddha Yogesvara .
Dhuru Dhuru Viryanti, Maha Viryanti .
Dhara Dhara Dharendresvara.
Cala Cala Vimala Amala Murte
Arya Avalokitesvara Jina Krsna Jata-Makuta
Valam Ma Pra-Lamba Maha Siddha
Vidya dhara.
Vara Vara Maha Vara .
Bala Bala Maha Bala.
Cala Cala Maha Cala
Krsna-Varna Nigha Krsna – Paksa Nirghatana.
He Padma-Hasta Cara Cara Desa
Caresvara Krsna –Sarpa Krta Yajnopavita
Ehyehi Maha Varaha-Mukha,Tripura-Dahanesvara
Narayana Va Rupa Vara Marga Ari .
He Nilakantha , He Mahakara ,
Hala hala Visa Nir-jita Lokasya.
Raga Visa Vinasana.
Dvesa Visa Vinasana.
Moha Visa Vinasana
Huru Huru Mala, Huru Huru Hare, Maha Padmanabha
Sara Sara , Sri Sri , Suru Suru, Bhu ruc Bhu ruc
Buddhiya Buddhiya , Boddhaya Boddhaya
Maitri Nilakantha Ehyehi Vama
Shitha Simha-Mukha Hasa Hasa,
Munca Munca Mahattahasam Ehiyehi Pa
Maha Siddha Yogesvara
Bhana Bhana Vaco
Sadhaya Sadhaya Vidyam.
Smara Smaratam Bhagavantam Lokita
Vilokitam Lokesvaram Tathagatam Dadahi
Me Drasana Kamasya Darsanam
Pra-Hiadaya Mana Svaha.
Siddhaya Svaha.
Maha Siddhaya Svaha
Siddha Yogesvaraya Svaha
Nilakanthaya Svaha
Varaha-Mukhaya Svaha
Maha-dara Simha-Mukhaya Svaha
Siddha Vidyadharaya Svaha
Padma-Hastaya Svaha
Krsna-Sarpa Krta Yajnopavitaya Svaha
Maha Lakutadaharaya Svaha
Cakrayuddhaya Svaha
Sankha-Sabdani Bodhanaya Svaha
Vama Skandhadesa Shitha Krsnajinaya Svaha
Vyaghra-Carma Nivasanaya Svaha
Lokesvaraya Svaha
Sarva Siddhesvaraya Svaha
Namo Bhagavate Arya Avalokitesvaraya Bodhisattvaya
Maha Sattvaya Mahakarunikaya
Sidhyanthu Me Mantra-Padaya Svaha
Versi 2
Namo ratna-trayāya
Namo āriyā-valokite-śvarāya
Bodhi-sattvāya, Maha-sattvāya, Mahā-kārunikāya
Om sarva-raviye sudhanadasya
Namo skritvā imam āryā-valokite-śvara ramdhava
Namo narakindi hrih Mahā-vat-svāme
Sarva-arthato-śubham ajeyam
Sarva-sat Namo-vasat Namo-vāka mavitāto
Tadyathā
Om avaloki-lokate-krate-e-hrih Mahā-bodhisattva
Sarva sarva, Mala mala
Mahi Mahi ridayam, Kuru kuru karmam
Dhuru dhuru, vijayate Mahā-vijayati
Dhara dhara dhrini śvarāya
Cala cala mama vimala muktele
Ehi ehi śina śina ārsam prasari
viśva viśvam prasaya
Hulu hulu mara, Hulu hulu hrih
Sara sara siri siri suru suru
Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya
Maitreya narakindi dhrish-nina bhayamana svāhā
Siddhāya svāhā
Maha siddhāya svāhā
Siddha-yoge-śvaraya svāhā
Narakindi svāhā, Māranara svāhā
śira simha-mukhāya svāhā
Sarva mahā-asiddhaya svāhā
Cakra-asiddhāya svāhā
Padma-kastāya svāhā
Narakindi-vagalāya svaha
Mavari-śankharāya svāhā
Namo ratna-trāyāya
Namo āryā-valokite-śvaraya svāhā
Om Sidhyantu mantra padāya svāhā
Versi 3
Namo Ratna Trayaya. Namo Arya Jyana
Sagara Vairochana
Vyuha Rajaya Tathagataya
Arhate. Samyak Sambuddhaya
Namah Sarva Tathagatebyah
Arhatebyah. Samyak Sambuddhe Byah
Namo Arya Avalokite Svaraya
Boddhisattvaya, Mahasattvaya, Mahakarunikaya
Tadyatha Om Dhara Dhara
Dhiri Dhiri Dhuru Dhuru
Iti Vaitte Chale Chale Pra Chale Pra Chale
Kusume Kusuma Vare, Ili Mili Chitiwala mapanaya Svaha
Trus yang ini mantra Maha Karuna Dharani dalam berbagai bahasa dari yang versi nomor 2......
Sanskrit
Namo ratna-trayāya
Namo āriyā-valokite-śvarāya
Bodhi-sattvāya, Maha-sattvāya, Mahā-kārunikāya
Om sarva-raviye sudhanadasya
Namo skritvā imam āryā-valokite-śvara ramdhava
Namo narakindi hrih Mahā-vat-svāme
Sarva-arthato-śubham ajeyam
Sarva-sat Namo-vasat Namo-vāka mavitāto
Tadyathā
Om avaloki-lokate-krate-e-hrih Mahā-bodhisattva
Sarva sarva, Mala mala
Mahi Mahi ridayam, Kuru kuru karmam
Dhuru dhuru, vijayate Mahā-vijayati
Dhara dhara dhrini śvarāya
Cala cala mama vimala muktele
Ehi ehi śina śina ārsam prasari
viśva viśvam prasaya
Hulu hulu mara, Hulu hulu hrih
Sara sara siri siri suru suru
Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya
Maitreya narakindi dhrish-nina bhayamana svāhā
Siddhāya svāhā
Maha siddhāya svāhā
Siddha-yoge-śvaraya svāhā
Narakindi svāhā, Māranara svāhā
śira simha-mukhāya svāhā
Sarva mahā-asiddhaya svāhā
Cakra-asiddhāya svāhā
Padma-kastāya svāhā
Narakindi-vagalāya svaha
Mavari-śankharāya svāhā
Namo ratna-trāyāya
Namo āryā-valokite-śvaraya svāhā
Om Sidhyantu mantra padāya svāhā
Mandarin
Na Mo He Lai Da Na Duo Lai Ya Ye
Na Mo O Li Ye Po Lu Ji Di Shuo Bo La Ye
Pu Ti Sa Duo Po Ye, Mo Ho Sa Duo Po Ye, Mo Ho Cia Lu Ni Cia Ye
An, Sa Pan La Fa Ye Shuo Da No Da Xie
Na Mo Xi Ji Li Duo Yi Mong O Li Ye Po Lu Ji Di She Fo La Leng Tuo Po
Na Mo Nuo Lai Jin Chi Xi Li Mo Ho Pan Duo Sha Mie
Sa Po O Duo Duo Su Peng O Shu Yen
Sa Po Sa Duo Na Mo Po Sa Duo Na Mo Po Chie Mo Fa De Dou
Dan Chi Duo
An O Po Lu Xi Lu Jai Di Jia Luo Di Yi Si Li, Mo He Pu Ti Sa Duo
Sa Po Sa Po Mo Nai Mo Nai
Mo Xi Mo Xi Li Duo Yun, Ji Lu Ji Lu Jie Mong
Du Lu Du Lu Fa She Ye Di, Mo Ho Fa She Ye Di
Tuo Nai Tuo Nai Di Li Ni Shi Fu Nai Ye
Che Nai Che Nai Mo Mo Fa Mo Nai Mo Di Li
Yi Ser Yi Ser Shi Nuo Shi Nuo O Lai Shen Fo Lai She Li
Fa Sha Fa Shen Fo Lai She Ye
Hu Lu Hu Lu Mo Nai, Hu Lu Hu Lu Xi Li
So Nai So Nai, Si Li Si Li, Su Lu Su Lu
Pu Ti Ye Pu Ti Ye, Pu Duo Ye Pu Duo Ye
Mi Di Li Ye No Lai Jin Chi Di Li Se Ni Nuo Po Ye Mo No Sa Po Ho
Xi Duo Ye Sa Po Ho
Mo Ho Si Duo Ye Sa Po Ho
Xi Duo Yu Yi Shi Pan Na Ye Sa Po Ho
No Lai Jin Chi Sa Po Ho, Mo Lai No Lai Sa Po Ho
Xi Nai Seng O Mo Qie Ye Sa Po Ho
Suo Po Mo He O Xi Duo Ye Sa Po Ho
Je Ji Lai O Xi Duo Ye Sa Po Ho
Bo Duo Mo Jie Xi Duo Ye Sa Po Ho
Nuo Lai Jin Che Pan Chi Lai Ye Sa Po Ho
Mo Po Li Sheng Ji Lai Ye Sa Po Ho
Na Mo He Lai Da Na Duo Lai Ya Ye
Na Mo O Li Ye Po Lu Ji Di Shuo Bo Lai Ye So Po Ho
An, Xi Dian Dou Man Duo La Ba Duo Ye Sa Po Ho
Japanese
Namu Ka Ra Tan No To Ra Ya Ya
Namu Oriya Bo Ryo Ki Chi Shi Fu Ra Ya
Fu Ji Sa To Bo Ya, Mo Ko Sa To Bo Ya, Mo Ko Kya Ru Ni Kya Ya
En Sa Ha Ra Ha Ei Shu Ta No Ton Sha
Namu Shi Ki Ri To I Mo Oriya Bo Ryo Ki Chi Shi Fu Ra Rin To Bo
Namu No Ra Kin Ji Ki Ri Mo Ko Ho Do Sha Mi
Sa Bo O To Jo Shu Ben O Shu In
Sa Bo Sa To No Mo Bo Gya Mo Ha De Cho
To Ji To
En O Bo Ryo Ki Ryo Gya Chi Kya Rya Chi I Ki Ri Mo Ko Fu Ji Sa To
Sa Bo Sa Bo, Mo Ra Mo Ra
Mo Ki Mo Ki Ri To In, Ku Ryo Ku Ryo Ke Mo
To Ryo To Ryo Ho Ja Ya Chi Mo Ko Ho Ja Ya Chi
To Ra To Ra Chi Ri Ni Shi Fu Ra Ya
Sha Ro Sha Ro Mo Mo Ha Mo Ra Ho Chi Ri
I Ki I Ki Shi No Shi No O Ra San Fu Ra Sha Ri
Ha Za Ha Za Fu Ra Sha Ya
Ku Ryo Ku Ryo Mo Ra, Ku Ryo Ku Ryo Ki Ri
Sha Ro Sha Ro Shi Ri Shi Ri Su Ryo Su Ryo
Fu Ji Ya Fu Ji Ya Fu Do Ya Fu Do Ya
Mi Chi Ri Ya No Ra Kin Ji Chi Ri Shu Ni No Ho Ya Mo No So Mo Ko
Shi Do Ya So Mo Ko
Mo Ko Shi Do Ya So Mo Ko
Shi Do Yu Ki Shi Fu Ra Ya So Mo Ko
No Ra Kin Ji So Mo Ko, Mo Ra No Ra So Mo Ko
Shi Ra Sun O Mo Gya Ya So Mo Ko
So Bo Mo Ko O Shi Do Ya So Mo Ko
Sha Ki Ra O Shi Do Ya So Mo Ko
Ho Do Mo Gya Shi Do Ya So Mo Ko
No Ra Kin Ji Ha Gya Ra Ya So Mo Ko
Mo Ho Ri Shin Gya Ra Ya So Mo Ko
Namu Ka Ra Tan No To Ra Ya Ya
Namu Oriya Bo Ryo Ki Chi Shi Fu Ra Ya So Mo Ko
En Shi Te Do Mo Do Ra Ho Do Ya So Mo Ko
Korean
Na-Mo-Ra Da-Na Da-Ra Ya-Ya
Na-Mak Ar-Ya Ba-Ro-Gi-Je Sae-Ba-Ra-Ya
Mo-Ji Sa-Da-Ba-Ya, Ma-Ha Sa-Da-Ba-Ya, Ma-Ha Ga-Ro-Ni-Ga-Ya
Om Sal-Ba-Ba-Ye Su Da-Ra-Na Ga-Ra-Ya Da-Sa-Myong
Na-Mak-Ka-Ri-Da-Ba I-Mam Ar-Ya Ba-Ro-Gi-Je Sae-Ba-Ra Da-Ba I-Ra-Gan-Ta
Na-Mak Ha-Ri-Na-Ya Ma-Bal-Ta I-Sa-Mi
Sal-Bal-Ta Sa-Da-Nam Su-Ban A-Ye-Yom
Sal-Ba Bo-Da-Nam Ba-Ba-Mar-A Nii-Su-Da-Gam
Da-Nya-Ta
Om A-Ro-Gye A-Ro-Ga Ma-Ji-Ro-Ga Ji-Ga-Ran-Je Hye-Hye-Ha-Rye Ma-Ha Mo-Ji Sa-Da-Ba
Sa-Ma-Ra Sa-Ma-Ra Ha-Ri-Na-Ya
Gu-Ro-Gu-Ro Gal-Ma Sa-Da-Ya Sa-Da-Ya
Do-Ro-Do-Ro Mi-Yon-Je Ma-Ha Mi-Yon-Je
Da-Ra Da-Ra Da-Rin Na-Rye Sae-Ba-Ra
Ja-Ra-Ja-Ra Ma-Ra-Mi-Ma-Ra A-Ma-Ra Mol-Che-Ye
Hye-Hye Ro-Gye Sae-Ba-Ra Ra-A Mi-Sa-Mi Na-Sa-Ya
Na-Bye Sa-Mi Sa-Mi Na-Sa-Ya
Mo-Ha Ja-Ra Mi-Sa-Mi Na-Sa-Ya
Ho-Ro-Ho-Ro Ma-Ra-Ho-Ro Ha-Rye Ba Na-Ma-Na-Ba
Sa-Ra Sa-Ra Shi-Ri Shi-Ri So-Ro So-Ro
Mot-Cha Mot-Cha, Mo-Da-Ya Mo-Da-Ya
Mae-Da-Ri-Ya Ni-Ra-Gan-Ta Ga-Ma-Sa Nal-Sa-Nam Ba-Ra-Ha-Ra-Na-Ya Ma-Nak-Sa-Ba-Ha
Shit-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Ma-Ha-Shit-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Shit-Ta-Yu-Ye Sae-Ba-Ra-Ya Sa-Ba-Ha
Ni-Ra-Gan-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Ba-Ra-Ha Mok-Ka Shing-Ha Mok-Ka-Ya Sa-Ba-Ha
Ba-Na-Ma Ha-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Ja-Ga-Ra Yok-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Sang-Ka Som-Na-Nye Mo-Da-Na-Ya Sa-Ba-Ha
Ma-Ha-Ra Gu-Ta Da-Ra-Ya Sa-Ba-Ha
Ba-Ma-Sa Gan-Ta I-Sa-Shi Che-Da Ga-Rin-Na I-Na-Ya Sa-Ba-Ha
Mya-Ga-Ra Jal-Ma Ni-Ba Sa-Na-Ya Sa-Ba-Ha
Na-Mo-Ra Da-Na-Da-Ra Ya-Ya
Na-Mak Ar-Ya Ba-Ro Gi-Je Sae-Ba-Ra-Ya Sa-Ba-Ha
Vietnamese
Nam Mô Hắc Ra Đát Na Đá Ra Dạ Da
Nam Mô A Rị Da Bà Lô Yết Đế Thước Bát Ra Da
Bồ Đề Tát Đỏa Bà Da, Ma Ha Tát Đỏa Bà Da, Ma Ha Ca Lô Ni Ca Da
Án Tát Bàn Ra Phạt Duệ Số Đát Na Đát Tỏa
Nam Mô Tất Kiết Lật Đỏa Y Mông A Rị Da Bà Lô Kiết Đế Thất Phật Ra Lăng Đà Bà
Nam Mô Na Ra Cẩn Trì Hê Rị Ma Ha Bàn Đa Sa Mế
Tát Bà A Tha Đậu Du Bằng A Thệ Dựng
Tát Bà Tát Đa, Na Ma Bà Dà, Ma Phạt Đạt Đậu
Đát Điệt Tha
Án. A Bà Lô Hê Lô Ca Đế Ca Ra Đế Di Hê Rị, Ma Ha Bồ Đề Tát Đỏa
Tát Bà Tát Bà, Ma Ra Ma Ra
Ma Hê Ma Hê Rị Đà Dựng, Cu Lô Cu Lô Yết Mông
Độ Lô Đồ Lô Phạt Xà Da Đế, Ma Ha Phạt Xà Da Đế
Đà Ra Đà Ra, Địa Rị Ni, Thất Phật Ra Da
Giá Ra Giá Ra Mạ Mạ Phạt Ma Ra, Mục Đế Lệ
Y Hê Di Hê, Thất Na Thất Na A Ra Sâm Phật Ra Xá Lợi
Phạt Sa Phạt Sâm, Phật Ra Xá Da
Hô Lô Hô Lô Ma Ra, Hô Lô Hô Lô Hê Rị
Ta Ra Ta Ra, Tất Rị Tất Rị, Tô Rô Tô Rô
Bồ Đề Dạ Bồ Đề Dạ, Bồ Đà Dạ Bồ Đà Dạ
Di Đế Rị Dạ, Na Ra Cẩn Trì, Địa Rị Sắc Ni Na Bà Dạ Ma Na Ta Bà Ha
Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Ma Ha Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Tất Đà Dũ Nghệ Thất Bàn Ra Dạ Ta Bà Ha
Na Ra Cẩn Trì Ta Bà Ha, Ma Ra Na Ra Ta Bà Ha
Tất Ra Tăng A Mục Khê Da Ta Bà Ha
Ta Bà Ma Ha A Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Giả Kiết Ra A Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Ba Đà Ma Kiết Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Na Ra Cẩn Trì Bàn Đà Ra Dạ Ta Bà Ha
Ma Bà Rị Thắng Yết Ra Dạ Ta Bà Ha
Nam Mô Hắc Ra Đát Na Đa Ra Dạ Da
Nam Mô A Rị Da Bà Lô Kiết Đế Thước Bàn Ra Dạ Ta Bà Ha
Án. Tất Điện Đô Mạn Đà Ra Bạt Đà Gia Ta Bà Ha.
Hanzi / Kanji
南無喝囉怛那。哆囉夜耶。
南無阿唎耶。婆盧羯帝。爍缽囉耶。
菩提薩埵婆耶。摩訶薩埵婆耶。摩訶迦盧尼迦耶。
唵。薩皤囉罰曳。數怛那怛寫
南無悉吉栗埵。伊蒙阿唎耶。婆盧吉帝。室佛囉楞馱婆。
南無那囉謹墀。醯唎摩訶。皤哆沙咩。
薩婆阿他。豆輸朋。阿逝孕。
薩婆薩哆。那摩婆薩多。那摩婆伽摩罰特豆。
怛姪他。
唵。阿婆盧醯。盧迦帝。迦羅帝。夷醯唎。摩訶菩提薩埵。
薩婆薩婆。摩囉摩囉。
摩醯摩醯唎馱孕。俱盧俱盧羯蒙。
度盧度盧。罰闍耶帝。摩訶罰闍耶帝。
陀囉陀囉。地唎尼。室佛囉耶。
遮囉遮囉。麼麼罰摩囉。穆帝隸。
伊醯伊醯。室那室那。阿囉參。佛囉舍利。
罰沙罰參。佛囉舍耶。
呼盧呼盧摩囉。呼盧呼盧醯利。
娑囉娑囉。悉唎悉唎。蘇嚧蘇嚧。
菩提夜。菩提夜。菩馱夜。菩馱夜。
彌帝唎夜。那囉謹墀。地利瑟尼那。婆夜摩那。娑婆訶。
悉陀夜。娑婆訶。
摩訶悉陀夜。娑婆訶。
悉陀喻藝。室皤囉夜。娑婆訶。
那囉謹墀。娑婆訶。摩囉那囉。娑婆訶。
悉囉僧阿穆佉耶。娑婆訶。
娑婆摩訶阿悉陀夜。娑婆訶。
者吉囉阿悉陀夜。娑婆訶。
波陀摩羯悉哆夜。娑婆訶。
那囉謹墀。皤伽囉耶。娑婆訶。
摩婆利勝羯囉夜。娑婆訶。
南無喝囉怛那哆囉夜耶。
南無阿利耶。婆羅吉帝。爍皤囉夜。娑婆訶。
唵。悉殿都。漫多囉。跋陀耶。娑婆訶。
English (Translation)
Adoration of the triple Gem.
Adoration to the noble Lord who looks down,
The enlightened sentient being, the great being, the merciful one!
Oneness with all saints and their righteous doctrine
After the adoration to that noble Avalokiteśvarā of the Mercy Land
I Offer my respectful obeisances to the virtuous supreme lord who emits great brilliance light
All sentient beings are without attachment and in undefeatable purity in all things.
Adoration to the joyful being, adoration to the joyful virgin who served by all heavenly beings.
Like this:
Oneness (Om) with/adoration to the seer (avalokite) of the world whose compassionate heart.
The great sentient enlightened being.
All, all, are garland (immaculate), garland (immaculate)
Great liberated heart, accomplish, accomplish the Karma
Liberate, liberate; the victorious one, the great victorious one
Hold on, hold on the brave freedom
Lead, lead to my immaculate liberation
Come, come; Fulfil the pledge, the pledge; the admantine king of awakening.
Who rules, rules the peace.
Purify, purify personification of delusions, purify, purify the heart
Firm, firm ; brave, brave ; wonder form, wonder form.
Enlightenment, enlightenment, the enlightened one, the enlightened one.
The benevolent, virtuous one, success in power and fame.
Success in benevolence.
Success in great benevolence.
Success in achieving freedom through union
Success in virtures, Success in immaculate joy
Incomparable success in ultima convincing speech
Incomparable success in all profound meaning.
Incomparable success in turning the wheel.
Success in the red lotus deed.
Success in becoming a virtuous Blessed one.
Success in own prestige nature
Refuge in the Triple Gem.
Take refuge in the success of noble Avalokiteśvarā
Oneness (Om) with the success of achieving these invocation verses!
Indonesian (Translation)
Aku berlindung kepada Tri-Ratna
Aku berlindung kepada yang melihat dunia dengan welas asih
Di dalam makhluk agung yang telah mencapai penerangan, di dalam yang penuh Welas Asih dan Kasih Sayang
Om di dalam perlindungan yang tidak merasa takut dan gentar
Semoga aku dapat berlidung di dalam Yang Maha Esa
Aku berlindung kepada-Mu, di dalam kewelas-asihan
Yang penuh dengan pergertian dari semua cara dan jalan,
Yang Suci yang membuat semua makhluk berupaya dan menyucikan semua alam kehidupan
Kepada-Nya:
Om Yang Maha Esa, Yang Transcenden di dunia
Oh, Hari makhluk agung yang terang!
Semuanya semuanya dari lingkaran bunga
Inti dari dunia! Buatlah sukses! Sukses!
Pekik kemenangan yang sukses! Maha besar! Pekik kemenangan!
Berdirilah! Berdirilah dengan tegak! Oh indra!
Bergeraklah! Bergeraklah! Bebaskan saya dari gangguan pikiran!
Datanglah! Datanglah! Dengarlah! Dengarlah!
Sukacita yang timbul, Berbicaralah! Berbicaralah!
Berilah seruan!
Suara-suara untuk permohonan di dalam doa
Bangkit! Bangkit!
Oh! Yang penuh dengan kasih! Dia yang patut didombakan
Kepada yang tak gentar, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan maha besar, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan dari kesatuan, Svaha!
Kepada yang agung, Svaha!
Kepada yang kelihatan berwajah seram, Svaha!
Kepada yang berwajah singa, Svaha!
Kepada semua yang memiliki kekuatan besar, Svaha!
Kepada yang memiliki kekuatan Chakra, Svaha!
Kepada yang memegang teratai, Svaha!
Kepada yang agung, Svaha!
Kepada Yang Maha Esa dan yang memberkati, Svaha!
Aku berlindung kepada TriRatna
Aku berlindung kepada Yang Maha Esa, Svaha!
Om, semoga hasil dari mantra ini terlaksana.
membaca Mantra Ta Pei Chou, minimal 1000 kali, baru akan membawa hasil.
10 manfaat dari membaca Ta Pei Cou (Maha Karuna Dharani):
1. Dapat membuat hati kita lebih damai dan pikiran lebih jernih & terang.
Contohnya bila hati kita sedang gundah/gelisah karena tidak dapat memecahkan masalah, bacalah Ta Pei Cou dengan penuh keyakinan & ketulusan. Cobalah dan rasakan setelah pembacaan Ta Pei Cou hati kita menjadi lebih tenang dan kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah yg kita hadapi.
2. Dapat menghilangkan segala penyakit batin.
Contohnya bila hati kita sering iri hati, serakah,terkena guna2,dsb, bacalah Ta Pei Cou dengan tulus secara terus menerus serta melimpahkannya kepada semua makhluk, maka perlahan-lahan pikiran2 buruk kita akan berubah (iri hati menjadi simpati, serakah menjadi gemar beramal) dan kita bisa sembuh dari guna2.
3. Membuat kita lebih panjang umur.
Contohnya bila kita percaya dan penuh keyakinan selalu membaca Ta Pei Cou, maka jiwa, pikiran dan hidup kita menjadi lebih tenang sehingga akhirnya kitapun hidup lebih panjang umur.
4. Wajah kita selalu memancarkan kebahagiaan sehingga rejeki lebih lancar.
Contohnya jika rajin membaca Ta Pei Cou maka kebahagiaan akan selalu menyertai kita dan pancaran wajah kita akan berseri-seri. Misalnya anda punya toko. Jika anda membuka toko dengan wajah berseri-seri, maka pelanggan/pembeli yg anda temui akan menyukai, percaya dan merasa nyaman berbelanja di tempat anda sehingga akhirnya rejeki yg datang pada diri anda menjadi lebih lancar.
5. Dapat mengurangi karma buruk yg kita perbuat di masa lampau.
Contohnya di kehidupan lampau kita sering mencuri barang milik orang lain sehingga mengakibatkan kita hidup miskin & susah. Untuk mengurangi karma buruk kita tsb, selain rajin berdana, perbanyaklah membaca Ta Pei Cou sehingga lambat laun karma buruk kita berkurang dan keberuntungan menyertai kita.
6. Dapat mengurangi hambatan.
Contohnya sewaktu kecil kita seing menyakiti/membunuh binatang karena ketidaktahuan sehingga setelah dewasa seringkali banyak hambatan dlm hidup kita. Jika tekun membaca Ta Pei Cou dengan tulus maka segala hambatan satu per satu akan sirna/berlalu dari kehidupan kita.
7. Dapat membuka Prajna (kebijaksanaan) untuk lebih mengerti Dharma.
Contohnya bila daya ingat kita kurang atau sulit untuk menghafal suatu pelajaran maka dengan membaca Ta Pei Cou daya ingatan kita akan menjadi lebih kuat sehingga tidak akan kesulitan untuk mengingat/menghafal.
8. Dapat menimbulkan Bodhicitta sehingga keyakinan kita terhadap Triratna akan menjadi lebih kokoh.
Contohnya bila kita mengalami banyak masalah dan kehilangan kepercayaan diri serta lari dari keyakinan kita maka kita akan mudah terbujuk rayuan dan akhirnya meragukan Dharma. Jika rajin membaca Ta Pei Cou maka masalah sebesar apapun tidak akan mampu menerobos benteng pertahanan keyakinan kita.
9. Dapat terhindar dari rasa ketakutan yg berlebihan dan terhindar dari segala bencana yg akan menimpa.
Contohnya jika kita takut akan kegagalan hidup, dengan membaca Ta Pei Cou kerisauan kita akan suatu masalah yg belum kita hadapi akan hilang. Jika mengalami suatu musibah/bencana (kebakaran, banjir,dll) maka kita akan terhindar dari bencana kemalangan tersebut.
10. Setelah meninggal dunia akan dijemput oleh para Buddha dan Bodhisattva ke surga (tanah suci).
Tambahan:
Dengan banyak membaca Ta Pei Cou, di atas kepala kita akan ada Dewa Pelindung (Kui Jin) yg akan melindungi kita dari segala macam mara bahaya dan kesulitan hidup. Pembacaan Ta Pei Cou disertai pemercikan air tirta akan membawa banyak manfaat bagi makhluk yg tak terlihat, terutama bagi makhluk2 yg ganas, dengan air tirta mereka tidak lagi menjadi ganas.
Bodhisattva Avalokitesvara (Kuan Yin Pu Sa) dengan tekad sucinya bersabda:
1. Kalau ada makhluk hidup yg selalu membaca "Maha Karuna Dharani", maka manfaat yg didapat akan terlahir di Surga Barat atau Surga Sukhavati.
2. Jika ada makhluk hidup dengan penuh ketulusan membaca "Maha Karuna Dharani" namun permintaannya tidak terpenuhi, maka Aku tidaklah dapat mencapai Samyak Sambodhi
3. Jika ada makhluk hidup dengan penuh ketulusan membaca "Maha Karuna Dharani" namun tidak bisa menghilangkan kekotoran batin, maka Aku tidaklah dapat mencapai Samyak Sambodhi.
pengalaman teman :
Mantra Ta Pei Cou bisa memusnahkan guna-guna/santet dll
Sy ada 1 pengalaman ttg guna2x/santet kira2x pd th 1993.
Teman cewek dr teman sy pernah diguna-guna/santet sampe gila sjk th 1988-1993 (+/- 5 th gila). Keluarganya sdh cari ke dukun/paranormal dllnya slm kurun waktu itu & tdk ada satupun yg bs menyembuhkan cewek itu.
Pd th 1993 teman sy mulai mendlmi Buddhisme, suatu hr di th 1993 dia mendengar ttg penjelasan kegunaan Ta Pei Cou, stlh itu dia membc Ta Pei Cou sebyk 49x dgn mengikat simpul mati pd benang 5 warna sebyk 49 simpul. Stlh itu benang 5 warna yg udah dibc Ta Pei Cou sebyk 49x dgn 49 simpul itu dikalungkan kpd teman ceweknya yg tlh gila 5 th itu, & keajaiban terjd, teman ceweknya sembuh dr gila pd keesokkan harinya.
Orangtua si cewek menanyakan kpdnya apa yg terjd, si cewek menjwb bhw dia spt terbw ke alam para jin dlm kurun waktu ttt, & scr tiba2x dia melht Kuan Im Phu Sa melayang diangkasa sambil memercikkan air suci kpdnya, akhirnya dia terlepas dari alam jin.
Dari pengalaman ini anda-anda bs melihat betapa dahsyatnya kekuatan Ta Pei Cou.
Perlu anda ketahui bhw kegunaan Ta Pei Cou itu byk sekali spt :
- menangkal guna-guna/santet, ilmu hitam
- menawarkan racun binatang (ular, lipan, dll)
- menambah rejeki, menolak bala
- mengharmoniskan keluarga yg suka ribut (pengasihan)
- dll ----> 1001 macam kegunaan
Ta Pei Cou ada 3 versi yaitu :
1. Versi Panjang, mungkin anda semua sdh tahu.
2. Versi Sedang, hanya ada di Tantrayana umum.
3. Versi Pendek, hanya ada di Tantra Satya Buddha.
Kekuatan Ta Pei Cou adlh tak terbatas, jika anda membc Ta Pei Cou utk memberkati sesuatu, misalnya air ataupun yg lainnya, mk kekuatan dr Ta Pei Cou akan "menempel" pd objek tersbt dlm kurun waktu yg lama sekali, selama objek tsb msh ada wujud.
Yg plg penting diingat adlh stp permohonan yg baik dan wajar dgn menggunakan kekuatan Ta Pei Cou pasti akan terkabul, krn penjaminnya adlh Kuan Im Phu Sak ber-Tangan&Mata 1000 dan Amitabha Buddha beserta 32 wujud manisfestasi dr Kuan Im Phu Sa.
Setiap pembaca Ta Pei Cou akan selalu dilindungi dan diberkati oleh 84 makhluk suci antara lain : Buddha, Bodhisattva, Pacceka Buddha, Arahat, Dewa Vajra, Dewa Brahma, Dewa-dewa lainnya serta 8 jenis makhluk pelindung (Thien Lung Pak Pu).
Semoga tulisan ini bermanfaat bg anda, dan semoga anda mempunyai keyakinan yg teguh thd Ta Pei Cou.
Pertama, 3 versi Mantra Maha Karuna Dharani dalam bahasa Sansekerta...
Versi 1
Namo Ratna Trayaya.
Namah Arya Avalokitesvaraya
Bodhisattvaya Mahasattvaya Mahakarunikaya
Sarva Bandhana Chedana Karaya .
Sarva Bhava Samudram Sosana Karana.
Sarva Vyadhi Prasamana Karaya.
Sarva Mrtyu Upa-Drava Viansana Karana .
Sarva Bhaye Su Trana Karaya.
Tasmat Namas – Krtva Idam
Arya Avalokitesvara Bhastinam Nilakantha
Pi Nama Hrdayam Avarta Isyami
Sarvartha-sadhanam Subham Ajeyam
Sarva Bhutanam Bhava Marga Visuddhakam
Tadyatha, Om Aloke Aloka-mati Lokati Krante.
He Hare Arya Avalokitesvara
Maha bodhisattva , He Boddhisattva , He
Maha bodhisattva , He Virya Bodhisattva
He Mahakarunika Smara Hradayam.
Hi Hi , Hare Arya Avalokitesvara Mahesvara Parama
Maitra-Citta Mahakarunika.
Kuru Kuru Karman
Sadhaya Sadhaya Vidyam.
Ni Hi , Ni Hi Varnam Kamam-Game .
Vitta-Kama Vigama.
Siddha Yogesvara .
Dhuru Dhuru Viryanti, Maha Viryanti .
Dhara Dhara Dharendresvara.
Cala Cala Vimala Amala Murte
Arya Avalokitesvara Jina Krsna Jata-Makuta
Valam Ma Pra-Lamba Maha Siddha
Vidya dhara.
Vara Vara Maha Vara .
Bala Bala Maha Bala.
Cala Cala Maha Cala
Krsna-Varna Nigha Krsna – Paksa Nirghatana.
He Padma-Hasta Cara Cara Desa
Caresvara Krsna –Sarpa Krta Yajnopavita
Ehyehi Maha Varaha-Mukha,Tripura-Dahanesvara
Narayana Va Rupa Vara Marga Ari .
He Nilakantha , He Mahakara ,
Hala hala Visa Nir-jita Lokasya.
Raga Visa Vinasana.
Dvesa Visa Vinasana.
Moha Visa Vinasana
Huru Huru Mala, Huru Huru Hare, Maha Padmanabha
Sara Sara , Sri Sri , Suru Suru, Bhu ruc Bhu ruc
Buddhiya Buddhiya , Boddhaya Boddhaya
Maitri Nilakantha Ehyehi Vama
Shitha Simha-Mukha Hasa Hasa,
Munca Munca Mahattahasam Ehiyehi Pa
Maha Siddha Yogesvara
Bhana Bhana Vaco
Sadhaya Sadhaya Vidyam.
Smara Smaratam Bhagavantam Lokita
Vilokitam Lokesvaram Tathagatam Dadahi
Me Drasana Kamasya Darsanam
Pra-Hiadaya Mana Svaha.
Siddhaya Svaha.
Maha Siddhaya Svaha
Siddha Yogesvaraya Svaha
Nilakanthaya Svaha
Varaha-Mukhaya Svaha
Maha-dara Simha-Mukhaya Svaha
Siddha Vidyadharaya Svaha
Padma-Hastaya Svaha
Krsna-Sarpa Krta Yajnopavitaya Svaha
Maha Lakutadaharaya Svaha
Cakrayuddhaya Svaha
Sankha-Sabdani Bodhanaya Svaha
Vama Skandhadesa Shitha Krsnajinaya Svaha
Vyaghra-Carma Nivasanaya Svaha
Lokesvaraya Svaha
Sarva Siddhesvaraya Svaha
Namo Bhagavate Arya Avalokitesvaraya Bodhisattvaya
Maha Sattvaya Mahakarunikaya
Sidhyanthu Me Mantra-Padaya Svaha
Versi 2
Namo ratna-trayāya
Namo āriyā-valokite-śvarāya
Bodhi-sattvāya, Maha-sattvāya, Mahā-kārunikāya
Om sarva-raviye sudhanadasya
Namo skritvā imam āryā-valokite-śvara ramdhava
Namo narakindi hrih Mahā-vat-svāme
Sarva-arthato-śubham ajeyam
Sarva-sat Namo-vasat Namo-vāka mavitāto
Tadyathā
Om avaloki-lokate-krate-e-hrih Mahā-bodhisattva
Sarva sarva, Mala mala
Mahi Mahi ridayam, Kuru kuru karmam
Dhuru dhuru, vijayate Mahā-vijayati
Dhara dhara dhrini śvarāya
Cala cala mama vimala muktele
Ehi ehi śina śina ārsam prasari
viśva viśvam prasaya
Hulu hulu mara, Hulu hulu hrih
Sara sara siri siri suru suru
Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya
Maitreya narakindi dhrish-nina bhayamana svāhā
Siddhāya svāhā
Maha siddhāya svāhā
Siddha-yoge-śvaraya svāhā
Narakindi svāhā, Māranara svāhā
śira simha-mukhāya svāhā
Sarva mahā-asiddhaya svāhā
Cakra-asiddhāya svāhā
Padma-kastāya svāhā
Narakindi-vagalāya svaha
Mavari-śankharāya svāhā
Namo ratna-trāyāya
Namo āryā-valokite-śvaraya svāhā
Om Sidhyantu mantra padāya svāhā
Versi 3
Namo Ratna Trayaya. Namo Arya Jyana
Sagara Vairochana
Vyuha Rajaya Tathagataya
Arhate. Samyak Sambuddhaya
Namah Sarva Tathagatebyah
Arhatebyah. Samyak Sambuddhe Byah
Namo Arya Avalokite Svaraya
Boddhisattvaya, Mahasattvaya, Mahakarunikaya
Tadyatha Om Dhara Dhara
Dhiri Dhiri Dhuru Dhuru
Iti Vaitte Chale Chale Pra Chale Pra Chale
Kusume Kusuma Vare, Ili Mili Chitiwala mapanaya Svaha
Trus yang ini mantra Maha Karuna Dharani dalam berbagai bahasa dari yang versi nomor 2......
Sanskrit
Namo ratna-trayāya
Namo āriyā-valokite-śvarāya
Bodhi-sattvāya, Maha-sattvāya, Mahā-kārunikāya
Om sarva-raviye sudhanadasya
Namo skritvā imam āryā-valokite-śvara ramdhava
Namo narakindi hrih Mahā-vat-svāme
Sarva-arthato-śubham ajeyam
Sarva-sat Namo-vasat Namo-vāka mavitāto
Tadyathā
Om avaloki-lokate-krate-e-hrih Mahā-bodhisattva
Sarva sarva, Mala mala
Mahi Mahi ridayam, Kuru kuru karmam
Dhuru dhuru, vijayate Mahā-vijayati
Dhara dhara dhrini śvarāya
Cala cala mama vimala muktele
Ehi ehi śina śina ārsam prasari
viśva viśvam prasaya
Hulu hulu mara, Hulu hulu hrih
Sara sara siri siri suru suru
Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya
Maitreya narakindi dhrish-nina bhayamana svāhā
Siddhāya svāhā
Maha siddhāya svāhā
Siddha-yoge-śvaraya svāhā
Narakindi svāhā, Māranara svāhā
śira simha-mukhāya svāhā
Sarva mahā-asiddhaya svāhā
Cakra-asiddhāya svāhā
Padma-kastāya svāhā
Narakindi-vagalāya svaha
Mavari-śankharāya svāhā
Namo ratna-trāyāya
Namo āryā-valokite-śvaraya svāhā
Om Sidhyantu mantra padāya svāhā
Mandarin
Na Mo He Lai Da Na Duo Lai Ya Ye
Na Mo O Li Ye Po Lu Ji Di Shuo Bo La Ye
Pu Ti Sa Duo Po Ye, Mo Ho Sa Duo Po Ye, Mo Ho Cia Lu Ni Cia Ye
An, Sa Pan La Fa Ye Shuo Da No Da Xie
Na Mo Xi Ji Li Duo Yi Mong O Li Ye Po Lu Ji Di She Fo La Leng Tuo Po
Na Mo Nuo Lai Jin Chi Xi Li Mo Ho Pan Duo Sha Mie
Sa Po O Duo Duo Su Peng O Shu Yen
Sa Po Sa Duo Na Mo Po Sa Duo Na Mo Po Chie Mo Fa De Dou
Dan Chi Duo
An O Po Lu Xi Lu Jai Di Jia Luo Di Yi Si Li, Mo He Pu Ti Sa Duo
Sa Po Sa Po Mo Nai Mo Nai
Mo Xi Mo Xi Li Duo Yun, Ji Lu Ji Lu Jie Mong
Du Lu Du Lu Fa She Ye Di, Mo Ho Fa She Ye Di
Tuo Nai Tuo Nai Di Li Ni Shi Fu Nai Ye
Che Nai Che Nai Mo Mo Fa Mo Nai Mo Di Li
Yi Ser Yi Ser Shi Nuo Shi Nuo O Lai Shen Fo Lai She Li
Fa Sha Fa Shen Fo Lai She Ye
Hu Lu Hu Lu Mo Nai, Hu Lu Hu Lu Xi Li
So Nai So Nai, Si Li Si Li, Su Lu Su Lu
Pu Ti Ye Pu Ti Ye, Pu Duo Ye Pu Duo Ye
Mi Di Li Ye No Lai Jin Chi Di Li Se Ni Nuo Po Ye Mo No Sa Po Ho
Xi Duo Ye Sa Po Ho
Mo Ho Si Duo Ye Sa Po Ho
Xi Duo Yu Yi Shi Pan Na Ye Sa Po Ho
No Lai Jin Chi Sa Po Ho, Mo Lai No Lai Sa Po Ho
Xi Nai Seng O Mo Qie Ye Sa Po Ho
Suo Po Mo He O Xi Duo Ye Sa Po Ho
Je Ji Lai O Xi Duo Ye Sa Po Ho
Bo Duo Mo Jie Xi Duo Ye Sa Po Ho
Nuo Lai Jin Che Pan Chi Lai Ye Sa Po Ho
Mo Po Li Sheng Ji Lai Ye Sa Po Ho
Na Mo He Lai Da Na Duo Lai Ya Ye
Na Mo O Li Ye Po Lu Ji Di Shuo Bo Lai Ye So Po Ho
An, Xi Dian Dou Man Duo La Ba Duo Ye Sa Po Ho
Japanese
Namu Ka Ra Tan No To Ra Ya Ya
Namu Oriya Bo Ryo Ki Chi Shi Fu Ra Ya
Fu Ji Sa To Bo Ya, Mo Ko Sa To Bo Ya, Mo Ko Kya Ru Ni Kya Ya
En Sa Ha Ra Ha Ei Shu Ta No Ton Sha
Namu Shi Ki Ri To I Mo Oriya Bo Ryo Ki Chi Shi Fu Ra Rin To Bo
Namu No Ra Kin Ji Ki Ri Mo Ko Ho Do Sha Mi
Sa Bo O To Jo Shu Ben O Shu In
Sa Bo Sa To No Mo Bo Gya Mo Ha De Cho
To Ji To
En O Bo Ryo Ki Ryo Gya Chi Kya Rya Chi I Ki Ri Mo Ko Fu Ji Sa To
Sa Bo Sa Bo, Mo Ra Mo Ra
Mo Ki Mo Ki Ri To In, Ku Ryo Ku Ryo Ke Mo
To Ryo To Ryo Ho Ja Ya Chi Mo Ko Ho Ja Ya Chi
To Ra To Ra Chi Ri Ni Shi Fu Ra Ya
Sha Ro Sha Ro Mo Mo Ha Mo Ra Ho Chi Ri
I Ki I Ki Shi No Shi No O Ra San Fu Ra Sha Ri
Ha Za Ha Za Fu Ra Sha Ya
Ku Ryo Ku Ryo Mo Ra, Ku Ryo Ku Ryo Ki Ri
Sha Ro Sha Ro Shi Ri Shi Ri Su Ryo Su Ryo
Fu Ji Ya Fu Ji Ya Fu Do Ya Fu Do Ya
Mi Chi Ri Ya No Ra Kin Ji Chi Ri Shu Ni No Ho Ya Mo No So Mo Ko
Shi Do Ya So Mo Ko
Mo Ko Shi Do Ya So Mo Ko
Shi Do Yu Ki Shi Fu Ra Ya So Mo Ko
No Ra Kin Ji So Mo Ko, Mo Ra No Ra So Mo Ko
Shi Ra Sun O Mo Gya Ya So Mo Ko
So Bo Mo Ko O Shi Do Ya So Mo Ko
Sha Ki Ra O Shi Do Ya So Mo Ko
Ho Do Mo Gya Shi Do Ya So Mo Ko
No Ra Kin Ji Ha Gya Ra Ya So Mo Ko
Mo Ho Ri Shin Gya Ra Ya So Mo Ko
Namu Ka Ra Tan No To Ra Ya Ya
Namu Oriya Bo Ryo Ki Chi Shi Fu Ra Ya So Mo Ko
En Shi Te Do Mo Do Ra Ho Do Ya So Mo Ko
Korean
Na-Mo-Ra Da-Na Da-Ra Ya-Ya
Na-Mak Ar-Ya Ba-Ro-Gi-Je Sae-Ba-Ra-Ya
Mo-Ji Sa-Da-Ba-Ya, Ma-Ha Sa-Da-Ba-Ya, Ma-Ha Ga-Ro-Ni-Ga-Ya
Om Sal-Ba-Ba-Ye Su Da-Ra-Na Ga-Ra-Ya Da-Sa-Myong
Na-Mak-Ka-Ri-Da-Ba I-Mam Ar-Ya Ba-Ro-Gi-Je Sae-Ba-Ra Da-Ba I-Ra-Gan-Ta
Na-Mak Ha-Ri-Na-Ya Ma-Bal-Ta I-Sa-Mi
Sal-Bal-Ta Sa-Da-Nam Su-Ban A-Ye-Yom
Sal-Ba Bo-Da-Nam Ba-Ba-Mar-A Nii-Su-Da-Gam
Da-Nya-Ta
Om A-Ro-Gye A-Ro-Ga Ma-Ji-Ro-Ga Ji-Ga-Ran-Je Hye-Hye-Ha-Rye Ma-Ha Mo-Ji Sa-Da-Ba
Sa-Ma-Ra Sa-Ma-Ra Ha-Ri-Na-Ya
Gu-Ro-Gu-Ro Gal-Ma Sa-Da-Ya Sa-Da-Ya
Do-Ro-Do-Ro Mi-Yon-Je Ma-Ha Mi-Yon-Je
Da-Ra Da-Ra Da-Rin Na-Rye Sae-Ba-Ra
Ja-Ra-Ja-Ra Ma-Ra-Mi-Ma-Ra A-Ma-Ra Mol-Che-Ye
Hye-Hye Ro-Gye Sae-Ba-Ra Ra-A Mi-Sa-Mi Na-Sa-Ya
Na-Bye Sa-Mi Sa-Mi Na-Sa-Ya
Mo-Ha Ja-Ra Mi-Sa-Mi Na-Sa-Ya
Ho-Ro-Ho-Ro Ma-Ra-Ho-Ro Ha-Rye Ba Na-Ma-Na-Ba
Sa-Ra Sa-Ra Shi-Ri Shi-Ri So-Ro So-Ro
Mot-Cha Mot-Cha, Mo-Da-Ya Mo-Da-Ya
Mae-Da-Ri-Ya Ni-Ra-Gan-Ta Ga-Ma-Sa Nal-Sa-Nam Ba-Ra-Ha-Ra-Na-Ya Ma-Nak-Sa-Ba-Ha
Shit-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Ma-Ha-Shit-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Shit-Ta-Yu-Ye Sae-Ba-Ra-Ya Sa-Ba-Ha
Ni-Ra-Gan-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Ba-Ra-Ha Mok-Ka Shing-Ha Mok-Ka-Ya Sa-Ba-Ha
Ba-Na-Ma Ha-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Ja-Ga-Ra Yok-Ta-Ya Sa-Ba-Ha
Sang-Ka Som-Na-Nye Mo-Da-Na-Ya Sa-Ba-Ha
Ma-Ha-Ra Gu-Ta Da-Ra-Ya Sa-Ba-Ha
Ba-Ma-Sa Gan-Ta I-Sa-Shi Che-Da Ga-Rin-Na I-Na-Ya Sa-Ba-Ha
Mya-Ga-Ra Jal-Ma Ni-Ba Sa-Na-Ya Sa-Ba-Ha
Na-Mo-Ra Da-Na-Da-Ra Ya-Ya
Na-Mak Ar-Ya Ba-Ro Gi-Je Sae-Ba-Ra-Ya Sa-Ba-Ha
Vietnamese
Nam Mô Hắc Ra Đát Na Đá Ra Dạ Da
Nam Mô A Rị Da Bà Lô Yết Đế Thước Bát Ra Da
Bồ Đề Tát Đỏa Bà Da, Ma Ha Tát Đỏa Bà Da, Ma Ha Ca Lô Ni Ca Da
Án Tát Bàn Ra Phạt Duệ Số Đát Na Đát Tỏa
Nam Mô Tất Kiết Lật Đỏa Y Mông A Rị Da Bà Lô Kiết Đế Thất Phật Ra Lăng Đà Bà
Nam Mô Na Ra Cẩn Trì Hê Rị Ma Ha Bàn Đa Sa Mế
Tát Bà A Tha Đậu Du Bằng A Thệ Dựng
Tát Bà Tát Đa, Na Ma Bà Dà, Ma Phạt Đạt Đậu
Đát Điệt Tha
Án. A Bà Lô Hê Lô Ca Đế Ca Ra Đế Di Hê Rị, Ma Ha Bồ Đề Tát Đỏa
Tát Bà Tát Bà, Ma Ra Ma Ra
Ma Hê Ma Hê Rị Đà Dựng, Cu Lô Cu Lô Yết Mông
Độ Lô Đồ Lô Phạt Xà Da Đế, Ma Ha Phạt Xà Da Đế
Đà Ra Đà Ra, Địa Rị Ni, Thất Phật Ra Da
Giá Ra Giá Ra Mạ Mạ Phạt Ma Ra, Mục Đế Lệ
Y Hê Di Hê, Thất Na Thất Na A Ra Sâm Phật Ra Xá Lợi
Phạt Sa Phạt Sâm, Phật Ra Xá Da
Hô Lô Hô Lô Ma Ra, Hô Lô Hô Lô Hê Rị
Ta Ra Ta Ra, Tất Rị Tất Rị, Tô Rô Tô Rô
Bồ Đề Dạ Bồ Đề Dạ, Bồ Đà Dạ Bồ Đà Dạ
Di Đế Rị Dạ, Na Ra Cẩn Trì, Địa Rị Sắc Ni Na Bà Dạ Ma Na Ta Bà Ha
Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Ma Ha Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Tất Đà Dũ Nghệ Thất Bàn Ra Dạ Ta Bà Ha
Na Ra Cẩn Trì Ta Bà Ha, Ma Ra Na Ra Ta Bà Ha
Tất Ra Tăng A Mục Khê Da Ta Bà Ha
Ta Bà Ma Ha A Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Giả Kiết Ra A Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Ba Đà Ma Kiết Tất Đà Dạ Ta Bà Ha
Na Ra Cẩn Trì Bàn Đà Ra Dạ Ta Bà Ha
Ma Bà Rị Thắng Yết Ra Dạ Ta Bà Ha
Nam Mô Hắc Ra Đát Na Đa Ra Dạ Da
Nam Mô A Rị Da Bà Lô Kiết Đế Thước Bàn Ra Dạ Ta Bà Ha
Án. Tất Điện Đô Mạn Đà Ra Bạt Đà Gia Ta Bà Ha.
Hanzi / Kanji
南無喝囉怛那。哆囉夜耶。
南無阿唎耶。婆盧羯帝。爍缽囉耶。
菩提薩埵婆耶。摩訶薩埵婆耶。摩訶迦盧尼迦耶。
唵。薩皤囉罰曳。數怛那怛寫
南無悉吉栗埵。伊蒙阿唎耶。婆盧吉帝。室佛囉楞馱婆。
南無那囉謹墀。醯唎摩訶。皤哆沙咩。
薩婆阿他。豆輸朋。阿逝孕。
薩婆薩哆。那摩婆薩多。那摩婆伽摩罰特豆。
怛姪他。
唵。阿婆盧醯。盧迦帝。迦羅帝。夷醯唎。摩訶菩提薩埵。
薩婆薩婆。摩囉摩囉。
摩醯摩醯唎馱孕。俱盧俱盧羯蒙。
度盧度盧。罰闍耶帝。摩訶罰闍耶帝。
陀囉陀囉。地唎尼。室佛囉耶。
遮囉遮囉。麼麼罰摩囉。穆帝隸。
伊醯伊醯。室那室那。阿囉參。佛囉舍利。
罰沙罰參。佛囉舍耶。
呼盧呼盧摩囉。呼盧呼盧醯利。
娑囉娑囉。悉唎悉唎。蘇嚧蘇嚧。
菩提夜。菩提夜。菩馱夜。菩馱夜。
彌帝唎夜。那囉謹墀。地利瑟尼那。婆夜摩那。娑婆訶。
悉陀夜。娑婆訶。
摩訶悉陀夜。娑婆訶。
悉陀喻藝。室皤囉夜。娑婆訶。
那囉謹墀。娑婆訶。摩囉那囉。娑婆訶。
悉囉僧阿穆佉耶。娑婆訶。
娑婆摩訶阿悉陀夜。娑婆訶。
者吉囉阿悉陀夜。娑婆訶。
波陀摩羯悉哆夜。娑婆訶。
那囉謹墀。皤伽囉耶。娑婆訶。
摩婆利勝羯囉夜。娑婆訶。
南無喝囉怛那哆囉夜耶。
南無阿利耶。婆羅吉帝。爍皤囉夜。娑婆訶。
唵。悉殿都。漫多囉。跋陀耶。娑婆訶。
English (Translation)
Adoration of the triple Gem.
Adoration to the noble Lord who looks down,
The enlightened sentient being, the great being, the merciful one!
Oneness with all saints and their righteous doctrine
After the adoration to that noble Avalokiteśvarā of the Mercy Land
I Offer my respectful obeisances to the virtuous supreme lord who emits great brilliance light
All sentient beings are without attachment and in undefeatable purity in all things.
Adoration to the joyful being, adoration to the joyful virgin who served by all heavenly beings.
Like this:
Oneness (Om) with/adoration to the seer (avalokite) of the world whose compassionate heart.
The great sentient enlightened being.
All, all, are garland (immaculate), garland (immaculate)
Great liberated heart, accomplish, accomplish the Karma
Liberate, liberate; the victorious one, the great victorious one
Hold on, hold on the brave freedom
Lead, lead to my immaculate liberation
Come, come; Fulfil the pledge, the pledge; the admantine king of awakening.
Who rules, rules the peace.
Purify, purify personification of delusions, purify, purify the heart
Firm, firm ; brave, brave ; wonder form, wonder form.
Enlightenment, enlightenment, the enlightened one, the enlightened one.
The benevolent, virtuous one, success in power and fame.
Success in benevolence.
Success in great benevolence.
Success in achieving freedom through union
Success in virtures, Success in immaculate joy
Incomparable success in ultima convincing speech
Incomparable success in all profound meaning.
Incomparable success in turning the wheel.
Success in the red lotus deed.
Success in becoming a virtuous Blessed one.
Success in own prestige nature
Refuge in the Triple Gem.
Take refuge in the success of noble Avalokiteśvarā
Oneness (Om) with the success of achieving these invocation verses!
Indonesian (Translation)
Aku berlindung kepada Tri-Ratna
Aku berlindung kepada yang melihat dunia dengan welas asih
Di dalam makhluk agung yang telah mencapai penerangan, di dalam yang penuh Welas Asih dan Kasih Sayang
Om di dalam perlindungan yang tidak merasa takut dan gentar
Semoga aku dapat berlidung di dalam Yang Maha Esa
Aku berlindung kepada-Mu, di dalam kewelas-asihan
Yang penuh dengan pergertian dari semua cara dan jalan,
Yang Suci yang membuat semua makhluk berupaya dan menyucikan semua alam kehidupan
Kepada-Nya:
Om Yang Maha Esa, Yang Transcenden di dunia
Oh, Hari makhluk agung yang terang!
Semuanya semuanya dari lingkaran bunga
Inti dari dunia! Buatlah sukses! Sukses!
Pekik kemenangan yang sukses! Maha besar! Pekik kemenangan!
Berdirilah! Berdirilah dengan tegak! Oh indra!
Bergeraklah! Bergeraklah! Bebaskan saya dari gangguan pikiran!
Datanglah! Datanglah! Dengarlah! Dengarlah!
Sukacita yang timbul, Berbicaralah! Berbicaralah!
Berilah seruan!
Suara-suara untuk permohonan di dalam doa
Bangkit! Bangkit!
Oh! Yang penuh dengan kasih! Dia yang patut didombakan
Kepada yang tak gentar, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan maha besar, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan dari kesatuan, Svaha!
Kepada yang agung, Svaha!
Kepada yang kelihatan berwajah seram, Svaha!
Kepada yang berwajah singa, Svaha!
Kepada semua yang memiliki kekuatan besar, Svaha!
Kepada yang memiliki kekuatan Chakra, Svaha!
Kepada yang memegang teratai, Svaha!
Kepada yang agung, Svaha!
Kepada Yang Maha Esa dan yang memberkati, Svaha!
Aku berlindung kepada TriRatna
Aku berlindung kepada Yang Maha Esa, Svaha!
Om, semoga hasil dari mantra ini terlaksana.
membaca Mantra Ta Pei Chou, minimal 1000 kali, baru akan membawa hasil.
10 manfaat dari membaca Ta Pei Cou (Maha Karuna Dharani):
1. Dapat membuat hati kita lebih damai dan pikiran lebih jernih & terang.
Contohnya bila hati kita sedang gundah/gelisah karena tidak dapat memecahkan masalah, bacalah Ta Pei Cou dengan penuh keyakinan & ketulusan. Cobalah dan rasakan setelah pembacaan Ta Pei Cou hati kita menjadi lebih tenang dan kita akan lebih mudah menyelesaikan masalah yg kita hadapi.
2. Dapat menghilangkan segala penyakit batin.
Contohnya bila hati kita sering iri hati, serakah,terkena guna2,dsb, bacalah Ta Pei Cou dengan tulus secara terus menerus serta melimpahkannya kepada semua makhluk, maka perlahan-lahan pikiran2 buruk kita akan berubah (iri hati menjadi simpati, serakah menjadi gemar beramal) dan kita bisa sembuh dari guna2.
3. Membuat kita lebih panjang umur.
Contohnya bila kita percaya dan penuh keyakinan selalu membaca Ta Pei Cou, maka jiwa, pikiran dan hidup kita menjadi lebih tenang sehingga akhirnya kitapun hidup lebih panjang umur.
4. Wajah kita selalu memancarkan kebahagiaan sehingga rejeki lebih lancar.
Contohnya jika rajin membaca Ta Pei Cou maka kebahagiaan akan selalu menyertai kita dan pancaran wajah kita akan berseri-seri. Misalnya anda punya toko. Jika anda membuka toko dengan wajah berseri-seri, maka pelanggan/pembeli yg anda temui akan menyukai, percaya dan merasa nyaman berbelanja di tempat anda sehingga akhirnya rejeki yg datang pada diri anda menjadi lebih lancar.
5. Dapat mengurangi karma buruk yg kita perbuat di masa lampau.
Contohnya di kehidupan lampau kita sering mencuri barang milik orang lain sehingga mengakibatkan kita hidup miskin & susah. Untuk mengurangi karma buruk kita tsb, selain rajin berdana, perbanyaklah membaca Ta Pei Cou sehingga lambat laun karma buruk kita berkurang dan keberuntungan menyertai kita.
6. Dapat mengurangi hambatan.
Contohnya sewaktu kecil kita seing menyakiti/membunuh binatang karena ketidaktahuan sehingga setelah dewasa seringkali banyak hambatan dlm hidup kita. Jika tekun membaca Ta Pei Cou dengan tulus maka segala hambatan satu per satu akan sirna/berlalu dari kehidupan kita.
7. Dapat membuka Prajna (kebijaksanaan) untuk lebih mengerti Dharma.
Contohnya bila daya ingat kita kurang atau sulit untuk menghafal suatu pelajaran maka dengan membaca Ta Pei Cou daya ingatan kita akan menjadi lebih kuat sehingga tidak akan kesulitan untuk mengingat/menghafal.
8. Dapat menimbulkan Bodhicitta sehingga keyakinan kita terhadap Triratna akan menjadi lebih kokoh.
Contohnya bila kita mengalami banyak masalah dan kehilangan kepercayaan diri serta lari dari keyakinan kita maka kita akan mudah terbujuk rayuan dan akhirnya meragukan Dharma. Jika rajin membaca Ta Pei Cou maka masalah sebesar apapun tidak akan mampu menerobos benteng pertahanan keyakinan kita.
9. Dapat terhindar dari rasa ketakutan yg berlebihan dan terhindar dari segala bencana yg akan menimpa.
Contohnya jika kita takut akan kegagalan hidup, dengan membaca Ta Pei Cou kerisauan kita akan suatu masalah yg belum kita hadapi akan hilang. Jika mengalami suatu musibah/bencana (kebakaran, banjir,dll) maka kita akan terhindar dari bencana kemalangan tersebut.
10. Setelah meninggal dunia akan dijemput oleh para Buddha dan Bodhisattva ke surga (tanah suci).
Tambahan:
Dengan banyak membaca Ta Pei Cou, di atas kepala kita akan ada Dewa Pelindung (Kui Jin) yg akan melindungi kita dari segala macam mara bahaya dan kesulitan hidup. Pembacaan Ta Pei Cou disertai pemercikan air tirta akan membawa banyak manfaat bagi makhluk yg tak terlihat, terutama bagi makhluk2 yg ganas, dengan air tirta mereka tidak lagi menjadi ganas.
Bodhisattva Avalokitesvara (Kuan Yin Pu Sa) dengan tekad sucinya bersabda:
1. Kalau ada makhluk hidup yg selalu membaca "Maha Karuna Dharani", maka manfaat yg didapat akan terlahir di Surga Barat atau Surga Sukhavati.
2. Jika ada makhluk hidup dengan penuh ketulusan membaca "Maha Karuna Dharani" namun permintaannya tidak terpenuhi, maka Aku tidaklah dapat mencapai Samyak Sambodhi
3. Jika ada makhluk hidup dengan penuh ketulusan membaca "Maha Karuna Dharani" namun tidak bisa menghilangkan kekotoran batin, maka Aku tidaklah dapat mencapai Samyak Sambodhi.
pengalaman teman :
Mantra Ta Pei Cou bisa memusnahkan guna-guna/santet dll
Sy ada 1 pengalaman ttg guna2x/santet kira2x pd th 1993.
Teman cewek dr teman sy pernah diguna-guna/santet sampe gila sjk th 1988-1993 (+/- 5 th gila). Keluarganya sdh cari ke dukun/paranormal dllnya slm kurun waktu itu & tdk ada satupun yg bs menyembuhkan cewek itu.
Pd th 1993 teman sy mulai mendlmi Buddhisme, suatu hr di th 1993 dia mendengar ttg penjelasan kegunaan Ta Pei Cou, stlh itu dia membc Ta Pei Cou sebyk 49x dgn mengikat simpul mati pd benang 5 warna sebyk 49 simpul. Stlh itu benang 5 warna yg udah dibc Ta Pei Cou sebyk 49x dgn 49 simpul itu dikalungkan kpd teman ceweknya yg tlh gila 5 th itu, & keajaiban terjd, teman ceweknya sembuh dr gila pd keesokkan harinya.
Orangtua si cewek menanyakan kpdnya apa yg terjd, si cewek menjwb bhw dia spt terbw ke alam para jin dlm kurun waktu ttt, & scr tiba2x dia melht Kuan Im Phu Sa melayang diangkasa sambil memercikkan air suci kpdnya, akhirnya dia terlepas dari alam jin.
Dari pengalaman ini anda-anda bs melihat betapa dahsyatnya kekuatan Ta Pei Cou.
Perlu anda ketahui bhw kegunaan Ta Pei Cou itu byk sekali spt :
- menangkal guna-guna/santet, ilmu hitam
- menawarkan racun binatang (ular, lipan, dll)
- menambah rejeki, menolak bala
- mengharmoniskan keluarga yg suka ribut (pengasihan)
- dll ----> 1001 macam kegunaan
Ta Pei Cou ada 3 versi yaitu :
1. Versi Panjang, mungkin anda semua sdh tahu.
2. Versi Sedang, hanya ada di Tantrayana umum.
3. Versi Pendek, hanya ada di Tantra Satya Buddha.
Kekuatan Ta Pei Cou adlh tak terbatas, jika anda membc Ta Pei Cou utk memberkati sesuatu, misalnya air ataupun yg lainnya, mk kekuatan dr Ta Pei Cou akan "menempel" pd objek tersbt dlm kurun waktu yg lama sekali, selama objek tsb msh ada wujud.
Yg plg penting diingat adlh stp permohonan yg baik dan wajar dgn menggunakan kekuatan Ta Pei Cou pasti akan terkabul, krn penjaminnya adlh Kuan Im Phu Sak ber-Tangan&Mata 1000 dan Amitabha Buddha beserta 32 wujud manisfestasi dr Kuan Im Phu Sa.
Setiap pembaca Ta Pei Cou akan selalu dilindungi dan diberkati oleh 84 makhluk suci antara lain : Buddha, Bodhisattva, Pacceka Buddha, Arahat, Dewa Vajra, Dewa Brahma, Dewa-dewa lainnya serta 8 jenis makhluk pelindung (Thien Lung Pak Pu).
Semoga tulisan ini bermanfaat bg anda, dan semoga anda mempunyai keyakinan yg teguh thd Ta Pei Cou.
Labels:
Hantu,
Maha Karuna Dharani,
Mantra
Thursday, May 31, 2012
Kutipan Bhante Uttamo Mahatera
"Petikan Kata Kata Bhikkhu Uttamo"
1. Bagai teratai yang jatuh ke lumpur. Ia tidak mengeluh atas kekotoran yang ada di sekitarnya. Ia justru menggunakan kekotoran itu untuk tumbuh subur.Teratai bahkan tidak ternoda oleh lumpur maupun air tempat ia bertumbuh.Demikian pula orang yang terlahir di lingkungan kurang ideal. Ia hendaknya tidak mengeluh namun menggunakan kondisi tersebut untuk mencapai kemajuan batin secara maksimal.
2. Segala yang datang, HADAPI. Segala yang telah pergi, JANGAN DICARI.Segala yang belum datang, JANGAN DINANTI
3. Segala sesuatu yang menjadi milik tidak akan pernah terlepaskan. Segala sesuatu yang bukan milik tidak akan pernah diperoleh. Semua mahluk hanya menerima segala yang memang sudah menjadi miliknya.
4. Masa lalu hanyalah kenangan. Jadikan pelajaran. Masa depan masih impian Jadikan pedoman. Masa sekarang adalah kenyataan. Gunakanlah secara maksimal.
5. Katakan MEMANG. Jangan tanyakan ‘Kenapa’ Atas segala sesuatu yang sedang dialami maupun dijalani.
6. Ubahlah pernyataan menjadi PERTANYAAN Untuk mampu berkomunikasi dengan bijaksana kepada siapapun.
7. Ketika memiliki kemauan, maka tentu ada jalan. Jika tidak ada jalan, BUATLAH jalan untuk mencapai harapan
8.Stress adalah perbedaan antara harapan dengan kenyataan. Mampu mengubah harapan agar sesuai kenyataan menimbulkan kebahagiaan.
9. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Seseorang hanya mampu mengubah harapan. Ia tidak akan pernah mampu mengubah kenyataan. Harapan yang disesuaikan kenyataan mampu memberikan kebahagiaan.
10. Hidup berisi perubahan. Berubahlah untuk mengisi kehidupan.
11. Bersahabatlah dengan waktu. Walau waktu hanyalah khayal. Kenyataan hanyalah saat ini. Bukan masa lalu maupun masa depan. Menjadikan waktu sebagai sahabat. Banyak masalah dilalui. Satu demi satu. Akhirnya bahagia timbul juga.
1. Bagai teratai yang jatuh ke lumpur. Ia tidak mengeluh atas kekotoran yang ada di sekitarnya. Ia justru menggunakan kekotoran itu untuk tumbuh subur.Teratai bahkan tidak ternoda oleh lumpur maupun air tempat ia bertumbuh.Demikian pula orang yang terlahir di lingkungan kurang ideal. Ia hendaknya tidak mengeluh namun menggunakan kondisi tersebut untuk mencapai kemajuan batin secara maksimal.
2. Segala yang datang, HADAPI. Segala yang telah pergi, JANGAN DICARI.Segala yang belum datang, JANGAN DINANTI
3. Segala sesuatu yang menjadi milik tidak akan pernah terlepaskan. Segala sesuatu yang bukan milik tidak akan pernah diperoleh. Semua mahluk hanya menerima segala yang memang sudah menjadi miliknya.
4. Masa lalu hanyalah kenangan. Jadikan pelajaran. Masa depan masih impian Jadikan pedoman. Masa sekarang adalah kenyataan. Gunakanlah secara maksimal.
5. Katakan MEMANG. Jangan tanyakan ‘Kenapa’ Atas segala sesuatu yang sedang dialami maupun dijalani.
6. Ubahlah pernyataan menjadi PERTANYAAN Untuk mampu berkomunikasi dengan bijaksana kepada siapapun.
7. Ketika memiliki kemauan, maka tentu ada jalan. Jika tidak ada jalan, BUATLAH jalan untuk mencapai harapan
8.Stress adalah perbedaan antara harapan dengan kenyataan. Mampu mengubah harapan agar sesuai kenyataan menimbulkan kebahagiaan.
9. Harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Seseorang hanya mampu mengubah harapan. Ia tidak akan pernah mampu mengubah kenyataan. Harapan yang disesuaikan kenyataan mampu memberikan kebahagiaan.
10. Hidup berisi perubahan. Berubahlah untuk mengisi kehidupan.
11. Bersahabatlah dengan waktu. Walau waktu hanyalah khayal. Kenyataan hanyalah saat ini. Bukan masa lalu maupun masa depan. Menjadikan waktu sebagai sahabat. Banyak masalah dilalui. Satu demi satu. Akhirnya bahagia timbul juga.
Labels:
BHANTE UTTAMO MAHATHERA,
Kutipan
Ananda Krishnan Menyediakan Waktu untuk Anak
Uang bukanlah segalanya ….
apakah yang akan Anda katakan tentang orang dalam tanda lingkaran merah ini …
Dia adalah putra tunggal Tan Sri Ananda Krishnan (orang terkaya kedua di Malaysia & Asia Tenggara serta nomor 89 di dunia). Ia tidak menggunakan kesempatan bekerja bersama ayahnya untuk memperluas kerajaan ayahnya yang memiliki kekayaan pribadi lebih dari Rp 8 miliar. Ia malah memilih kehidupan sebagai seorang bhikkhu sederhana sejak 13 tahun yang lalu.
Sampai sekarang, ia dengan nama YM Siripannyo masih menjalankan kehidupan sebagai bhikkhu meditasi di hutan sesuai dengan tradisi Thailand.
Ananda Krishnan Menyediakan Waktu untuk Anak
TAN SIN CHOW, The Asia News Network (The Star)
GEORGE TOWN | Tue, 04/24/2012 2:15 PM
GEORGE TOWN | Tue, 04/24/2012 2:15 PM
Miliarder T. Ananda Krishnan mengambil cuti dari jadwal sibuk beliau untuk dapat bertemu dengan anaknya yaitu Bhikkhu Siripannyo, yang sedang melaksanakan latihan meditasi di Penang Hill sini.
Mengenakan T-shirt dan jeans, taipan berusia 74 tahun itu terlihat tiba di kaki bukit tempat wisata populer dengan mengendarai BMW diikuti oleh beberapa pengawal sekitar pukul 09:00 kemarin.
Dia dibawa ke sebuah lokasi yang dirahasiakan jauh di dalam hutan di Penang Hill, tempat anaknya sedang melaksanakan latihan meditasi dengan 60 orang lain.
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa YM Siripannyo adalah putra tunggalnya dari pernikahan sebelumnya.
Surat kabar setempat berbahasa Mandarin, Kwong Wah Yit Poh, menyoroti di halaman depan edisi hari itu tentang pertemuan orang terkaya kedua di Malaysia tersebut dengan anaknya.
Diterangkan pula bahwa YM Siripanno datang mengikuti pelaksanaan meditasi di bukit tersebut pada hari Minggu sebelum bermalam di sebuah bangunan bergaya kolonial dalam hutan.
Menurut warga setempat, sang taipan telah membeli tempat untuk menenangkan diri tersebut tiga tahun yang lalu sebelum diperbaiki untuk mengembalikan kejayaannya di masa lampau.
Dalam gedung tersebut terdapat 30 kamar unik.
Harian itu juga melaporkan bahwa YM Siripannyo terlihat merangkapkan kedua telapak tangannya dan menghormat saat ia bertemu ayahnya.
Dia kemudian mengajak ayahnya ke sebuah taman sehingga Ananda Krishnan dapat mengambil foto-foto pepohonan dan kupu-kupu saat mereka berjalan bersama.
Diketahui kemudian bahwa sang taipan meninggalkan bukit sekitar tengah hari sementara anaknya dan yang lainnya berangkat ke Thailand pada malam harinya.
Ananda Krishnan, yang akrab disebut AK, menurut daftar majalah Forbes terbaru diperkirakan memiliki kekayaan senilai US $ 9.6 bil (RM29.66 bil) yang menjadikannya orang terkaya kedua di Asia Tenggara setelah Robert Kuok. Ia juga menduduki posisi orang terkaya nomor 89 di dunia.
Dia memiliki kerajaan multimedia yang mencakup dua perusahaan telekomunikasi Maxis Communications dan Measat Broadcast Network Systems (Astro) serta tiga satelit komunikasi yang mengorbit bumi.
Labels:
Bhikkhu,
Orang Kaya,
Uang
Wednesday, May 23, 2012
J E N I S - J E N I S D A N A
D A N A
(by. Dhamma Study Group Bogor)
I. Pendahuluan
Hampir semua orang tentu mengerti bila kita mengatakan istilah berdana Yang artinya secara umum yaitu memberikan sesuatu untuk membantu orang lain yang memerlukan. Tetapi apakah makna berdana hanya demikian saja ? Apakah tidak
ada lagi makna nya yang lain ? Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya tentang berdana ini ,dan juga tentang adanya pandangan salah mengenai “ Berdana“ yang ditinjau dari pandangan agama Buddha.
Kamma, menurut agama Buddha artinya perbuatan. Setiap orang pasti melakukan suatu perbuatan ( kamma ) dan perbuatan yang dilakukan tentu mempunyai motif-motif tertentu,dimana motif itu sendiri juga sudah merupakan suatu
perbuatan. Menurut agama Buddha, motif ini dapat terbagi menjadi motif yang baik ( tiga akar perbuatan baik ) dan motif yang tidak baik ( tiga akar perbuatan Jahat ). Motif yang baik terdiri dari alobha ( tidak dengan keserakahan ),adosa
( tidak dengan kebencian ) dan Amoha ( tidak dengan kegelapan batin ); sedangkan motif yang tidak baik terdiri dari Lobha ( keserakahan ),dosa ( kebencian ) dan moha ( kegelapan batin ).
Setiap orang yang berbuat sesuatu pasti tidak terlepas dari motif-motif tersebut di atas. Tentu saja idealnya kita hendaknya selalu berbuat dengan motif yang baik, tetapi biasanya dalam setiap melakukan tindakan kita
cenderung untuk melakukannya dengan motif yang buruk, dengan tanpa kita sadari lagi karena hal itu sudah merupakan suatu kebiasaan yang biasa kita lakukan.
Dalam Agama Buddha diajarkan untuk mencapai kebahagiaan, hendaknya kita jangan berbuat jahat,tambahkanlah selalu kebaikan,dan sucikanlah batin atau pikiran.
Hal ini dimaksudkan supaya seseorang hendaknya selalu melatih berbuat dengan motif yang baik . Tetapi bagaimanakah cara melatih hal itu ? Perbuatan yang paling mudah untuk mengurangi tiga akar perbuatan jahat ini (khususnya Lobha) yaitu dengan cara berdana. Pengertian berdana yang diajarkan oleh Sang Buddha Gotama adalah merupakan cara untuk menunjang menyembuhkan penyakit batin manusia yang disebut Lobha. Dalam beberapa ajaran beliau,dana selalu diletakkan pada urutan pertama, misalnya dalam dasa Paramita ( Sepuluh Kebajikan ) dan di dalam Dasa Punna Kiriyavatthu ( Sepuluh Jalan Perbuatan Baik ).
Memang, Kenyataannya demikian berdana adalah suatu perbuatan yang paling mudah untuk kita laksanakan.Siapa saja dapat berdana, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa; mulai dari orang kaya sampai orang miskin sekalipun.
Mungkin kita bertanya mengapa orang miskin dapat pula berdana ? Ingat, Pengertian dana dalam agama Buddha bukan hanya berbentuk materi saja tetapi bisa pula berupa bantuan tenaga dan pemberian maaf.
Orang miskinlah yang justru dianjurkan untuk banyak berdana karena untuk mengimbangi kamma buruknya yang sekarang sedang berbuah, jadi kita salah bila mengatakan bahwa orang miskin tidak perlu berdana..Perlu kita ketahui bahwa nilai serta manfaat suatu dana tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya dana itu saja tetapi juga ditentukan oleh kesungguhan hati ( kehendak ) kita pada saat kan berdana ( Pubba Cetana ),sewaktu berdana ( Munca Cetana ) dan saat sesudah berdana ( Apara cetana ); serta factor-factor lainnya lagi. Jika ketiga tahapan tersebut misalnya kita lakukan dengan hati yang berbahagia maka akan semakin besar pulalah nilai dana tersebut; dan sebaliknya bila kita lakukan dengan penyesalan, maka nilai dari dana itupun akan berkurang..
Tetapi walaupun kita sudah tahu bahwa berdana itu adalah suatu kebajikan yang paling mudah untuk dilakukan, namun pada kenyataannya masi banyak orang khususnya umat Buddha yang tidak mau berdana. Jika mereka berdana, masih
banyak yang berdana karenanya adanya pamrih tertentu atau karena terpaksa. Mereka masih juga berpikir dan menganggap bahwa mereka sendiri masih kekurangan harta benda,sehingga kalau berdana maka hartanya menjadi berkurang. Padahal seharusnya kita menyadari bahwa selama ini kita msih hidup sebagai manusia, biasanya kita tidak akan pernah puas akan sesuatu ; sehinnga kita juga bisa menyadari bahwa dengan berdana tidak akan menyebabkan harta kita menjadi berkurang, bahkan sebaliknya, dengan berdana kita berarti telah menambah kamma baik kita yang kelak akan berbuah kebahagiaan pada diri kita.
II. Pengertian Berdana
Dalam Pandangan masyarakat umum, dana diartikan sebagai pemberian atau pertolongan dengan Memberikan materi ( bersifat kebendaan ) kepada orang lain yang memerlukan,sedangkan bantuan lainnya yang bukan berupa materi, belum dapat dikatakan sebagai dana,tetapi hanya dikatakan sebagai bantuan biasa saja. Dalam Agama Buddha, yang dimaksud dengan dana adalah pemberian yang tulus ikhlas untuk menolong makhluk lain, artinya memberikan pertolongan
tanpa pamrih berupa materi,tenaga,maupun pemberian maaf dan rasa aman. Dana dalam agama Buddha tidak dipaksakan,hanya dianjurkan dan termasuk salah satu dari sepuluh perbuatan baik ( Dasa punna Kiriyavatthu ) yang dapat dilaksanakan oleh umat Buddha.
III. Bentuk-Bentuk Dana
Menurut bentuk yang didanakan,dana terbagi menjadi
3 bagian,yaitu :
1. Amisa Dana
Artinya berdana berupa benda ( barang) atau materi, contoh berdana uang,pakaian,makanan,obat-obatan,dll
2. Dhamma Dana
Artinya dana berupa dhamma atau ajaran (nasehat),contoh seorang bhikkhu mengajarkan tentang hokum kebenaran; seorang guru mendidik murid-muridnya; orang tua yang menasehati anaknya,dll.
3. Abhaya Dana
Artinya berdana dengan memaafkan,yaitu berupa ampunan ( pemberian maaf ) dan tidak membenci. Juga dalam hal ini termasuk memberikan rasa aman kepada makhluk lain dari mara bahaya. Contoh : memaafkan teman yang bersalah kepada kita;membebaskan makhluk lain yang sedang menderita, misalnya menolong anjing yang sedang kejepit kayu dll.
Jadi banyak cara yang dapat dilaksanakan untuk dapat mewujudkan dana, bias dengan amisa dana,dhamma dana,atau abhaya dana. Oleh sebab itu dana tidak harus berupa barang atau materi saja seperti yang dikatakan oleh pandangan masyarakat pada umumnya. Bahkan di dalam Dhammapada,Sang Buddha sendiri bersabda sebagai berikut : ”Sabba danam dhammadanam jinati ”yang artinya dana yang dilaksanakan melalui ajaran kebenaran akan melebihi dana yang
dilaksanakan dengan cara lainnya. Maka bila kita dapat melaksanakan dana dengan melakukan penyebaran kebenaran ( Dhamma ),kita akan memperoleh jasa yang paling mulia, tetapi memang tidak semua orang dapat mengajarkan dhamma dengan baik dan benar.
IV. Kualitas Dana
a. Menurut Tingkatan manfaatnya
Menurut tingkatan manfaatnya,maka suatu dana dapat kita bedakan menjadi empat
bagian,yaitu :
1.Pemberian yang besar dengan manfaat yang kecil ( sedikit ) Contohnya dalam hal ini yaitu orang-orang yang membunuh binatang untuk di korbankan kapada para dewa dengan disertai perayaan yang besar dan segala macam
upacara persembahyangan. Hal ini memerlukan biaya yang besar tetapi pahala atau kebaikan untuk mereka yang melaksanakan sangatlah sedikit.
2. Pemberian yang kecil dengan manfaat yang kecil.
Contohnya dalam hal ini yaitu seorang yang kaya tetapi Ia sangat kikir sehingga tidak mau berdana dengan banyak ( padahal dia mampu ) dan setulus hati.
3. Pemberian yang kecil dengan manfaat yang besar
Contohnya dalam hal ini yaitu seorang yang miskin yang memberikan dananya dengan jumlah yang sedikit ( karena batas kemampuannya memang hanya sampai di situ ) tetapi dia berdana dengan tulus hati dan tanpa pamrih.
4. Pemberian yang besar dengan manfaat yang juga besar
Contohnya yaitu seorang hartawan yang mendanakan sebagian hartanya guna kepentingan orang banyak, misalnya dengan mendirikan vihara,panti asuhan dsb-nya yang semuanya itu dilakukan dengan hati yang tulus dan pamrih.
b. Menurut kehendak ( Cetananya )
Berdasarkan kehendak ( cetananya) berarti bahwa ada niat yang baik dalam berdana tersebut. Dalam hal ini berdana bukan sekedar untuk formalitas,pamer kekayaan, mencari nama,promosi diri atau dagangan, menjilat, dsb. Kehendak baik di sini mencakup tiga masa,yaitu :
1.Sebelum berdana
Sebelum berdana, seseorang hendaknya mengembangkan pikiran yang penuh ketulusan dan keriaan, dengan berpikir misalnya “Saya sedang menanam harta benda sebagai sebab kekayaan yang dapat di bawa serta “
2. Sewaktu berdana
Sewaktu berdana seseorang hendaknya mengembangkan pikiran yang penuh keyakinan dengan berpikir misalnya “ Saya sedang membuat manfaat suatu harta yang tidak begitu bernilai”.
3. Setelah berdana
Setelah berdana seseorang hendaknya mengembangkan pikiran yang penuh keiklasan dan kepuasan, dengan berpikir misalnya “Saya telah melakukan kebajikan yang dipujikan oleh para bijaksana.
C. Menurut Mutu Barang Yang Didanakan Berdasarkan mutu barang yang didanakan,maka suatu dana dapat dibedakan menjadi 3 bagian, sebagai berikut :
I. Berdana Barang yang buruk,yang diri sendiri sudah tidak mau memakainya lagi. Banyak barang buruk yang sudah kita tidak perlukan lagi misalnya baju yang sudah tidak kita pakai lagi;ini dapat kita berikan kepada orang lain yang
membutuhkannya. Tetapi dalam memberikan barang tersebut kita harus memiliki rasa sopan santun dan memiliki rasa perikemanusiaan. Artinya dalam memberikan barang tersebut kita harus dapat memperkirakan barang tersebut memang masih dapat digunakan ( masih layak ) oleh orang yang membutuhkan. Janganlah kita berdana barang yang sudah terlampau buruk, misalnya pakaian yang sudah compang camping sehingga sudah tidak layak dipakai lagi.
II. Berdana barang yang baik sebaik diri sendiri memakainya. Contohnya bila kita mempunyai buku lebih dari satu sedangkan teman kita tidak mempunyai, maka sebagai teman hendaknya memberikan salah satunya kepada teman tersebut.
Dengan demikian kita telah berbuat baik dan kita akan merasa senang bila teman kita senang menerima buku itu.
III. Berdana barang yang lebih baik daripada yang kita pakai sendiri.
Berdana barang yang lebih baik daripada yang kita pakai sendiri jarang dijumpai dalam kehidupan ini. Biasanya orang hanya mau berdana barang yang sudah buruk atau yang sama seperti yang dipakai dirinya sendiri; tetapi ada juga orang yang mau berdana barang yang lebih baik daripada yang dipakainya sendiri. Bila hal ini memang dilakukan dengan tulus,maka orang yang memiliki sikap demikian sangatlah terpuji. Ia dapat dikatakan memiliki jiwa sosial yang tinggi bila
misalnya Ia membangun sekolahan yang bagus dan baru kepada masyarakat yang membutuhkan, sedangkan rumahnya sendiri cukup sederhana.
d. Menurut motif tujuannya
Menurut motif tujuannya, maka suatu dana dapat terbagi sebagai berikut :
1. Hina Dana
Dana yang bersifat rendah, yaitu dengan mengharapkan kemasyuran,kekayaan dsb.
2. Majjhima Dana
Dana yang bersifat menengah misalnya dengan keinginan untuk dapat terlahirkan di alam surga.
3.Panita Dana
Dana yang bersifat luhur, dengan tujuan untuk meraih pembebasan sejati.
e. Menurut Kemurniaan dari Pemberi dan Penerima dana
Didalam Dakkhina vibhanga Sutta, Sang Buddha menyebutkan bahwa nilai suatu dana tergantung juga kepada kelakuan dari orang yang menerima dana maupun yang memberi dana.
1. Kemurniaan Pemberi bukan kemurniaan dari Penerima
Artinya yang memberi dana mempunyai kelakuan yang baik, bermoral sedangkan yang menerima tidak demikian.
2. Kemurnian Penerima bukan pemberi
Dalam hal ini Penerima dana adalah adal;ah orang yang bermoral sedangkan pemberinya tidak demikian.
3. Tidak Murni dari pemberi dan Penerima
Artinya baik pemberi dan penerimanya tidak bermoral.
4. Yang Murni dari Pemberi dan Penerima
Baik yang memberi dana dan yang menerimanya bermoral semuanya.
f. Menurut yang patut menerima dana
Dalam Agama Buddha, Dana patut diberikan kepada siap saja yang memerlukan, namun selain hal tersebut , dikenal pula tentang adanya lapangan yang subur untuk menanam jasa,artinya bila yang kita berikan dana adalah merupakan
lapangan yang subur untuk menanam jasa, maka dana tersebut dapat memberikan hasil yang besar bagi yang berdana.
Didalam Dakkhina Vibhanga Sutta, Majjhima Nikaya, dikisahkan bahwa Maha Pajapati Gotami berniat untuk mempersembahkan sepasang jubah baru yang dibuatnya sendiri kepada sang Buddha Gotama. Tetapi sang Buddha menganjurkan agar persembahan ini dialihkan kepada Sangha secara umum. Ananda Thera karena tidak tahu , berusaha membujuk agar mau menerimanya, dengan memperingatkan jasa Mahapajapati Gotami yang pernah menyusui serta merwat beliau semasa kecil.
Menanggapi hal ini, sang Buddha Gotama kemudian menjelaskan bahwa ada 14 macam persembahan yang ditujukan kepada Pribadi tertentu (Patipuggalika Dakkhina),yaitu :
1. Samma Sambuddha
2. Pacceka Buddha
3. Arahat ( Arahatta phala )
4. Mereka yang berpraktek untuk meraih kearahatan ( Arahatta Magga )
5. Anagami ( Anagami Phala )
6. Mereka yang berpraktek untuk meraih keanagamian ( Anagami Magga )
7. Sakadagami ( Sakadagami Phala )
8. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesakadagamian ( Sakadagami Magga )
9. Sotapanna ( Sottapati Phala )
10. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesotappanaan ( Sottapati Magga )
11. Orang Non Buddhis yang telah melenyapkan nafsunya ( Orang yg memiliki Jhana)
12. Orang biasa ( awam )yang bermoral ( yang mempunyai kesilaan )
13. Orang biasa ( awam )yang tidak bermoral ( yang jelek kesilaannya )
14. Binatang/hewan
Dengan berdana kepada binatang / hewan, seseorang dapat mengharapkan pahala sebanyak 100 kali.
Dengan berdana kepada orang awam yang jelek kesusilaanya,…..Pahalanya sebanyak 1000 kali.
Dengan berdana kepada awam yang mempunyai kesilaan, pahalanya sebnyak 100,000 kali
Dengan berdana kepada orang non buddhis yang telah melenyapkan nafsunya, pahalanya sebanyak 10,000,000 kali.
Dengan berdana kepada mereka yang berpraktek utuk meraih kesotapannaan…….Pahala yang tak terhitung ,tak terhingga.
Apalagi jika dana tersebut dipersembahkan kepada mereka yang tingkatannya lebih luhur, pahalanya tidak terbayangkan lagi.
Dari orang yang menerima dana, maka tempat yang merupakan lapangan jasa yang tiada taranya dialam semesta ini adalah Sangha. Buddha Gotama selanjutnya menjelaskan bahwa ada 7 macam sangha yang bisa kita berikan dana
persembahan ( Sangha dana ) yaitu :
1. Sangha Bhikkhu dan sangha Bhikkhuni saat Sang buddha ( Samma sambuddha ) sebagai pimpinan sangha
2. Sangha Bhikkhu dan sangha Bhikkhuni sesudah Sang buddha ( Samma sambuddha ) sebagai pimpinan sangha
3. Sangha Bhikkhu saja
4. Sangha Bhikkhuni saja
5. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dan bhikkuni dalam jumlah terbatas sejumlah bhikkhu dan bhikkhuni dari Sangha.
6. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dalam jumlah terbatas ( Beberapa bhikkhu yang disediakan oleh sangha )
7. Sangha yang terdiri dari para bhikkuni dalam jumlah terbatas ( Beberapa bhikkhuni yang disediakan oleh Sangha )
Demikian uraian yang terdapat di dalam Dakkhina Vibhanga Sutta. Pada masa mendatang, hanya akan ada Bhikkhu “Gotrabhu dengan jubah tersampirkan di leher yang jelek kesilaannya dan menganut ajaran salah. Beliau tidak menyatakan bahwa Patipuggala dana ( yang tetuju pada pribadi) mempunyai pahala yang lebih besar daripada dana yang ditujukan kepada Sangha. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa dalan keadaan bagaimanapun, pahala Sangha dana jauh melampaui Patipuggala dana.
Jadi Sangha merupakan lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya, hal ini juga disebutkan di dalam Sanghanussati ( Perenungan terhadap Sangha ) yang berbunyi sebaga berikut : “ Anuttaram Punnakkhetam Lokassa “ yang berarti Sangha adalah Lapangan untuk menanam jasa yang tiada tara baiknya di alam semesta ini.
Sangha merupakan ladang untuk berdana yang paling baik sebab yang lain yaitu karena dana yang kita berikan kepada sangha akan disalurkan kembali oleh para bhikkhu sangha untuk kepentingan agama dan umat , misalnya untuk melengkapi sarana dalam mengajarkan dhamma; yang bisa berguna untuk menunjang pelestarian buddha dhamma. Pokoknya semuanya merupakan suatu penyaluran dana atau pemanfaatan dana yang tepat.
Selain Sangha yang merupakan lapangan untuk menanam jasa, maka seperti yang tadi telah diuraikan di dalam Dakkhina Vibhanga Sutta, kita dapat pula memberikan dana kepada obyek-obyek lainnya yang memang patut atau pantas
menerima dana, misalnya yaitu :
1. Dana yang diberikan kepada orang yang melaksanakan sila, seperti misalnya para bhikkhu sekarang ini; bahkan ini termasuk berdana kepada Sangha.
2. Dana yang diberikan kepada Orang Tua ( Ayah dan Ibu )
3. Dana yang diberikan kepada orang yang belum berpenghasilan, misalnya mereka yang belum mempunyai pekerjaan lalu kita sokong untuk sementara waktu.
4. Dana yang diberikan kepada mereka yang memang sedang membutuhkan bantuan, misalnya kepada orang yang sedang terkena musibah, dsbnya
V. Cara-cara Berdana
a) Umum
Dalam kita berdana hendaknya selalu diingat faktor-faktor ini agar kita memperoleh buah karma yang terbaik mutunya. Bukankah berdana sama sama dengan menanam pohon yang secara tepat kita harus juga memilih lahan,bibit dan waktu
penanaman serta pemeliharaannya. Kalau kita asal tanam maka mungkin akan menghasilkan buah yang kecil-kecil dan kurang baik mutunya, apalagi bila pemeliharaannya juga tidak secara baik. Tetapi perlu sekali dimergerti bahwa
hal ini bukanlah berati bahwa dalam melakukan tindakan berdana ini kita semata-mata hanya mengharapkan adanya hasil yang besar; bukan itu maksudnya. Jadi dalam hal ini kita hanya berusaha untuk melakukan cara-cara berdana yang
paling baik. Nah,faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tanaman dana kita ini adalah antara lain sebagai berikut:
¨ Apa yang kita danakan hendaknya hasil yang kita peroleh dengan cara yang sesuai dengan dhamma.
¨ Dana diberikan kepada orang yang layak menerima.
¨ Sebelum diserahkan,dana telah dipersiapkan dan direncanakan dengan pikiran yang baik.
¨ Pada waktu diserahkan disertai dengan pikiran ikhlas, rela dan penuh kebahagiaan serta tanpa ikatan.
¨ Sesudah diserahkan lalu pada hari-hari selanjutnya pikiran-pikiran baik tersebut tetap dipelihara dengan cara :
a. Merenungkan bahwa dengan berbuat bajik ini semoga sanak keluarga yang telah tiada juga ikut bergembira dan dapat pula menikmatinya.
b. Tidak lagi menganggap bahwa barang tersebut masih milik kita dan merelakan dengan tulus si penerima untuk menggunakannya. Hindarkanlah diri kita dari sikap egois yang selalu menganggap barang itu adalah pemberian kita. Ini
merupakan jalan untuk mempraktekkan ajaran anatta, praktek pasrah dan tidak terikat.
c. Tidak meremehkan kepada siapapun dengan membanggakan apa yang telah kita perbuat. Orang lain boleh membanggakan kebajikan kita,namun hendaknya dijaga batin atau pikiran kita dari kekotoran batin tersebut.
d. Tidak memberikan syarat-syarat yang mengikat yang dibebankan pada penerima dana sehingga Ia tidak bebas memanfaatkannya. Ini terjadi karena ketidak ikhlasan kita kepada orang yang menerima dana.
b) Sappurisa dana 8
Tentang cara-cara berdana yang baik, menurut agama Buddha dapat diterangkan di dalam Sappurisa Dana 8 yang artinya 8 macam cara berdana dari orang yang baik.
1) Sucim Deti
Artinya berdana barang yang bersih (halal),yang benar-banar merupakan hasil jerih payah kita sendiri. Jadi barang yang kita danakan bukan hasil curian atau hasil perbuatan yang tidak baik.
2) Panitam Deti
Artinya berdana barang yang baik, hendaknya kalau kita berdana maka dana itu paling tidak masih dapat bermanfaat bagi yang menerima. Kita jangan berdana barang yang sudah sama sekali rusak dan tidak dapat dipakai lagi.
3) Kalena Deti
Berdana barang yang tepat pada kondisinya, misalnya kalau kita melihat suatu daerah yang kekurangan bahan-bahan pelajaran, maka kita jangan berdana makanan kepada daerah itu,tetapi kita hendaknya berdana buku-buku pelajaran.
4) Kappiyam Deti
Berdana barang yang layak, misalnya kalau kita berdana kepada bhikkhu sangha, hendaknya kita berdana barang yang layak untuk digunakan oleh bhikkhu tersebut. Jangan Kita berdana barang yang tidak pantas digunakan oleh bhikkhu misalnya berdana sandal yang berlapis emas. Hal ini tidak perlu dan tidak pantas karena seorang bhikkhu sudah hidup meninggalkan keduniawian.
5) Vicceya Deti
Yaitu berdana barang yang bijaksana, artinya kita melihat siapa yang kita berikan dana, apakah itu berguna bagi dia atau malahan bisa membuat dia malas. Kita dapat berdana kepada yang memang benar membutuhkan seperti korban bencana alam dll, tetapi hendaknya kita berpikir dulu apabila akan berdana kepada seorang pengemis yang sehat badannya.
6) Abhinham Deti
Yaitu berdana barang secara tetap, misalnya menjadi penyokong vihara,rumah yatim piatu,dll. Memang kita bisa berdana adalah suatu kondisi yang bagus, tetapi lebih bagus lagi kita dapat berdana secara tepat.
7) Dadam Cittam Pasa Deti
Berdana barang dengan oikiran yang tenang. Bila kita berdana sebaiknya dengan pikiran yang baik dan tidak mengharapkan pamrih yang dapat menimbulkan kegelisahan,apalagi yang kita harapkan dengan dana kita itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
8) Datva Attamano Hoti
Setelah berdana batin merasa tenang. Hal ini dapat terjadi bila kita berdana tanpa pamrih dan melihat orang yang menerima dana itu berbahagia sehinnga kita ikut berbahagia.
c) Berdana Kepada orang yang telah meninggal ( Dalam hal ini ditekankan kepada orang tua , tetapi bisa juga kepada sanak keluarga kita yang lain ).
Semua orang yang normal pasti mencintai orang tuanya, karena orang tua merupakan maha dermawan bagi anak-anaknya. Sejak mengandung, ibu telah memberikan perawatan kepada anaknya yang masih dalam kandungan; dan setelah kita lahir ibu akan memberikan air susu untuk kehidapan anaknya. Ibu dan ayah memang pantas mendapat penghormatan dari anak-anaknya karena beliau bersama-sama telah menjaga,merawat,dan memberikan pendidikan agar anak-anaknya nanti menjadi orang yang baik dan berguna. Pada akhirnya kedua orang tua kita akan menjadi tua dan lemah,dan suatu kewajiban yang mulia bagi seorang anak untuk merawat dengan penuh kasih sayang. Setelah mereka meninggal, seorang anak berkewajiban untuk selalu mengingat jasa beliau dengan cara diantaranya mengadakan upacara keagamaan yang benar,bukan hanya upacara tradisi yang mewah tetapi tidak bermanfaat.
Salah satu cara yang bijaksana ialah bila seorang anak dapat mempraktekkan dhamma dengan berbuat kebajikan,misalnya berdana kepada vihara,mencetak buku-buku dhamma, mendirikan bangunan untuk kepentingan masyarakat ( Sekolahan,runah sakit ) dan kebajikan tersebut dilakukan atas nama almahum. Dengan cara ini tentu bermanfaat baik bagi dirinya,masyarakat dan juga bagi almahum.
Bila orang tua yang telah meninggal dunia itu bertumimbal lahir di alam yang menyedihkan,maka semua kebajikan yang kita lakukan atas nama almahum tadi akan menimbulkan getaran oikiran yang baik bagi almahum. Hal inilah yang disebut
“Pattanumodanamaya” yaitu berbuat kebajikan dengan cara merasa gembira melihat kebajikan orang lain. Pattanomodanamaya merupakan salah satu dari dasa Punna Kiriyavatthu ( sepuluh jalan untuk berbuat kebaikan). Dengan demikian almahum dapat menambah kamma baik dari perbuatan berdana tadi.
d) Kathina dana
Kathina adalah nama bulan yang digunakan oleh umat Buddha untuk berdana kepada anggota sangha ( walaupun setiap hari kita juga boleh berdana kepada sangha ). Dana itu berupa barang-barang keperluan pokok para bhikkhu seperti
makanan ,jubah,tempat tinggal dan obat-obatan.
VI. Pahala berdana
Banyak orang yang salah mengerti bahwa pahala dana baru bisa diperoleh apabila pelakunya telah meninggal dunia. Pahala dana sering dibatasi pada kehidupan bahagia di alam surga. Sesungguhnya,pahala berdana tidak hanya
n\mengacu padakehidupan mendatang saja, tetapi juga mencakuyp kehidupan sekarang ini juga.
1) Dalam Kehidupan Sekarang
Ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil kalu kita banyak berdana dalam krhidupan kita sekarang ini. Walaupun buah kamma baik kita dalam berdana tersebut belum masak dalam kehidupan kita yang sekarang ini, tetapi tetap ada
manfaat yang dapat kita petik yaitu :
Ø Dengan berdana berati kita telah melaksanakan suatu cara untuk mengurangi sifat lobha yang ada dalam diri kita.
Ø Dengan berdana berati kita berlatih melepaskan sesuatu milik kita dengan wajar sehingga jika pada suatu saat kita harus terpaksa melepaskan suatu milik kita yang sangat kita cintai,maka kita ati melepaskannya dengan wajar.
Ø Dengan berdana berarti kita melatih diri agar kita tidak terlalu melekat pada sesuatu.
Ø Dengan berdana maka kita akan disenangi dan mempunyai banyak teman yang kelak dapat menolong di saat kita sedang susah.
Di dalam Siha Sutta, Pancakanipata,sang Buddha juga membabarkan beberapa pahala dana yang dapat diperoleh pada kehidupan sekarang ini juga,yaitu ; menjadi kecintaan orang banyak; dijadikan sahabat oleh orang yang bijak;
kemahyuran nya tersebar luas; tidak merasa canggung memasuki kalangan apapun,bangsawan,brahmana,hartawan,dan pertapa.
2) Dalam Kehidupan yang akan datang
Jika dalam kehidupan yang sekarang kita banyak berdana,maka kita nanti terlahirkan lagi di alam yang menyenangkan,kita akan memperoleh :
Ø Dilahirkan sebagai anak dari keluarga yang kaya raya ( ditekankan bila terlahir sebagai manusia).
Ø Sesudah kita berdana,khususnya kepada bhikkhu Sangha, kita akan mandapat berkah atas perbuatan baik kita seperti yang disebutkan di dalam Anumodana gatha, di mana dana akan memberikan manfaat yaitu “Ayu Vanno Sukham
Balam” yang artinya mendapat berkah usia panjang, wajah tampan ,cantik,bahagia dan kuat. Semoga dana yang kita berikan memberikan berkah.
- Ayuvadhako - Usia Bertambah
- Dhanavaddhako - Kekayaan bertambah
- Sirivaddhako - Kemakmuran bertambah
- Yasavaddhako - Kemashuran bertambah
- Balavaddhako - Kekuatan bertambah
- Vannavaddhako -Kecantikan/ketampanan bertambah
- Hotu Sabbada - Semoga selalu demikian ( Selalu bertambah )
3). Pahala Yang Setimpal
Dalam Manapadayi Sutta,sang Buddha bersabda : mereka yang berdana
· Sesuatu yang disenangi,niscaya akan memperoleh sesuatu yang disenangi
· Sesuatu yang terunggul,niscaya akan memperoleh sesuatu yang terunggul
· Sesuatu yang terbaik,niscaya akanmemperoleh sesuatu yang terbaik
· Sesuatu yang mulia, niscaya akan memperoleh sesuatu yang mulia.
Berdasarkan Sutta tersebut,dapatlah dinyatakan bahwa dana senantiasa memberikan pahala yang setimpal kepada pelakunya. Karena itu ,seseorang yang berdana tidak semestinya mengharapkan hasil/pahala melebihi apa yang diberikan.
Dalam hal berdana, tidak dikenal adanya “ Kiat ekonomi” yaitu hanya dengan modal sedikit,mengharapkan keuntungan yang sebesar mungkin. Perlu dipahami bahwa kata setimpal disini mengandung makna yang mendalam.ini bukan berarti bahwa orang yang berdana sesendok nas akan memperoleh sesendok nasi yang sama. Nilai suatu dana bersifat relatif, tergantung pada kemauan pemberi. Bagi orang-orang yang sering kelaparan, misalnya, sesendok nasi mempunyai nilai yang lebih besar daripada setumpuk makanan mewah bagi orang-orang kaya. Kebajikannya dalam berdana ini mungkin saja dapat membawanya pada kelahiran kembali di alam surga yang menyenangkan. Jadi, nilai suatu dana tidak dapat dilihat dan diukur hanya dari besarnya harga barang yang dipersembahkan.
Banyak faktor lain yang menentukannya, misalnya : pengertian benar, keyakinan yang mantap, kehendak yang tulus, perasaan ikhlas, dsb.nya.
VII. Tantangan Dalam Berdana
1) Nilai Kedermawanan
Merupakan kecenderungan umat manusia untuk menilai sesuatu dari apa yang tertampak di luar saja. Ini termasuk dalam hal menilai kedermawanan seseorang.
Kalau ada hartawan yang mendanakan uangnya sejumlah milyaran untuk pembangunan vihara, misalnya, ini merupakan suatu kejuatan. Mereka beramai-ramai mengagumi kedermawanan hartawan tersebut. Yayasan,lembaga atau organisasi
yang ikut mendapat bagian tidak segan-segan untuk segera mengarugerahinya dengan gelar atau perbagai macam tanda prestige. Sebailiknya dana uang seratus ribu rupiah dari orang-orang yang makan gaji bulan sekitar dua ratus ribu
rupiah,tidak begitu dihargai. Orang-orang kelas bawah ini dalam mimpi sekalipun, sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memperoleh gelar kedermawanan semacam itu. Benarkah bahwa kedermawanan seseorang dapat dinilai
hanya dari besarnya jumlah dana yang pernah disumbangkan.
Sesungguhnya tidak. Bagi seorang hartawan yang mempunyai asset kekayaan sebesar ribuan milyar, uang sepuluh atau dua puluh milyar tidaklah begitu ada artinya. Hanya dibutuhkan pengorbanan dan penglepasan yang tak terlalu berat
untuk mendanakan uang ‘sedikit’ itu. Lagipula, seandainya ia tidak beruntung menjadi orang kaya, belum pasti mempunyai keyakinan untuk melepaskan uang sejumlah seratus ribu – yang merupakan setengah dari gaji bulanannya, misalnya.
Padahal, pengorbanan sebesar itu sering dilakukan oleh orang lain. Lalu, siapakah yang sesungguhnya lebih patut disebut dermawan : hartawan yang berdana sepuluh milyar ataukan orang miskin yang justru dianugerahi gelar kedermawanan ?
Tentu saja tidak. Inilah salah satu bentuk ketidakadilan yang justru diabsahkan oleh lembaga-lembaga didalam masyarakat. Penilaian yang berat sebelah semacam ini perlu segera dirombak. kEdermawanan seseorang seharusnya dinilai dari seberapa besar keyakinannya dalam berkorban dan melepaskan harta miliknya, bukan dari besarnya jumlah uang yang disumbangkan saja. Agama tidak selayaknya menciptakan diskriminasi kekayaan diantara para penganutnya.
Setiap orang hendaknya diperlakukan adil dan merata, tanpa membeda-bedakannya berdasarkan kekayaan, harta benda dan sejenisnya. Sudah terlalu banyak bidang kehidupan yang dikuasai oleh orang-orang berduit tebal saja. Karena itu, tidaklah begitu perlu membuka peluang lagi bagi mereka untuk memonopoli gelar kedermawanan. Untuk hal-hal yang bersifat keagamaan, sudah tiba waktunya bagi orang-orang miskin (tunaharta) untuk diberi
kesempatan yang sama, adil.
2) Alasan-alasan orang mau melaksanakan dana
alasan berdana disini bersifat umum, maksudnya berlaku tidak hanya pada umat Buddhis saja, tetapi juga kepada umat-umat beragama yang lain. Secara garis besar alasan seseorang mau berdana dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
A. Alasan karena adanya pengaruh dari luar
Dalam hal ini seseorang mau berdana karena dipengaruhi oleh pihak lain atau lingkungan sekitarnya, misalnya :
a. Karena tertarik melihat orang lain berdana, lalu ia ikut berdana
b. Karena malu jika orang lain berdana, tetapi dia kok tidak berdana
c. Karena orang yang akan menerima dananya itu adalah orang yang ia senangi
d. Karena orang yang meminta dana adalah orang yang ia hormati dan ia segani.
Contoh, seorang murid memberikan dana di suatu vihara karena yang menganjurkan dia berdana adalah guru agamanya.
e. Karena kewajiban yang telah ditentukan. Contoh umat Islam yang berzakat menjelah Hari Raya Idul Fitri
f. Karena ingin memamerkan kekayaan dan kedermawanannya dilingkungannya.
Contoh, orang kaya yang berdana agar dianggap sebagai orang kaya yang dermawan oleh masyarakat lingkunganna yang hidupnya masih sangat sederhana.
B. Alasan yang bersifat ‘kejiwaan’
Dalam hal ini, seseorang mau berdana karena memang keinginan serta kehendaknya sendiri, tanpa adanya pengaruh dari luar, misalnya :
a. Karena ia merasa iba melihat penderitaan (makhluk) lain
b. Karena memang ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang masih menderita
c. Karena ingin berbuat kebajikan terhadap sesama manusia atau kepada makhluk lain dengan tanpa pamrih
d. Karena ingin mempraktekkan Dhamma Sang Buddha khususnya ajaran mengenai dana dan tidak melekat
e. Karena menanamkan benih kamma yang baik supaya mempunyai buah yang baik pula
Diantara kedua alasan tersebut, tentunya lasan kedualah yang menjadi alasan yang lebih baik dan lebih tepat dalam berdana. Hal ini karena nilai suatu dana tidak ditinjau hanya dari besar dan kecilnya suatu dana, tetapi juga ditinjau
dari ketulusan orang yang berdana
3) Alasan orang tidak mau berdana
Alasan ini juga bersifat umum, dan secara garis besarnya juga dibagi menjadi
dua bagian yaitu :
A. Alasan materi
Alasan inilah yang paling sering dijadikan alasan oleh orang yang tidak mau berdana. Artinya dia tidak mau berdanan karena dia merasa hidupnya sendiri masih kekurangan.
B. Alasan non materi
Dalam hal ini seseorang tidak berdana bukan karena dia tidak mampu atau kekurangan, tetapi dia tidak berdana karena alasan-alasan lain yang tidak bersifat kebendaan, misalnya :
a. Karena hatinya sedang susah
b. Karena kikir dan serakah. Contoh, orang kaya yang tidak mau berdana karena takut hartanya menjadi berkurang, dia terlalu sayang dan melekat terhadap hartanya tersebut.
c. Karena orang yang akan menerima dananya adalah orang yang dia benci.
Contoh, A tidak mau berdana ke suatu vihara karena ia benci kepada salah seorang pemimpinnya yang dulu pernah menyakiti hatinya.
d. Karena ia berpendapat bahwa berdana itu tidak ada manfaatnya.
Dari kedua alasan itu, tentu saja alasan yang pertama masih bisa kita anggap lebih umum walaupun sebenarnya materi tidak menghalangi seseorang yang ingin berdana karena berdana dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk barang saja.
4) Masalah tujuan orang berdana
setelah kita mengetahui beberapa alasan orang mau berdana, tentu kta dapat menyimpulkan bahwa setiap orang yang berdana pasti mempunya tujuan terhadap dananya itu. Tujuan berdana yang baik tentu saja bukanlah yang merupakan pamrih, melainkan dapat dijadikan sebagai motivasi atau pendorong seseorang dalam berbuat kebajian malalui berdana. Tentu saja tidak dapat kita pungkiri bahwa ada beberapa orang tertentu yang berdana dengan tujuan yang kuarng etis, dan tujuan itu bersifat pamrih terhadap dana yang telah diberikannya itu. Nah, berdasarkan hal ini, maka tujuan berdana dapat dilihat sbb :
A. Tujuan yang bersifat mendorong
a. Agar simenerima dana dapat berbahagia
b. Agar bila buah kammanya masak, maka buah kamma yang baiklah yang ia terima nanti
c. Agar keluarganya yang telah meninggal turut mendapat kebahagiaan karena dana yang dilakukannya tiu.
d. Agar dalam kehidupan sekarang ia dapat mengurang sifat serakah (lobha) yang ada dalam dirinya.
B. Tujuan yang bersifat pamrih
a. Agar ia menjadi orang yang terkenal dermawan
b. Agar orang lain menjadi hormat padanya
c. Agar ia mendapatkan sesuatu dari orang yang telah ia bantu
d. Agar martabat dan harga dirinys menjadi naik dan lebih baik lagi
e. Agar dengan demikian banyak orang yang mau menjadi pengikutnya.
VIII. Kesimpulan
Dari seluruh pokok bahsan pada pelajaran berdana ini, ada beberapa kesimpulan atau hal-hal penting yang dapat kita ambil. Hal-hal penting itu adalah sbb :
1. Berdana artinya memberi dengan ikhlas, baik yang berupa harta benda, tenaga, maupun jiwa raga demi kepentingan masyarakat dan kesejahteraan semua makhluk
2. Terdapat bermacam-macam dana, yang pembagiannya ditentukan berdasarkan bentuknya, pengorbannannya, dan lain sebagainya
3. Dalam berdana ada hal-hal tertentu yang harus kita perhatikan mulai dari jenis barang yang dapat didanakan, orang yang berhak menerima dana, sampai pada keadaan batin ketikan akan berdana, pada saat berdana, dan setelah berdana.
4. Diantara sekian banyak jenis dana, Dhammadana adalah dana yang paling bernilai
5. Adapun Sangha adalah tempat berdana yang paling baik
6. Nilai suatu dana, tidak ditentukan hanya oleh besar atau kecilnya dana itu, tetapi juga ditentukan oleh ketulusan hatiorang yang berdana, dsb
7. Siapapun orangnya, sekalipun ia miskin, tetapi tetap bisa berdana, sebab bentuk dana itu tidak terbatas.
Itulah beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari keseluruhan isi pelajaran berdana ini.
IX. Saran-saran
Melalui pelajaran berdana ini, dapat diberikan beberapa saran tentang berdana, demi kepentingan kita semua, khususnya yang kita berlaku sebagai umat Buddha.
Adapun saran-saran itu adalah sebagai berikut :
1. Pada saat sekarang ini masih banyak umat Buddha yang belum mengerti tentang ajaran agamanya. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi kita semua yang sudah mengeri untuk menolong mereka melalui Dhammadana
2. Sebaiknya kalau kita hendak berdana, kita perhatikan dulu beberapa hal yang akan menunjang dana kita itu, sehingga menjadi dana yang benar-benar bernilai dan menimbulkan buah kamma yang baik; tetapi hal ini jangan disalahartikan untuk semata-mata mencari pahala yang besar.
3. Janganlah kita terpaku pada dana yang berbentuk materi saja, tetapi berdanalah dengan dana yang berupa bentuk yang lain, misalnya memberikan suatu ajaran dan bisa memaafkan, juga seandainya bersedia tentu akan lebih mulia lagi
kalau kita mau menjadi seseorang donor mata atau bagian dari tubuh kita yang lain
4. Sebaiknya kita berdana sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan berdanalah dengan bijaksana.
Akhirnya harapan kita semua yaitu semoga saran-saran tersebut dapat dihayati kita semua sehingga dapat lebih meningkatkan keinginan kita untuk berdana dan akhirnya dapat berguna untuk kesejahteraan semua makhluk.
Buku Acuan :
1. Dhammasakaccha, disusun oleh Pandit J. Kaharudin
2. Vijja Dhamma, disusun oleh Abhayahema K.
3. Buddha Cakkhu No. 04 / VIII / 1987, Dhammaduta dan Dana Punna, oleh Herman S.E.
4. Bunga Rampai Dhammadesana, disusun oleh Bhikkhu Subalaratano
5. Paritta Suci, Penerbit Yayayasan Dhammadipa Arama
6. Lembaran Nirlaka, Lembaga Pelestari Dhamma, disusun oleh Jan Sajivaputta
(by. Dhamma Study Group Bogor)
I. Pendahuluan
Hampir semua orang tentu mengerti bila kita mengatakan istilah berdana Yang artinya secara umum yaitu memberikan sesuatu untuk membantu orang lain yang memerlukan. Tetapi apakah makna berdana hanya demikian saja ? Apakah tidak
ada lagi makna nya yang lain ? Nah, untuk mengetahui lebih jelasnya tentang berdana ini ,dan juga tentang adanya pandangan salah mengenai “ Berdana“ yang ditinjau dari pandangan agama Buddha.
Kamma, menurut agama Buddha artinya perbuatan. Setiap orang pasti melakukan suatu perbuatan ( kamma ) dan perbuatan yang dilakukan tentu mempunyai motif-motif tertentu,dimana motif itu sendiri juga sudah merupakan suatu
perbuatan. Menurut agama Buddha, motif ini dapat terbagi menjadi motif yang baik ( tiga akar perbuatan baik ) dan motif yang tidak baik ( tiga akar perbuatan Jahat ). Motif yang baik terdiri dari alobha ( tidak dengan keserakahan ),adosa
( tidak dengan kebencian ) dan Amoha ( tidak dengan kegelapan batin ); sedangkan motif yang tidak baik terdiri dari Lobha ( keserakahan ),dosa ( kebencian ) dan moha ( kegelapan batin ).
Setiap orang yang berbuat sesuatu pasti tidak terlepas dari motif-motif tersebut di atas. Tentu saja idealnya kita hendaknya selalu berbuat dengan motif yang baik, tetapi biasanya dalam setiap melakukan tindakan kita
cenderung untuk melakukannya dengan motif yang buruk, dengan tanpa kita sadari lagi karena hal itu sudah merupakan suatu kebiasaan yang biasa kita lakukan.
Dalam Agama Buddha diajarkan untuk mencapai kebahagiaan, hendaknya kita jangan berbuat jahat,tambahkanlah selalu kebaikan,dan sucikanlah batin atau pikiran.
Hal ini dimaksudkan supaya seseorang hendaknya selalu melatih berbuat dengan motif yang baik . Tetapi bagaimanakah cara melatih hal itu ? Perbuatan yang paling mudah untuk mengurangi tiga akar perbuatan jahat ini (khususnya Lobha) yaitu dengan cara berdana. Pengertian berdana yang diajarkan oleh Sang Buddha Gotama adalah merupakan cara untuk menunjang menyembuhkan penyakit batin manusia yang disebut Lobha. Dalam beberapa ajaran beliau,dana selalu diletakkan pada urutan pertama, misalnya dalam dasa Paramita ( Sepuluh Kebajikan ) dan di dalam Dasa Punna Kiriyavatthu ( Sepuluh Jalan Perbuatan Baik ).
Memang, Kenyataannya demikian berdana adalah suatu perbuatan yang paling mudah untuk kita laksanakan.Siapa saja dapat berdana, mulai dari anak kecil sampai orang dewasa; mulai dari orang kaya sampai orang miskin sekalipun.
Mungkin kita bertanya mengapa orang miskin dapat pula berdana ? Ingat, Pengertian dana dalam agama Buddha bukan hanya berbentuk materi saja tetapi bisa pula berupa bantuan tenaga dan pemberian maaf.
Orang miskinlah yang justru dianjurkan untuk banyak berdana karena untuk mengimbangi kamma buruknya yang sekarang sedang berbuah, jadi kita salah bila mengatakan bahwa orang miskin tidak perlu berdana..Perlu kita ketahui bahwa nilai serta manfaat suatu dana tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya dana itu saja tetapi juga ditentukan oleh kesungguhan hati ( kehendak ) kita pada saat kan berdana ( Pubba Cetana ),sewaktu berdana ( Munca Cetana ) dan saat sesudah berdana ( Apara cetana ); serta factor-factor lainnya lagi. Jika ketiga tahapan tersebut misalnya kita lakukan dengan hati yang berbahagia maka akan semakin besar pulalah nilai dana tersebut; dan sebaliknya bila kita lakukan dengan penyesalan, maka nilai dari dana itupun akan berkurang..
Tetapi walaupun kita sudah tahu bahwa berdana itu adalah suatu kebajikan yang paling mudah untuk dilakukan, namun pada kenyataannya masi banyak orang khususnya umat Buddha yang tidak mau berdana. Jika mereka berdana, masih
banyak yang berdana karenanya adanya pamrih tertentu atau karena terpaksa. Mereka masih juga berpikir dan menganggap bahwa mereka sendiri masih kekurangan harta benda,sehingga kalau berdana maka hartanya menjadi berkurang. Padahal seharusnya kita menyadari bahwa selama ini kita msih hidup sebagai manusia, biasanya kita tidak akan pernah puas akan sesuatu ; sehinnga kita juga bisa menyadari bahwa dengan berdana tidak akan menyebabkan harta kita menjadi berkurang, bahkan sebaliknya, dengan berdana kita berarti telah menambah kamma baik kita yang kelak akan berbuah kebahagiaan pada diri kita.
II. Pengertian Berdana
Dalam Pandangan masyarakat umum, dana diartikan sebagai pemberian atau pertolongan dengan Memberikan materi ( bersifat kebendaan ) kepada orang lain yang memerlukan,sedangkan bantuan lainnya yang bukan berupa materi, belum dapat dikatakan sebagai dana,tetapi hanya dikatakan sebagai bantuan biasa saja. Dalam Agama Buddha, yang dimaksud dengan dana adalah pemberian yang tulus ikhlas untuk menolong makhluk lain, artinya memberikan pertolongan
tanpa pamrih berupa materi,tenaga,maupun pemberian maaf dan rasa aman. Dana dalam agama Buddha tidak dipaksakan,hanya dianjurkan dan termasuk salah satu dari sepuluh perbuatan baik ( Dasa punna Kiriyavatthu ) yang dapat dilaksanakan oleh umat Buddha.
III. Bentuk-Bentuk Dana
Menurut bentuk yang didanakan,dana terbagi menjadi
3 bagian,yaitu :
1. Amisa Dana
Artinya berdana berupa benda ( barang) atau materi, contoh berdana uang,pakaian,makanan,obat-obatan,dll
2. Dhamma Dana
Artinya dana berupa dhamma atau ajaran (nasehat),contoh seorang bhikkhu mengajarkan tentang hokum kebenaran; seorang guru mendidik murid-muridnya; orang tua yang menasehati anaknya,dll.
3. Abhaya Dana
Artinya berdana dengan memaafkan,yaitu berupa ampunan ( pemberian maaf ) dan tidak membenci. Juga dalam hal ini termasuk memberikan rasa aman kepada makhluk lain dari mara bahaya. Contoh : memaafkan teman yang bersalah kepada kita;membebaskan makhluk lain yang sedang menderita, misalnya menolong anjing yang sedang kejepit kayu dll.
Jadi banyak cara yang dapat dilaksanakan untuk dapat mewujudkan dana, bias dengan amisa dana,dhamma dana,atau abhaya dana. Oleh sebab itu dana tidak harus berupa barang atau materi saja seperti yang dikatakan oleh pandangan masyarakat pada umumnya. Bahkan di dalam Dhammapada,Sang Buddha sendiri bersabda sebagai berikut : ”Sabba danam dhammadanam jinati ”yang artinya dana yang dilaksanakan melalui ajaran kebenaran akan melebihi dana yang
dilaksanakan dengan cara lainnya. Maka bila kita dapat melaksanakan dana dengan melakukan penyebaran kebenaran ( Dhamma ),kita akan memperoleh jasa yang paling mulia, tetapi memang tidak semua orang dapat mengajarkan dhamma dengan baik dan benar.
IV. Kualitas Dana
a. Menurut Tingkatan manfaatnya
Menurut tingkatan manfaatnya,maka suatu dana dapat kita bedakan menjadi empat
bagian,yaitu :
1.Pemberian yang besar dengan manfaat yang kecil ( sedikit ) Contohnya dalam hal ini yaitu orang-orang yang membunuh binatang untuk di korbankan kapada para dewa dengan disertai perayaan yang besar dan segala macam
upacara persembahyangan. Hal ini memerlukan biaya yang besar tetapi pahala atau kebaikan untuk mereka yang melaksanakan sangatlah sedikit.
2. Pemberian yang kecil dengan manfaat yang kecil.
Contohnya dalam hal ini yaitu seorang yang kaya tetapi Ia sangat kikir sehingga tidak mau berdana dengan banyak ( padahal dia mampu ) dan setulus hati.
3. Pemberian yang kecil dengan manfaat yang besar
Contohnya dalam hal ini yaitu seorang yang miskin yang memberikan dananya dengan jumlah yang sedikit ( karena batas kemampuannya memang hanya sampai di situ ) tetapi dia berdana dengan tulus hati dan tanpa pamrih.
4. Pemberian yang besar dengan manfaat yang juga besar
Contohnya yaitu seorang hartawan yang mendanakan sebagian hartanya guna kepentingan orang banyak, misalnya dengan mendirikan vihara,panti asuhan dsb-nya yang semuanya itu dilakukan dengan hati yang tulus dan pamrih.
b. Menurut kehendak ( Cetananya )
Berdasarkan kehendak ( cetananya) berarti bahwa ada niat yang baik dalam berdana tersebut. Dalam hal ini berdana bukan sekedar untuk formalitas,pamer kekayaan, mencari nama,promosi diri atau dagangan, menjilat, dsb. Kehendak baik di sini mencakup tiga masa,yaitu :
1.Sebelum berdana
Sebelum berdana, seseorang hendaknya mengembangkan pikiran yang penuh ketulusan dan keriaan, dengan berpikir misalnya “Saya sedang menanam harta benda sebagai sebab kekayaan yang dapat di bawa serta “
2. Sewaktu berdana
Sewaktu berdana seseorang hendaknya mengembangkan pikiran yang penuh keyakinan dengan berpikir misalnya “ Saya sedang membuat manfaat suatu harta yang tidak begitu bernilai”.
3. Setelah berdana
Setelah berdana seseorang hendaknya mengembangkan pikiran yang penuh keiklasan dan kepuasan, dengan berpikir misalnya “Saya telah melakukan kebajikan yang dipujikan oleh para bijaksana.
C. Menurut Mutu Barang Yang Didanakan Berdasarkan mutu barang yang didanakan,maka suatu dana dapat dibedakan menjadi 3 bagian, sebagai berikut :
I. Berdana Barang yang buruk,yang diri sendiri sudah tidak mau memakainya lagi. Banyak barang buruk yang sudah kita tidak perlukan lagi misalnya baju yang sudah tidak kita pakai lagi;ini dapat kita berikan kepada orang lain yang
membutuhkannya. Tetapi dalam memberikan barang tersebut kita harus memiliki rasa sopan santun dan memiliki rasa perikemanusiaan. Artinya dalam memberikan barang tersebut kita harus dapat memperkirakan barang tersebut memang masih dapat digunakan ( masih layak ) oleh orang yang membutuhkan. Janganlah kita berdana barang yang sudah terlampau buruk, misalnya pakaian yang sudah compang camping sehingga sudah tidak layak dipakai lagi.
II. Berdana barang yang baik sebaik diri sendiri memakainya. Contohnya bila kita mempunyai buku lebih dari satu sedangkan teman kita tidak mempunyai, maka sebagai teman hendaknya memberikan salah satunya kepada teman tersebut.
Dengan demikian kita telah berbuat baik dan kita akan merasa senang bila teman kita senang menerima buku itu.
III. Berdana barang yang lebih baik daripada yang kita pakai sendiri.
Berdana barang yang lebih baik daripada yang kita pakai sendiri jarang dijumpai dalam kehidupan ini. Biasanya orang hanya mau berdana barang yang sudah buruk atau yang sama seperti yang dipakai dirinya sendiri; tetapi ada juga orang yang mau berdana barang yang lebih baik daripada yang dipakainya sendiri. Bila hal ini memang dilakukan dengan tulus,maka orang yang memiliki sikap demikian sangatlah terpuji. Ia dapat dikatakan memiliki jiwa sosial yang tinggi bila
misalnya Ia membangun sekolahan yang bagus dan baru kepada masyarakat yang membutuhkan, sedangkan rumahnya sendiri cukup sederhana.
d. Menurut motif tujuannya
Menurut motif tujuannya, maka suatu dana dapat terbagi sebagai berikut :
1. Hina Dana
Dana yang bersifat rendah, yaitu dengan mengharapkan kemasyuran,kekayaan dsb.
2. Majjhima Dana
Dana yang bersifat menengah misalnya dengan keinginan untuk dapat terlahirkan di alam surga.
3.Panita Dana
Dana yang bersifat luhur, dengan tujuan untuk meraih pembebasan sejati.
e. Menurut Kemurniaan dari Pemberi dan Penerima dana
Didalam Dakkhina vibhanga Sutta, Sang Buddha menyebutkan bahwa nilai suatu dana tergantung juga kepada kelakuan dari orang yang menerima dana maupun yang memberi dana.
1. Kemurniaan Pemberi bukan kemurniaan dari Penerima
Artinya yang memberi dana mempunyai kelakuan yang baik, bermoral sedangkan yang menerima tidak demikian.
2. Kemurnian Penerima bukan pemberi
Dalam hal ini Penerima dana adalah adal;ah orang yang bermoral sedangkan pemberinya tidak demikian.
3. Tidak Murni dari pemberi dan Penerima
Artinya baik pemberi dan penerimanya tidak bermoral.
4. Yang Murni dari Pemberi dan Penerima
Baik yang memberi dana dan yang menerimanya bermoral semuanya.
f. Menurut yang patut menerima dana
Dalam Agama Buddha, Dana patut diberikan kepada siap saja yang memerlukan, namun selain hal tersebut , dikenal pula tentang adanya lapangan yang subur untuk menanam jasa,artinya bila yang kita berikan dana adalah merupakan
lapangan yang subur untuk menanam jasa, maka dana tersebut dapat memberikan hasil yang besar bagi yang berdana.
Didalam Dakkhina Vibhanga Sutta, Majjhima Nikaya, dikisahkan bahwa Maha Pajapati Gotami berniat untuk mempersembahkan sepasang jubah baru yang dibuatnya sendiri kepada sang Buddha Gotama. Tetapi sang Buddha menganjurkan agar persembahan ini dialihkan kepada Sangha secara umum. Ananda Thera karena tidak tahu , berusaha membujuk agar mau menerimanya, dengan memperingatkan jasa Mahapajapati Gotami yang pernah menyusui serta merwat beliau semasa kecil.
Menanggapi hal ini, sang Buddha Gotama kemudian menjelaskan bahwa ada 14 macam persembahan yang ditujukan kepada Pribadi tertentu (Patipuggalika Dakkhina),yaitu :
1. Samma Sambuddha
2. Pacceka Buddha
3. Arahat ( Arahatta phala )
4. Mereka yang berpraktek untuk meraih kearahatan ( Arahatta Magga )
5. Anagami ( Anagami Phala )
6. Mereka yang berpraktek untuk meraih keanagamian ( Anagami Magga )
7. Sakadagami ( Sakadagami Phala )
8. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesakadagamian ( Sakadagami Magga )
9. Sotapanna ( Sottapati Phala )
10. Mereka yang berpraktek untuk meraih kesotappanaan ( Sottapati Magga )
11. Orang Non Buddhis yang telah melenyapkan nafsunya ( Orang yg memiliki Jhana)
12. Orang biasa ( awam )yang bermoral ( yang mempunyai kesilaan )
13. Orang biasa ( awam )yang tidak bermoral ( yang jelek kesilaannya )
14. Binatang/hewan
Dengan berdana kepada binatang / hewan, seseorang dapat mengharapkan pahala sebanyak 100 kali.
Dengan berdana kepada orang awam yang jelek kesusilaanya,…..Pahalanya sebanyak 1000 kali.
Dengan berdana kepada awam yang mempunyai kesilaan, pahalanya sebnyak 100,000 kali
Dengan berdana kepada orang non buddhis yang telah melenyapkan nafsunya, pahalanya sebanyak 10,000,000 kali.
Dengan berdana kepada mereka yang berpraktek utuk meraih kesotapannaan…….Pahala yang tak terhitung ,tak terhingga.
Apalagi jika dana tersebut dipersembahkan kepada mereka yang tingkatannya lebih luhur, pahalanya tidak terbayangkan lagi.
Dari orang yang menerima dana, maka tempat yang merupakan lapangan jasa yang tiada taranya dialam semesta ini adalah Sangha. Buddha Gotama selanjutnya menjelaskan bahwa ada 7 macam sangha yang bisa kita berikan dana
persembahan ( Sangha dana ) yaitu :
1. Sangha Bhikkhu dan sangha Bhikkhuni saat Sang buddha ( Samma sambuddha ) sebagai pimpinan sangha
2. Sangha Bhikkhu dan sangha Bhikkhuni sesudah Sang buddha ( Samma sambuddha ) sebagai pimpinan sangha
3. Sangha Bhikkhu saja
4. Sangha Bhikkhuni saja
5. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dan bhikkuni dalam jumlah terbatas sejumlah bhikkhu dan bhikkhuni dari Sangha.
6. Sangha yang terdiri dari para bhikkhu dalam jumlah terbatas ( Beberapa bhikkhu yang disediakan oleh sangha )
7. Sangha yang terdiri dari para bhikkuni dalam jumlah terbatas ( Beberapa bhikkhuni yang disediakan oleh Sangha )
Demikian uraian yang terdapat di dalam Dakkhina Vibhanga Sutta. Pada masa mendatang, hanya akan ada Bhikkhu “Gotrabhu dengan jubah tersampirkan di leher yang jelek kesilaannya dan menganut ajaran salah. Beliau tidak menyatakan bahwa Patipuggala dana ( yang tetuju pada pribadi) mempunyai pahala yang lebih besar daripada dana yang ditujukan kepada Sangha. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa dalan keadaan bagaimanapun, pahala Sangha dana jauh melampaui Patipuggala dana.
Jadi Sangha merupakan lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya, hal ini juga disebutkan di dalam Sanghanussati ( Perenungan terhadap Sangha ) yang berbunyi sebaga berikut : “ Anuttaram Punnakkhetam Lokassa “ yang berarti Sangha adalah Lapangan untuk menanam jasa yang tiada tara baiknya di alam semesta ini.
Sangha merupakan ladang untuk berdana yang paling baik sebab yang lain yaitu karena dana yang kita berikan kepada sangha akan disalurkan kembali oleh para bhikkhu sangha untuk kepentingan agama dan umat , misalnya untuk melengkapi sarana dalam mengajarkan dhamma; yang bisa berguna untuk menunjang pelestarian buddha dhamma. Pokoknya semuanya merupakan suatu penyaluran dana atau pemanfaatan dana yang tepat.
Selain Sangha yang merupakan lapangan untuk menanam jasa, maka seperti yang tadi telah diuraikan di dalam Dakkhina Vibhanga Sutta, kita dapat pula memberikan dana kepada obyek-obyek lainnya yang memang patut atau pantas
menerima dana, misalnya yaitu :
1. Dana yang diberikan kepada orang yang melaksanakan sila, seperti misalnya para bhikkhu sekarang ini; bahkan ini termasuk berdana kepada Sangha.
2. Dana yang diberikan kepada Orang Tua ( Ayah dan Ibu )
3. Dana yang diberikan kepada orang yang belum berpenghasilan, misalnya mereka yang belum mempunyai pekerjaan lalu kita sokong untuk sementara waktu.
4. Dana yang diberikan kepada mereka yang memang sedang membutuhkan bantuan, misalnya kepada orang yang sedang terkena musibah, dsbnya
V. Cara-cara Berdana
a) Umum
Dalam kita berdana hendaknya selalu diingat faktor-faktor ini agar kita memperoleh buah karma yang terbaik mutunya. Bukankah berdana sama sama dengan menanam pohon yang secara tepat kita harus juga memilih lahan,bibit dan waktu
penanaman serta pemeliharaannya. Kalau kita asal tanam maka mungkin akan menghasilkan buah yang kecil-kecil dan kurang baik mutunya, apalagi bila pemeliharaannya juga tidak secara baik. Tetapi perlu sekali dimergerti bahwa
hal ini bukanlah berati bahwa dalam melakukan tindakan berdana ini kita semata-mata hanya mengharapkan adanya hasil yang besar; bukan itu maksudnya. Jadi dalam hal ini kita hanya berusaha untuk melakukan cara-cara berdana yang
paling baik. Nah,faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tanaman dana kita ini adalah antara lain sebagai berikut:
¨ Apa yang kita danakan hendaknya hasil yang kita peroleh dengan cara yang sesuai dengan dhamma.
¨ Dana diberikan kepada orang yang layak menerima.
¨ Sebelum diserahkan,dana telah dipersiapkan dan direncanakan dengan pikiran yang baik.
¨ Pada waktu diserahkan disertai dengan pikiran ikhlas, rela dan penuh kebahagiaan serta tanpa ikatan.
¨ Sesudah diserahkan lalu pada hari-hari selanjutnya pikiran-pikiran baik tersebut tetap dipelihara dengan cara :
a. Merenungkan bahwa dengan berbuat bajik ini semoga sanak keluarga yang telah tiada juga ikut bergembira dan dapat pula menikmatinya.
b. Tidak lagi menganggap bahwa barang tersebut masih milik kita dan merelakan dengan tulus si penerima untuk menggunakannya. Hindarkanlah diri kita dari sikap egois yang selalu menganggap barang itu adalah pemberian kita. Ini
merupakan jalan untuk mempraktekkan ajaran anatta, praktek pasrah dan tidak terikat.
c. Tidak meremehkan kepada siapapun dengan membanggakan apa yang telah kita perbuat. Orang lain boleh membanggakan kebajikan kita,namun hendaknya dijaga batin atau pikiran kita dari kekotoran batin tersebut.
d. Tidak memberikan syarat-syarat yang mengikat yang dibebankan pada penerima dana sehingga Ia tidak bebas memanfaatkannya. Ini terjadi karena ketidak ikhlasan kita kepada orang yang menerima dana.
b) Sappurisa dana 8
Tentang cara-cara berdana yang baik, menurut agama Buddha dapat diterangkan di dalam Sappurisa Dana 8 yang artinya 8 macam cara berdana dari orang yang baik.
1) Sucim Deti
Artinya berdana barang yang bersih (halal),yang benar-banar merupakan hasil jerih payah kita sendiri. Jadi barang yang kita danakan bukan hasil curian atau hasil perbuatan yang tidak baik.
2) Panitam Deti
Artinya berdana barang yang baik, hendaknya kalau kita berdana maka dana itu paling tidak masih dapat bermanfaat bagi yang menerima. Kita jangan berdana barang yang sudah sama sekali rusak dan tidak dapat dipakai lagi.
3) Kalena Deti
Berdana barang yang tepat pada kondisinya, misalnya kalau kita melihat suatu daerah yang kekurangan bahan-bahan pelajaran, maka kita jangan berdana makanan kepada daerah itu,tetapi kita hendaknya berdana buku-buku pelajaran.
4) Kappiyam Deti
Berdana barang yang layak, misalnya kalau kita berdana kepada bhikkhu sangha, hendaknya kita berdana barang yang layak untuk digunakan oleh bhikkhu tersebut. Jangan Kita berdana barang yang tidak pantas digunakan oleh bhikkhu misalnya berdana sandal yang berlapis emas. Hal ini tidak perlu dan tidak pantas karena seorang bhikkhu sudah hidup meninggalkan keduniawian.
5) Vicceya Deti
Yaitu berdana barang yang bijaksana, artinya kita melihat siapa yang kita berikan dana, apakah itu berguna bagi dia atau malahan bisa membuat dia malas. Kita dapat berdana kepada yang memang benar membutuhkan seperti korban bencana alam dll, tetapi hendaknya kita berpikir dulu apabila akan berdana kepada seorang pengemis yang sehat badannya.
6) Abhinham Deti
Yaitu berdana barang secara tetap, misalnya menjadi penyokong vihara,rumah yatim piatu,dll. Memang kita bisa berdana adalah suatu kondisi yang bagus, tetapi lebih bagus lagi kita dapat berdana secara tepat.
7) Dadam Cittam Pasa Deti
Berdana barang dengan oikiran yang tenang. Bila kita berdana sebaiknya dengan pikiran yang baik dan tidak mengharapkan pamrih yang dapat menimbulkan kegelisahan,apalagi yang kita harapkan dengan dana kita itu tidak sesuai dengan yang kita inginkan.
8) Datva Attamano Hoti
Setelah berdana batin merasa tenang. Hal ini dapat terjadi bila kita berdana tanpa pamrih dan melihat orang yang menerima dana itu berbahagia sehinnga kita ikut berbahagia.
c) Berdana Kepada orang yang telah meninggal ( Dalam hal ini ditekankan kepada orang tua , tetapi bisa juga kepada sanak keluarga kita yang lain ).
Semua orang yang normal pasti mencintai orang tuanya, karena orang tua merupakan maha dermawan bagi anak-anaknya. Sejak mengandung, ibu telah memberikan perawatan kepada anaknya yang masih dalam kandungan; dan setelah kita lahir ibu akan memberikan air susu untuk kehidapan anaknya. Ibu dan ayah memang pantas mendapat penghormatan dari anak-anaknya karena beliau bersama-sama telah menjaga,merawat,dan memberikan pendidikan agar anak-anaknya nanti menjadi orang yang baik dan berguna. Pada akhirnya kedua orang tua kita akan menjadi tua dan lemah,dan suatu kewajiban yang mulia bagi seorang anak untuk merawat dengan penuh kasih sayang. Setelah mereka meninggal, seorang anak berkewajiban untuk selalu mengingat jasa beliau dengan cara diantaranya mengadakan upacara keagamaan yang benar,bukan hanya upacara tradisi yang mewah tetapi tidak bermanfaat.
Salah satu cara yang bijaksana ialah bila seorang anak dapat mempraktekkan dhamma dengan berbuat kebajikan,misalnya berdana kepada vihara,mencetak buku-buku dhamma, mendirikan bangunan untuk kepentingan masyarakat ( Sekolahan,runah sakit ) dan kebajikan tersebut dilakukan atas nama almahum. Dengan cara ini tentu bermanfaat baik bagi dirinya,masyarakat dan juga bagi almahum.
Bila orang tua yang telah meninggal dunia itu bertumimbal lahir di alam yang menyedihkan,maka semua kebajikan yang kita lakukan atas nama almahum tadi akan menimbulkan getaran oikiran yang baik bagi almahum. Hal inilah yang disebut
“Pattanumodanamaya” yaitu berbuat kebajikan dengan cara merasa gembira melihat kebajikan orang lain. Pattanomodanamaya merupakan salah satu dari dasa Punna Kiriyavatthu ( sepuluh jalan untuk berbuat kebaikan). Dengan demikian almahum dapat menambah kamma baik dari perbuatan berdana tadi.
d) Kathina dana
Kathina adalah nama bulan yang digunakan oleh umat Buddha untuk berdana kepada anggota sangha ( walaupun setiap hari kita juga boleh berdana kepada sangha ). Dana itu berupa barang-barang keperluan pokok para bhikkhu seperti
makanan ,jubah,tempat tinggal dan obat-obatan.
VI. Pahala berdana
Banyak orang yang salah mengerti bahwa pahala dana baru bisa diperoleh apabila pelakunya telah meninggal dunia. Pahala dana sering dibatasi pada kehidupan bahagia di alam surga. Sesungguhnya,pahala berdana tidak hanya
n\mengacu padakehidupan mendatang saja, tetapi juga mencakuyp kehidupan sekarang ini juga.
1) Dalam Kehidupan Sekarang
Ada beberapa manfaat yang dapat kita ambil kalu kita banyak berdana dalam krhidupan kita sekarang ini. Walaupun buah kamma baik kita dalam berdana tersebut belum masak dalam kehidupan kita yang sekarang ini, tetapi tetap ada
manfaat yang dapat kita petik yaitu :
Ø Dengan berdana berati kita telah melaksanakan suatu cara untuk mengurangi sifat lobha yang ada dalam diri kita.
Ø Dengan berdana berati kita berlatih melepaskan sesuatu milik kita dengan wajar sehingga jika pada suatu saat kita harus terpaksa melepaskan suatu milik kita yang sangat kita cintai,maka kita ati melepaskannya dengan wajar.
Ø Dengan berdana berarti kita melatih diri agar kita tidak terlalu melekat pada sesuatu.
Ø Dengan berdana maka kita akan disenangi dan mempunyai banyak teman yang kelak dapat menolong di saat kita sedang susah.
Di dalam Siha Sutta, Pancakanipata,sang Buddha juga membabarkan beberapa pahala dana yang dapat diperoleh pada kehidupan sekarang ini juga,yaitu ; menjadi kecintaan orang banyak; dijadikan sahabat oleh orang yang bijak;
kemahyuran nya tersebar luas; tidak merasa canggung memasuki kalangan apapun,bangsawan,brahmana,hartawan,dan pertapa.
2) Dalam Kehidupan yang akan datang
Jika dalam kehidupan yang sekarang kita banyak berdana,maka kita nanti terlahirkan lagi di alam yang menyenangkan,kita akan memperoleh :
Ø Dilahirkan sebagai anak dari keluarga yang kaya raya ( ditekankan bila terlahir sebagai manusia).
Ø Sesudah kita berdana,khususnya kepada bhikkhu Sangha, kita akan mandapat berkah atas perbuatan baik kita seperti yang disebutkan di dalam Anumodana gatha, di mana dana akan memberikan manfaat yaitu “Ayu Vanno Sukham
Balam” yang artinya mendapat berkah usia panjang, wajah tampan ,cantik,bahagia dan kuat. Semoga dana yang kita berikan memberikan berkah.
- Ayuvadhako - Usia Bertambah
- Dhanavaddhako - Kekayaan bertambah
- Sirivaddhako - Kemakmuran bertambah
- Yasavaddhako - Kemashuran bertambah
- Balavaddhako - Kekuatan bertambah
- Vannavaddhako -Kecantikan/ketampanan bertambah
- Hotu Sabbada - Semoga selalu demikian ( Selalu bertambah )
3). Pahala Yang Setimpal
Dalam Manapadayi Sutta,sang Buddha bersabda : mereka yang berdana
· Sesuatu yang disenangi,niscaya akan memperoleh sesuatu yang disenangi
· Sesuatu yang terunggul,niscaya akan memperoleh sesuatu yang terunggul
· Sesuatu yang terbaik,niscaya akanmemperoleh sesuatu yang terbaik
· Sesuatu yang mulia, niscaya akan memperoleh sesuatu yang mulia.
Berdasarkan Sutta tersebut,dapatlah dinyatakan bahwa dana senantiasa memberikan pahala yang setimpal kepada pelakunya. Karena itu ,seseorang yang berdana tidak semestinya mengharapkan hasil/pahala melebihi apa yang diberikan.
Dalam hal berdana, tidak dikenal adanya “ Kiat ekonomi” yaitu hanya dengan modal sedikit,mengharapkan keuntungan yang sebesar mungkin. Perlu dipahami bahwa kata setimpal disini mengandung makna yang mendalam.ini bukan berarti bahwa orang yang berdana sesendok nas akan memperoleh sesendok nasi yang sama. Nilai suatu dana bersifat relatif, tergantung pada kemauan pemberi. Bagi orang-orang yang sering kelaparan, misalnya, sesendok nasi mempunyai nilai yang lebih besar daripada setumpuk makanan mewah bagi orang-orang kaya. Kebajikannya dalam berdana ini mungkin saja dapat membawanya pada kelahiran kembali di alam surga yang menyenangkan. Jadi, nilai suatu dana tidak dapat dilihat dan diukur hanya dari besarnya harga barang yang dipersembahkan.
Banyak faktor lain yang menentukannya, misalnya : pengertian benar, keyakinan yang mantap, kehendak yang tulus, perasaan ikhlas, dsb.nya.
VII. Tantangan Dalam Berdana
1) Nilai Kedermawanan
Merupakan kecenderungan umat manusia untuk menilai sesuatu dari apa yang tertampak di luar saja. Ini termasuk dalam hal menilai kedermawanan seseorang.
Kalau ada hartawan yang mendanakan uangnya sejumlah milyaran untuk pembangunan vihara, misalnya, ini merupakan suatu kejuatan. Mereka beramai-ramai mengagumi kedermawanan hartawan tersebut. Yayasan,lembaga atau organisasi
yang ikut mendapat bagian tidak segan-segan untuk segera mengarugerahinya dengan gelar atau perbagai macam tanda prestige. Sebailiknya dana uang seratus ribu rupiah dari orang-orang yang makan gaji bulan sekitar dua ratus ribu
rupiah,tidak begitu dihargai. Orang-orang kelas bawah ini dalam mimpi sekalipun, sama sekali tidak diberi kesempatan untuk memperoleh gelar kedermawanan semacam itu. Benarkah bahwa kedermawanan seseorang dapat dinilai
hanya dari besarnya jumlah dana yang pernah disumbangkan.
Sesungguhnya tidak. Bagi seorang hartawan yang mempunyai asset kekayaan sebesar ribuan milyar, uang sepuluh atau dua puluh milyar tidaklah begitu ada artinya. Hanya dibutuhkan pengorbanan dan penglepasan yang tak terlalu berat
untuk mendanakan uang ‘sedikit’ itu. Lagipula, seandainya ia tidak beruntung menjadi orang kaya, belum pasti mempunyai keyakinan untuk melepaskan uang sejumlah seratus ribu – yang merupakan setengah dari gaji bulanannya, misalnya.
Padahal, pengorbanan sebesar itu sering dilakukan oleh orang lain. Lalu, siapakah yang sesungguhnya lebih patut disebut dermawan : hartawan yang berdana sepuluh milyar ataukan orang miskin yang justru dianugerahi gelar kedermawanan ?
Tentu saja tidak. Inilah salah satu bentuk ketidakadilan yang justru diabsahkan oleh lembaga-lembaga didalam masyarakat. Penilaian yang berat sebelah semacam ini perlu segera dirombak. kEdermawanan seseorang seharusnya dinilai dari seberapa besar keyakinannya dalam berkorban dan melepaskan harta miliknya, bukan dari besarnya jumlah uang yang disumbangkan saja. Agama tidak selayaknya menciptakan diskriminasi kekayaan diantara para penganutnya.
Setiap orang hendaknya diperlakukan adil dan merata, tanpa membeda-bedakannya berdasarkan kekayaan, harta benda dan sejenisnya. Sudah terlalu banyak bidang kehidupan yang dikuasai oleh orang-orang berduit tebal saja. Karena itu, tidaklah begitu perlu membuka peluang lagi bagi mereka untuk memonopoli gelar kedermawanan. Untuk hal-hal yang bersifat keagamaan, sudah tiba waktunya bagi orang-orang miskin (tunaharta) untuk diberi
kesempatan yang sama, adil.
2) Alasan-alasan orang mau melaksanakan dana
alasan berdana disini bersifat umum, maksudnya berlaku tidak hanya pada umat Buddhis saja, tetapi juga kepada umat-umat beragama yang lain. Secara garis besar alasan seseorang mau berdana dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
A. Alasan karena adanya pengaruh dari luar
Dalam hal ini seseorang mau berdana karena dipengaruhi oleh pihak lain atau lingkungan sekitarnya, misalnya :
a. Karena tertarik melihat orang lain berdana, lalu ia ikut berdana
b. Karena malu jika orang lain berdana, tetapi dia kok tidak berdana
c. Karena orang yang akan menerima dananya itu adalah orang yang ia senangi
d. Karena orang yang meminta dana adalah orang yang ia hormati dan ia segani.
Contoh, seorang murid memberikan dana di suatu vihara karena yang menganjurkan dia berdana adalah guru agamanya.
e. Karena kewajiban yang telah ditentukan. Contoh umat Islam yang berzakat menjelah Hari Raya Idul Fitri
f. Karena ingin memamerkan kekayaan dan kedermawanannya dilingkungannya.
Contoh, orang kaya yang berdana agar dianggap sebagai orang kaya yang dermawan oleh masyarakat lingkunganna yang hidupnya masih sangat sederhana.
B. Alasan yang bersifat ‘kejiwaan’
Dalam hal ini, seseorang mau berdana karena memang keinginan serta kehendaknya sendiri, tanpa adanya pengaruh dari luar, misalnya :
a. Karena ia merasa iba melihat penderitaan (makhluk) lain
b. Karena memang ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain yang masih menderita
c. Karena ingin berbuat kebajikan terhadap sesama manusia atau kepada makhluk lain dengan tanpa pamrih
d. Karena ingin mempraktekkan Dhamma Sang Buddha khususnya ajaran mengenai dana dan tidak melekat
e. Karena menanamkan benih kamma yang baik supaya mempunyai buah yang baik pula
Diantara kedua alasan tersebut, tentunya lasan kedualah yang menjadi alasan yang lebih baik dan lebih tepat dalam berdana. Hal ini karena nilai suatu dana tidak ditinjau hanya dari besar dan kecilnya suatu dana, tetapi juga ditinjau
dari ketulusan orang yang berdana
3) Alasan orang tidak mau berdana
Alasan ini juga bersifat umum, dan secara garis besarnya juga dibagi menjadi
dua bagian yaitu :
A. Alasan materi
Alasan inilah yang paling sering dijadikan alasan oleh orang yang tidak mau berdana. Artinya dia tidak mau berdanan karena dia merasa hidupnya sendiri masih kekurangan.
B. Alasan non materi
Dalam hal ini seseorang tidak berdana bukan karena dia tidak mampu atau kekurangan, tetapi dia tidak berdana karena alasan-alasan lain yang tidak bersifat kebendaan, misalnya :
a. Karena hatinya sedang susah
b. Karena kikir dan serakah. Contoh, orang kaya yang tidak mau berdana karena takut hartanya menjadi berkurang, dia terlalu sayang dan melekat terhadap hartanya tersebut.
c. Karena orang yang akan menerima dananya adalah orang yang dia benci.
Contoh, A tidak mau berdana ke suatu vihara karena ia benci kepada salah seorang pemimpinnya yang dulu pernah menyakiti hatinya.
d. Karena ia berpendapat bahwa berdana itu tidak ada manfaatnya.
Dari kedua alasan itu, tentu saja alasan yang pertama masih bisa kita anggap lebih umum walaupun sebenarnya materi tidak menghalangi seseorang yang ingin berdana karena berdana dapat dilakukan tidak hanya dalam bentuk barang saja.
4) Masalah tujuan orang berdana
setelah kita mengetahui beberapa alasan orang mau berdana, tentu kta dapat menyimpulkan bahwa setiap orang yang berdana pasti mempunya tujuan terhadap dananya itu. Tujuan berdana yang baik tentu saja bukanlah yang merupakan pamrih, melainkan dapat dijadikan sebagai motivasi atau pendorong seseorang dalam berbuat kebajian malalui berdana. Tentu saja tidak dapat kita pungkiri bahwa ada beberapa orang tertentu yang berdana dengan tujuan yang kuarng etis, dan tujuan itu bersifat pamrih terhadap dana yang telah diberikannya itu. Nah, berdasarkan hal ini, maka tujuan berdana dapat dilihat sbb :
A. Tujuan yang bersifat mendorong
a. Agar simenerima dana dapat berbahagia
b. Agar bila buah kammanya masak, maka buah kamma yang baiklah yang ia terima nanti
c. Agar keluarganya yang telah meninggal turut mendapat kebahagiaan karena dana yang dilakukannya tiu.
d. Agar dalam kehidupan sekarang ia dapat mengurang sifat serakah (lobha) yang ada dalam dirinya.
B. Tujuan yang bersifat pamrih
a. Agar ia menjadi orang yang terkenal dermawan
b. Agar orang lain menjadi hormat padanya
c. Agar ia mendapatkan sesuatu dari orang yang telah ia bantu
d. Agar martabat dan harga dirinys menjadi naik dan lebih baik lagi
e. Agar dengan demikian banyak orang yang mau menjadi pengikutnya.
VIII. Kesimpulan
Dari seluruh pokok bahsan pada pelajaran berdana ini, ada beberapa kesimpulan atau hal-hal penting yang dapat kita ambil. Hal-hal penting itu adalah sbb :
1. Berdana artinya memberi dengan ikhlas, baik yang berupa harta benda, tenaga, maupun jiwa raga demi kepentingan masyarakat dan kesejahteraan semua makhluk
2. Terdapat bermacam-macam dana, yang pembagiannya ditentukan berdasarkan bentuknya, pengorbannannya, dan lain sebagainya
3. Dalam berdana ada hal-hal tertentu yang harus kita perhatikan mulai dari jenis barang yang dapat didanakan, orang yang berhak menerima dana, sampai pada keadaan batin ketikan akan berdana, pada saat berdana, dan setelah berdana.
4. Diantara sekian banyak jenis dana, Dhammadana adalah dana yang paling bernilai
5. Adapun Sangha adalah tempat berdana yang paling baik
6. Nilai suatu dana, tidak ditentukan hanya oleh besar atau kecilnya dana itu, tetapi juga ditentukan oleh ketulusan hatiorang yang berdana, dsb
7. Siapapun orangnya, sekalipun ia miskin, tetapi tetap bisa berdana, sebab bentuk dana itu tidak terbatas.
Itulah beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari keseluruhan isi pelajaran berdana ini.
IX. Saran-saran
Melalui pelajaran berdana ini, dapat diberikan beberapa saran tentang berdana, demi kepentingan kita semua, khususnya yang kita berlaku sebagai umat Buddha.
Adapun saran-saran itu adalah sebagai berikut :
1. Pada saat sekarang ini masih banyak umat Buddha yang belum mengerti tentang ajaran agamanya. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi kita semua yang sudah mengeri untuk menolong mereka melalui Dhammadana
2. Sebaiknya kalau kita hendak berdana, kita perhatikan dulu beberapa hal yang akan menunjang dana kita itu, sehingga menjadi dana yang benar-benar bernilai dan menimbulkan buah kamma yang baik; tetapi hal ini jangan disalahartikan untuk semata-mata mencari pahala yang besar.
3. Janganlah kita terpaku pada dana yang berbentuk materi saja, tetapi berdanalah dengan dana yang berupa bentuk yang lain, misalnya memberikan suatu ajaran dan bisa memaafkan, juga seandainya bersedia tentu akan lebih mulia lagi
kalau kita mau menjadi seseorang donor mata atau bagian dari tubuh kita yang lain
4. Sebaiknya kita berdana sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan berdanalah dengan bijaksana.
Akhirnya harapan kita semua yaitu semoga saran-saran tersebut dapat dihayati kita semua sehingga dapat lebih meningkatkan keinginan kita untuk berdana dan akhirnya dapat berguna untuk kesejahteraan semua makhluk.
Buku Acuan :
1. Dhammasakaccha, disusun oleh Pandit J. Kaharudin
2. Vijja Dhamma, disusun oleh Abhayahema K.
3. Buddha Cakkhu No. 04 / VIII / 1987, Dhammaduta dan Dana Punna, oleh Herman S.E.
4. Bunga Rampai Dhammadesana, disusun oleh Bhikkhu Subalaratano
5. Paritta Suci, Penerbit Yayayasan Dhammadipa Arama
6. Lembaran Nirlaka, Lembaga Pelestari Dhamma, disusun oleh Jan Sajivaputta
Subscribe to:
Posts (Atom)
























He answered, The religion that makes you have more compassion,more love,more kindness to other beings,less selfish,more forgiving,more peace with yourself,having less ego,more generous,is the best religion for you.
You can make your own call,best wishes top you.
There is so much hatred and anger in this world. People need to start realise that they need to train away their hatred and anger and that it only leads to destruction and nothing else. I wish all humanity could turn to Buddhism and we would all live in peace. The Abrahamic religions will never cause peace on earth. But Buddhism will.